Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

IDENTIFIKASI PENYAKIT BERCAK DAUN NANAS DI KUBU RAYA, KALIMANTAN BARAT: IDENTIFICATION OF PINEAPPLE LEAF SPOT DISEASE IN KUBU RAYA, WEST BORNEO Apindiati, Rita Kurnia; Hendarti, Indri; Rizal, Muhammad; Tarigasa, Odilo
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 13 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2025.013.2.5

Abstract

Permintaan akan buah nanas di dalam negeri terus meningkat, seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap manfaat vitamin yang terkandung di dalamnya. Namun demikian, keberadaan patogen menjadi kendala karena dapat menurunkan produksi tanaman nanas. Berbagai gejala bercak pada daun tampak di lapangan, yang mengindikasikan adanya serangan patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gejala dan patogen penyebab penyakit bercak daun pada tanaman nanas serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penyebarannya, guna memberikan dasar informasi bagi pengendalian penyakit yang lebih efektif. Penelitian dilaksanakan melalui sejumlah tahapan, seperti survei, evaluasi hasil survei, pengamatan gejala di lapangan, dan pengujian laboratorium terhadap patogen penyebab bercak daun. Sampel diambil secara purposive sampling dari tanaman nanas yang menunjukkan gejala bercak daun di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman nanas di wilayah tersebut terserang penyakit bercak daun dengan gejala berupa bercak berbentuk bulat dan teratur. Berdasarkan gejala tersebut, ditemukan keberadaan tiga jenis patogen, yaitu Curvularia sp.,  Fusarium sp., dan Discosia sp., yang diduga menjadi penyebab utama penyakit bercak daun pada tanaman nanas.
RESPON TANAMAN CABAI KATOKKON (Capsicum chinense Jacq.) AKIBAT PUPUK NPK DAN KOMPOS AMPAS TEBU PADA TANAH ALUVIAL Vera, Vera; Ramadhan, Tris Haris; Hendarti, Indri
Jurnal Pertanian Presisi (Journal of Precision Agriculture) Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/jpp.2025.v9i1.12468

Abstract

Meskipun cabai katokkon (Capsicum chinense Jacq.) merupakan salah satu produk hortikultura yang memiliki potensi ekonomi yang cukup besar, namun belum banyak ditanam oleh petani Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kombinasi perlakuan yang paling tepat untuk pertumbuhan dan produktivitas cabai katokkon di tanah aluvial serta interaksi antara pupuk NPK dengan kompos dari limbah tebu. Lokasi penelitian dilaksanakan pada tanggal 6 Maret sampai dengan 5 Juni 2024 di Jalan Sepakat II, Gang. Racana Untan, Pontianak Tenggara, Kalimantan Barat. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dua faktor. Tahap awal, dosis pupuk NPK (A) yang diberikan adalah a1 = 100 kg/ha, a2 = 200 kg/ha, dan a3 = 300 kg/ha. Tahap kedua, dosis kompos ampas tebu (N) diberikan sebanyak tiga taraf, yaitu n1 = 10 ton/ha, n2 = 20 ton/ha, dan n3 = 30 ton/ha. Berdasarkan hasil penelitian, perkembangan dan hasil cabai katokkon pada tanah aluvial dipengaruhi oleh interaksi antara pupuk NPK dan kompos ampas tebu. Untuk meningkatkan jumlah buah per tanaman dan berat buah per tanaman cabai katokkon pada tanah aluvial, kombinasi yang paling berhasil dan efisien adalah pemberian pupuk NPK 300 kg/ha dan kompos ampas tebu 10 ton/ha.
Identification of Pineapple Fruit Rot Disease in Kubu Raya, West Borneo Apindiati, Rita Kurnia; Hendarti, Indri; Rizal, Muhammad; Tarigasa, Odilo
Jurnal Biologi Tropis Vol. 25 No. 2 (2025): April-Juni
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v25i2.9331

