Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

SINDROMA HIPERVENTILASI Iwan Sis Indrawanto
Saintika Medika Vol. 11 No. 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v11i2.4201

Abstract

Sindroma hiperventilasi merupakan gangguan yang sering didapatkan di Unit Gawat Darurat dimana penderita mengeluh sesak dan nyeri dada. Penderita seringkali sangat panik dan ketakutan serta bernafas dengan cepat dan dalam. Tak jarang dokter dan penderitanya menduga terkena serangan jantung/ angina pectoris atau gangguan pernafasan serius, sehingga dilakukan berbagai pemeriksaan yang memberatkan secara finansial dan membuat penderita semakin meyakini bahwa ia mengalami gangguan organik/ fisik. Sindroma ini merupakan gangguan psikiatrik yang pada umumnya terjadi bersamaan/ mengikuti gangguan panik.Kata Kunci: Sindroma hiperventilasi, gangguan panik
HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI KONSUMSI KOPI BERSAMA ROKOK DAN KUALITAS TIDUR PADA SOPIR BUS DI TERMINAL ARJOSARI MALANG Ria Churin Ain; Iwan Sis Indrawanto; Febriana Pertiwi Chandrawati
Saintika Medika Vol. 12 No. 2 (2016): DESEMBER 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v12i2.5274

Abstract

Sopir bus dituntut tetap terjaga dan waspada sehingga bisa mengantarkan penumpangnya ke tempat tujuan. Sehingga kebanyakan dari mereka mengkonsumsi kopi dan rokok dengan tujuan agar tidak mengantuk. Kopi mengandung kafein dan rokok mengandung nikotin. Kafein dan nikotin merupakan zat psikoaktif yang bisa meningkatkan kewaspadaan. Namun, konsumsi kopi dan rokok mempunyai dampak negatif berupa penurunan kualitas tidur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan antara konsumsi kopi bersama rokok dan kualitas tidur pada sopir bus di terminal Arjosari Malang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2017 yang bersifat analitik observasional dengan desain cross sectional menggunakan purposive sampling dengan 81 responden. Teknik pengumpulan data dengan mewawancarai responden menggunakan kuesioner PSQI untuk mengukur kualitas tidur. Hasil penelitian menunjukkan, responden dengan konsumsi kopi bersama rokok memiliki kualitas tidur buruk sebanyak 46,9% dan kualitas tidur baik 13,5 %. Responden yang tidak mengkonsumsi kopi bersama rokok memiliki kualitas tidur baik 6,2 % dan memiliki kualitas tidur buruk 33,3 %. Hasil uji statistic hubungan konsumsi kopi bersama rokok dan kualitas tidur diperoleh p = 0,639,( p > 0,05). Berdasarkan hasil tersebut  menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi kopi bersama rokok dan kualitas tidur pada sopir bus di terminal Arjosari Malang.Kata kunci : Kualitas tidur, kopi, rokok, kafein, nikotin
The Effect of Lemon Peel (Citrus limon) Aromatherapy Inhalation as Antidepressant on Rats using Diffuser Method Indra Setiawan; Iwan Sis Indrawanto; Abi Noerwahjono; Abdi Malik Rahardjo
Jurnal Kesehatan Islam : Islamic Health Journal Vol 10, No 2 (2021): Jurnal Kesehatan Islam : Islamic Health Journal
Publisher : Publikasi oleh Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jki.v10i2.13824

Abstract

Abstract. Background Depression is a mood disorder that affects a person’s quality of life. This condition is influenced by the levels of monoamine compounds such as serotonin, norepinephrine, and dopamine in the brain. The decrease in monoamine levels leads to depressive symptoms. Lemon peel essential oil has an antidepressant potential, that contains phytochemicals, d-Limonene, which increase monoamine levels in the brain. Aromatherapy diffuser inhalation method is one kind of treatment route in depression. The mechanism of action is by breaking down the smaller essential oil particles so they penetrate quicker to the brain. Objective: To determine the effect of lemon peel (Citrus limon) aromatherapy inhalation diffuser method on immobility time of white rats (Rattus norvegicus Wistar strain) on the tail suspension test. Method: True Experimental with Post Test Only Control Group Design. Fifteen white male rats Wistar strain were divided into 5 groups. The positive control group was given stressors and saline induction intraperitoneally. In addition to stressors, the treatment group was also given lemon peel aromatherapy inhalation at a dose of 1%, 2.5%, and 5%. Measurement of immobility time was carried out by hanging the rats' tails through the tail suspension test method and the time of animals stopped moving for at least 1 second was calculated using a timer. Data were analyzed using the ANOVA test, Post Hoc test, Pearson correlation test, and Linear Regression test. Results and Discussion: ANOVA test showed a significant difference between groups (p = 0.017). The post Hoc test showed a significant difference (p <0.05) between the positive control and the P3 group (5%). The linear regression test obtained Adjusted R2 = 0.598 (inhalation of lemon peel aromatherapy gives an effect of 59.8%). The decrease of immobility time was due to the reduction of depression that was caused by the increase of monoamine level induced by d-limonene in lemon peel essential oil. Conclusion: The inhalation of lemon peel (Citrus limon) aromatherapy with diffuser method has the antidepressant effect that reduces the immobility time of depressed white rats (Rattus norvegicus Wistar strain).
Hubungan Kualitas Tidur Terhadap Kejadian Miopia Pada Anak Setyaningayu, Prima Fermalina; Sidharta, Bragastio; Candrawati, Pertiwi Febriana; Indrawanto, Iwan Sis
Oftalmologi : Jurnal Kesehatan Mata Indonesia Vol 4 No 3 (2022): Jurnal Oftalmologi
Publisher : Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/ojkmi.v4i3.37

