Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Multidisciplinary Indonesian Center Journal

RASIONALISME VS EMPERISME DALAM PERSPEKTIF EPISTEMOLOGI MODERN Trirahmayati, Tiara; Amril Mansur
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 2 No. 1 (2025): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2025
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v2i1.415

Abstract

This article discusses the debate between rationalism and empiricism from the perspective of modern epistemology, aiming to uncover how both approaches have contributed to the development of science and technology. Rationalism asserts that knowledge is acquired through reason and logic, independent of sensory experience, as advocated by philosophers such as René Descartes and Gottfried Wilhelm Leibniz. In contrast, empiricism emphasizes that knowledge arises from sensory experience, as articulated by John Locke, George Berkeley, and David Hume. Although these views are often considered opposing, Immanuel Kant attempted to bridge the gap by proposing that knowledge is the result of the interaction between reason and experience. In the context of modern science, both rationalism and empiricism are no longer viewed as separate poles but rather as complementary, especially in fields such as artificial intelligence and neurobiology. This article demonstrates that the synthesis of rationalism and empiricism provides a more holistic understanding of human knowledge, which is highly relevant to the advancement of science and technology in the modern era. This research employs a descriptive-analytical qualitative approach, examining literature related to rationalism, empiricism, and modern epistemology to analyze their contributions to the formation of knowledge
FILSAFAT POSITIVISME DAN ILMU PENGETAHUAN SERTA PERANNYA TERHADAP PENDIDIKAN DI INDONESIA Hasibuan, Nurkhadizah; Amril Mansur
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 2 No. 1 (2025): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2025
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v2i1.425

Abstract

Artikel ini membahas tentang filsafat positivisme dan ilmu pengetahuan serta dampaknya terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Positivisme, sebagai salah satu aliran filsafat, sangat menekankan pada pentingnya observasi empiris dan data kuantitatif dalam memperoleh pengetahuan. Pendekatan ini memiliki pengaruh signifikan terhadap kurikulum dan metode pengajaran di Indonesia. Artikel ini juga mengeksplorasi tantangan dan peluang yang dihadapi dalam penerapan positivisme dalam pendidikan di Indonesia.
EPISTIMOLOGI, FENOMENOLOGI, HERMUNEUTIKA DAN DEKONSTRUKSIONISME Fuji Rahayu; Amril Mansur
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 2 No. 1 (2025): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2025
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v2i1.430

Abstract

  Tiga cabang utama dalam filsafat ilmu antara lain Fenomenologi, Hermeneutika dan Dekonstruksionisme. Filsafat ilmu mencakup berbagai aspek yang berkaitan dengan aspek pengetahuan, realitas dan pemahaman manusia terhadap dunia. Ketiga cabang ilmu ini memiliki focus dan pendekatan yang berbeda dalam memahami hakikat pengetahuan. Tujuan dari penulisan ini untuk mendalami aspek – aspek dari Fenomenologi, yang berfokus pada pengalaman subjektif dan kesadaran manusia, konsep Hermeneutika berfokus pada penafsiran teks dan konteks social dan Dekonstruksionisme yang berfokus pada membongkar makna dan struktur dalam bahasa serta teks. Dari ketiga pendekatain ini, meskipun berbeda tetapi dapat menggali pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana manusia membangun pengetahuan dan makna. Penulis menyarankan agar setiap individu mempertimbangkan pemikiran rasional dalam setiap tindakan untuk mencapai hasil yang lebih baik dan memuaskan.
PERKEMBANGAN ILMU DI DUNIA ISLAM KLASIK (ABBASIYAH) Putri Rahma Dani; Amril Mansur
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 2 No. 1 (2025): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2025
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v2i1.431

Abstract

Using a descriptive qualitative approach, this study aims to describe the development of science in the Classical Islamic world during the Abbasid Dynasty (750–1258 AD). Literature studies, interviews with Islamic historians, and observations at historical sites are the methods used. The results of the study show that science made rapid progress during the Abbasid era, especially in mathematics, medicine, astronomy, and chemistry. Translating and disseminating information from Greek, Persian, and Indian civilizations was greatly assisted by centers of knowledge such as Bayt al-Hikma (House of Wisdom) in Baghdad. Famous scientists such as Al-Khwarizmi, Ibn Sina, and Al-Razi made major contributions through their highly influential works, which were then widely disseminated in the West. In addition, this study found that the socio-political conditions and support from the Abbasid caliphs.
ANALISIS PEMIKIRAN NALAR BAYANI, BURHANI, DAN IRFANI DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT MUHAMMAD ABID AL-JABIRI Aisyah Elvina; Amril Mansur
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 2 No. 1 (2025): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2025
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v2i1.444

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemikiran epistemologi Muhammad Abid al-Jabiri, khususnya mengenai tiga bentuk nalar yaitu nalar Bayani, Burhani, dan Irfani dalam konteks filsafat Islam. Al-Jabiri, seorang filsuf kontemporer asal Maroko dikenal dengan upayanya dalam mengembangkan pemikiran filsafat yang mengintegrasikan rasionalitas, otoritas, dan intuisi. Dalam pemikiran al-Jabiri, ketiga bentuk nalar ini tidak hanya dianggap sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga sebagai cara untuk memahami hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan diri sendiri. Nalar Bayani, yang berfokus pada teks otoritatif, digunakan untuk memahami wahyu dan ajaran agama, sedangkan nalar Burhani lebih menekankan pada penggunaan logika dan rasio dalam mencari kebenaran ilmiah yang universal. Di sisi lain, nalar Irfani menggali dimensi pengetahuan yang lebih dalam melalui pengalaman batin dan intuisi mistik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis teks, menggali konsep-konsep yang dikemukakan al-Jabiri dalam karya-karyanya dan menghubungkannya dengan teori epistemologi dalam tradisi filsafat Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Jabiri memandang ketiga bentuk nalar ini sebagai saling melengkapi, bukan saling bertentangan, untuk mencapai pemahaman yang lebih utuh dan holistik tentang realitas. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman lebih dalam mengenai epistemologi Islam kontemporer dan relevansinya dalam menghadapi tantangan intelektual dunia modern.