Kahfie Nazaruddin
FKIP Universitas Lampung

Published : 19 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Fungsi Latar Pingkan Melipat Jarak dan Rancangan Pembelajarannya di SMA Kelas XII Shinta Wulandari; Kahfie Nazaruddin; Munaris Munaris
Jurnal Kata (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya) Vol 6, No 1 Jan (2018)
Publisher : FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.784 KB)

Abstract

The purpose of this research was to describe the function setting in order to support the characterization in Pingkan Melipat Jarak, a novel by Sapardi Djoko Damono, and its design of learning for high schools. The method used was descriptive qualitative method. In the above mentioned novel the function of setting is found as a neutral, metaphorical, and atmospherical. As metaphorical and atmospherical setting, they give rise to Pingkans mental traints of closed, obidient, indifferent, and stubborn. The character of Katsuo are introvert and plain, while the character of Sarwono was trustworthy. In addition the character of Toar and Mrs. Palenkahu is indiscriminate toword peoples sosial statifications. Furthermore the character of Mr. Hadi and Mrs. Hadi is selfish but merciful. Therefore, those characters can be used in the design of learning literature in high school with the teaching aim to make students be able to identify setting and able to function metaphore and atmosphere.Tujuan dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan keberfungsian latar untuk mendukung penokohan dalam novel Pingkan Melipat Jarak Karya Sapardi Djoko Damono dan rancangan pembelajarannya di SMA. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Dalam novel tersebut ditemukan fungsi latar sebagai latar netral, metafora, dan atmosfer. Dari kedua fungsi latar metafora dan atmosfer untuk mendukung penokohan ditemukan bahwa tokoh Pingkan yang berkepribadian tertutup, patuh, cuek, namun juga keras kepala. Tokoh Katsuo yang berkepribadian suka menyendiri dan sederhana, tokoh Sarwono yang mempunyai kepribadian selalu menepati janji, Toar dan Bu Palenkahu berkepribadian tidak membeda-bedakan kasta apapun pada seseorang, dan tokoh Pak Hadi serta Bu Hadi yang berkebpribadian egois namun tetap penyayang dan dapat digunakan dalam perancangan pembelajaran sastra di SMA dengan tujuan agar siswa mampu mengidentifikasi latar dan mampu menentukan fungsi latar sebagai metafora dan atmosfer.Kata kunci: fungsi latar, sifat tokoh, novel, rancangan pembelajaran.
Penokohan Novel Pingkan Melipat Jarak Karya Sapardi Djoko Damono dan Rancangan Pembelajaran Sastra Ahmad Riduwan; Edi Suyanto; Kahfie Nazaruddin
Jurnal Kata (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya) Vol 6, No 4 Sep (2018)
Publisher : FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.249 KB)

Abstract

The purpose of this study was to explore the types of figures, analysis techniques of figures, in the novel Pingkan Melipat Jarak by Sapardi Djoko Damono and the design of literary learning in high school. The method used in this study is qualitative descriptive. The results of the overall analysis in the novel Pingkan Melipat Jarak by Sapardi Djoko Damono, found 8 figures who play a role in the story, and there are 61 data regarding characterizations which are divided into 29 data in the analysis of types of figures and 32 data in the analysis of figure depiction. The appropriate learning plan is basic competesies 3.9 Analyzing the content and linguistic of the novel. The activity of analyzing text aims to enable students to describe characterizations in the novel.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan jenis-jenis tokoh, teknik analisis tokoh, dalam novel Pingkan Melipat Jarak  karya Sapardi Djoko Damono dan rancangan pemebelajaran sastra di SMA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil analisis secara keseluruhan dalam novel Pingkan Melipat Jarak karya Sapardi Djoko Damono ini, ditemukan 8 tokoh yang berperan dalam cerita, dan terdapat 61 data mengenai penokohan yang terbagi menjadi 29 data dalam analisis jenis-jenis tokoh dan 32 data dalam analisis pelukisan tokoh. Rancangan pembelajaran yang sesuai yaitu KD 3.9 Menganalisis isi dan kebahasaan novel. Kegiatan menganalisis teks bertujuan agar siswa mampu mendeskripsikan penokohan dalam novel.Kata kunci: jenis-jenis tokoh, rancangan pembelajaran, dan teknik pelukisan tokoh.
Gaya Bahasa Retoris dalam Kumpulan Puisi Mantra Sang Nabi dan Rancangan Pembelajarannya Firman Septihadi; Mulyanto Widodo; Kahfie Nazaruddin
Jurnal Kata (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya) Vol 6, No 3 Jul (2018)
Publisher : FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.892 KB)

