Nur Taufiq-Spj
Department Of Marine Science, Faculty Of Fisheries And Marine Science, Diponegoro University

Published : 27 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Penggunaan Citra Satelit Sentinel-2A untuk Mengevaluasi Perubahan Garis Pantai Semarang Jawa Tengah Rafif Rizki Zaidan; Chrisna Adhi Suryono; Ibnu Pratikto; Nur Taufiq-Spj
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.33395

Abstract

Kota Semarang merupakan kota pesisir yang rentan akan pengaruh dari alam dengan kondisi fisik yang berpasir dan berlumpur, topografi yang landai dan adanya banyak kegiatan manusia. Hal tersebut membuat Kota Semarang mengalami perubahan garis pantai yang dinamis dari tahun ke tahun, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian secara kontinu untuk memantau perubahan garis pantai yang terjadi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perubahan garis pantai yang terjadi di Kota Semarang menggunakan citra satelit Sentinel-2A. Metode dalam penelitian ini adalah dengan mengaplikasikan penginderaan jauh yang dilanjutkan dengan perhitungan statistik Digital Shoreline Analysis System (DSAS) pada aplikasi penginderaan jauh dan pengolahan data sekunder angin, gelombang dan arus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2016-2021, garis pantai Kota Semarang mengalami perubahan berupa abrasi seluas 186.34 ha dan akresi sebesar 43.62 ha, dimana abrasi mendominasi perubahan dengan persentase 81%, sementara akresi yang terjadi hanya 19%. Rata-rata jarak dan laju perubahan yang terjadi masing-masing sebesar -32.78 meter dan -6.47 meter/tahun yang menunjukkan perubahan garis pantai berupa abrasi. Secara keseluruhan, pada periode 2016 hingga 2021 Kota Semarang cenderung mengalami pengurangan daratan atau abrasi. The city of Semarang is a coastal city that is vulnerable to the influence of nature with physical conditions of sandy and muddy beach, low topography and the presence of many human activities. This made the city of Semarang experience dynamic coastline changes from year to year, therefore it is necessary to conduct continuous research to monitor changes in coastline that occur. The purpose of this study was to determine changes in the coastline that occurred in the city of Semarang using Sentinel-2A satellite imagery. The method in this study is applying satellite imagery from remote sensing technology followed by statistical calculations using Digital Shoreline Analysis System (DSAS) on remote sensing application and the processing of wind, wave and current as secondary data. The results showed that in the 2016-2021 period, the coastline of Semarang City experienced changes in the form of 186.34 ha of abrasion and 43.62 ha of accretion, where abrasion dominated the change with a percentage of 81%, with accretion of only 19%. The average distance and rate of change that occur are -32.78 meters and -6.47 meters/year, respectively, indicating changes in the coastline in the form of abrasion. Overall, in the period 2016 to 2021, Semarang City tends to experience land reduction or abrasion.
Aspek Biologi Rajungan (Portunus pelagicus) Linnaeus, 1758 (Malacostraca : Portunidae) Ditinjau dari Morfometri dan Tingkat Kematangan Gonad di TPI Bulu, Jepara Rina Maharani Iksanti; Sri Redjeki; Nur Taufiq-Spj
Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i3.31258

Abstract

Rajungan (P. pelagicus, Linnaeus, 1758) merupakan salah satu komiditas perikanan yang memiliki nilai ekonomi yang penting sehingga banyak diminati dalam negeri maupun luar negeri. Permintaan rajungan yang terus meningkat berbanding lurus dengan penangkapan yang semakin meningkat. Tingkat pemanfaatan rajungan masih ditemukan ukuran yang masih under size tanpa memperhatikan ukuran dan kondisi habitat sehingga akan berpotensi mengurangi stok rajungan di perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui morfometri dan tingkat kematangan gonad rajungan yang dilaksanakan bulan Oktober – November 2020 selama 30 hari di TPI Bulu, Jepara. Penelitian ini menggunakan metode survey yg bersifat deskriptif dengan pengambilan sampel secara random sampling. Hasil dari penelitian diketahui rasio kelimpahan rajungan jantan sebesar 51% (2.297 ekor); rajungan betina 49% (2.203 ekor) dari 4.500 ekor sampel rajungan. Distribusi lebar karapas rajungan selama penelitian berkisar antara 64 – 164 mm dan berat tubuh kisaran sebesar 23 – 333 gram. Data menunjukkan bahwa pola pertumbuhan rajungan yang ada di perairan TPI Bulu adalah allometrik positif yaitu pertumbuhan berat tubuh lebih cepat dibandingkan dengan lebar karapas. Hasil nilai b sebesar pada rajungan jantan 3,51 dan rajungan betina sebesar 3,33 serta nilai b sebesar 3,41 pada keseluruhan rajungan. Rajungan betina diduga mengalami pertama kali matang gonad pada selang kelas ukuran lebar karapas 61 – 70 mm. Distribusi tingkat kematangan gonad rajungan betina pada perairan TPI Bulu adalah 44% (961 ekor) pada TKG 1; 28% (626 ekor) pada TKG 2; dan 28% (616 ekor) pada TKG 3, yang berarti nelayan Jepara belum sepenuhnya menerapkan kriteria dan ukuran layak tangkap dengan peraturan yang diberlakukan.  Blue swimming crab (P. pelagicus, Linnaeus, 1758) is a fishery commodity and is in great demand both domestically and abroad. The demand for crabs that continues to increase is directly proportional to the increasing catch. The utilization rate of the size is still undersize without paying attention to the size and condition of the crab so that it has the potential to reduce the crab stock in the waters. This study aims to determine the morphometry and maturity level of the small crab gonads which were conducted from October to November 2020 for 30 days in Bulu Fish Port, Jepara. This study used a descriptive survey method where the sample was taken by random sampling. The results of the study revealed that the abudance of male blue swimming crab was 51% (2.297 male blue swimming crabs) and the abudance of the female blue swimming crabs was 49% (2.203 female blue swimming crabs) of 4.500 blue swimming crab samples. The distribution of crab carapace width during the study ranged from 64 – 164 mm and body weight ranged from 23 – 333 gram. The data shows of blue swimming crab growth pattern in Bulu Fish Port waters was positive allometric both male and female blue swimming crab, meaning that bodyweight growth is faster than the size of the carapace width. The result of the b value of 3,51 male crabs and the female crabs was 3,33 and the b value was 3,41 on the whole crab. The female crab is thought to have experienced gonad maturity for the first time in the class sizes of carapace 61 – 70 mm. The distribution of gonad maturity level female blue swimming crabs in the waters Bulu is 44% (961 individual) at TKG 1; 28% (626 individual) at TKG 2; and 28% (616 individual) at TKG 3, which means that Jepara fishermen have not fully implemented the criteria and sizes for catching fish with the applicable regulations.
Spesies Udang yang Ditemukan di Perairan Desa Menco, Wedung, Demak Aditya Rizqi Agung; Nur Taufiq-SPJ; Ria Azizah
Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i4.34914