Abstract

Pineapple productivity in West Borneo ranks second after bananas. One of the obstacles in pineapple cultivation is the presence of diseases that attack pineapple plantations. Symptoms of pineapple plant disease are an indication that the plant is attacked by pathogens. This study aims to identify pathogens that cause rot symptoms in pineapple fruit. The methods used in this study include surveys, survey evaluations, observation of symptoms in pineapple plantations, and laboratory tests of pathogens that cause pineapple fruit rot disease in Kubu Raya, West Borneo. Sampling was carried out by purposive sampling on pineapples with rot symptoms. Based on the results of the study obtained, it shows that the symptoms of pineapple fruit rot disease are characterized by the presence of soft rot that is blackish brown in color, rotten inside and emits a distinctive odor. Pineapple fruit rot is caused by the pathogens Curvularia sp. and Fusarium sp.
Pelatihan Pembuatan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) Akar Bambu Apindiati, Rita Kurnia; Hendarti, Indri; Darussalam, Darussalam
Darmabakti : Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 6 No 02 (2025): Darmabakti : Junal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Lembaga Peneliian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Islam Madura (UIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31102/darmabakti.2025.6.02.261-267

Abstract

Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) digunakan sebagai sebagai pupuk hayati dan pengendali patogen yang merupakan usaha pada bidang bioteknologi untuk meningkatkan produktivitas pertanian. PGPR diketahui dapat sebagai alternatif teknologi yang ramah lingkungan ketika di lapangan. Sehingga diharapkan dengan adanya pelatihan pembuatan PGPR dari akar bambu mampu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petani mitra dalam budidaya tanaman hortikultura. Karang Taruna Anugerah Maju berada di Jl Parit Haji Muksin, RT 004, RW 009, Desa Sungai Raya, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya yang berpotensi dalam mengembangkan PGPR dari akar bambu pada tanaman hortikultura. Metode yang digunakan adalah deskriptif observasional dari kelompok tani mitra kemudian dilakukan persiapan, sosialisasi, diseminasi teknologi (simulasi), evaluasi, dan montoring. Hasil pengabdian kepada masyarakat ini menunjukkan bahwa mitra mengalami peningkatan keterampilan dalam memanfaatkan akar bambu yang ditunjukkan dengan peningkatan 90% yang semula tidak mengetahui cara pengolahan akar bambu menjadi PGPR sekarang terampil untuk membuat biang akar bambu sebagai sumber bakteri perakaran untuk tanaman baik sebagai pupuk organik maupun pengendali hayati.
SIKLUS HIDUP SITOPHILUS ZEAMAIS PADA TIGA TINGKAT KEKERINGAN JAGUNG Dewi, Gabrilliani Puspita; Ramadhan, Tris Haris; Hendarti, Indri
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 15, No 1
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v15i1.97241

Abstract

Kumbang jagung (Sitophilus zeamais) merupakan salah satu hama utama pada jagung selama penyimpanan, yang menyebabkan kerugian signifikan pada kualitas dan kuantitas hasil panen. Penelitian ini bertujuan untuk memahami siklus hidup S. zeamais pada beberapa tingkat kekeringan jagung. Penelitian dilakukan di Laboratorium Hama Tanaman Universitas Tanjungpura selama empat bulan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan yaitu, jagung kering panen (0 jam), jagung yang dioven selama 24 jam, dan jagung yang dioven selama 48 jam dengan suhu 70 °C. Setiap perlakuan diinfestasikan hama sebanyak satu pasang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tanpa oven sangat rentan terhadap serangan hama, dengan perkembangan populasi hama paling cepat dan berat imago tertinggi terjadi pada perlakuan tersebut. Sedangkan, perlakuan pengeringan dengan oven selama 24 jam dan 48 jam tergolong rentan terhadap serangan hama. Perlakuan 48 jam menunjukkan perkembangan hama paling lambat dan berat imago terendah.
Pengaruh Kombinasi Pupuk Kascing dan NPK terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bawang Daun pada Tanah PMK Silvany, Fitria Nova; Asnawati, Asnawati; Hendarti, Indri
Sustainability Nexus: Journal of Agriculture Vol 1, No 3 (2025): October
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/snja.v1i3.96363