Abstract

This study attempts to described the rhetorical style in Mantra Sang Nabi a collection of poetry and to design of learning in high school. The descriptive qualitative method was used to attain the above aim. The results of the study showed that in Mantra Sang Nabi, There are six rhetorical devices found: aliterasi, asonansi, apostrof, asindeton, polisindeton, hiperbol. The poet makes use of those devices as an effort to bring out certain emotion mood, sad, leaden, reverence, diaphanous, awe; on purpose to the reader expected to be felt by poet. The results of the study in designed learning as high school of teaching materials, with competence the base of analyzing elements builders poetry.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gaya bahasa retoris pada kumpulan puisi Mantra Sang Nabi dan merancang pembelajarannya di SMA. Metode yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kumpulan puisi Mantra Sang Nabi terdapat gaya bahasa retoris: aliterasi, asonansi, apostrof, asindeton, polisindeton, hiperbol. Penggunaan gaya bahasa retoris pada kumpulan puisi Mantra Sang Nabi merupakan suatu usaha penyair untuk memunculkan suasana tertentu yaitu haru, sedih, kelam, takzim, hening, kagum; dengan sengaja digunakan agar pembaca turut merasakan yang dirasakan oleh penyair. Hasil penelitian in dirancang pembelajarannya sebagai bahan ajar SMA, dengan kompetensi dasar menganalisis unsur pembangun puisi.Kata kunci: gaya bahasa retoris, kumpulan puisi, rancangan pembelajaran
VERBA PREDIKATIF BAHASA TOKOH WANITA DAN JURU CERITA NOVEL GENDUK Abdul Ageng Firmansyah; Kahfie Nazaruddin; Munaris Munaris
Jurnal Kata (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya) Vol 8, No 1 Apr (2020): JURNAL KATA (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya)
Publisher : FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.054 KB)

Abstract

The problem in this study is the use of predicative verbs in the language of female characters and storytellers contained in the novel Genduk by Sundari Mardjuki. The method used in this research is descriptive qualitative method and makes the novel Genduk by Sundari Mardjuki as a data source. Data analysis technique in research is text analysis. The results of the research show that the predicative verbs in the language of women characters and storytellers contained in the novel Genduk by Sundari Mardjuki are using intransitive verbs, monotransitive verbs, and ditransitive verbs. The use of predictive verbs in Sundanese novel Mendjuki's Genduk can be used as an alternative teaching material in high school. Masalah dalam penelitian ini adalah penggunaan verba predikatif bahasa tokoh wanita dan juru cerita yang terdapat dalam novel Genduk karya Sundari Mardjuki. Metode  yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dan menjadikan novel Genduk karya Sundari Mardjuki sebagai sumber data. Teknik analisisis data dalam penilitian adalah analisis teks.  Hasil penelitian menunjukan verba predikatif bahasa tokoh wanita dan juru cerita yang terdapat dalam novel Genduk karya Sundari Mardjuki adalah menggunakan verba taktransitif, verba ekatransitif, dan verba dwitransitif. Penggunaan verba predikatif dalam novel Genduk karya Sundari Mardjuki dapat digunakan sebagai alternatif bahan ajar di SMA.Keywords: predicative verbs, novels, teaching materials.
CITRAAN DALAM KUMPULAN PUISI SAJAK EMAS KARYA DIMAS AM DAN RANCANGAN PEMBELAJARANNYA Neni Agustin; Edi Suyanto; Kahfie Nazaruddin
Jurnal Kata (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya) Vol 8, No 2 Sep (2020): JURNAL KATA (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya)
Publisher : FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.289 KB)

