Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

ARESTOP BULLYING SONGS USED EFFECTIVELY TO STOP BULLYING BEHAVIOR IN ADOLESCENTS? AGOES DARIYO
ARTISTIC : International Journal of Creation and Innovation Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : ISI Press Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/artistic.v4i2.5543

Abstract

Bullying victims feel psychologically traumatized by the malevolentbullying behavior perpetrated by an individual or group of people. They suffer from psychological distress, including depression, social anxiety, social withdrawal, fear of recurrence, and in severe cases, suicidal ideation.Meanwhile,bullying perpetrators fail to comprehend the adverse consequences resulting from their actions. It is imperative that prior bullying cases are not repeated and are promptly handled, prevented, and halted. One effective method to combat bullying behavior is to produce artistic creations in the form of anti-bullying songs. This study is a research project that utilizes the ADDIE approach (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation). The data collection method employed a questionnaire encompassing several elements of poetry, rhythm, beat, style, tempo, instrument, and visual display. The sample technique employed was purposive sampling, resulting in 87 participants. Utilizing the ADDIE idea, this study employed a thematic method for data analysis. The findings indicate that the development of anti-bullying songs has adhered to the ADDIE framework. Stop bullying songs have fulfilled the criteria of excellent musical compositions, including lyrics that are easily comprehensible (77 = 88.6%), melody (71 = 81.6%), rhythm (74 = 85.1%), beat (73 = 83.9%), style (73 = 83.9%), tempo (76 = 87.4%), and instruments (70 = 80.5%). Moreover, the stop-bullying songswere efficient in curbing bullying tendencies among adolescents(73 = 83.9 %).
Analisis Wacana Kritis Tuntutan 17+8: Representasi Bela Negara Influencer di Instagram @jeromepolin Nikole Edmonda Yapputro; Henny Triyani; Regine Caitlyn Suwu; Valencia Pranoto; Reni Juniarsa Pranata; Agoes Dariyo
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 3 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas representasi bela negara influencer di media sosial. Salah satu influencer, yakni Jerome (@jeromepolin) mengunggah tujuh dokumen mengenai tuntutan 17+8. Tuntutan ini adalah bentuk penolakan dari masyarakat terhadap kenaikan tunjangan DPR RI dan tindakan represif aparat. Untuk menganalisis tuntutan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Metode yang digunakan adalah Analisis Wacana Kritis Fairclough yang meliputi tiga dimensi, yakni text analysis, discourse practice, dan sociocultural practice. Dari hasil analisis, dokumen tuntutan 17+8 menunjukkan bahwa pada dimensi text analysis, tuntutan 17+8 direpresentasikan sebagai desakan kolektif yang harus dipenuhi. Pada dimensi discourse practice, tuntutan 17+8 diproduksi berdasarkan hasil rangkuman aspirasi rakyat; didistribusikan di media sosial; dan dikonsumsi secara pro-kontra oleh khalayak. Sementara itu, pada dimensi sociocultural practice, tuntutan 17+8 merefleksikan ketegangan politik antara rakyat dengan pemerintah; menegaskan media sosial sebagai ruang bagi influencer untuk mengartikulasikan semangat bela negara dan memperjuangkan demokrasi di era digital.
Terapi Bermain Untuk Meningkatkan Self Control Pada Siswa SD Di RPTRA XY Vanessa Clarence; Agoes Dariyo; Ridwan Abdillah; Syarifah Najmah Khairiyyah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i4.860

Abstract

Bahasa memiliki peran penting dalam kehidupan sosial manusia, termasuk dalam membentuk karakter dan perilaku anak-anak. Salah satu permasalahan yang muncul dalam beberapa tahun terakhir adalah meningkatnya penggunaan bahasa kasar oleh anak-anak, yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial, keluarga, serta paparan media sosial dan game online. Penggunaan bahasa kasar tidak hanya berdampak pada komunikasi, tetapi juga dapat mempengaruhi perkembangan perilaku dan sosial anak. Salah satu faktor yang dapat mengurangi perilaku ini adalah kemampuan self-control atau kontrol diri. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh permainan tradisional terhadap peningkatan self-control pada anak usia sekolah dasar di RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen one-group pre-test post-test. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan pengukuran menggunakan alat ukur Self Control Scale (SCS) milik Tangney, Baumeister, dan Boone (2004), yang mengukur lima dimensi: kontrol pikiran, emosi, impuls, regulasi performa, dan perubahan kebiasaan. Kegiatan berlangsung selama empat hari dengan sesi permainan tradisional seperti Red Light Green Light dan Simon Says (dimodifikasi menjadi "Kalau Saya Bilang"), serta edukasi self-control. Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan peningkatan signifikan self-control anak setelah program, dengan 21 siswa mengalami kenaikan, 5 siswa tidak mengalami perubahan, dan hanya 2 siswa yang mengalami penurunan. Nilai signifikansi sebesar 0,00 (< 0,05) mengindikasikan adanya perbedaan yang signifikan antara skor pre-test dan post-test. Kategori self-control siswa juga mengalami peningkatan, ditandai dengan bertambahnya jumlah siswa dalam kategori tinggi dan berkurangnya siswa dalam kategori rendah dan sedang. Dengan demikian, permainan tradisional yang dikombinasikan dengan edukasi dan pengkondisian operan dapat meningkatkan self-control anak, namun diperlukan upaya berkelanjutan untuk menjaga stabilitas perilaku positif ini.
Mengoptimalkan Potensi Pariwisata di Pantai Pasir Putih Manokwari: Sebuah Analisis SWOT untuk Perencanaan Pengembangan Vanessa Clarence; Ridwan Abdillah; Syarifah Najmah Khairiyyah; Agoes Dariyo
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.1858

