Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DENGAN MENGGUNAKAN KARTU DOMINO PADA MATERI TRIGONOMETRI KELAS X DI SMAN 3 LHOKSUKON Nazariah Nazar
Pedagogik : Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh Vol 4, No 2, Oktober (2017)
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.453 KB) | DOI: 10.37598/pjpp.v4i2.555

Abstract

Salah satu sebab siswa kurang memahami konsep matematika karena matematika sering diperkenalkan sebagai kumpulan angka dan rumus yang bersifat abstrak. Untuk itu perlu digunakan alat peraga yang sesuai dengan materi yang dipelajari, agar dapat meminimalis karakteristik materi matematika yang abstrak. Penyebab lain siswa mengalami kesulitan dalam belajar matematika adalah proses pembelajaran matematika yang masih berlangsung satu arah dan dominannya aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran sehingga siswa kurang aktif dalam mengikuti proses pembelajaran matematika. Akibatnya hasil belajar yang diharapkan akan kurang optimal dan kegiatan pembelajaran pun dirasakan kurang bermakna dan bermanfaat bagi siswa.Oleh karena itu, dibutuhkan suatu pembelajaran yang dapat membuat siswa aktif dan kreatif dalam mengkonstruksi suatu penyelesaian masalah melalui media tertentu. Dari hal tersebut maka dilakukan penelitian tentang pembelajaran materi Trigonometri menggunakan kartu domino dengan model kooperatif tipe STAD di SMAN 3 Putra Bangsa Lhoksukon. Pembelajaran ini dilakukan lima tahap yaitu: (1) Tahap penyajian kelas, (2) Tahap diskusi kelompok dan penyajian laporan, (3) Tahap tes individual, (4) Tahap penentuan poin perkembangan individu dan kelompok, (5)Tahap pemberian penghargaan.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil belajar siswa, aktivitas siswa, aktivitas guru dan respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran menggunakan kartu domino dengan model kooperatif tipe STAD. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X1 SMAN 3 Lhoksukon sebanyak 34 orang. Adapun prosedur pengumpulan data adalah melalui tes hasil belajar siswa,  observasi aktivitas siswa, observasi kemampuan guru, penyebaran angket respon siswa, dan wawancara. Sedangkan teknik analisis data, penulis menggunakan analisis deskriptif (persentase) sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Hasil penelitian yang berlangsung selama dua siklus menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran pada saat dilakukan pembelajaran pada materi aturan sinus dan cosinus menggunakan kartu domino dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berada pada kategori baik yaitu 89,47% dan sangat baik yaitu 96,05%, Aktivitas siswaberada pada kategori baik yaitu 88,81% dan sangat baik yaitu 96,05%, Hasil belajar memiliki ketuntasan secara klasikal adalah 85,29% dan 94,11%, dan Respon siswa terhadap penerapan pembelajaran menggunakan karu domino dengan model pembelajaran kooperatif tipe STADadalah sangat positif. Hal ini dapat disimpulkan bahwa Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD dengan Menggunakan Kartu Domino sangat bagus digunakan dalam proses belajar-mengajar.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARANPROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA MATERI LIMAS SISWA KELAS VIII MTsN I ACEH BESAR Miftahul Jannah; Nazariah Nazariah
Pedagogik : Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh Vol 5, No 2, Oktober (2018)
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.012 KB) | DOI: 10.37598/pjpp.v5i2.587

Abstract

Matematika merupakan suatu ilmu yang diadakan atas dasar akal yang berhubungan dengan benda-benda abstrak. Namun, banyak siswa beranggapan bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit dan menakutkan. Dalam mempelajari matematika siswa hanya menghafal konsep dan kurang mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menyebabkan hasil belajar siswa menjadi rendah. selain itu pemilihan model pembelajaran yang kurang tepat juga menjadi penyebab rendahnya hasil belajar siswa. Salah satu usaha yang dapat dilakukan guru dalam meningkatkan hasil belajar matematika yaitu dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Model PBL ini menyebabkan peserta didik dapat terlibat aktif, merangsang kemampuan berfikir, menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuhkembangkan keterampilan yang tinggi, memandirikan peserta didik dan meningkatkan kepercayaan dirinya.Yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar matematika siswa, untuk mengetahui ketuntasan belajar matematika siswa, danuntuk mengetahui respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada materi limas siswa kelas VIII MTsN I Aceh Besar. Penelitian yang dilakukan ini adalah penelitian eksperimen dengan desain yaitu One-Grup Pretest-Postted Design. Populasi dalam penelitian ini ialah seluruh siswa kelas VIIIMTsN I Aceh Besar yang terdiri dari 148 orang. Sedangkan yang menjadi sampel ialah siswa kelas VIII2 yangberjumlah 26 orang. Untuk menganalisis data, penulis menggunakan statistik uji-t. Berdasarkan hasilpengolahan data diperoleh harga  = 6,67 sedangkan = 1,71. Jadi  Maka Ho ditolak dan terjadi penerimaan terhadap Ha yaitu hasil belajar siswakelas VIII2 MTsN I AcehBesar pada materi Limas yang diajarkan  dengan  menggunakan model pembelajaran  Problem Based Learning (PBL) mengalami peningkatan. Adapun ketuntasan belajar siswa secara klasikal dari 26 siswa yaitu sebesar 92,3%. Sedangkan respon siswa terhadap pembelajaran materi limas setelah diajarkan dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)  berkategori sangat positif dengan skor rata-rata 3,01.KataKunci: Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL).
PENDEKATAN KEMANDIRIAN BELAJAR TERHADAP KECEMASAN PADA PROSES PEMBELAJARAN Nazariah Nazar; Restu Andrian
Pedagogik : Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh Vol 5, No 2, Oktober (2018)
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.875 KB) | DOI: 10.37598/pjpp.v5i2.589