Abstract

Latar Belakang: Miopia (rabun jauh) adalah gangguan penglihatan refraksi yang paling umum pada anak-anak. Hal ini ditandai dengan kaburnya objek yang dilihat dari kejauhan, dan umumnya merupakan akibat dari pemanjangan bola mata yang tidak normal – yang menyebabkan bayangan bias yang dibentuk oleh kornea dan lensa jatuh di depan fotoreseptor retina. Faktor yang menyebabkan terjadinya miopia belum diketahui dengan pasti, namun ada beberapa faktor yang mendukung terjadinya miopia yaitu faktor genetik, jenis kelamin, aktivitas fisik dan tidur. Kualitas tidur dikaitkan dengan terjadinya miopia. Kualitas tidur yang berpengaruh menjadi faktor terjadinya miopia adalah dilihat dari durasi tidur, jadwal tidur, dan gangguan tidur. Tujuan: Mengetahui hubungan kualitas tidur terhadap kejadian miopia pada anak Metode Penelitian: Jenis dari kajian pustaka ini adalah narrative review dengan menerapkan PICO (population, intervention,comparison dan outcome). Literatur yang dimasukkan ke dalam penelitian ini akan diperoleh dari database jurnal yang terdiri dari Pubmed, Cochrane, Google Scholar. Hasil: Hasil penelitian dari jurnal yang didapatkan, menunjukkan kualitas tidur berpengaruh terhadap kejadian miopia, terutama pada kondisi dengan miopia yang tinggi. Kualitas tidur yang buruk meningkatkan prevalensi terjadinya miopia. Anak dengan miopia memiliki durasi tidur yang lebih pendek dibandingkan dengan anak tidak miopia. Kesimpulan: Kualitas tidur berpengaruh terhadap terjadinya miopia pada anak, khususnya pada miopia tinggi. Durasi dan latensi tidur termasuk dalam penilaian dari kualitas tidur dan keduanya juga berpengaruh terhadap kejadian miopia pada anak.
The Relationship between the Intensity of Tahajud Prayer and the Stress Level of Medical Students of Muhammadiyah University of Malang, Class of 2021 Sis Indrawanto, Iwan; Ritna Ningrum, Dewi; Andriana, Kusuma; Handi Rosiyanto, Ikwan
Saintika Medika Vol. 19 No. 2 (2023): December 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.Vol19.SMUMM2.30383

Abstract

Stress can be defined as a condition or feeling that occurs when a person feels that his or her demands exceed the resources that he or she has, resulting in a gap between the demands of daily life and the person's ability to respond to them An obvious imbalance exists. Research has found that medical students, especially first-year medical students, experience high levels of stress due to the life change from high school to college. Sustained stress can trigger memory and cognitive impairment, gastrointestinal disorders, reduced immunity, and cardiovascular system disease. Tahjud prayers, if performed seriously and consistently, can produce positive emotional responses and increase the effectiveness of stress management. The purpose of this study was to determine the relationship between Tahajud prayer intensity and stress levels among medical students at Muhammadiyah University, Malang. This study used an analytical observational design with a cross-sectional approach. This study adopted the total sampling technique with a sample size of 94. Data on stress levels were collected using the Depression, Anxiety and Stress Scale (DASS-42) and the Tahajud Prayer Intensity Questionnaire through validation testing. The results showed that the intensity of Tahajud prayer was low for 51 respondents (54.3%) and moderate for 48 respondents (51.1%). There is a significant relationship between the intensity of Tahajud prayers and stress levels among students at the Faculty of Medicine at Muhammadiyah University.
Hubungan Antara Durasi dan Frekuensi Paparan Layar Media Elektronik (screen time) dengan Perkembangan Bahasa pada Balita di Puskesmas Kendal Kerep di Kota Malang Annisa Hasanah; Nadia Paramita Bhakti Putri; Iwan Sis Indrawanto; Rahayu
Teaching and Learning Journal of Mandalika (Teacher) e- ISSN 2721-9666 Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/teacher.v6i1.2988