Abstract

Sebagai salah satu daya tarik wisata terbaik di Manokwari, Pantai Pasir Putih memiliki beberapa keunggulan seperti aksessibilitas yang baik, pantai dengan pasir putih dan lembut, status kepemilikan lahan yang sudah jelas yakni dimiliki oleh Pemerintah daerah dan paling banyak dikunjungi. Akan tetapi pengelolaan seperti luput dari perhatian pemerintah, tidak jelas apakah dikelola oleh pemerintah atau oleh masyarakat, tidak ada pos keamanan, pagar sudah rusak, petugas parkir tidak jelas, loket kasir juga tidak jelas, sering orang mabuk disekitar lokasi wisata, banyak sampah bertebaran, dan sedikit sekali wahana yang ditawarkan kepada pengunjung wisata. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi pengembangan objek wisata Pantai Pasir Putih, kabupaten Manokwari. Teknik pengmpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap Masyarakat, Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga, Kepala Distrik, Kepala Kampung, dan Pengunjung wisata. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis SWOT (Strengths/ kekuatan, Weakness/ kelemahan, Opportunities/ peluang, dan Threats/Ancaman). Hasil penelitian menemukan kombinasi strategi SO yang bersifat Stable growth strategy, adalah strategi mempertahankan pertumbuhan yang ada. Rumusan strategi pengembangan adalah: 1). Membangun infrastruktur wisata yang representatif, 2). Menjaga kebersihan dan kualitas pasir tetap menarik. 3). Melakukan Promosi untuk meningkatkan minat berwisata. 4). Menambah wahana wisata. 5). Mengupayakan penambahan armada angkutan umum.
Implementation Of The Second Preceptive Of Pancasila To Overcome The Crisis Generation Z Identity In The Globalization Era Dien Putri Aulia; Marcella; Yolanda Eben Haezer; Harum Amarrissa Harsojoh; Agoes Dariyo
Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2025): June
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/iso.v5i1.2100

Abstract

In the era of globalization, Generation Z is faced with rapid social, cultural, and technological changes. This can have a significant impact on values and identity in daily life. However, the sophistication of technology does not always have a positive impact; there are also negative ef ects experienced by Generation Z, namely an identity crisis. Therefore, this research aims to understand the application of Pancasila values, particularly the second principle, in the daily lives of Generation Z in Indonesia and to evaluate the extent to which this application contributes to addressing the identity crisis in this generation. This research uses the literature review method, by reviewing and analyzing previously conducted research articles. The data collection technique used was through journal databases related to the targeted research topic. Research results show the importance of instilling Pancasila values through civic education, character education, and multicultural education to address the identity crisis in Generation Z, who are the future leaders that will realize Indonesia's goals and aspirations by instilling Pancasila values as the state ideology
Educational Supervision to Develop Pedagogical Competence of Kindergarten Teachers Agoes Dariyo; Tarish Daffa Rabbani; Ezra Andrianputra
Cakrawala : Jurnal Kajian Manajemen Pendidikan Islam dan Studi Sosial Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : Cakrawala Journal is a scientific journal published by Nahdlatul Ulama Islamic Institute (IAINU) Kebumen. This journal focuses on the Islamic Education Management Study and Social Studies which is published twice a year.IAINU Kebumen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33507/cakrawala.v10i1.3401

