Solichah, Chimayatus
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Effectiveness of Bilimbi (Averrhoa bilimbi) and Lantana (Lantana camara) Leaf Extracts as Botanical Insecticides for Controlling Maize weevil (Sitophilus zeamais) Silalahi, Cecilya; Haryanti, Sindi; Solichah, Chimayatus
Open Global Scientific Journal Vol. 4 No. 1 (2025): Open Global Scientific Journal (OGSJ)
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70110/ogsj.v4i1.48

Abstract

Background: Reduced production due to post-harvest pest attacks is a significant issue. Post-harvest pest control is crucial, and botanical pesticides are currently a primary option for post-harvest pest control. Bilimbi leaves (Averrhoa bilimbi) and lantana leaves (Lantana camara) contain active ingredients that have the potential to control the maize weevil (Sitophilus zeamais).Aims: This study aimed to determine the effect of bilimbi and lantana leaf extract on the Sitophilus zeamais population and the quality of maize seeds in storage, and to obtain the best concentration of bilimbi and lantana leaf extract in suppressing the Sitophilus zeamais population so that it can maintain the quality of maize seeds in storage.Methods: The experiment was arranged in a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 7 treatments and 4 replications: control/no treatment (K), bilimbi leaf extract concentration of 3% (B1), 6% (B2), 9% (B3), and lantana leaf extract concentration of 3% (T1), 6% (T2), and 9% (T3). The variables observed were the Sitophilus zeamais population, germination power, and maize seed vigor index.Results: The results showed that various concentrations of bilimbi and lantana leaf extracts were effective in maintaining maize seed quality, particularly in terms of seed vigor index. The 9% concentration of bilimbi and lantana leaf extracts is best at suppressing Sitophilus zeamais.
PENAMBAHAN BAHAN ORGANIK PADA JAMUR Metarhizium anisopliae UNTUK PENGENDALIAN URET Lepidiota stigma Pada Tanaman Jahe Merah (Zingiber officinale) solichah, chimayatus; Puspitasari, Dena Aisyah; Poerwanto, Mofit Eko; Supriyanta, Bambang; Hardiastuti, Siwi
Jurnal Agrivet Vol 30 No 1 (2024): AGRIVET
Publisher : UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN” YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/agrivet.v30i1.12199

Abstract

Metarhizium anisopliae dengan penambahan bahan organik digunakan sebagai pengendali hama uret Lepidiota stigma dan sekaligus sumber nutrisi M. anisopliae. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh penambahan berbagai macam bahan organik pada jamur M. anisopliae untuk mengendalikan hama uret L. stigma pada tanaman jahe merah. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan UPN “Veteran” Yogyakarta Sempu, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) 2 faktor + 1 kontrol dan diulang sebanyak 3 kali. Faktor pertama adalah dosis M. anisopliae yaitu 10 g/ 3 kg media tanam, 20 g/ 3 kg media tanam, dan 30 g/ 3 kg media tanam. Faktor yang ke dua adalah jenis bahan organik yaitu pupuk kascing, pupuk kotoran sapi dan pupuk kotoran kambing. Data dianalisis dengan menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) Kontras Orthogonal dengan taraf 5%, dilanjutkan dengan uji DMRT (Duncan’s Multiple Range Test) taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis M. anisopliae 30 g/ 3 kg media tanam merupakan dosis yang paling baik dalam meningkatkan mortalitas uret, bobot segar akar dan volume akar serta menekan kerusakan akar tanaman jahe merah. Penambahan pupuk kotoran sapi dan kotoran kambing mampu meningkatkan mortalitas uret dan menekan kerusakan akar tanaman jahe merah. 
PENGARUH VARIASI DOSIS Trichoderma harzianum dan Gliocladium virens DALAM PENGENDALIAN PENYAKIT LAYU FUSARIUM (Fusarium oxysporum) TERHADAP HASIL TOMAT Yusriya, Azalia Sana; Brotodjojo, R.R.Rukmowati; Solichah, Chimayatus
Jurnal Agrivet Vol 29 No 1 (2023): AGRIVET
Publisher : UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN” YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/agrivet.v29i1.7969

Abstract

Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) adalah komoditas unggulan hortikultura yang mempunyai nilai ekonomis penting di Indonesia. Penyakit layu Fusarium merupakan penyakit pada tanaman tomat yang perlu dikendalikan karena dapat menyebabkan gagal panen. Penggunaan fungisida sintetik yang tidak bijaksana berdampak buruk bagi tanaman. Beberapa jamur antagonis yang menunjukkan hasil dalam mengendalikan patogen tular tanah adalah Trichoderma harzianum dan Gliocladium virens. Apabila diaplikasikan secara bersamaan maka daya hambat racunnya akan semakin tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas serta menentukan dosis terbaik T. harzianum dan G. virens dalam mengendalikan layu Fusarium dan meningkatkan hasil. Penelitian dilaksanakan di Bangunjiwo Grahayasa, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada bulan Maret-Juni 2022. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Perlakuan yang digunakan adalah Kontrol negatif (Tanpa Agen Pengendali Hayati), kontrol positif (fungisida berbahan aktif Benomyl), T.harzianum 40g/tan, G.virens 150g/tan, T.harzianum 20g/tan + G.virens 100g/tan, T.harzianum 30g/tan + G.virens 50g/tan. Data dianalisis menggunakan analisis varian (ANOVA) dan apabila terdapat beda nyata dilanjutkan dengan metode Duncan Multiple Range Test pada taraf uji 5%. Aplikasi Agen Pengendali Hayati (APH) T. harzianum dan G. virens baik secara tunggal maupun kombinasi efektif untuk mengendalikan penyakit layu Fusarium. Penggunaan Agen Pengendali Hayati lebih efektif dibanding fungisida Benomyl dalam pengendalian layu Fusarium. Dosis APH yang efektif untuk mengendalikan layu Fusarium adalah kombinasi T.harzianum 20g/tan + G.virens 100g/tan atau T.harzianum 30g/tan + G.virens 50g/tan dan T.harzianum 40g/tan atau G.virens 150g/tan. Hasil bobot buah perlakuan aplikasi APH kombinasi T.harzianum 30g/tan + G.virens 50g/tan lebih tinggi daripada kontrol negatif, tetapi jumlah buah tidak berbeda nyata pada semua perlakuan pada taraf uji 5%. Aplikasi Agen Pengendali Hayati (APH) T. harzianum dan G. virens baik secara tunggal maupun kombinasi efektif untuk mengendalikan penyakit layu fusarium. Penggunaan Agen Pengendali Hayati lebih efektif dibanding fungisida Benomyl dalam pengendalian layu fusarium. Dosis APH yang efektif untuk mengendalikan layu fusarium adalah kombinasi T.harzianum 20g/tan + G.virens 100g/tan atau T.harzianum 30g/tan + G.virens 50g/tan dan T.harzianum 40g/tan atau G.virens 150g/tan. Hasil bobot buah perlakuan aplikasi APH kombinasi T.harzianum 30g/tan + G.virens 50g/tan lebih tinggi daripada kontrol negatif, tetapi jumlah buah tidak berbeda nyata pada semua perlakuan.