Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Merawat Alam, Menyelamatkan Manusia: Pengabdian dan Refleksi Spiritual-Ekologis atas Bencana Banjir Bandang aceh 26 November 2025 Ainal Mardhiah; Imam Tabroni‬; Hasan Basri M. Nur; Umareni Umareni; Zila Muzdalifah Prihandini; Hunainah Hunainah
Jurnal Medika: Medika in progres
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/xsrnqq95

Abstract

Banjir bandang Aceh 26 November 2025 tidak hanya menelan korban jiwa dan harta benda, tetapi juga mengungkap problematika mendalam tentang kerusakan lingkungan akibat ulah manusia yang berbuah petaka bagi masyarakat hilir. Metode pengabdian ini menggunakan metode observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi, dan refleksi reflektif-spiritual selama tiga belas kali perjalanan ke tujuh kabupaten terdampak sejak 27 November 2025 hingga waktu penulisan. Hasil menunjukkan empat temuan utama. Pertama, kayu gelondongan bernomor dan bernama di Pidie Jaya, Aceh Utara, dan Aceh Tamiang menjadi bukti illegal logging terorganisir penyebab utama bencana. Kedua, gunung-gunung di Aceh Tengah dan Bener Meriah mengalami keretakan struktural dengan longsor susulan tanpa hujan akibat deforestasi dan pertambangan emas di daerah aliran sungai. Ketiga, sebanyak 563 jiwa meninggal, 22 desa lenyap, dan 91.665 korban mengungsi dalam kondisi rentan dengan ancaman pelecehan seksual di tenda-tenda pengungsian. Keempat, ironi kebijakan terjadi ketika korban diancam hukuman memanfaatkan kayu banjir sementara pelaku perusak hutan bebas tanpa sanksi. Kesimpulan  menegaskan bahwa bencana ini adalah buah dari hilangnya amanah dalam pengelolaan lingkungan dan perlindungan rakyat. Saran adanya advokasi kebijakan penegakan hukum berkeadilan, kerjasama perguruan tinggi-pemerintah-masyarakat untuk pemanfaatan material bencana secara ekonomis, pendampingan psikososial berbasis spiritual, dan dorongan moratorium pembukaan lahan serta restorasi ekosistem hulu.
Habituasi Memberi Salam sebagai Strategi Pembentukan Karakter Sopan Santun Siswa di MAN 3 Aceh Besar Cut Alfia Laina; Ainal Mardhiah; Rusydi Rusydi; Rafidhah Hanum
Jurnal Ilmiah Guru Madrasah Vol 4 No 2 (2025): Juli-Desember
Publisher : LaKaspia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69548/jigm.v4i2.73

Abstract

This study aims to describe how the habituation of greeting functions as a strategic approach in shaping students’ polite character at MAN 3 Aceh Besar. Education is not solely focused on cognitive mastery but also carries a moral responsibility to cultivate noble character among students. In this context, greeting others represents a form of habituation with both spiritual and social value, as it conveys prayer, respect, and ethical conduct in interpersonal interactions. This research employed a qualitative approach with data collected through observation, interviews, and documentation involving the Islamic Ethics teacher and student activities within the school environment. The findings indicate that teachers implement structured planning and clear guidelines in reinforcing the practice of greeting, including modeling appropriate behavior, providing guidance, and continuously instilling the meaning of greetings. Consistent implementation of this habituation fosters a culture of mutual respect within the school. Its positive impact is reflected in students’ increased respectfulness, friendliness, and courtesy toward teachers, peers, and other school members. Thus, the habituation of greeting proves to be an effective strategy for strengthening character education based on Islamic values
Dari Bencana Menuju Kesadaran: Refleksi Spiritual-Ekologis Banjir Bandang Aceh 2025 dan Relevansinya bagi Penguatan Komunitas Urban Melayu Ainal Mardhiah; Cut Intan Hayati; Dewiyana; Qurratu Aini
Jurnal Kolaborasi Akademika Vol. 3 No. 2 (2026): JKA
Publisher : Bansigom Na Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64826/jka.v3i2.286

Abstract

The 2025 Aceh flash flood and landslide disaster demonstrates that hydrometeorological hazards cannot be understood only as physical events, because their impacts are shaped by ecological degradation, social vulnerability, collective memory, and the meanings communities attach to loss and recovery. This article aims to formulate a spiritual-ecological reflection on the Aceh 2025 disaster and examine its relevance for strengthening urban Malay communities. The study uses an integrative literature review of twenty DOI-indexed scientific sources published between 2014 and 2026, covering disaster resilience, social capital, Islamic environmental ethics, flood management, local knowledge, and urban community adaptation. Thematic analysis identifies four interconnected findings: spirituality can strengthen meaning-making and active coping when it avoids fatalism; ecological awareness must be translated into watershed protection and nature-based solutions; social capital and place attachment are critical for preparedness and recovery; and mosques, neighbourhood networks, schools, and digital platforms can become resilience infrastructures. The article proposes a community-strengthening framework integrating spiritual literacy, ecological responsibility, social solidarity, and risk-sensitive urban governance for Malay urban contexts.