Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Memulihkan Adab Murid Terhadap Guru: Tantangan Pendidikan Islam Di Indonesia Titi Oktarina Sambadha; Erly Zahara; Uswatun Hasanah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.6404

Abstract

Penelitian ini mengkaji tantangan yang dihadapi dalam memulihkan adab murid terhadap guru di Indonesia dan dampaknya terhadap kualitas pendidikan. Adab yang baik antara murid dan guru memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang harmonis dan efektif, yang pada gilirannya mendukung proses pembelajaran yang optimal. Namun, saat ini terdapat berbagai faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi penurunan adab tersebut, di antaranya pengaruh media sosial, pergeseran nilai budaya, serta kurangnya pemahaman agama yang mendalam di kalangan siswa. Pengaruh media sosial yang membawa kebebasan berekspresi tanpa batas sering kali mengarah pada ketidaksopanan dan kurangnya penghormatan terhadap otoritas guru. Pergeseran nilai budaya yang lebih mengutamakan kebebasan pribadi juga turut berperan dalam mengurangi rasa hormat terhadap guru. Penelitian ini mengidentifikasi beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya adab murid, termasuk pengaruh keluarga, masyarakat, dan teknologi. Keluarga, sebagai lembaga pertama yang mengajarkan nilai-nilai moral, berperan besar dalam pembentukan karakter anak. Namun, tidak semua keluarga menyadari pentingnya pendidikan adab. Masyarakat yang kurang menghargai profesi guru turut memperburuk kondisi ini, karena menganggap guru sebagai pekerjaan biasa. Teknologi dan media sosial juga berperan dalam mengubah persepsi dan sikap murid terhadap guru, dengan mengurangi rasa hormat yang seharusnya diberikan kepada mereka. Dalam penelitian ini, penulis menawarkan berbagai solusi untuk memperbaiki adab murid di sekolah, seperti memperkuat pendidikan karakter di sekolah, memperbaiki komunikasi antara sekolah dan orang tua, serta mengembangkan kebijakan pendidikan yang menekankan nilai adab dalam kurikulum. Kerjasama antara guru, orang tua, masyarakat, dan pemerintah sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih baik. Dengan upaya ini, diharapkan kualitas pendidikan di Indonesia dapat meningkat, menghasilkan generasi yang cerdas, berbudi pekerti, dan menghormati otoritas, terutama guru.
Memulihkan Adab Murid Terhadap Guru: Tantangan Pendidikan Islam Di Indonesia Titi Oktarina Sambadha; Erly Zahara; Uswatun Hasanah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.6406

Abstract

Penelitian ini mengkaji tantangan yang dihadapi dalam memulihkan adab murid terhadap guru di Indonesia dan dampaknya terhadap kualitas pendidikan. Adab yang baik antara murid dan guru memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang harmonis dan efektif, yang pada gilirannya mendukung proses pembelajaran yang optimal. Namun, saat ini terdapat berbagai faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi penurunan adab tersebut, di antaranya pengaruh media sosial, pergeseran nilai budaya, serta kurangnya pemahaman agama yang mendalam di kalangan siswa. Pengaruh media sosial yang membawa kebebasan berekspresi tanpa batas sering kali mengarah pada ketidaksopanan dan kurangnya penghormatan terhadap otoritas guru. Pergeseran nilai budaya yang lebih mengutamakan kebebasan pribadi juga turut berperan dalam mengurangi rasa hormat terhadap guru. Penelitian ini mengidentifikasi beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya adab murid, termasuk pengaruh keluarga, masyarakat, dan teknologi. Keluarga, sebagai lembaga pertama yang mengajarkan nilai-nilai moral, berperan besar dalam pembentukan karakter anak. Namun, tidak semua keluarga menyadari pentingnya pendidikan adab. Masyarakat yang kurang menghargai profesi guru turut memperburuk kondisi ini, karena menganggap guru sebagai pekerjaan biasa. Teknologi dan media sosial juga berperan dalam mengubah persepsi dan sikap murid terhadap guru, dengan mengurangi rasa hormat yang seharusnya diberikan kepada mereka. Dalam penelitian ini, penulis menawarkan berbagai solusi untuk memperbaiki adab murid di sekolah, seperti memperkuat pendidikan karakter di sekolah, memperbaiki komunikasi antara sekolah dan orang tua, serta mengembangkan kebijakan pendidikan yang menekankan nilai adab dalam kurikulum. Kerjasama antara guru, orang tua, masyarakat, dan pemerintah sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih baik. Dengan upaya ini, diharapkan kualitas pendidikan di Indonesia dapat meningkat, menghasilkan generasi yang cerdas, berbudi pekerti, dan menghormati otoritas, terutama guru.
Analisis Kasus Guru Dituntut Orang Tua Dalam Menegakkan Disiplin (Studi Kasus Viral Di Media Sosial) Ida Fitri; Else Meina; Uswatun Hasanah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.6407