Abstract

The purpose of this research is to describe image in a poetry collection of Sajak Emas by Dimas Arika Mihardja and to design the learning in senior high schools. This research used descriptive qualitative method. The data sources of this research were 18 poems in a poetry collection of Sajak Emas. The results showed that the image in the poems Sajak Emas used all types of images: that are visual, auditory, olfactory, feeling / tasting, tactile, and kinesthetic. Category image are divided into four categories: that are flora, phenomena, abiotic, and fauna. These categories were used to produce a image and each of its natural elements tends to show an impression of events, places, objects, which show interaction around the poet. The results of this research can be used by Indonesian Language teachers in senior high schools. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan citraan dalam kumpulan puisi Sajak Emas karya Dimas Arika Mihardja dan merancang pembelajaran di SMA. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini berjumlah 19 puisi yang terdapat dalam kumpulan puisi Sajak Emas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa citraan dalam puisi-puisi Sajak Emas karya Dimas Arika Mihardja menggunakan semua jenis citraan, yaitu visual, auditori, penciuman, rasaan/pencecapan, taktil, dan kinestetik. Kategori citraan yang digunakan penyair terbagi atas empat kategori yaitu flora, fenomena alam, abiotik, dan fauna. Kategori-kategori tersebut digunakan si penyair untuk menghasilkan citraan dan tiap unsur alamnya cenderung menunjukkan kesan terhadap peristiwa, tempat, benda yang menunjukkan interaksi di sekitar penyair. Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh guru Bahasa Indonesia di SMA. Keywords: Imagery, design learning, poetry
Imaji pada Kumpulan Menuju Kota Lama Karya Isbedy Stiawan dan Rancangan Pembelajarannya Andri Widiastuti; Kahfie Nazaruddin; Munaris Munaris
Jurnal Kata (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya) Vol 6, No 4 Sep (2018)
Publisher : FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.374 KB)

Abstract

This research was aimed to describe the images contained in a collection of poems Menuju Kota Lama by Isbedy Stiawan Z.S. and the design of literature learning in junior high school. This research method was desciptive qualitative. The data source is from collection of poems Menuju Kota Lama by Isbedy Stiawan Z.S. published by Siger Publisher on April 2014. The data were the lyrics to a collection of poems Menuju Kota Lama. The results showed that the collection of poems Menuju Kota Lama by Isbedy Stiawan Z.S. used all kinds of images. Kind of images often used is visual images, whereas the images that is rarely used is gustatory images. The collection of poems can be used as an alternative learning for students of VIII grade of the odd semester with the KD 3.7 to identify the building blocks of poetic texts that are played or read.Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan imaji yang terdapat pada kumpulan puisi Menuju Kota Lama karya Isbedy Stiawan Z.S. dan rancangan pembelajaran sastra di sekolah menengah pertama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data adalah kumpulan puisi Menuju Kota Lama karya Isbedy Stiawan Z.S. yang diterbitkan Siger Publisher pada bulan April 2014. Data yang dianalisis adalah lirik pada kumpulan puisi Menuju Kota Lama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kumpulan puisi tersebut menggunakan semua jenis imaji. Imaji yang sering digunakan yakni imaji visual, sedangkan imaji yang jarang digunakan imaji pencecapan. Kumpulan puisi tersebut dapat dijadikan sebagai alternatif pembelajaran untuk siswa kelas VIII semester ganjil dengan KD 3.7 mengidentifikasi unsur-unsur pembangun teks puisi yang diperdengarkan atau dibaca.Kata kunci: imaji, puisi, pembelajaran.
Majas dalam Novel Petir karya Dewi Lestari Serta Rancangan Pembelajaran Sastra di SMA Hindun Kusuma Dewi; Kahfie Nazaruddin; Munaris Munaris
Jurnal Kata (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya) Vol 6, No 4 Sep (2018)
Publisher : FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.608 KB)

