Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

KARAKTERISTIK IMAGING CT-SCAN PADA PENDERITA BATU GINJAL DAN BATU SALURAN KEMIH DI RSUP PROF NGOERAH TAHUN 2021-2022 I Gede Agus Pradana; Pande Putu Yuli Anandasari; Ni Nyoman Margiani; Dewa Gde Mahiswara Suadiatmika
Essence of Scientific Medical Journal Vol 21 No 2 (2024): Volume 21 No. 2 (Juli - Desember 2023) Essential: Essence of Scientific Medical
Publisher : Kelompok Ilmiah Hippocrates Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/essential.v21i2.109214

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Batu ginjal atau dikenal dalam dunia kedokteran sebagai nefrolitiasis adalah kondisi terbentuknya batu di pelvis renalis. Batu yang masuk ke dalam sistem pengumpulan urin meliputi ureter, vesika urinaria, dan uretra disebut dengan urolitiasis. Gold standar untuk menegakkan diagnosis batu ginjal dan batu ureter adalah CT-Scan dengan parameter penilaian densitas jenis batu yang digunakan adalah Hounsfield unit (HU). Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif retrospektif dengan rancangan cross-sectional. Sampel dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Tempat penelitian di RSUP Prof Ngoerah selama 6 bulan menggunakan teknik total sampling. Pengolahan data menggunakan SPSS ver. 25 dengan analisis univariat. Hasil: Data sekunder rekam medis CT-Scan pada Penderita Batu Ginjal dan Batu Saluran Kemih di RSUP Prof Ngoerah Tahun 2021-2022 didapatkan 123 sampel dan 89 sampel memenuhi kriteria inklusi Pembahasan: Berdasarkan kelompok jenis kelamin paling banyak ditemukan yaitu jenis kelamin laki-laki sebanyak 55 pasien (61.8%). Berdasarkan kelompok usia, paling banyak ditemukan pada kelompok usia 51-60 tahun sebanyak 27 pasien (30.3%). Berdasarkan Lokasi batu, terbanyak ditemukan di kaliks bawah sebanyak 33 pasien (37.1%). Berdasarkan ukuran batu paling banyak yaitu < 5 mm sebanyak 24 pasien (27.0%). Berdasarkan pelebaran calyces, mayoritas tidak ditemukan sebanyak 51 pasien (57.3%). Berdasarkan pelebaran ureter, mayoritas tidak ditemukan sebanyak 68 pasien (76.4%). Kesimpulan: karakteristik dominan ditemukan pada jenis kelamin laki-laki, kelompok usia 51-60 tahun, lokasi kaliks bawah, densitas HU 200-450, ukuran batu < 5 mm, tidak ditemukan pelebaran calyces dan ureter. Kata kunci : Batu ginjal, Batu ureter, CT-Scan
KORELASI ASPECT SCORE DENGAN NIHSS, GCS, DAN LAMA DIRAWAT PADA PASIEN STROKE NON HEMORAGIK AKUT DI RSUP SANGLAH Juniada, Putu Herry; Asih, Made Widhi; Margiani, Ni Nyoman; Eka Putra, I Wayan Gede Artawan; Mahendra Wijaya, I Gusti Agung Gede
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 12 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i12.P01

