Amalia Setyati
Department Of Child Health, Faculty Of Medicine, Public Health And Nursing, Universitas Gadjah Mada/Dr. Sardjito Hospital, Yogyakarta, Indonesia

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Hubungan antara Kadar Zink Plasma dengan Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas (GPP/H) Sir Panggung T.S; Retno Sutomo; Amalia Setyati
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.205-9

Abstract

Latar belakang. Gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (GPP/H) atau attention deficit/ hyperactivity disorder (ADHD)merupakan gangguan neuro-behavioral yang paling sering pada anak dengan dampak besar bagi individu dan masyarakat. PrevalensiGPP/H di Indonesia 0,4% - 26,2%. Penelitian di berbagai negara menunjukkan keterlibatan zink dalam etiologi dan terapi GPP/H.Belum didapatkan data mengenai hubungan antara kadar zink plasma dengan GPP/H pada anak di Indonesia.Tujuan. Mengetahui hubungan antara kadar zink plasma dengan GPP/H pada anak.Metode. Penelitian kasus kontrol dilaksanakan di RSUP Dr. Sardjito dan Pusat Pengkajian dan Pengamatan Tumbuh KembangAnak (P3TKA) Yogyakarta pada Desember 2010-Maret 2011. Subyek adalah adalah 69 anak berusia 3-18 tahun, 34 anakdengan GPP/H dan 35 kontrol. Kadar zink plasma diperiksa dari sampel darah vena menggunakan metode atomic absorbancespectrophotometry (AAS). Analisis statisik menggunakan analisis deskriptif dan analisis bivariat dengan uji Chi-square terhadapperbedaan proporsi defisiensi zink antara kelompok kasus dan kontrol.Hasil. Proporsi defisiensi zink pada anak yang menderita GPP/H lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak menderita GPP/H,dengan nilai p=0,028, OR sebesar 8,8 (IK95% antara 1,02-76,07).Kesimpulan. Proporsi defisiensi zink pada anak yang menderita GPP/H lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak menderitaGPP/H, zink kemungkinan mempunyai peran dalam kejadian GPP/H.
Hubungan Asma dengan Gangguan Perilaku pada Anak Diana Mariana Damanik; Retno Sutomo; Amalia Setyati
Sari Pediatri Vol 16, No 6 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.272 KB) | DOI: 10.14238/sp16.6.2015.391-6

Abstract

Latar belakang. Asma adalah salah satu penyakit pernapasan kronis dengan prevalensi yang meningkat padaanak maupun dewasa sejak dua dekade terakhir. Terdapat beberapa penelitian yang menyatakan hubunganantara asma dengan gangguan perilaku.Tujuan. Menganalis hubungan antara asma dengan gangguan perilaku serta mengidentifikasi faktor yangterkait.Metode. Penelitian cross sectional dilakukan pada bulan Februari sampai Juni 2012. Penelitian melibatkan77 anak usia 4-18 tahun, yang didiagnosis asma di RSUP Sardjito dan 77 anak non asma. Subjek penelitiandiambil secara consecutive serta matching usia dan jenis kelamin. Anak dengan penyakit kronis lain, cacatfisik atau mental yang berat dieksklusi dari penelitian. Gangguan perilaku pada semua subjek dinilai denganstrength and difficulties questionnaire (SDQ). Faktor yang berhubungan dengan gangguan perilaku, yaituonset asma, derajat asma, dan penggunaan kortikosteroid inhalasi turut dianalisis dengan metode chi squareserta regresi logistik.Hasil. Masalah perilaku ditemukan 27,3% pada kelompok asma dan hanya 9,1% pada kelompok nonasma (OR 3,75, IK95% 1,48-9,45, p=0,003). Gangguan emosional dan conduct problem secara signifikanlebih sering terjadi pada kelompok asma, sedangkan perilaku prososial lebih tinggi pada anak non asma.Berdasarkan analisis multivariat dengan regresi logistik ditunjukkan derajat asma merupakan faktor yangberhubungan dengan gangguan perilaku (OR 8,83, IK95% 2,02-38,60, p=0,01) dan conduct problem (OR6,35 IK95% 1,48-27,25, p=0,01).Kesimpulan.Gangguan perilaku lebih sering terjadi pada anak dengan asma dibandingkan anak sehat sertaberhubungan dengan derajat asma.
Perbedaan Kadar Interferon Gamma pada Tuberkulosis Anak Sitti Ridha Khairani Fatah; Mohammad Juffrie; Amalia Setyati
Sari Pediatri Vol 18, No 5 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.5.2017.385-90

Abstract

Latar belakang. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit akibat infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis, suatu bakteri batang Gram positif. Salah satu sitokin yang diproduksi sel Th1 adalah interferon gamma (IFN-γ) yang berperan penting dalam mengeliminasi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Terjadinya gangguan atau penurunan aktivitas sel Th1 dan sitokinnya yaitu IFN-γ cukup bermakna dalam memengaruhi mekanisme pertahanan tubuh terhadap penyakit TB. Manifestasi klinis penyakit TB terjadi karena adanya defisiensi imun, terutama imunitas selular. Tujuan. Mengkaji perbedaan kadar interferon gamma dilihat dari derajat lesi paru pada pasien TB anak. Metode. Penelitian cross sectional dilakukan di RSUP Dr. Sardjito and RSUD Sleman selama bulan Desember 2014. Subyek penelitian adalah anak kurang dari 15 tahun yang terdiagnosis TB menggunakan skor TB IDAI. Produksi interferon-gamma diukur dengan metode ELISA dan perbedaan kadarnya dibandingkan dengan derajat lesi paru.Hasil. Berdasarkan derajat lesi paru, kadar IFN-γ pada kasus tuberkulosis anak dengan lesi paru minimal (8,37±3,25) lebih tinggi daripada kasus dengan lesi paru sedang (3,52±1,75), dan lesi paru luas (4,83±2,78).Kesimpulan. Ada perbedaan rerata kadar IFN-γ serum TB anak berdasarkan derajat lesi paru minimal, sedang, dan luas, walaupun secara statistik tidak bermakna.