Fransiska Kaligis
Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Gangguan Memori Kerja pada Anak dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas: Suatu Studi Komparatif Evi Evi; Fransiska Kaligis; Tjhin Wiguna; Anak Agung Ayu Agung Kusumawardhani
Sari Pediatri Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.2.2021.88-94

Abstract

Latar belakang. Penelitian menunjukkan memori kerja merupakan prediktor kapasitas belajar yang lebih bermakna daripada intelligence quotient (IQ). Bila fungsi ini terganggu, anak dapat mengalami kesulitan belajar. Studi melaporkan gangguan memori kerja banyak ditemukan pada gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH). Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data proporsi gangguan memori kerja pada anak GPPH dan perbandingan dengan anak tanpa GPPH. Data ini diharapkan dapat menjadi data dasar bagi pengembangan intervensi selanjutnya.Metode. Penelitian ini dilakukan dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode randomized sampling. Instrumen Working Memory Rating Scale (WMRS) yang telah divalidasi dalam Bahasa Indonesia oleh Wiguna, dkk. (2012) digunakan untuk menentukan ada tidaknya defisit memori kerja. Hasil. Proporsi gangguan memori kerja pada kelompok anak dengan GPPH berbeda bermakna dibandingkan kelompok anak tanpa GPPH (44% vs 0%, p<0,05). Pada uji analisis, didapatkan prevalence ratio (PR) 40,4 (95% IK 2,22 - 738,01), artinya anak dengan GPPH berisiko mengalami gangguan memori kerja 40,4 kali lebih besar dibandingkan anak tanpa GPPH. Kesimpulan. Gangguan memori kerja lebih banyak ditemukan pada anak dengan GPPH. Pemeriksaan memori kerja pada anak dengan GPPH diperlukan untuk mengantisipasi kesulitan belajar yang mungkin timbul. Intervensi tambahan dapat dipertimbangkan untuk memperbaiki gangguan memori kerja pada anak dengan GPPH.
Uji Diagnostik Working Memory Rating Scale (WMRS) versi Bahasa Indonesia dan Proporsi Anak Sekolah Dasar dengan Kesulitan Belajar GDQ'HÀVLWWorking Memorydi Jakarta Tjhin Wiguna; Noorhana Setyawati WR; Fransiska Kaligis
Sari Pediatri Vol 14, No 3 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.3.2012.191-7

Abstract

Latar belakang.Kesulitan belajar merupakan masalah tersering ditemukan pada anak dan remaja. Penelitian terakhir menunjukkan hubungan antara kesulitan belajar dan defisit working memory, namun sampai saat ini penentuan defisit working memorymasih sulit dilakukan. Tujuan.Mendapatkan alat ukur working memoryyang sahih dan andal bagi guru di sekolah dasar dalam Bahasa Indonesia. Di samping itu, penelitian kami juga bermaksud mengidentifikasi besar proporsi anak dengan kesulitan belajar dan defisit working memorydi Jakarta. Metode.Penelitian uji diagnostik dan potong lintang; (1) uji diagnostik working memory rating scale (WMRS) versi Bahasa Indonesia. Sembilanpuluh sembilan anak dari 5 sekolah dasar yang dipilih secara acak proporsional; (2) Studi potong lintang untuk mendapatkan proporsi anak dengan kesulitan belajar yang disertai dan tanpa disertai defisit working memorydi wilayah Jakarta. Empatratus duapuluh tiga anak dari 27 sekolah dasar di Jakarta yang dipilih secara acak proporsional. Hasil.Titik potong WMRS versi Bahasa Indonesia pada kelompok usia 6–9 tahun, T score> 60 adalah 20 danT score>70 adalah 30 (sensitivitas 0,161 dan spesifisitas 0,674). Pada kelompok usia 10–12 tahun, T score>60 adalah 29 dan T score>70 adalah 42 (sensitivitas 0,186 dan spesifisitas 0,929). Dari 423 anak usia sekolah dasar dengan usia rerata 9,34 (1,78) yang diikutsertakan, didapat 104 (24,6%) anak yang mengalami kesulitan belajar. Usia rerata anak dengan kesulitan belajar 9,58 (1,76). Proporsi anak sekolah dasar yang mengalami kesulitan belajar murni dengan defisit workingmemory 8,04% dengan usia rerata 9,82 (1,79). Kesimpulan.Working memory rating scale(WMRS) versi Bahasa Indonesia spesifik dalam menilai defisit working memorypada anak sekolah dasar dengan kesulitan belajar. Proporsi kesulitan belajar pada anak sekolah dasar dan defisit working memorycukup besar dan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian agar kualitas anak dapat ditingkatkan