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tentang fenomena Guru Dituntut Orang Tua yang viral di media sosial dalam upaya penegakkan disiplin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika kasus tersebut, khususnya bagaimana persepsi masyarakat, pihak sekolah, dan orang tua terhadap tindakan guru dalam menegakkan aturan disiplin.Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui dokumentasi berita online, dan unggahan media sosial. Analisis dilakukan dengan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk memahami pola interaksi, konflik, serta dampak sosial dari kasus yang viral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus guru dituntut orang tua tidak hanya mencerminkan perbedaan persepsi tentang disiplin, tetapi juga memperlihatkan adanya perubahan relasi antara guru dan orang tua yang dipengaruhi oleh media sosial. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan kebijakan pendidikan, khususnya terkait komunikasi antara sekolah dan orang tua, serta strategi penegakan disiplin yang lebih adaptif di era digital.
Parlay Dalam Dunia Taruhan Modern: Tren, Pola, Dan Perilaku Bettor Arin Wibowo; Indra Mukti Abam; Uswatun Hasanah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.6408

Abstract

Artikel ini membahas fenomena parlay dalam dunia taruhan modern dengan menyoroti tren pertumbuhannya, pola penyusunan taruhan, serta perilaku bettor dalam konteks budaya digital. Menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur dan observasi daring, penelitian menemukan bahwa popularitas parlay meningkat seiring kemudahan akses platform judi online, promosi digital, serta bias psikologis yang memengaruhi pengambilan keputusan bettor. Parlay dipandang menarik karena potensi keuntungan besar, tetapi justru memiliki risiko kegagalan tinggi. Temuan ini menunjukkan perlunya literasi risiko bagi pengguna serta pentingnya regulasi yang lebih ketat terhadap praktik taruhan digital.
Revealing the Existence of “Pantauan Lebaran” Customs in the Midst of Social Changes in Modern Society in Ribang Kemambang, Lahat Regency, South Sumatra Province Fitri Oviyanti; Maryamah Maryamah; Era Afriza; Uswatun Hasanah; Hafizh Maulana Nugraha
Academia Open Vol. 10 No. 2 (2025): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/acopen.10.2025.12835

Abstract

General Background: Cultural traditions such as Pantauan Lebaran play a central role in shaping Indonesia’s communal identity. Specific Background: In Ribang Kemambang, Lahat Regency, this Eid al-Fitr visitation ritual persists amid accelerating modernization and digital transformation. Knowledge Gap: However, limited studies examine how this customary practice adapts to contemporary social changes while retaining its moral and cultural essence. Aim: This study investigates the current form, meanings, and adaptive strategies of Pantauan Lebaran as a dynamic cultural system. Results: Using qualitative ethnographic methods, the study finds that the ritual strengthens social cohesion, reinforces Islamic values such as silaturahmi and birrul walidain, and remains resilient through mechanisms like digital coordination, youth involvement, and flexible implementation. Novelty: The research reveals Pantauan Lebaran as a glocalized cultural practice where local wisdom and global modernity coexist, demonstrating reflexive cultural transformation rather than decline. Implications: These findings highlight the community’s capacity to preserve cultural identity while engaging with modern social realities, offering insights for cultural sustainability, Islamic educational development, and policy frameworks supporting local traditions in the digital era. Highlights: Shows how Pantauan Lebaran adapts to modernization while preserving core religious–cultural values Demonstrates youth and digital media as key drivers in sustaining and transforming the tradition Positions Pantauan Lebaran as a model of glocalization and cultural resilience in rural Indonesian society. Keywords: Pantauan Lebaran, Cultural Resilience, Glocalization, Islamic Educational Values, Social Cohesion
Etika Menjaga Lisan dalam Hadis dan Fenomena Cancel Culture di Media Sosial: Analisis Emosi Publik dalam Ruang Publik Digital Laela Sari Agustina; Uswatun Hasanah; Nuchalidin Nuchalidin
Jurnal Penelitian Ilmu Ushuluddin Vol. 6 No. 2 (2026): April
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jpiu.54376

