Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MUSIK TRADISIONAL KURIDING DI DESA ULU BENTENG KECAMATAN MARABAHAN KABUPATEN BARITO KUALA: BENTUK DAN FUNGSI PERTUNJUKAN Muhammad Budi Zakia Sani
Imaji Vol 19, No 2 (2021): IMAJI OKTOBER
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/imaji.v19i2.44789

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sejarah lahir dan perkembangan Musik Tradisional Kuriding di Desa Ulu Benteng Kecamatan Marabahan Kabupaten Barito Kuala. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif  kualitatif dengan instrumen yaitu peneliti, perekam suara, kamera dan video. Teknik pengumupulan data yang dilakukan adalah studi lapangan atau observasi, studi dokumentasi, dan wawancara. Analisis data menggunakan teknik deskriptif analisis dengan tahap pengumpulan data, klasifikasi, dan deskripsi data serta analisis data. Hasil penelitian menunjukan bahwa Syamsudin (Alm) adalah orang yang pertama kali memainkan atau sebagai maestro kuriding di desa tersebut, berdasarkan paparan oleh Iwie, kuriding pertama kali ia ketahui setelah ia menikah dengan Syamsuddin sekitar tahun 1930an. Perkembangan kuriding di desa Ulu Benteng tidak mengalami perkembangan. Kuriding mengalami kemunduran dan hanya ditemukan empat orang saja yang masih bisa memainkan Kuriding dengan fakta mereka tidak mampu membuat alat musik tersebut. Bentuk musik kuriding ini adalah pertunjukan yang dilakukan secara perorangan atau kelompok. Fungsi musik yang terdapat dalam musik kuriding diantara adalah sebagai sarana hiburan pribadi, sebagai sarana presentasi estetis, dan juga sebagai sarana pengikat solidaritas masyarakat.Kata Kunci : Kuriding, Musik Tradisional, Bentuk dan Fungsi PertunjukanKURIDING TRADITIONAL MUSIC IN ULU BENTENG VILLAGE, MARABAHAN DISTRICT, BARITO KUALA REGENCY: FORM AND FUNCTION OF PERFORMANCE Abstract               The purpose of this study is to trace the history of Kuriding Traditional Music in Ulu Benteng Village, Marabahan District, Barito Kuala Regency. The method of study involves descriptive qualitative instruments, such as researchers, voice recorders, cameras, and videos. Field studies or observations, documentation studies, and interviews were all utilized to obtain data. Data analysis employs descriptive analytic techniques during the data collection, classification, and description stages of data collecting and analysis. The findings indicated that Syamsudin (Alm) was the first individual in the village to play or serve as a maestro of kuriding. According to Iwie, the first kuriding was known following her marriage to Syamsuddin in the 1930s. Kuriding's development in Ulu Benteng village remained stagnant. Kuriding suffered a setback when they discovered just four persons who could still play Kuriding due to their inability to manufacture the instrument. This style of kuriding music can be played solo or in groups. Kuriding music serves a variety of goals, including personal entertainment, aesthetic presentation, and community solidarity. Keywords: Kuriding, Traditional Music, Form and Functions of Performance
Pengembangan Keterampilan Pertunjukan Madihin Di Komunitas Madihinesia Kalimantan Selatan Muhammad Budi Zakia Sani
Jurnal Pengabdian ILUNG (Inovasi Lahan Basah Unggul) Vol 1, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1465.761 KB) | DOI: 10.20527/ilung.v1i3.4252

Abstract

Madihin art is an art that has a very strong local wisdom value. This art is played by individuals, in pairs, or in groups by madihin players called pamadihinan. Madihin art continues to grow in the wider community, its fans are emerging from the younger generation from various backgrounds and elements. They were gathered in a community which they named Madihinesia. This Madhinesian community was attended by dozens of members who were active and engaged in art activities in South Kalimantan. This community built a movement that aims to preserve and develop madihin art in South Kalimantan. Therefore, in this service activity, training is carried out aimed at developing the potential and skills possessed by the pamadihinan in the Madisonian community, so that it is a very big hope that they will be able to have increased skills in the future