Abstract

The main problem faced by kindergartens in the hamlet of Tegalbedug, Lelea, Indramayu, West Java, is the low competence of teachers as professional educators, because their highest level of education is high school or equivalent. They cannot yet be called professional teachers, but due to the limited number of teachers in the area, school leaders are forced to recruit teachers who do not meet the minimum education standards. The negative impact of this is the low quality of teaching in kindergartens. To overcome this problem, the Head of Tegal Bedug Hamlet requested the assistance of lecturers as professionals. This educational supervision activity was intended to equip teachers with the basic knowledge required of professional teachers, thereby improving their pedagogical competence. The method used was lectures, question and answer sessions, and discussions.  The participants were kindergarten teachers. This activity was carried out using a one group pretest and post-test approach. Data collection was conducted using a questionnaire on pedagogical competence given to teachers before the activity (pretest) and after the activity (post-test). Data analysis was performed using a t-test. The analysis results showed a difference between the pre-test and post-test results, namely pre-test score (36.8) < post-test score (38.4), meaning that educational supervision can significantly improve teachers' pedagogical competence.
INTERAKSI DENGAN AI COMPANION: STUDI KORELASIONAL ANTARA DISPOSITIONAL SHAME DAN SELF-DISCLOSURE PADA GEN Z Keysha Ananda Mareta; Agoes Dariyo
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8329

Abstract

The use of Artificial Intelligence (AI) in everyday life continues to increase, not only for information seeking but also for emotional purposes through the presence of AI companions. This phenomenon is especially relevant for individuals who experience barriers in face-to-face social interaction. This study aimed to examine the relationship between dispositional shame and self-disclosure to AI companions among Gen Z young adults. The study used a quantitative approach with purposive sampling. Participants were 182 Gen Z young adults who had experience interacting with AI companions. Data were collected using The Test of Self-Conscious Affect-4 (TOSCA-4) to measure dispositional shame and an adapted version of the Self-Disclosure Index for the AI companion context. Data were analyzed using Spearman’s rho correlation. The results showed a significant positive relationship between dispositional shame and self-disclosure to AI companions (r_s = 0.337, p < 0.001). These findings indicate that higher levels of dispositional shame are associated with greater self-disclosure to AI companions. The results also suggest that AI companions may be perceived as a safer interactional space for individuals who are vulnerable to shame and social evaluation. ABSTRAK Penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam kehidupan sehari-hari terus meningkat, tidak hanya untuk mencari informasi, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan emosional melalui kehadiran AI companion. Fenomena ini relevan bagi individu yang mengalami hambatan dalam interaksi sosial tatap muka. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara dispositional shame dan self-disclosure kepada AI companion pada dewasa awal Gen Z. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling. Partisipan penelitian berjumlah 182 dewasa awal Gen Z yang memiliki pengalaman berinteraksi dengan AI companion. Data dikumpulkan menggunakan The Test of Self-Conscious Affect-4 (TOSCA-4) untuk mengukur dispositional shame dan Self-Disclosure Index yang diadaptasi ke konteks AI companion. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman’s rho. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara dispositional shame dan self-disclosure kepada AI companion (r_s = 0.337, p < 0.001). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi dispositional shame, semakin tinggi pula kecenderungan individu untuk membuka diri kepada AI companion. Hasil ini mengindikasikan bahwa AI companion dapat dipersepsikan sebagai ruang interaksi yang lebih aman bagi individu yang rentan terhadap rasa malu dan penilaian sosial.
Peran Regulasi Emosi terhadap Marriage Readiness pada Perempuan Emerging Adulthood: Penelitian Angelica Cou; Agoes Dariyo; Hanna Christina Uranus
Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Volume 4 Nomor 2 June - September
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/pchukumsosial.v4i2.448

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran regulasi emosi terhadap marriage readiness pada perempuan emerging adulthood. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif asosiatif. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 100 responden perempuan berusia 18–25 tahun yang belum menikah dan diperoleh melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan instrumen Criteria for Marriage Readiness Questionnaire (CMRQ) untuk mengukur kesiapan menikah dan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) untuk mengukur regulasi emosi. Teknik analisis data menggunakan uji regresi linear sederhana dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 25.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa regulasi emosi berperan signifikan secara positif terhadap marriage readiness pada perempuan emerging adulthood (p = 0,000 < 0,05; t = 7,655). Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,372 mengindikasikan bahwa regulasi emosi memberikan kontribusi sebesar 37,2% terhadap variasi tingkat kesiapan menikah, sedangkan 62,8% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian. Hubungan positif ini menandakan bahwa semakin baik kemampuan regulasi emosi yang dimiliki oleh perempuan dewasa awal, maka akan semakin tinggi pula tingkat kesiapan mereka dalam menghadapi transisi peran menuju kehidupan pernikahan. Temuan ini menegaskan pentingnya pengintegrasian modul pengelolaan emosi dalam program bimbingan pranikah untuk membantu calon pengantin membangun ketahanan keluarga yang stabil.
Peran Komitmen Karier Terhadap Psychological Well-Being Karyawan yang Mengalami Relationship Breakup di Jakarta: Penelitian Della Putri Cherlya Utami; Agoes Dariyo; Hanna Christina Uranus
Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Volume 4 Nomor 2 June - September
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/pchukumsosial.v4i2.449