Abstract

The phenomenon of cancel culture has become one of the major dynamics in contemporary digital communication, characterized by collective forms of social punishment carried out through social media platforms. Within the digital public sphere shaped by algorithmic virality, public emotional responses often develop rapidly without adequate processes of information verification. This condition frequently triggers practices of online shaming, narrative distortion, and reputational damage toward individuals. This study aims to analyze the relevance of the Prophet’s hadith concerning the ethics of guarding one’s speech in responding to the phenomenon of cancel culture on social media. The research employs a qualitative method based on library research with a thematic-contextual approach to hadiths related to communication ethics, self-restraint, and the principle of amar ma‘ruf nahi munkar. The findings show that the teachings of Prophet Muhammad, such as the command to speak good or remain silent and the prohibition against spreading information without verification, possess strong relevance to contemporary challenges in digital communication. These principles can be understood as an ethical communication framework emphasizing information verification (tabayyun), the regulation of public emotion, and the protection of human dignity (hifẓ al-‘ird). Therefore, hadith-based communication ethics may serve as a normative framework for developing a more ethical, fair, and responsible culture of digital communication within the dynamics of the digital public sphere.
Integrasi Hadis dalam Tafsir Al-Tahrir Wa Al-Tanwir Karya Ibnu ‘Asyur Mawaliya Mawaliya; Uswatun Hasanah
Jurnal Teologi Islam Vol. 1 No. 2 (2025): NOVEMBER (in progress)
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/m0209k84

Abstract

This research is to determine the integration of Hadith in Tafsir Al-Tahrir Wa Al-Tanwir by Ibnu 'Asyur. Ibn 'Asyur emphasized that the interpretation of the Qur'an must be based on two main pillars: First, the authority of the Prophet's hadith as explanation (al-bayan). Second, linguistic-balaghah analysis as a fundamental method. Muhammad Ibn 'Asyur's approach in writing his tafsir can be concluded as an analytical method (tahlili) which includes one methodology, namely the bil-lughah method or entering the tahlili method. Muhammad Tahir Ibn 'Asyur divides maqasid al-syari'ah into two, first, maqasid al-tasyri' al-ammah are the hidden meanings and wisdom in all or the majority of laws. Second, maqasid al-khasah are the methods desired by the Shari' to realize human benefits.
Epistemology of Hadith in Ibn ʿArabī's Interpretation of QS. Ar-Raḥmān [55]: 19–20 Muhammad Syukron Zun-Nurain; Uswatun Hasanah; Nur Fitriyana
el-Sunnah: Jurnal Kajian Hadis dan Integrasi Ilmu Vol. 7 No. 1 (2026): el-Sunnah: Jurnal Kajian Hadis dan Integrasi Ilmu
Publisher : The Hadith Department, Faculty of Ushuluddin and Islamic Thought, State Islamic University of Raden Fatah Palembang.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/elsunnah.v7i1.33239

