Ida Bagus Rai Widiarsa
Department Of Obstetrics And Gynecologic, Hermina Kemayoran Hospital, Central Jakarta, Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

KARAKTERISTIK DAN KUAT LEKAT TULANGAN SERAT BAGU PILINAN PADA BETON NORMAL I Ketut Sudarsana; Ida Bagus Rai Widiarsa; I Gede Wira Sayoga
JURNAL SPEKTRAN Vol 8 No 2 (2020): VOL. 8 NO. 2, JULI 2020
Publisher : Master of Civil Engineering Program Study, Faculty of Engineering, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penggunaan tulangan baja pada struktur beton bertulang untuk memikul tegangan tarik sangat rentan terhadap korosi. Serat bagu dipakai sebagai bahan pengganti baja tulangan untuk menghindari korosi yang sering terjadi. Perilaku tulangan dalam beton dipengaruhi banyak faktor, diantaranya lekatan antara beton dan tulangan serta panjang penanaman tulangan dalam beton. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kuat lekat antara tulangan serat bagu pilinan dan beton. Benda uji yang digunakan dalam penelitian ini berupa kubus beton dengan ukuran 150x150x150 mm dengan kuat tekan rencana 20 MPa. Tulangan serat bagu ditanam pada kubus beton dengan kedalaman 75, 100, 125 mm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tulangan serat bagu memiliki kuat tarik berbeda pada masing-masing jumlah pilinan, dimana untuk 2 pilinan memiliki kuat tarik 28,85 MPa, 3 pilinan memiliki kuat tarik 36,16 MPa, 5 pilinan memiliki kuat tarik 30,36 MPa. Dari pengujian kuat tarik tulangan diperoleh tulangan 3 pilinan mempunyai kuat tarik yang paling besar, dimana hal ini disebabkan oleh jumlah serat yang lebih banyak dan resin yang bekerja lebih baik. Hasil pengujian kuat lekat tulangan menunjukkan bahwa kuat lekat tulangan bagu melebihi kuat lekat baja tulangan, terbukti dari kuat putus tulangan serat bagu masih lebih tinggi dari pada kuat lekat baja tulangan untuk semua panjang penanaman (75 mm, 100 mm, 125 mm).
PERILAKU GESER BALOK TINGGI BETON SERAT BAGU TANPA TULANGAN TRANSVERSAL I Ketut Sudarsana; Ida Bagus Rai Widiarsa; Marselinus Anggur Ngganggus
JURNAL SPEKTRAN Vol 8 No 1 (2020): VOL. 8, NO. 1, JANUARI 2020
Publisher : Master of Civil Engineering Program Study, Faculty of Engineering, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (730.214 KB)

Abstract

Mekanisme geser pada balok tinggi penting untuk diperhatikan karena keruntuhan geser bersifat getas (brittle). Gaya geser umumnya kombinasi dengan lentur, torsi, atau gaya normal. Untuk mengatasi keruntuhan yang getas (brittle), perlu untuk meningkatkan persentase tulangan horizontal dan vertikal atau menggantinya dengan beton bertulangan serat (FRC). Serat Bagu merupakan serat alami yang kuat dan awet, serat Bagu banyak ditemukan dipasaran daerah Bali karena merupakan bahan yang dibutuhkan secara berkelanjutan setiap tahun pada saat perayaan Nyepi dengan harga yang terjangkau . Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi prilaku geser balok tinggi beton serat Bagu dengan variasi volume serat bagu 0%, 0,25%, 0,5%, 0,75% dan 1% terhadap berat semen yang meliputi perilaku pola retak, beban retak, kekakuan dan daktilitas balok tinggi. Penelitian ini juga membandingkan tingkat keakuratan prediksi geser dari SNI. 2847-2013 dan Strut and Tie Model (STM) untuk memprediksi kapasitas geser balok tinggi beton serat Bagu. Sebanyak 10 buah balok tinggi dengan ukuran 150x450x1500mm dibuat dan diuji diatas perletakan sederhana dengan dua buah beban terpusat pada jarak 370mm dari tumpuan. Balok dengan tulangan longitudinal tunggal 2D16mm. Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan 0,75 % serat Bagu menurunkan prosentase jumlah retak lentur sebesar 75 %, peningkatan beban retak lentur pertama sebesar 341,67%, beban retak geser pertama sebesar 170 % dan daktailitas balok sebesar 6,92% pada kondisi sebelum retak pertama dan 0,26% pada kondisi setelah retak pertama. Prediksi kapasitas geser balok tinggi beton serat Bagu tanpa tulangan transversal dengan metode STM lebih baik dari SNI dengan nilai rata-rata rasio Vexp/VSTM atau Vexp/SNI masing-masing sebesar 1.16 untuk teori STM dan 2,47 untuk teori SNI.
PENGARUH MODIFIKASI KOLOM PERSEGI MENJADI BULAT MENGGUNAKAN METODE CONCRETE JACKETING DENGAN KAWAT KASA ATAU FIBERGLASS TERHADAP KAPASITAS AKSIAL KOLOM Ida Bagus Rai Widiarsa; I Ketut Sudarsana; David Pramono
JURNAL SPEKTRAN Vol 8 No 1 (2020): VOL. 8, NO. 1, JANUARI 2020
Publisher : Master of Civil Engineering Program Study, Faculty of Engineering, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (727.909 KB)