Abstract

The incidence of speech and language delay disorders in children in Indonesia ranges from 2.3-24.6%. The American Academy of Pediatrics (AAP) recommends that electronic media screen exposure should not be given to children under 18 months of age. While at the age of 2 to 4 years, exposure to electronic media screens is suggested to be limited to about 1 hour per day. The influence of the duration of the digital devices in electronic media screen exposure (screen time) greatly impacts language development. This study aims to determine the correlation between duration and frequency of exposure to screen time on language development of toddlers at Kendalkerep health center in Malang city. This study used a cross-sectional method with questionnaires and KPSP measuring instruments to determine language development in toddlers at Kendalkerep Health Center in Malang City. There was a correlation between duration and frequency of exposure to screen time on language development of toddlers at Puskesmas Kendalkerep in Malang City with a spearman correlation of duration and language development of r=0.375 (Moderate), while the spearman correlation of frequency and language development was r=0.424 (Moderate). The study concluded that there was a correlation between duration and frequency of exposure to Electronic Screen Time on language development of toddlers at Puskesmas Kendalkerep in Malang City.
Pengaruh Intervensi Psikososial terhadap Kepatuhan Minum Obat pada Pasien dengan Skizofrenia Nur, Saafitri; Ali, Rizma Azizah; Zakky, Dandy; Lufthansyahrizal, Muhammad Fauzi; Rosyidah, Qonita; Indrawanto, Iwan Sis; Cakrawati, Hanna
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal Vol. 5 No. 3 (2025): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skizofrenia adalah gangguan mental yang kompleks, dengan gejala khas yang muncul pada masa remaja akhir atau awal masa dewasa. Gejala psikotik akibat skizofrenia dapat ditangani dengan intervensi farmakologis dan psikososial. obat antipsikotik pada umumnya digunakan untuk pengobatan pada kasus skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya. Meskipun antipsikotik memainkan peran dominan dalam pengobatan skizofrenia, terdapat beberapa masalah dan keterbatasan dalam penggunaannya. Hal inilah yang dapat menyebabkan penurunan angka kepatuhan pengobatan pada pasien. Pencarian dilakukan melalui PubMed, Science direct, dan Google Scholar menggunakan kata kunci peran intervensi psikososial dalam kepatuhan minum obat pasien skizofrenia. 31 jurnal yang diterbitkan setidaknya 5 tahun yang lalu diperoleh. Dari 61 artikel yang ditelaah didapatkan 31 artikel yang di review diketahui terdapat pengaruh faktor psikososial terhadap peningkatan angka kepatuhan minum obat pada pasien dengan skizofrenia. Beberapa bentuk terapi psikososial pada skizofrenia yang dapat berperan dalam meningkatkan status fungsional dan perbaikan gejala antara lain perawatan komunitas asertif, lingkungan, remediasi kognitif, FEP, intervensi keluarga, manajemen diri penyakit, psikoedukasi, pelatihan keterampilan sosial, dan terapi suportif. Mengingat keengganan dalam kepatuhan minum obat psikotik yang dipicu oleh insight yang buruk, jenis obat yang bermacam-macam, efek samping yang ditimbulkannya serta stigma yang ditimbulkan oleh konsumsi obat antipsikotik sehingga diperlukan intervensi psikososial untuk meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan antipsikotik oral. Dari literature review artikel yang didapatkan, intervensi psikososial berperan dalam meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan antipsikotik oral. Terapi psikososial mempengaruhi keterlibatan (membangun hubungan saling percaya), fokus (menentukan target perilaku untuk perubahan), membangkitkan (memunculkan motif baik pasien dalam mendukung perubahan: “perubahan pembicaraan”), dan perencanaan (membantu untuk bergerak menuju perubahan yang sebenarnya).  
Counseling for Bipolar Disorder in an Attempt to Raise Awareness in the EastJava Region using the Zoom Platform Iwan Sis Indrawanto; Muhamad Nurul Robby Robby; Hanna Cakrawati; Salma Ardhya Maharani; Muhammad Adin Nugroho; Salwa Rizqi Salsabila; Anggieta Asdi Estiningtyas
DokTIn MEDIKA Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2025): Pebruary 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/dm.Vol4.DM1.33448

Abstract

Referring to the bipolar prevalence rate in East Java which is relatively high, public awareness in countries with a dominant percentage of lower middle income is still relatively low due to the many clashes and interactions in daily life with many conflicts, culture, trauma, perspectives, level of education, limitations to health services’ access, and disparities in social status, as well as the minimal allocation of government policy focus related to mental health aspects. The low level of knowledge and awareness as well as the direction of intervention towards mental health will have an impact on the stability and resilience of individuals and groups in maintaining their quality of life due to ignorance regarding defensive mechanisms and seeking appropriate health service assistance, which then becomes a repeating cycle and becomes a problem that is difficult to resolve. Purpose: The aim of this program is to raise awareness of bipolar disorder among the people in the East Java region. Methods: The community service activity carried out in this study was counseling about Bipolar. Education includes definitions, causes, risk factors, environmental manipulation therapy, and prevention of Bipolar disorder. Pretest and posttest were also carried out to measure public knowledge about Bipolar disease using a Google form-based questionnaire. Counseling is carried out online using the Zoom meeting platform. Results: There were 23 respondents who completed the questionnaire out of the 39 counseling participants. 34.78% to 100% of respondents were distributed according to their level of knowledge prior to pre-counseling and following counseling. Conclusion: After receiving counseling, everyone of the 23 study participants had a solid understanding of bipolar illness.