Abstract

Bawang daun (𝘈𝘭𝘭𝘪𝘶𝘮 𝘧𝘪𝘴𝘵𝘶𝘭𝘰𝘴𝘶𝘮 L.) merupakan komoditas sayuran penting yang banyak digunakan sebagai bumbu penyedap dan campuran makanan, namun permintaan yang terus meningkat tidak diimbangi dengan produktivitas yang memadai di Kalimantan Barat akibat penurunan hasil panen dan keterbatasan lahan subur. Untuk mengatasi hal ini, ekstensifikasi lahan pada tanah podsolik merah kuning (PMK) yang luas namun kurang subur. Menggunakan kombinasi pupuk kascing dan NPK, diharapkan dapat memperbaiki kesuburan tanah, meningkatkan aktivitas biologis, serta mendukung hasil panen bawang daun yang lebih optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis kombinasi pupuk kascing dan NPK yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman bawang daun pada tanah PMK. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, selama 2 bulan dimulai dari Desember 2024 sampai Januari 2025. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu kombinasi dosis kascing dan NPK, perlakuan terdiri dari 5 taraf yaitu : P1 = 10 ton/ha kascing setara 30 g/tanaman + 425 kg/ha NPK setara 2,38 g/tanaman; P2 = 15 ton/ha kascing setara 45 g/tanaman + 375 kg/ha NPK setara 2,10 g/tanaman; P3 = 20 ton/ha kascing setara 60 g/tanaman + 325 kg/ha NPK setara 1,82 g/tanaman; P4 = 25 ton/ha kascing setara 75 g/tanaman + 275 kg/ha NPK setara 1,54 g/tanaman; P5 = 30 ton/ha kascing setara 90 g/tanaman + 225 kg/ha NPK setara 1,26 g/tanaman. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman (cm), jumlah anakan per rumpun (anakan), jumlah daun per rumpun (helai), berat segar tanaman per rumpun (g), volume akar (cm3), berat kering tanaman (g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi kascing 30 ton/ha dan NPK 225 kg/ha merupakan kombinasi yang efisien dalam penggunaan pupuk NPK pada pertumbuhan dan hasil bawang daun pada tanah PMK.
Pengaruh Pupuk Kandang Bebek dan Pupuk Kalium terhadap Pertubuhan dan Hasil Pare pada Tanah Podsolik Merah Kuning Damayanti, Fena Ruthmayda Ernita; Zulfita, Dwi; Hendarti, Indri
Sustainability Nexus: Journal of Agriculture Vol 1, No 3 (2025): October
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/snja.v1i3.95894

Abstract

Tanaman pare (Momordica charantia. L) merupakan salah satu jenis tanaman hortikultura yang termasuk ke dalam familia Cucurbitaceae. Prospek pengembangan tanaman pare di pasar cukup cerah, namun budidaya tanaman pare ditingkat petani masih bersifat usaha sampingan. Penggunaan tanah podsolik merah kuning (PMK) sebagai media tumbuh tanaman pare dihadapkan pada kendala sifat fisik dan kimia tanah yang kurang baik seperti tekstur yang padat, aerasi tanah yang kurang baik, permeabilitasnya yang rendah, produktivitas dan kandungan unsur hara yang cenderung rendah. Upaya untuk mengatasi masalah sifat fisik dan kimia tanah yaitu dengan pemberian pupuk kandang bebek disertai pemberian pupuk kalium untuk mendukung hasil panen pare yang lebih optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis interaksi pupuk kandang bebek dan pupuk kalium yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil pare pada tanah PMK. Penelitian ini dilaksanakan di Jl. Sepakat 2, Gg. Racana Untan, Pontianak, dimulai pada bulan Maret - Mei 2025. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap ( RAL) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah dosis pupuk kandang bebek dengan simbol (B) terdiri dari 3 taraf perlakuan yaitu b1 = 10 ton/ ha atau 40 g/polybag, b2 = 20 ton/ha atau 80 g/polybag, b3 = 30 ton/ha atau 120 g/polybag dan faktor kedua yaitu pupuk kalium (K) terdiri dari 3 taraf perlakuan yaitu k1 = 100 kg/ha atau 4 g/tanaman, k2 = 150 kg/ha atau 6 g/tanaman, dan k3 = 200 kg/ha atau 8 g/tanaman. Hasil penelitian menunjukan bahwa bahwa intaraksi antara dosis pupuk kandang bebek 20 ton/ha setara dengan 80 g/polybag dan dosis pupuk kalium 100 kg/ha setara dengan 4 g/tanaman merupakan dosis yang efisien untuk pertumbuhan dan hasil pare pada tanah PMK.
RESPON PEMBERIAN ABU TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT DAN NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN LOBAK PADA TANAH ALUVIAL Leowardi, Iknasius; Hendarti, Indri; Aprizkiyandari, Siti
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 15, No 2
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v15i2.96144

