Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

MOTIF PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL BAGI PENYANDANG DISABILITAS NETRA (STUDI KASUS MENGENAI MOTIF PENGGUNAAN FACEBOOK BAGI PENYANDANG DISABILITAS NETRA PADA TERAPIS PIJAT) Claudino Ladipa; Nindi Aristi; Preciosa Alnashava
Mediakom : Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.475 KB) | DOI: 10.35760/mkm.2019.v3i2.2341

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan motif kalangan disabilitas netra mempresentasikan dirinya melalui Facebook. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Wawancara mendalam dan pengamatan dilakukan kepada 9 informan yang terdiri dari pengguna facebook penyandang disabilitas netra, pengguna Facebook kalangan non-disabilitas, pemilik usaha Enso Rileksology dan Koordinator lapangan Enso Rileksology Hasil penelitian menujukkan motif dari penyandang disabilitas netra dalam mempresentasikan dirinya secara virtual melalui Facebook adalah untuk memperoleh hiburan dan membangun relasi motif tersebut digunakan untuk memperoleh hiburan ditengah kondisi pengelihatan yang terbatas, minimnya aktivitas untuk bersosialisasi dan memperoleh hiburan melalui aktivitas yang mebutuhkan mobilitas yang tinggi membuat penyandang disabilitas netra membutuhkan medium lain untuk bersosialisasi dan memperoleh hiburan melalui media sosial khususnya Facebook.
PERSEPSI PEREMPUAN TERHADAP KONSEP “PELAKOR” DI MEDIA SOSIAL Preciosa Alnashava Janitra; Retasari Dewi
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 2, No 1 (2018): June 2018
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.039 KB) | DOI: 10.30983/jh.v2i1.816

Abstract

Media sosial saat ini tidak hanya popular digunakan untuk membangun hubungan yang berarti, tapi juga untuk mencari dan berbagi informasi. Konsumsi media sosial yang tinggi turut membentuk penggunanya dalam memandang sebuah fenomena, salah satunya fenomena pelakor. Kata Pelakor yang merupakan akronim dari perebut laki orang, menjadi salah satu fenomena yang menarik di media sosial khusunya untuk perempuan. Dengan menggunakan konsep persepsi konstruktifis dan pendekatan kualitatif, penelitian ini mencoba mengetahui bagaimana persepsi perempuan terhadap konsep pelakor yang ada di media sosial. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa perempuan memiliki konsep mental tentang pelakor dari segi fisik, sifat maupun perilaku dan media sosial memiliki peran penting dalam pembentukan persepsi atas realitas tersebut. 
Komunikasi Keluarga Dalam Pencegahan Perilaku Bullying Bagi Anak Preciosa Alnashava Janitra; Ditha Prasanti
Jurnal Ilmu Sosial Mamangan Vol 6, No 1 (2017): Jurnal Ilmu Sosial Mamangan ( Not Accredited)
Publisher : LPPM Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1072.414 KB) | DOI: 10.22202/mamangan.v6i1.1878