Abstract

This research was aimed to describe figure of speach simile, metaphor, personification, and hyperbole and to the design of Literature Learning in senior high school. The method used in this study was descriptive qualitative method. The data source is from Petir Novel by Dewi Lestari publishhed by PT. Bentang Pustaka on Februari 2016. The data analyze is the text to to Petir novel by Dewi Lestari.  The research found that there is a dominative number of simile with 39 data and metaphor 29 data. Meanwile, there are 10 data personification and 10 data hyperbole. nifation 100 data of similes. Meanwhile, there are 49 data which consisted of 23 data of metonymies. These data were analyzed based on vehicle and tenor. Simile, metaphor, personification, and hyperbole in Petir can be used as an alternative literature learning for students of class XII even semester with the Basic Competacies 3.9 analyze the content and language of the novel.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan majas simile, metafora, personifikasi, dan hiperbola serta rancangan pembelajaran sastra di sekolah menengah atas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data adalah novel Petir Karya Dewi Lestari yang diterbitkan PT. Bentang Pustaka cetakan Februari tahun 2016. Data yang dianalisis adalah teks pada novel Petir Dewi Lestari. Hasil penelitian ini diketahui simile sangat mendominasi dengan 39 data dan metafora dengan 30 data sedangkan personifikasi terdapat 10 data dan hiperbola terdapat 10 data. Data tersebut dianalisis berdasarkan vehicle dan tenor. Simile, metafora, personifikasi, dan hiperbola dalam novel Petir dapat  digunakan sebagai alternatif pembelajaran sastra untuk siswa kelas XII semester genap  dengan KD 3.9 menganalisis isi dan kebahasaan novel.Kata kunci:  majas, novel, pembelajarannya
Teks Eksplanasi Kompleks dalam Media Massa dan Pemanfaatannya Sebagai Materi Ajar Yuliyana Susanti; Sumarti Sumarti; Kahfie Nazaruddin
Jurnal Kata (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya) Vol 7, No 1 Apr (2019): JURNAL KATA (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarnnya)
Publisher : FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.077 KB)

Abstract

The purpose of this study was to describe the structure and the use of linguistic rules in complex explanatory texts in mass media and to design teaching materials for the second grade students of senior high school. This study used a qualitative approach and descriptive method. This study found that the complex explanatory text structure was in accordance with the theory. The linguistic rules of complex explanatory texts which were found were dominated by the use of time-markers because both chronological and causal texts were accompanied by adverbs of time. The teaching material which was produced was the outcome that was suitable for learning to understand the structure and rules of complex explanatory texts in the second grade students of senior high school.Tujuan penelitian ini mendeskripsikan struktur dan penggunaan kaidah kebahasaan teks eksplanasi kompleks dalam media massa dan merancang materi ajar untuk SMA kelas XI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deksriptif. Penelitian ini menemukan bahwa struktur teks eksplanasi kompleks yang ditemukan sesuai dengan teori. Kaidah kebahasaan teks eksplanasi kompleks yang ditemukan didominasi dengan penggunaan kata penunjuk keterangan waktu karena baik teks yang bersifat kronologis maupun kausalitas disertai dengan kata penunjuk keterangan waktu. Materi ajar yang dihasilkan ialah outcome yang cocok untuk pembelajaran memahami struktur dan kaidah teks eksplanasi kompleks di SMA Kelas XI.Kata kunci: teks eksplanasi kompleks, media massa,  dan materi ajar
Kritik Sosial dalam Kumcer Yang Bertahan dan Binasa Perlahan dan Rancangan Pembelajarannya Mohammad Ghufroni Anars; Munaris Munaris; Kahfie Nazaruddin
Jurnal Kata (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya) Vol 6, No 3 Jul (2018)
Publisher : FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.492 KB)

Abstract

The problems discussed in this research were how the social criticism content in short story books yang bertahan dan binasa perlahan by Okky Madasari that we can see from social problems as the root of social criticism, the way author delivers the social criticism, the target of social criticism, and lesson plan at SMA. This reasearch was aimed to find out social criticism content in thirteen short stories that have been analyzed and as an alternative source in literature lesson plan at SMA. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimanakah kandungan kritik sosial dalam buku kumpulan cerpen Yang Bertahan dan Binasa Perlahan karya Okky Madasari dilihat dari masalah sosial yang muncul sebagai akar kritik sosial, cara pengarang menyampaikan kritik sosial, sasaran kritik sosial, serta rancangan pembelajarannya di SMA. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai kandungan kritik sosial yang terdapat dalam tiga belas cerpen yang dianalisis, serta sebagai bahan yang dapat dijadikan alternatif rancangan pembelajaran sastra di SMA.Kata kunci: kritik, sosial, dan rancangan pembelajaran.