Abstract

Lobak merupakan salah satu tanaman hortikultura yang cukup menjanjikan untuk dibudidayakan, memiliki bentuk umbi yang mirip dengan tanaman wortel. Produksi tanaman lobak dilakukan pada tanah aluvial. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis interaksi antara abu tandan kosong kelapa sawit dan NPK terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman lobak pada tanah aluvial. Penelitian ini dilaksanakan di lahan Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak. penelitian dimulai dari 13 September sampai 06 November 2024. Penelitian menggunakan rancangan faktorial dengan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor pertama adalah abu tandan kosong kelapa sawit (a). Faktor kedua adalah pupuk NPK (b) yang masing-masing terdiri dari 3 taraf perlakuan sehingga total kombinasi perlakuan sebanyak 9 kombinasi dan diulang sebanyak 3 kali sehingga didapat 27 unit percobaan. Faktor (a) dosis abu tandan kosong kelapa sawit yang terdiri dari 3 taraf yaitu: a1 = 3,5 ton/ha atau setara dengan 19 g/polybag, a2 = 5,0 ton/ha atau setara dengan 27 g/polybag, a3 = 6,5 ton/ha atau setara dengan 35 g/polybag dan Faktor (b) dosis pupuk NPK yang terdiri dari 3 taraf yaitu: b1 = 250 kg/ha atau setara 1,3 g/polybag, b2 = 400 kg/ha atau setara 2,1 g/polybag, b3 = 550 kg/ha atau setara 2,9 g/polybag. Variabel yang diamati adalah jumlah daun, panjang umbi, diameter umbi, berat segar tanaman, berat segar umbi dan berat kering tanaman. Berdasarkan hasil penelitian tidak terjadi interaksi antara pemberian abu tandan kosong kelapa sawit dan pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman lobak pada tanah aluvial. Pemberian abu tandan kosong kelapa sawit dengan dosis 6,5 ton/ha memberikan hasil terbaik pada variabel berat segar tanaman dan berat segar umbi. Sementara hasil pemberian pupuk NPK dosis 250 kg/ha sama dengan hasil pemberian pupuk NPK dosis 400 kg/ha dan dosis 550 kg/ha.
PATOGENISITAS NEMATODA PATOGEN SERANGGA (Steinernema carpocapsae) ASAL TANAH GAMBUT TERHADAP RAYAP TANAH (Coptotermes curvignathus) Hendarti, Indri; Paster, Ari; Malik, Akhmad Faisal
Agros Journal of Agriculture Science Vol 25, No 4 (2023): edisi Oktober
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v25i4.3489

Abstract

Soil termites (Coptotermes curvignathus) are one of the main pests that can cause plant death and economic losses. One of controling C. curvignathus is by using entomopathogenic nematodes (Steinernema carpocapsae). This study aims to measure the pathogenicity of S. carpocapsae from peat soil against C. curvignathus. Research was carried out at the Plant Pest Laboratory, Faculty of Agriculture, Tanjungpura University, Pontianak. This research used Randomized Block Design with one treatment and six concentration levels of S. carpocapsae (25 ji/ml, 50 ji/ml, 100 ji/ml, 200 ji/ml, 400 ji/ml, and 800 ji/ml), each concentration level was repeated five times. Parameters observed included the mortality of C. curvinathus, lethal period, virulence level, and number of S. carpocapsae per host. The results showed that S. carpocapsae caused 100% mortality in 800 ji/ml after 96 hours inoculation. Lethal period and virulence up to 40.68 hour and 0,024 hour. Whereas, number of S. carpocapsae per host were not significantly different among another treatments. Keywords: Mortality, lethal period, virulenceINTISARIRayap tanah (Coptotermes curvignathus) merupakan salah satu hama utama yang dapat menyebabkan kematian tanaman sehingga menimbulkan kerugian secara ekonomis sangat besar. Salah satu cara pengendalian rayap tanah yaitu dengan  menggunakan nematoda patogen serangga (Steinernema carpocapsae). Penelitian ini bertujuan untuk mengukur daya patogenisitas S. carpocapsae asal tanah gambut terhadap rayap tanah (C. curvignathus). Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Hama Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura Pontianak. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu perlakuan dan 6 taraf  konsentrasi S. carpocapsae (25 ji/ml, 50 ji/ml, 100 ji/ml, 200 ji/ml, 400 ji/ml, dan 800 ji/ml), masing-masing taraf konsentrasi diulang sebanyak 5 kali. Parameter yang diamati antara lain mortalitas C. curvignathus, periode letal, dan tingkat virulensi, serta jumlah S. carpocapsae yang keluar dari serangga uji terinfeksi, dan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa S. carpocapsae mampu menyebabkan mortalitas sebesar 100% pada perlakuan 800 ji/ml dalam 96 jam setelah inokulasi, periode letal dan tingkat virulensi masing-masing sebesar 40,68 sebesar 0,024. Sementara itu, jumlah S. carpocapsae yang keluar dari tubuh serangga uji terinfeksi tidak berbeda nyata antara satu perlakuan dengan perlakuan lainnya. Kata kunci : Mortalitas, periode letal, virulensi
APLIKASI BIOENKAPSULAN Metharizium spp. SEBAGAI UMPAN PAKAN UNTUK PENGENDALIAN HAMA Oryctes rhinoceros Hendarti, Indri; Apindiati, Rita Kurnia
Agros Journal of Agriculture Science Vol 26, No 1 (2024): Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v26i1.4056