Abstract

Communication process occurs in every aspect of life, including family. When people interact to each other, sometimes it may lead to bullying. Bullying is not a new phenomenon, especially in family. Bullying means verbal and physical threat, force and violence which conduct repeatedly, for instance by the older children to their younger sister or brother. This is the uniqueness of this research. Family communication becomes main foundation to prevent bullying. Researcher see this phenomenon as a unique problem to be studied. Based on that phenomenon, researcher interested to study “Family Communication in Preventing Bullying Behavior for Children”. Result shows that family communication in preventing children’s bullying behavior covers: (1) In order to prevent bullying, an effective family communication process has to be strived, including respect, empathy, audible (2) Causative factor of bullying is inappropriate parenting in context of family communication. Proses komunikasi berlangsung dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam lapisan masyarakat dan lapisan keluarga. Ketika manusia melakukan interaksi satu sama lainnya, kadang-kadang mengarah pada perilaku bullying. Bullying bukanlah fenomena yang baru lagi, khususnya dalam sebuah keluarga. Bullying artinya ancaman, pemaksaan, kekerasan fisik maupun verbal yang dilakukan berulang-ulang, misalnya kakak kepada adiknya. Disinilah letak keunikan penelitian ini. Komunikasi keluarga menjadi pondasi utama untuk mencegah terjadinya perilaku bullying bagi anak. Peneliti melihat fenomena ini merupakan masalah yang unik dan menarik untuk diteliti. Berdasarkan fenomena tersebut, peneliti tertarik untuk mengangkat “Komunikasi Keluarga dalam Pencegahan Perilaku Bullying bagi Anak”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi keluarga dalam pencegahan perilaku bullying bagi anak meliputi: (1) Untuk mencegah bullying harus diupayakan proses komunikasi keluarga yang efektif yaitu: respek, empati, audible; (2) Adapun faktor penyebab terjadinya perilaku bullying adalah pengasuhan orangtua yang tidak tepat dalam konteks komunikasi keluarga
Perilaku Penggunaan Smartphone dan Akses Pornografi di Kalangan Remaja Perempuan Rachmaniar Rachmaniar; Puji Prihandini; Preciosa Alnashava Janitra
Jurnal Komunikasi Global Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.7 KB) | DOI: 10.24815/jkg.v7i1.10890

Abstract

This study aims to determine the use of smartphones and how these technologies allow access to pornography among junior high school girls. Using a qualitative descriptive study method, this study examines ownership of smartphones and pornographic content that may be accessed via smartphones. The informants were four students of SMP Negeri 2, Padalarang, West Java. Data collection was conducted through in-depth interviews and observation. The results showed that junior high school students started to have regular mobile devices since they were still in elementary school. After they began to use smartphones at junior high school, they were inadvertently exposed to the pornographic content. These findings reveal that how more sophisticated technological devices have the potential to open access to pornographic content.
Edukasi Literasi Media Sosial dan Informasi Kesehatan Mental kepada Siswa Madrasah X Preciosa Alnashava Janitra; Nindi Aristi
Jurnal Gema Ngabdi Vol. 5 No. 1 (2023): JURNAL GEMA NGABDI
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jgn.v5i1.317

Abstract

The number of mental health survivor, especially adolescents in Indonesia, shows an increase. Based on data from Basic Health Research in 2018, around 19 million people experienced mental stability disorders caused by psychic factors, economic factors, nutritional health factors, family factors, and social factors. But there is an interesting fact that the factors of social media use can also cause mental discomfort including: being insecure, closing or even withdrawing, feeling depressed, tremendous stress and so on after reading certain messages on social media. The community service activities that have been carried out focus on Madrasah X students with the aim of being able to increase knowledge and practical literacy skills related to the use of social media, social media ethics, and the selection of good and correct information so that mental health can be maintained positively. Discussion methods, role playing, and tutorials are carried out in this activity. Through this service activity, madrasah students are able to: understand the differences between some social media and the purpose of their use, understand the ethics of social media, and distinguish good and bad information for their mental health
DRAMATURGI DALAM MEDIA SOSIAL: SECOND ACCOUNT DI INSTAGRAM SEBAGAI ALTER EGO Retasari Dewi; Preciosa Alnashava Janitra
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35967/jkms.v7i1.5671

