Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KERUSAKAN JALAN PADA JALAN LINGKUNGAN PEMUKIMAN JALAN PUNCAK V GUMAWANG KECAMATAN BELITANG Ivan Sukastian; Dikpride Despa; Lusmeilia Afriani
Prosiding Seminar Nasional Ilmu Teknik Dan Aplikasi Industri Fakultas Teknik Universitas Lampung Vol. 5 (2022): SINTA
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.329 KB) | DOI: 10.23960/prosidingsinta.v5i.51

Abstract

Meningkatnya kebutuhan akan sarana perhubungan sesuai juga dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk di Kecamatan Belitang. Untuk itu diperlukan suatu jaringan jalan yang terencana, sehingga berbagai hambatan yang terjadi dapat di atasi sendini mungkin agar terciptanya keamanan dan kenyamanan bagi para pemakai jalan. Salah satu hambatan pada jalan adalah bila terjadi kerusakan pada jalan tersebut. Pertambahan volume lalu lintas menyebabkan terjadinya penambahan kepadatan lalu lintas yang tidak seimbang dengan kapasitas jalan, hal ini akan menimbulkan masalah seperti terjadinya kecelakaan lalu lintas dan kerusakan jalan yang dapat mengganggu tingkat kinerja atau pelayanan dari jalan tersebut. Penggunaan jalan yang lebih pendek jarak tempuhnya selalu dicari oleh setiap pemakai jalan agar perjalanan mereka cepat sampai. Pada jalan lingkungan pemukiman mempunyai spesifikasi konstruksi yang berbeda karena jalan ini termasuk jalan kelas rendah dengan rencana lalu lintas yang melewatinya bukan kendaraan yang berat karena jalan ini untuk keperluan penduduk yang ingin melakukan perjalanan untuk mencapai tujuannya. Karena jalan lingkungan pemukiman ini dibuat dengan spesifikasi yang rendah maka rawan terhadap terjadinya kerusakan. Kerusakan ini bisa berawal dari permukaan jalannya (surface) juga bisa akibat pondasi jalannya yang kurang stabil (labil), tujuan dari penelitian ini adalah: Mengetahui berapa macam jenis-jenis kerusakan jalan yang ada pada literatur yang terkait dengan kerusakan jalan. Mengetahui berapa macam jenis kerusakan jalan yang ada pada lingkungan di jalan Puncak v Gumawang Kecamatan Belitang, metodologi dari penelitian ini adalah evaluatif dan kooperatif, dalam arti mengevaluasi jenis kerusakan jalan yang ada menurut literatur sesuai dengan judul penelitian ini
Review Perencanaan Teknis Jembatan Sungai Burnai di Desa Bungin Jaya terhadap Peningkatan Layanan Transportasi antara Desa Bungin Jaya dan Desa Kota Tanah, Kecamatan Semendawai Timur, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur Habibi Nur Arifin; Dikpride Despa; Lusmeilia Afriani
Prosiding Seminar Nasional Ilmu Teknik Dan Aplikasi Industri Fakultas Teknik Universitas Lampung Vol. 5 (2022): SINTA
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.976 KB) | DOI: 10.23960/prosidingsinta.v5i.60

Abstract

Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKU Timur) merupakan daerah yang berbasis agraris dengan penopang utama ekonomi masyarakat berasal dari sektor pertanian. Untuk menunjang kelancaran kegiatan perekonomian antar daerah, salah satu infrastuktur utama yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah jembatan. Untuk mendapatkan hasil dan fungsi bangunan atau struktur jembatan yang tepat, dibutuhkan perencanaan teknis yang tepat pula. Pemerintah Kabupaten OKU Timur melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Tata Ruang memiliki program perencanaan dan pembangunan jembatan, sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan pelayanan jalan atau transportasi di wilayah Kabupaten, sehingga diharapkan akan terwujudnya konektifitas yang baik antar desa yang didominasi oleh sektor pertanian. Dengan demikian diharapkan pula akan meningkatkan transportasi dan arus distribusi hasil-hasil pertanian. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan review terhadap perencanaan teknis Jembatan Sungai Burnai di Desa Bungin Jaya, Kecamatan Semendawai Timur, yang menghubungkan 2 (dua) desa di Kecamatan Semendawai Timur, yaitu Desa Bungin Jaya dan Desa Kota Tanah. ßßKondisi saat ini, dengan tidak adanya lagi jembatan penghubung antar kedua desa tersebut, jalan penghubung yang semula ada pun hilang fungsinya, sehingga masyarakat setempat harus memutar menggunakan jalan yang jarak tempuhnya lebih panjang dan membutuhkan waktu tempuh yang lebih lama.