Abstract

Stroke adalah kondisi medis mengancam nyawa, akibat terputusnya pasokan darah ke bagian otak tertentu, bisa diakibatkan oleh pembuluh darah otak yang pecah (stroke hemoragik), maupun tersumbat (stroke non hemoragik). Stroke Non Hemoragik (SNH) membutuhkan penanganan segera dengan terapi trombolisis (IV-rtPA) dalam 3-4,5 jam pasca awitan SNH untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas. Salah satu metode penilaian kelayakan pasien SNH (melalui pencitraan otak) untuk menerima terapi trombolisis adalah dengan ASPECT Score. Namun IV-rtPA dan ASPECT Score masih sangat jarang diterapkan karena berbagai faktor, sehingga untuk saat ini kami memiliki gagasan untuk meneliti bagaimana korelasi ASPECT Score dengan NIHSS, GCS, dan lama dirawat pada pasien SNH akut. Harapannya dapat ikut mempromosikan ASPECT Score, agar semua stakeholder lebih akrab dengan ASPECT Score jika sudah siap dengan terapi IV-rtPA nantinya. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional prospektif. Pasien SNH yang masuk IGD RSUP Sanglah pada bulan Oktober 2021 – Januari 2022 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dipilih secara consecutive sampling sebanyak 66 sampel. Hasil pemeriksaan CT scan kepala tanpa kontras diambil dari PACS dan dilakukan penilaian ASPECT Score oleh 2 orang radiolog secara terpisah. Terdapat Interobserver Agreement penilaian ASPECT Score yang tinggi dan bermakna antara observer 1 dan 2 (r = 0,905; p = 0,00; 95% Limits of Agreement = -1,161 – 0,889). Namun ternyata tidak terdapat korelasi yang bermakna antara ASPECT Score dengan NIHSS, GCS, dan lama dirawat, yaitu dengan nilai r dan p masing-masing adalah r = -0,144, p = 0,250; r = 0,069, p = 0,584; dan r = -0,111, p = 0,375. Perlu dilakukan perbaikan design penelitian, contohnya dengan pendekatan longitudinal untuk mengakomodasi progresivitas infark, dan dengan membandingkan antara penilaian ASPECT Score melalui pemeriksaan CT scan dengan MRI (DWI) yang dikenal lebih sensitif dalam mengidentifikasi perubahan iskemik tahap awal. Kata kunci : ASPECT Score., NIHSS., GCS
HUBUNGAN ANTARA LEUKOARAIOSIS DAN ATROFI KORTIKAL GLOBAL PADA LANSIA Eveline, Ency; Sitanggang, Firman Parulian; Ayusta, I Made Dwijaputra; Putra, I Wayan Gede Artawan Eka; Anandasari, Pande Putu Yuli; Margiani, Ni Nyoman
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 6 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i06.P14

Abstract

ABSTRAK LATAR BELAKANG: Prevalens leukoaraiosis dan atrofi kortikal global (GCA) meningkat seiring dengan meningkatnya usia. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan apakah leukoaraiosis merupakan faktor risiko terjadinya GCA dan derajat leukoaraiosis berapakah yang berhubungan dengan kejadian GCA. METODE: Penelitian ini melibatkan 100 lansia yang berobat ke IGD RSUP Sanglah Denpasar yang melakukan CT-Scan kepala dengan indikasi apapun pada periode Juli 2021 hingga Januari 2022. Pemilihan sampel dilakukan secara simple random sampling menggunakan aplikasi random number generator. HASIL: Rerata usia subjek didapatkan 71,7 ± 7,7 tahun, 59% berjenis kelamin perempuan, 52% memiliki riwayat hipertensi, 29% riwayat dislipidemia, dan 13% merokok. Mayoritas yaitu 72% subjek menderita leukoaraiosis dan 67% menderita atrofi. Uji perbandingan kejadian atrofi berdasarkan leukoaraiosis menunjukkan 80,6% lansia dengan leukoaraiosis menderita atrofi dengan prevalence ratio 2,5 dan nilai P<0,001. Lalu dilakukan analisis perbandingan proporsi yang membandingkan derajat leukoaraiosis dan skala atrofi dengan membuat tabulasi silang. Hasil uji linear by linear association didapatkan koefisien korelasi Spearman sebesar r=0,535 dengan nilai P<0,001 yang menunjukkan korelasi positif dengan kekuatan korelasi sedang antara derajat leukoaraiosis dan skala atrofi. Analisis multivariat menggunakan uji regresi Poisson menunjukkan adanya hubungan antara leukoaraiosis dan atrofi kortikal global setelah mengontrol variabel perancu by analysis dimana didapatkan hasil adjusted prevalence ratio sebesar 2,2 dengan nilai P=0,034. SIMPULAN: Leukoaraiosis secara independen memberikan peluang terjadinya atrofi sebanyak 2,2 kali pada lansia. Derajat leukoaraiosis yang mulai berhubungan dengan kejadian atrofi adalah sejak derajat ringan. Kata kunci: Leukoaraiosis, atrofi kortikal global, lansia
KORELASI ASPECT SCORE DENGAN NIHSS, GCS, DAN LAMA DIRAWAT PADA PASIEN STROKE NON HEMORAGIK AKUT DI RSUP SANGLAH Juniada, Putu Herry; Asih, Made Widhi; Margiani, Ni Nyoman; Eka Putra, I Wayan Gede Artawan; Martadiani, Elysanti Dwi; Mahendra Wijaya, I Gusti Agung Gede
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 10 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i10.P02