Abstract

The study of hadith epistemology in Sufi exegesis represents an important issue in Qur’anic studies. Ibn ʿArabī (d. 638 H), as a prominent Sufi-philosopher, offers an interpretive approach that integrates textual, metaphysical, and intuitive dimensions, yet is often considered subjective and controversial. Therefore, this study aims to examine the epistemology of hadith in Ibn ʿArabī’s isyārī exegesis and the critiques of scholars, particularly regarding his interpretation of QS al-Raḥmān [55]:19–20. This research employs a library study with descriptive-analytical and hermeneutic approaches. The analytical framework combines the theory of isyārī exegesis, Sufi epistemology which places kashf and dhawq as sources of knowledge, and the functional theory of hadith in exegesis, employing Hans-Georg Gadamer’s hermeneutic approach. Data were analyzed through intertextual study of the Qur’anic verse, hadith, and Ibn ʿArabī’s cosmology, as well as basic verification of sanad and matan of the hadith within the framework of taʾwīl. The results show that Ibn ʿArabī understands hadith not only as sources of outward law but also as sources of inner knowledge, revealing metaphysical realities through isyārī, symbolic, dzawqī, and kashfī approaches. Within this framework, hadith function ontologically as a metaphysical foundation for interpretation, epistemologically as a source of maʿrifat, and legitimizes the authority of Sufism in interpreting the Qur’an. 
RECONCEPTUALIZING TEACHING SKILLS FOR 21ST-CENTURY LEARNING: INTEGRATING 4C COMPETENCIES AND TECHNOLOGY-ENHANCED PEDAGOGY Uswatun Hasanah; Era Afriza; M. Sirozi
Jurnal Konseling Pendidikan Islam Vol. 7 No. 2 (2026): Jurnal Konseling Pendidikan Islam
Publisher : LP2M IAI Al-Khairat Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32806/jkpi.v7i2.1701

Abstract

Teaching skills constitute a fundamental component in supporting the development of 21st-century skills encompassing critical thinking, creativity, communication, and collaboration (4C). This study aims to examine how teachers' teaching skills can be optimized to develop 21st-century skills among students. Employing a qualitative descriptive method with a literature review approach, this research analyzes various academic sources related to learning strategies, teacher roles, and 4C skills implementation in classrooms. The findings demonstrate that teachers must transform from knowledge transmitters to learning facilitators capable of creating active, innovative, and student-centered learning environments. Effective teaching skills include instructional design, classroom management, methodological variation, reinforcement, and constructive feedback. Technology integration and process-based learning approaches prove capable of enhancing engagement and higher-order thinking abilities. However, the development of adaptive teaching skills faces systemic, individual, and contextual challenges that mutually reinforce one another. The conclusion emphasizes that mastery of adaptive and innovative teaching skills serves as the key foundation in preparing competent generations ready to navigate the challenges of the 21st century.
FENOMENA S-LINE DI MEDIA SOSIAL : TINJAUAN ETIKA DAN MORALITAS DALAM PERSPEKTIF HADIS Rismalia Nurhaliza; Uswatun Hasanah; Sulaiman Mohammad Nur
Farabi Vol 23 No 1 (2026): Farabi
Publisher : LPPM IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30603/jf.v23i1.7840

Abstract

The S-Line phenomenon on social media represents a digital cultural trend that originates from the Korean drama S-Line and has brought about ethical concerns in the realm of public digital spaces. The symbol of the “red line,” which initially signified intimate relationships, has evolved into an expression of self-identity, resulting in questions regarding privacy, modesty, and the disclosure of personal matters. This research seeks to examine the S-Line trend and its ethical ramifications through the lens of hadith. Employing a qualitative methodology that involves virtual field research, data were obtained by observing social media content and user interactions. The results indicate that S-Line serves not only as a source of entertainment but also as a medium for individuals to represent their identities by publicly displaying personal elements, either with full awareness or simply by conforming to popular trends. Viewed from the perspective of hadith, this phenomenon is associated with the prohibition against al-mujāharah and underscores the importance of ḥayā’ (modesty) in safeguarding personal dignity. Consequently, the S-Line phenomenon exemplifies a transformation in moral standards within the digital era, highlighting the need for ethical guidance grounded in prophetic teachings.