Abstract

Masyarakat menuntut individu mampu bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang dilakukan. Kematangan sikap dan tingkah laku sangat mempengaruhi individu dalam masyarakat. Kemandirian sangat dibutuhkan saat bersikap dalam masyarakat. Kemandirian dapat digunakan individu untuk memilih jalan hidup sehingga dapat berkembang dengan lebih baik. Di sekolah siswa dituntut untuk menyesuaikan diri dengan segala sesuatu yang ada di sana termasuk, tata tertib, kedisiplinan, kemandirian, bergaul dengan guru, bergaul dengan teman dan sebagainya. Sekolah juga menuntut untuk dapat bersikap disiplin. Dimana, sikap disiplin memerlukan suatu latihan. Melalui pembelajaran yang ditawarkan di sekolah hendaknya mampu menumbuhkan sikap kemandirian siswa. Namun demikian, pada praktinya proses pembelajaran tidak selalu berjalan lancar, banyak faktor penghambar, baik internal maupun ekternal. Salah satunya adalah kecemasan yang timbul dari dalam jiwa peserta didik sendiri. Kecemasan mampu teratasi bila proses pembelajaran dapat dikemas dengan menarik. Pembelajaran bersama teman sejawat menjadi salah satu langkah agar siswa mampu percaya diri dan mampu menghilangkan kecemasan yang timbul. Melalui pembelajaran yang menyenangkan tentu mampu menjadikan peserta didik yang bernilai.Kata Kunci: Kemandirian, Kecemasan dan Pembelajaran. 
KOMUNIKASI MATEMATIKA DAN RESPON SISWA TERHADAP MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH PADA SISWA KELAS XI SEMESTER 2 SMA MUHAMMADIYAH BANDA ACEH Nazariah Nazar
Pedagogik : Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh Vol 3, No 1, April (2016)
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/pjpp.v3i1.435

Abstract

Kegiatan pembelajaran matematika tentu tidak akan terlepas dari masalah matematika. Masalah matematika baru dikatakan masalah bila dalam penyelesaiannya siswa tidak langsung mengetahui jawabannya, tapi membutuhkan waktu untuk berpikir langkah apa yang harus ditempuh untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dalam mengajarkan bagaimana memecahkan masalah, beberapa guru atau pendidik matematika mempunyai cara yang berbeda-beda. Berbedanya cara mengajar guru ini merupakan salah satu penyebab siswa kurang tampil dalam menyelesaikan masalah, hal tersebut disebabkan karena ada diantara guru dalam pembelajarannya kadang kala memberikan contoh-contoh bagaimana memecahkan suatu masalah matematika, tanpa memberikan kesempatan banyak pada siswa untuk berusaha menemukan sendiri penyelesaiannya. Hasil wawancara bersama guru yang mengajar mengatakan bahwasanya sampai saat ini pembelajaran yang dilaksanakan masih banyak didominasi oleh guru. Selanjutnya hasil wawancara yang dilakukan dengan beberapa siswa menyatakan bahwa mereka sulit untuk memahami materi pelajaran yang berhubungan dengan kemampuan komunikasi matematika. Maka  hal  tersebut  diduga  menyebabkan pencapaian prestasi belajar siswa (peserta didik) rendah. Untuk  mengantisipasi  masalah  ini,  guru  perlu  menerapkan  model pembelajaran  yang  dapat  membantu  siswa  dalam  belajarnya,  menumbuhkan komunikasi matematika  dan  minat  siswa  dalam  belajar. Salah satu model pembelajaran yang dapat membantu siswa memecahkan masalah  adalah  model  pembelajaran  berdasarkan  masalah  (Problem  Base  Learning). Model ini bercirikan penggunaan masalah kehidupan nyata sebagai sesuatu yang harus dipelajari siswa untuk melatih dan meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan menyelesaikan masalah, serta mendapat pengetahuan konsep-konsep penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil komunikasi matematika dan respon siswa terhadap model PBL. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sampel penelitian adalah seluruh siswa kelas XI di SMA Muhammadiyah. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa model PBL yang sudah di terapkan di kelas XI sangat membantu dalam menyelesaikan masalah matematika karena siswa `diorientasikan pada masalah, mengorganisasikan siswa untuk belajar, membantu penyelidikan siswa, mengembangkan hasil karya, dan menganalisis proses pemecahan masalah. Dari hasil respon siswa mengatakan  bahwa mereka senang dengan pembelajaran seperti ini karena dapat mengkomunikasikan ide dalam bentuk simbol matematika, dapat bertukar pikiran dalam kelompoknya dan mereka dapat menyelesaiakn masalah matematika tanpa harus guru yang selesaikan semua, tapi guru sebagai fasilitator.