Abstract

Media social dewasa ini telah menjadi representasi diri dan bentuk eksistensi dari pelajar khususnya mahasiswa. Salah satunya platform yang digandrungi saat ini adalah aplikasi Instagram, hampir semua mahasiswa memiliki akun Instagram. Salah satu fitur Instagram terbaru adalah multiple account, yang memungkinkan penggunanya menggunakan dua akun atau lebih sekaligus pada satu aplikasi Instagram, sehingga memungkinkan untuk menggunakan beberapa akun Instagram secara bersamaan. Hal ini dimanfaatkan beberapa mahasiswa pengguna Instagram untuk memiliki lebih dari satu akun. Jika akun pertama akuntabilitasnya jelas atau menggunakan nama akun yang dipilih adalah nama panggilan yang merepresentasikan dirinya saat online dan offline, maka akun kedua dan ketiga sengaja dibuat dengan tidak merepresentasikan identitas aslinya.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan Cyber Etnhography dan Teori Dramaturgi. Informan dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Padjadjaran fakultas Ilmu Komunikasi dengan karakteristik yang telah ditentukan. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa para informan membuat akun alter dengan tujuan sebagai buku harian pribadi, sebagai sarana untuk mengomentari negative beberapa selebritis, untuk merepresentasikan dirinya yang lain, dan untuk kepentingan bisnis. Latarbelakang mereka memiliki akun kedua adalah sebagai panggung belakang atau panggung mereka yang lain, karena akun pertama biasanya menggunakan nama asli dan berisi foto-foto dan caption yg tujuannya untuk pencitraan.
The Representation of Democracy in Islamic News Sites Voa-Islam and ArRahmah Rahmawan, Detta; Adiprasetio, Justito; Janitra, Preciosa Alnashava
Jurnal The Messenger Vol. 10 No. 1 (2018): January-June
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/themessenger.v10i1.604

Abstract

In Indonesia, various groups with Islamic ideology are emerging and often promoting the idea of Islamic Law to replace democratic concept. Some of these groups use various websites to deliver their ideology to the public and as a form of resistance to the mainstream news. This study uses framing analysis to reveal how Islamic news websites such as VOA-Islam and ArRahmah, portray the concept of democracy unilaterally, according to what they believe. Throug the analysis results that have been done, it is found that the sites frequently claim that democracy is fail system, because democracy is expensive system, creates political oligarchy, and against the teachings of Qur an. These Islamic news websites also frequent;y used information from anti-democratic organization members such as HTI (Hizbut-Tahrir Indonesia), as their primary sources. By contrasting the concept of democracy with Islamic values, this group offered narration that did not lead to healthy and productive discussion.
Strategi aktivisme digital di Indonesia: aksesibilitas, visibilitas, popularitas dan ekosistem aktivisme Rahmawan, Detta; Mahameruaji, Jimi Narotama; Janitra, Preciosa Alnashava
Manajemen Komunikasi Vol 4, No 2 (2020): Accredited by Republic Indonesia Ministry of Research, Technology, and Higher Ed
Publisher : Faculty of Communication Sciences Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jmk.v4i2.26522

Abstract

Setidaknya dalam satu dekade terakhir, mayoritas masyarakat Indonesia sangat antusias mengadopsi beragam platform digital seperti media sosial dan aplikasi pesan instan. Pesatnya penetrasi teknologi ini juga kerap dibungkus dalam narasi techno-utopianism terutama dalam kaitannya dengan harapan akan pertumbuhan perekonomian digital di Indonesia. Meskipun demikian, pemanfaatan platform digital juga perlu dilihat pada konteks penguatan demokrasi, dan perubahan sosial di masyarakat. Dalam hal ini, aktivisme digital, atau peran teknologi digital dalam berbagai gerakan sosial di Indonesia menjadi penting untuk diamati. Penelitian ini menggunakan studi literatur untuk menganalisis secara kritis beragam studi terkait aktivisme digital serta memberikan ulasan terkait konsep aksesibilitas, visibilitas, popularitas dan ekosistem aktivisme sebagai mekanisme yang mendasari praktik aktivisme digital Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep aksesibilitas memaparkan faktor ketersediaan infrastruktur digital serta kesiapan masyarakat dalam menerima praktik aktivisme. Selanjutnya, ide terkait visibilitas dan popularitas memperlihatkan bahwa praktik aktivisme digital selalu berkaitan dengan algoritme dan metrics yang mendasari bagaimana media digital bekerja, sehingga, pelaku aktivisme digital perlu melakukan adaptasi agar aktivisme dapat menjadi “terlihat” (visible) dan “populer” pada khalayak yang tepat tanpa menghilangkan esensi dan substansi dari aktivisme tersebut. Sangat penting untuk melihat ekosistem aktivisme secara komprehensif dan holistis, dengan tidak hanya memperhatikan faktor teknologi, namun juga faktor kondisi sosial dan budaya serta konteks historis dari aktivisme dan berbagai gerakan sosial yang muncul, berkembang dan menyebar di masyarakat.