Abstract

Kegagalan pada kolom dapat menyebabkan keruntuhan suatu struktur bangunan. Salah satu cara meningkatkan kemampuan kolom menahan beban adalah dengan perkuatan. Material beton, kawat kasa, dan fiberglass merupakan material yang mudah dikerjakan dan tersedia dipasaran. Penelitian ini dibuat untuk mengetahui pengaruh modifikasi bentuk penampang kolom beton persegi menjadi bulat dengan tambahan kekangan kawat kasa atau fiberglass terhadap kapasitas aksial kolom. Pada penelitian ini dibuat 18 buah benda uji kolom yang dibagi menjadi 6 kelompok. Benda uji berukuran 76 mm x 76 mm x 300 mm yang terbuat dari beton polos disebut KP. Kolom KP diperkuat dengan concrete jacketing menjadi berdiameter 150 mm dengan tinggi 300 mm disebut kolom KB. Selanjutnya kolom KBT merupakan kolom KB yang diberikan tambahan perlakuan treatment sandblasting pada permukaan core kolomnya. Kelompok lainnya adalah kolom KK yang merupakan kolom KBT dengan tambahan 3 lapis kawat kasa sebagai pengekang internal pada jacketing. Kolom KF merupakan kolom KBT dengan tambahan 3 lapis fiberglass yang dilapisi resin sebagai pengekang internal pada jacketing. Kelompok keenam merupakan kolom KF dengan tambahan pin dari serat fiberglass terpasang kearah luar jacketing. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan kapasitas kolom akibat perlakuan sandblasting sebesar 10%. Penggunaan kawat kasa atau fiberglass sebagai pengekang memberikan peningkatan kapasitas pada kolom KK, KF, KFP masing-masing sebesar 21%, 29% dan 30%. Keruntuhan kolom pada kolom KP, KB, KBT, KF dan KFP adalah non-daktail sedangkan kolom KK menghasilkan perilaku keruntuhan yang lebih daktail dibandingkan dengan benda uji kolom lainnya.
Parametrial hematoma following fetal craniotomy and curettage in intrauterine fetal death: a case report Ida Bagus Yudhistira Anantasurya Vidhisvara; Ida Bagus Putu Widiarsa; Margaret Gabriele Helena; I Putu Ivan Cahya Himawan
Intisari Sains Medis Vol. 12 No. 3 (2021): (Available online: 1 December 2021)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.52 KB) | DOI: 10.15562/ism.v12i3.1108

Abstract

Background: Parametrial hematoma is collection of blood located in the parametrial area, which is a type of hematoma that can occur in the pelvic cavity. Postpartum hematoma is a rare but life-threatening complication of childbirth. Common risk factors to developing parametrial hematomas include multiple pregnancies, traumatic deliveries, operative vaginal delivery, prolonged labour, manual removal of placenta, inadequate hemostasis at Caesarean section, pre-eclampsia, and anticoagulation therapy. We reported a rare case of parametrial hematoma post-craniotomy and curettage of a fetus with intrauterine fetal death (IUFD) in a 28-year-old pregnant woman 24 weeks into her fourth pregnancy. Case report: A pregnant woman with 24 weeks gestation age came to emergency room with complaints of abdominal pain and bloody discharge without clear fluids 9 hours prior. She was diagnosed with preterm delivery and was given tocolytic. The following day, ultrasound examination was done and fetal heart rate (FHR) was not found, suggesting an intrauterine fetal death (IUFD). Termination was carried out with oxytocin induction but due to maternal exhaustion, pain, and lack of cooperation, a craniotomy was done in operating room followed by curettage. Twenty-four hours after curettage, patient complained of an acute lower right abdominal pain and ultrasound showed a complex mass in right adnexa measuring 8 x 8 cm, suggesting a right adnexal hematoma with a differential diagnosis of a right tubo-ovarian abscess. The patient’s haemoglobin was found to decrease to 6.0 g/dl. A laparotomy was performed and a hematoma was found in the right parametrium without active bleeding. Conclusion: Parametrial hematoma is a rare disease that can occur due to trauma (in labor) or spontaneously due to abnormalities of the uterine arteries that supply blood to the uterus. The patient present in this case report had acute abdominal pain with decreased haemoglobin without signs of bleeding after an operative vaginal birth which may or may not be the cause of the parametrial hematoma due to limitations of examination on the patients. Further observation of similar cases will be required to determine the association between parametrial hematoma and operative vaginal birth.