Abstract

Stroke adalah kondisi medis mengancam nyawa, akibat terputusnya pasokan darah ke bagian otak tertentu, bisa diakibatkan oleh pembuluh darah otak yang pecah (stroke hemoragik), maupun tersumbat (stroke non hemoragik). Stroke Non Hemoragik (SNH) membutuhkan penanganan segera dengan terapi trombolisis (IV-rtPA) dalam 3-4,5 jam pasca awitan SNH untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas. Salah satu metode penilaian kelayakan pasien SNH (melalui pencitraan otak) untuk menerima terapi trombolisis adalah dengan ASPECT Score. Namun IV-rtPA dan ASPECT Score masih sangat jarang diterapkan karena berbagai faktor, sehingga untuk saat ini kami memiliki gagasan untuk meneliti bagaimana korelasi ASPECT Score dengan NIHSS, GCS, dan lama dirawat pada pasien SNH akut. Harapannya dapat ikut mempromosikan ASPECT Score, agar semua stakeholder lebih akrab dengan ASPECT Score jika sudah siap dengan terapi IV-rtPA nantinya. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional prospektif. Pasien SNH yang masuk IGD RSUP Sanglah pada bulan Oktober 2021 – Januari 2022 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dipilih secara consecutive sampling sebanyak 66 sampel. Hasil pemeriksaan CT scan kepala tanpa kontras diambil dari PACS dan dilakukan penilaian ASPECT Score oleh 2 orang radiolog secara terpisah. Terdapat Interobserver Agreement penilaian ASPECT Score yang tinggi dan bermakna antara observer 1 dan 2 (r = 0,905; p = 0,00; 95% Limits of Agreement = -1,161 – 0,889). Namun ternyata tidak terdapat korelasi yang bermakna antara ASPECT Score dengan NIHSS, GCS, dan lama dirawat, yaitu dengan nilai r dan p masing-masing adalah r = -0,144, p = 0,250; r = 0,069, p = 0,584; dan r = -0,111, p = 0,375. Perlu dilakukan perbaikan design penelitian, contohnya dengan pendekatan longitudinal untuk mengakomodasi progresivitas infark, dan dengan membandingkan antara penilaian ASPECT Score melalui pemeriksaan CT scan dengan MRI (DWI) yang dikenal lebih sensitif dalam mengidentifikasi perubahan iskemik tahap awal. Kata kunci : ASPECT Score, NIHSS, GCS
HUBUNGAN ANTARA SKOR KELAINAN ANATOMI SINUS PARANASAL DAN KAVUM NASI DENGAN SINUSITIS PARANASAL MENURUT GAMBARAN CT-SCAN SINUS PARANASAL PADA PASIEN DENGAN KLINIS SINUSITIS Maria, Dessy; Asih, Made Widhi; Margiani, Ni Nyoman; Widiana, I Gede Raka; Patriawan, Putu; Laksminingsih, Nyoman Srie
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 5 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i05.P10

Abstract

Sinusitis adalah proses peradangan dari satu atau lebih pada membran mukosa sinus paranasal. Penyebab utama terjadinya sinusitis adalah gangguan drainase dan patensi kompleks ostiomeatal (KOM). Variasi anatomi hidung dan sinus paranasalis menjadi faktor predisposisi terhadap kejadian sinusitis. Tujuan penelitian adalah menilai hubungan antara skor kelainan anatomi sinus paranasal dan kavum nasi dengan sinusitis paranasal menurut gambaran CT-scan sinus paranasal pada pasien dengan klinis sinusitis. Penelitian ini dirancang sebagai penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional retrospektif pada pasien dengan klinis sinusitis di RSUP Sanglah Denpasar pada tahun 2020-2021. Sampel penelitian berjumlah 60 orang dengan usia di atas 21 tahun yang diambil secara consecutive sampling dari rekam medis yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis sinusitis dan skor kelainan anatomi sinus paranasal dan kavum nasi masing-masing dilakukan oleh seorang Radiolog Konsultan dilanjutkan dengan analisis data. Dari hasil uji beda proporsi antara kelainan anatomi sinus paranasal dan kavum nasi dengan sinusitis maupun antara skor kelainan anatomi sinus paranasal dan kavum nasi dengan sinusitis didapatkan tidak ada hubungan dengan nilai p>0,05. Pada hasil uji korelasi multivariat antara skor kelainan anatomi sinus paranasal dan kavum nasi dengan sinusitis setelah dikontrol dengan umur, jenis kelamin dan riwayat alergi secara statistik tampak tidak berhubungan dengan nilai p yang didapat semuanya >0,05. Tidak tampak korelasi antara skor kelainan anatomi sinus paranasal dan kavum nasi dengan sinusitis menurut gambaran CT-scan sinus paranasal pada pasien dengan klinis sinusitis dengan nilai p 0,105. Masih diperlukan perbaikan metode penelitian lebih lanjut dengan desain penelitian analitik menggunakan rancangan prospektif.
KELAINAN DUKTUS MULERIAN PADA PEMERIKSAAN HISTEROSALPINGOGRAFI (HSG) DI RS PROF OERAH Dewi, Putu Yuni Asmara; Dewi, Putu Utami; Margiani, Ni Nyoman
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.39314

