Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Peran Badan Nasional Pencarian Dan Pertolongan (Basarnas) Dalam Menjamin Keselamatan Wisatawan Di Tinjau Dari Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 Tentang Pencarian Dan Pertolongan : (Studi Kasus Di Kantor Pencarian Dan Pertolongan Kelas A Mataram) I Gde Eka Suarjana; Sumarni; Ikhsan Kamil
Unizar Recht Journal (URJ) Vol. 3 No. 1 (2024): Unizar Recht Journal (URJ)
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Islam Al-Azhar Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36679/urj.v3i1.83

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran BASARNAS Mataram dalam menjamin keselamatan wisatawan dan mengetahui bagaimana pelaksanaannya ditinjau dari Undang- undang Republik Indonesia   Nomor   29   Tahun   2014   tentang   pencarian   dan   pertolongan.   Penelitian   ini menggunakan pendekatan Normatif Empiris dimana jenis dan sumber datanya adalah primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukan berdasarkan Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 Tentang Pencarian dan Pertolongan, didalam pasal 45 para pihak pengelola / penyedia jasa pariwisata dituntut untuk wajib memiliki sumber daya manusia yang kompeten sebagai langkah awal mencegah Resiko kecelakan wisatawan di daerah wisata yang beresiko tinggi. Dengan mensosialisasikan Undang-undang, memberikan pelatihan dibidang SAR (Search and Rescue) kepada seluruh lapisan masyarakat khususnya penyedia jasa pariwisata. Adapun upaya yang dilakukan Badan Nasional Pencarian dan pertolongan (BASARNAS) Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Mataram Dalam Menjamin Keselamatan Wisatawan  Ditinjau  Dari  Undang-undang  Nomor  29  Tahun 2014 Tentang Pencarian dan Pertolongan: a. Mendirikan POS SAR di daerah rawan kecelakaan, b. Melaksanakan siaga SAR melalui siaga SAR, c. Melaksanakan operasi SAR, d. Meningkatkan dan mengembangan SDM petugas SAR dan sarana dan prasarana secara professional, sinergi, militan, serta santun, e. Mensosialisasikan UU. No. 29 Tahun 2014 melalui Rapat Koordinasi SAR, Pemasyarakatan, dan Penyuluhan di bidang Pencarian dan Pertolongan, f. Mendukung  program-program   pemerintah,  dalam   rangka   ikut   serta   dalam memajukan dan mempromosikan pariwisata Indonesia, membangun kemitraan Pentahelix  untuk  mencegah,  menanggulangi,  dan  memberikan  edukasi kebencanaan kepada masyarakat.
KAJIAN KESESUAIAN DAN ZONASI PERAIRAN TELUK LAMPUNG TERHADAP DAYA DUKUNG FISIK KAWASAN UNTUK BUDIDAYA IKAN KERAPU DI KARAMBA JARING APUNG Rustiadi, Ernan; Kusumastanto, Tridoyo; Anggraini, Eva; Kamil, Ikhsan
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 13 No. 3 (2021): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v13i3.35577

Abstract

Pada tahun 1990, usaha budidaya ikan kerapu dengan menggunakan karamba jaring apung (KJA) mulai dikembangkan untuk memenuhi permintaan pasar. Penelitian ini bertujuan mengkaji kesesuaian lahan dan zonasi perairan terhadap daya dukung fisik kawasan teluk lampung untuk budidaya ikan kerapu di KJA. Penilaian kesesuaian berdasarkan pada aspek fisik, kimia dan sosial ekonomi. Daya dukung fisik kawasan dianalisis dari hasil kriteria kesesuaian dan kemudian dilanjutkan dengan kesesuaian berdasarkan overlay dengan rencana zonasi. Hasil studi menunjukkan bahwa berdasarkan analisis kesesuaian yang memiliki kesesuaian tinggi seluas 67,64 ha, sedang 5.838,17 ha, rendah 3.214,89 ha dan tidak sesuai 35,95 ha. Analisis selanjutnya dengan melakukan overlay dengan rencana zonasi (RZWP3K) terjadi perubahan luasan dimana terjadi penurunan luas areal kesesuaian tinggi menjadi 1.446, 28 ha, sedang 23,71 ha dan rendah 440,05 ha, sementara untuk areal yang tidak sesuai mengalami peningkatan menjadi 7.226,62 ha. Daya dukung fisik kawasan teluk lampung adalah sebanyak 13.450 unit KJA atau dengan potensi produksi sebanyak 24.754 ton. Dengan penurunan luasan areal yang sesuai berpengaruh terhadap penurunan daya dukung fisik menjadi sebanyak 4.545 unit KJA atau potensi produksi sebanyak 8.365 ton. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa overlay dengan rencana zonasi mengurangi luasan areal yang sesuai untuk kegiatan budidaya KJA yang selanjutnya menyebabkan penurunan daya dukung fisik kawasan. Oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi terhadap rencana zonasi dan penataan kawasan budidaya di teluk Lampung agar lebih didasarkan pada kriteria kesesuaian lahan.
Optimizing AI Chatbot Adoption for MSME Competitiveness Kamil, Ikhsan; Reztrianti, Diajeng; Setiawan, Adhy Rifki; Shafirendita, Gefadzra; Al-Firdauz, Muhamad Muzaky
Jambura Science of Management Vol 8, No 1 (2026): Jambura Science of Management - January 2026
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37479/jsm.v8i1.34102

Abstract

Purpose: This study reviews empirical evidence on AI chatbots in micro and small MSMEs to explain their impact on sales performance and customer satisfaction and to identify key drivers, barriers, and adoption strategies relevant to Society 5.0.Methodology: A PRISMA-guided systematic literature review was conducted across Scopus-indexed sources (ScienceDirect, Emerald, MDPI), covering July 2014–July 2025. Thirty-nine articles met the inclusion criteria.Findings: Flow and Technology Interactivity explain how readability, transparency, personalization, responsiveness, and ubiquitous connectivity create flow, thereby enhancing communication quality and satisfaction. TAM/UTAUT and meta-UTAUT show perceived usefulness as the most consistent driver of intention and continuance, with perceived intelligence and anthropomorphism reinforcing acceptance; privacy risk, time risk, technological anxiety, and data/security concerns inhibit adoption. The TOE lens groups context-specific enablers and constraints across technology, organization, and environment, while RBV and Dynamic Capabilities clarify how AI-CRM, data governance, multichannel integration, and sensing–seizing–reconfiguring convert conversational value into advantage.