Abstract

The horn beetle (Oryctes rhinoceros) is an important pest in oil palm plants. This pest damages young leaves that have not yet opened as well as young plants less than two years old and damages the growing point so that the oil palm plant will die. O. rhinoceros can attack young and mature plants and has an inverted V shape. So it is necessary to control O. rhinoceros larvae. The fungus Metarhizium spp. is an entomopathogenic fungus that is used as a bioinsecticide. Utilization of the fungus Metarhizium spp. It is hoped that it will be able to suppress the population of O. rhinoceros larvae in the long term. The methods used in this research were preparation of O. rhinoceros larvae, preparation of the fungus Metarhizium spp., propagation of Metarhizium spp. in rice media, calculation of conidia density of Metarhizium spp., production of biopesticide by encapsulating Metarhizium spp. using coacervation techniques, application of biopesticides, observation and data analysis. Administration of M. anisopliae bio encapsulant to 2nd and 3rd instar O. rhinoceros larvae at a concentration of 108 conidia/ml. This can be seen from the mortality percentage of 52% for O. rhinoceros larvae. M. anisopliae infection showed symptoms of death after the second day of M. anisopliae bio encapsulant application until greenish sporulation spots appeared that covered almost the entire body of O. rhinoceros larvae. Metarhizium spp. isolate. proven to have potential for use as a biological agent because it has high virulence against O. rhinoceros. Key words: bio encapsulant, Metarhizium anisopliae, Oryctes rhinoceros  INTISARIHama kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros) sebagai hama penting pada tanaman kelapa sawit. Hama tersebut merusak daun muda yang belum terbuka serta pada tanaman yang masih muda dengan umur kurang dari dua tahun dan merusak titik tumbuh sehingga tanaman kelapa sawit akan mati. O. rhinoceros dapat menyerang tanaman yang masih muda maupun yang dewasa serta berbentuk huruf V terbalik. Sehingga diperlukan pengendalian terhadap larva O. rhinoceros. Cendawan Metarhizium spp. merupakan cendawan entomopatogen yang dimanfaatkan sebagai bioinsektisida. Pemanfaatan cendawan Metarhizium spp. diharapkan mampu menekan populasi larva O. rhinoceros dalam jangka panjang.  Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu persiapan larva O. rhinoceros, persiapan cendawan Metarhizium spp., perbanyakan Metarhizium spp.di media beras, perhitungan kerapatan konidia Metarhizium spp., pembuatan biopestisida dengan enkapsulasi Metarhizium spp. menggunakan teknik coacervation, pengaplikasian biopestisida, pengamatan, serta analisis data. Pemberian bioenkapsulan  M. anisopliae terhadap larva O. rhinoceros instar 2 dan 3 pada konsentrasi 108 konidium/ml. Hal ini dapat  terlihat dari persentase  mortalitas 70% larva  O. rhinoceros. Akan tetapi, mortalitas tertinggi ditunjukkan oleh konsentrasi 109 konidium/ml (A4) dengan mortalitas 75%. Infeksi M. anisopliae menunjukkan gejala kematian setelah hari ke-2 aplikasi bioenkapsulan M. anisopliae hingga munculnya bercak  sporulasi kehijauan yang menyelimuti hampir seluruh tubuh larva O. rhinoceros. Isolat Metarhizium sp. terbukti potensial untuk digunakan sebagai agensia hayati karena memiliki virulensi tinggi terhadap O. rhinoceros  Kata kunci: bio enkapsulan, Metarhizium anisopliae, Oryctes rhinoceros