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran komitmen karier terhadap psychological well-being (PWB) pada karyawan yang mengalami relationship breakup di Jakarta. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode survei. Pengumpulan data dilakukan melalui Google Form dengan menerapkan teknik purposive sampling hingga diperoleh 200 responden karyawan di wilayah DKI Jakarta. Karakteristik partisipan meliputi pekerja aktif berusia 19–25 tahun, telah mengalami perpisahan hubungan asmara dalam kurun waktu maksimal dua tahun terakhir, dan saat ini berstatus tidak sedang menjalin hubungan romantis yang serius. Instrumen pengumpulan data menggunakan adaptasi Ryff’s Psychological Well-Being Scale (18 item) dan modifikasi Career Commitment Measure (9 item) dengan rentang penskoran skala Likert 1–4. Teknik analisis data diselesaikan melalui uji regresi linear sederhana dengan bantuan perangkat lunak SPSS. Hasil penelitian menunjukkan adanya peran positif dan signifikan dari komitmen karier terhadap psychological well-being karyawan pasca-perpisahan (F = 4145,649; p = 0,000). Nilai koefisien korelasi (R = 0,977) mengindikasikan hubungan positif yang sangat kuat, sementara nilai koefisien determinasi (R2 = 0,954) menunjukkan bahwa komitmen karier berkontribusi sebesar 95,4% terhadap variasi psychological well-being, sedangkan 4,6% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar model. Setiap peningkatan satu satuan skor komitmen karier diikuti oleh kenaikan PWB sebesar 1,920 poin pada konstanta 1,499. Temuan ini mengonfirmasi bahwa keterikatan profesional yang kuat berfungsi sebagai buffer psikologis dan mekanisme regulasi diri yang dominan bagi pekerja muda urban dalam menjaga kestabilan mental dari duka perpisahan personal.
PENGEMBANGAN STRATEGI REGULASI EMOSI PADA ANAK ASUH PONDOK YATIM & DHU’AFA X MELALUI PSIKOEDUKASI Fatima Fatima; Pricilya Edelweyz Tan; Abriana Fredolin Noang; Agoes Dariyo
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12301

Abstract

ABSTRACT Childhood is a developmental stage during which individuals begin to understand, recognize, and express their emotions. Limited emotion regulation strategies tend to make children experience difficulties in managing their emotions adaptively in daily life. This study aimed to improve the emotion regulation strategies of children residing at Pondok Yatim & Dhu'afa X in their everyday lives. The study employed a quantitative approach using a pre-experimental one-group pretest-posttest design. The scores were calculated by obtaining the total and mean values for the Cognitive Reappraisal (CR) and Expressive Suppression (ES) dimensions. Emotion regulation was measured using the Emotion Regulation Questionnaire for Children and Adolescents (ERQ-CA). The data were analyzed using descriptive statistics and the non-parametric Wilcoxon Signed-Rank Test. The findings revealed a significance value of 0.027 (p < 0.05) for the Expressive Suppression subscale and 0.028 (p < 0.05) for the Cognitive Reappraisal subscale. These results indicate a statistically significant improvement in the emotion regulation strategies of the children at Pondok Yatim & Dhu'afa X following the intervention. Therefore, the combination of psychoeducation, film screening, and group counseling was found to be effective in helping children develop more adaptive emotion regulation strategies. ABSTRAK Masa kanak-kanak merupakan tahap ketika individu mulai memahami, mengenali, dan mengekspresikan emosi yang dirasakan. Kemampuan pengaturan strategi regulasi emosi yang rendah cenderung akan membuat anak mengalami kesulitan dalam mengatur emosi secara adaptif di kehidupan sehari-hari. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengembangkan strategi regulasi emosi anak asuh Pondok Yatim & Dhu’afa X dalam kehidupan sehari-hari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental one-group pretest-posttest design yang kemudian dijumlahkan menjadi total dan mean antara dimensi CR (Cognitive Reappraisal) dan ES (Expressive Suppression). Pengukuran dilakukan menggunakan Emotion Regulation Questionnaire for Children and Adolescents (ERQCA) dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif serta uji non-parametrik Wilcoxon SignedRank Test. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,027 (p < 0,05) pada subskala Expressive Suppression dan 0,028 (p < 0,05) pada subskala Cognitive Reappraisal. Hasil temuan tersebut menunjukkan adanya peningkatan secara signifikan pada kemampuan anak-anak asuh Pondok Yatim & Dhu’afa X dalam mengatur strategi regulasi emosi mereka setelah diberikannya intervensi. Dengan demikian, kombinasi program psikoedukasi, pemutaran film, dan konseling kelompok dapat secara efektif mampu membantu anak meningkatkan strategi regulasi emosi yang lebih adaptif.