Abstract

Infertilitas adalah masalah kesehatan yang sering dialami pasangan suami istri, di mana kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup, terutama pada wanita. Salah satu penyebab utama infertilitas pada wanita adalah kelainan bawaan pada uterus, yang dikenal dengan kelainan duktus mulerian. Kelainan ini terjadi akibat malformasi embriologis yang melibatkan proses formasi, fusi, atau reabsorpsi dari duktus mulerian selama perkembangan janin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelainan duktus mulerian yang dapat mempengaruhi kesuburan wanita, khususnya yang terdeteksi melalui pemeriksaan Histerosalpingografi (HSG). Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan mengambil sampel 130 pasien wanita dengan keluhan infertilitas primer di RS Prof. Ngoerah. Data diperoleh melalui pemeriksaan HSG untuk mengidentifikasi kelainan struktural uterus seperti uterus bikornu, arcuata, septa, dan didelphys. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelainan duktus mulerian ditemukan pada kurang dari 1% dari total kasus infertilitas yang diperiksa, dengan empat jenis kelainan yang teridentifikasi dari tujuh jenis yang ada. Penanganan dini berdasarkan hasil diagnosis HSG dapat meningkatkan peluang keberhasilan reproduksi, baik melalui intervensi bedah maupun pendekatan konservatif, tergantung jenis kelainannya. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pemeriksaan HSG dalam penegakan diagnosis dan pengelolaan infertilitas yang disebabkan oleh kelainan duktus mulerian, serta perlunya penelitian lebih lanjut untuk mengevaluasi efektivitas metode diagnostik alternatif.
Pediatric Rare Case of Supracardiac Total Anomalous Pulmonary Venous Anggreini, Faradilla Novita; Anandasari, Pande Putu Yuli; Margiani, Ni Nyoman; Gunawijaya, Eka
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 6 No 6 (2024): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v6i6.5921

Abstract

Total anomalous pulmonary venous return (TAPVR) is a rare congenital heart defect, and patients are usually symptomatic at a very young age. Survival to adulthood without surgical correction is extremely rare. Objective: presented pediatric rare case of supracardiac total anomalous pulmonary venous. Methods: This study was a case report that describing detailed account of a patient's diagnosis, treatment, and follow-up a rare case. This study presents a single case. Results: we present a rare case of a 2-month-old infant diagnosed with Supracardiac TAPVR accompanied by an Atrial Septal Defect (ASD). The condition was identified through a combination of echocardiography and cardiac CT imaging. In these conditions, a right-to-left shunt is necessary for survival, along with the need for prompt corrective surgery. TAPVR is often associated with heterotaxy syndrome and other congenital heart defects. Various cross-sectional imaging modalities are valuable in detecting and evaluating pulmonary venous development anomalies. Conclution: These modalities provide both anatomical and functional information. Early detection and diagnosis lead to the best management strategies for patients with TAPVR. Multidetector Computed Tomography (MDCT) is a non-invasive imaging technique that plays an increasingly important role in evaluating these anomalies.
Diagnostic Value of Apparent Diffusion Coefficient (ADC) and Tumor Size Based on Magnetic Resonance Imaging (MRI) to Determine Malignant Posterior Fossa Brain Tumors in Children Santoso, Ivon Indriyanti; Anandasari, Pande Putu Yuli; Margiani, Ni Nyoman; Widiana, I Gde Raka
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 5 No. 8 (2025): Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/eduvest.v5i8.52020

Abstract

Posterior fossa tumors in children are a diagnostic challenge that requires early and appropriate treatment. This study aims to evaluate the diagnostic value of Apparent Diffusion Coefficient (ADC) and tumor size using Magnetic Resonance Imaging (MRI) in distinguishing malignant and benign tumors in the posterior fossa of children. The research method uses a retrospective approach with analysis of medical records of pediatric patients undergoing MRI and histopathology examinations at Ngoerah Hospital Denpasar. The results showed that the ADC value of ≤834.6 mm²/s had a sensitivity of 91.3%, a specificity of 70.3%, and an accuracy of 78.0%. Meanwhile, the tumor size >13.2 cm³ has a sensitivity of 91.3%, specificity of 51.8%, and accuracy of 68.0%. The combination of these two parameters resulted in a sensitivity of 87.5%, a specificity of 96.1%, and an accuracy of 92.0%, indicating a significant improvement in diagnostic accuracy. Thus, the simultaneous use of ADC values and tumor size is an effective approach in detecting malignant posterior fossa tumors in children, supporting more accurate diagnosis and appropriate clinical treatment.
Peran Skor Brixia sebagai Prediktor Kejadian Coronavirus Disease-19 (COVID-19)-associated Hemostatic Abnormalities (CAHA) Berdasarkan Kadar D-dimer Fiona, Fiona; Margiani, Ni Nyoman; Sitanggang, Firman Parulian; Eka Putra, I Wayan Gede Artawan; Anandasari, Pande Putu Yuli; Ayusta, I Made Dwijaputra
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 73 No 3 (2023): Journal of The Indonesian Medical Association - Majalah Kedokteran Indonesia, Vo
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47830/jinma-vol.73.3-2023-954

Abstract

Introduction: Coronavirus Disease-19 (COVID-19) is a systemic disease that causes complications in respiratory system and coagulopathy, which is called COVID-19-associated hemostatic abnormalities (CAHA). The Brixia chest X-ray scoring system may benefit in detecting CAHA. This study aims to investigate the role of the Brixia score as a predictor of CAHA based on D-dimer levels. Methods: This was a cross-sectional study that used medical records from Radiology Installation, Sanglah General Hospital, Bali, during August 2020 until August 2021. Subjects were confirmed and hospitalized COVID-19 patients with mild to critical degree and aged 18-59 years old. Any other pulmonary diseases than COVID-19 in X-ray was excluded. Brixia score was determined independently and blindly determined by two radiologists. The incidence of CAHA was defined as an elevation of D-dimer in pulmonary COVID-19. We conducted interobserver Bland-Altman, followed by correlation test, receiver operating characteristic (ROC) analysis, and multiple logistic regression test to control for confounding factors. Result: This study included 70 subjects selected through random sampling. We found a positive correlation between the Brixia score and D-dimer levels (r=0.329, p less than 0.05). The ROC analysis indicated that a Brixia score cut-off ≥10 is the best predictor of CAHA, with a positive predictive value of 95.8% and a negative predictive value of 40.9%. Subjects with a Brixia score ≥10 were found to have a higher risk of developing CAHA (aOR 14.78, p less than 0.05) after controlling for age, gender, nutritional status, and comorbidities. Conclusion: There was a statistically significant association between Brixia score and CAHA in COVID-19 patients based on D-dimer levels. The Brixia score could be used as a predictor of CAHA with the cut-off value ≥10.
Case Series on Imaging Features of Trilateral and Quadrilateral Retinoblastoma: What Radiologists Need to Know Fiona, Fiona; Yuli Anandasari, Pande Putu; Margiani, Ni Nyoman
International Journal of Integrated Health Sciences Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15850/ijihs.v12.n1.3359

Abstract

Objective: To identify the differences between trilateral and quadrilateral retinoblastoma based on radiologic imaging.Case: We found three cases of retinoblastoma at Sanglah General Hospital. The retinoblastoma patients we found were boys under the age of 5. The first patient presented with swelling, pain, and impaired vision in the right eye. The second and third patients presented with eye protrusion and leukocoria. Computed tomography (CT) imaging revealed a calcified mass in the intraorbital region that extended to the cerebral hemispheres. It may be accompanied by hair-on-end periosteal reaction. In the first patient, the mass extended to the pineal gland. In the second and third patients, the mass extended to the suprasellar and pineal regions.  Trilateral retinoblastoma consists of a primordial midline neuroectodermal tumor that originates in the pineal or suprasellar region. It is an uncommon combination of unilateral or bilateral retinoblastomas. Quadrilateral retinoblastoma, on the other hand, presents with bilateral retinoblastoma and tumors in both the suprasellar and pineal regions. The histopathology of trilateral and quadrilateral retinoblastoma shows a different pattern from retinoblastoma.Conclusion: Retinoblastoma poses one of the most challenging problems due to its distinct patterns of growth, extension, and recurrence. Intracranial metastasis of trilateral and quadrilateral retinoblastoma exhibits a different pattern. The prognosis and diagnosis of retinoblastoma are significantly influenced by clinical examination, radiologic imaging, and histopathology.