Abstract

Wilayah Menco terletak di Kec. Wedung, Kab. Demak dan merupakan salah satu desa penghasil udang.Sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai nelayan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui jenis-jenis udang yang ditemukan di perairan Desa Menco. Pengambilan sampel dilakukan pada tiga titik di perairan Desa Menco selama 3 Minggu, dengan menggunakan alat tangkap wangkong (trap net). Sampel yang diperoleh diidentifikasi dan dianalisis menggunakan 16 karakter morfometrik untuk mengetahui komposisi ukuran tangkapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 jenis udang dari famili Penaeidae yaitu: Penaeus merguiensis, Penaeus monodon, dan Metapenaeus ensis. Satu jenis dari famili Palaemonidae yaitu Macrobranchium equidens. Dua jenis dari famili Squillidae yaitu: Harpiosquilla raphidea, dan Oratossquilla oratoria. Total sampel yang ditemukan sebanyak 180 sampel, dengan komposisi: Penaeus monodon 60 sampel (33%), Metapenaeus ensis 60 sampel (33%), Harpiosquilla raphidea 27 sampel (15%). Sementara itu, Oratosquilla oratoria ditemukan 20 sampel (11%), Macrobranchium equidens 7 sampel (5%) dan Penaeus monodon 6 sampel (4%). Hasil pengukuran kualitas air menunjukkan suhu perairan 29-30OC, salinitas 14-16 ppt, pH berkisar antara 7,4-7,6 dan DO yang berkisar antara 5,67-5,92 mg/l. Menco is located in Wedung District, Demak Regency, where most of the people work as fishermen. The purpose of this study was to determine the types of shrimp found in the waters of Menco Village. Sampling was carried out at three points in the waters of Menco Village during 3 weeks, using a wangkong (trap net). The samples obtained were identified and analyzed using 16 morphometric characters to determine the composition of the catch size. The results showed that there were 3 types of shrimp from the Penaeidae family, namely: Penaeus merguiensis, Penaeus monodon, and Metapenaeus ensis. One species from the family Palaemonidae is Macrobranchium equidens. Two species of the Squillidae family are: Harpiosquilla raphidea, and Oratossquilla oratoria. The total samples found were 180 samples, with the composition: Penaeus monodon 60 samples (33%), Metapenaeus ensis was found 60 samples (33%), Harpiosquilla raphidea 27 samples (15%). Meanwhile, Oratosquilla oratoria was found 20 samples (11%), Macrobranchium equidens 7 samples (5%) and Penaeus monodon 6 samples (4%). The results of water quality measurements showed that the water temperature was 29-30OC, salinity was 14-16 ppt, pH ranged from 7.4-7.6 and Dissolved Oxygen ranged from 5.67-5.92 mg/L.
Profil Senyawa Metabolit Sekunder Ekstrak Daun Mangrove Lumnitzera racemosa Asal Perairan Teluk awur, Jepara Sari Poncowati; Nirwani Soenardjo; Nur Taufiq-Spj; Mada Triandala Sibero
Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i4.34325

Abstract

Mangrove merupakan tumbuhan daerah tropis yang mampu hidup diwilayah pasang surut air laut dan sering dijadikan sebagai obat herbal tradisional karena memiliki kandungan senyawa bioaktif. Salahsatu mangrove yang berpotensi namun jarang diteliti yaitu Lumnitzera racemosa. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui senyawa bioaktif dari ekstrak daun mangrove Lumnitzera racemosa asal perairan Teluk awur, Jepara, serta pengaruh dari penggunaan metode panas yaitu soxhletasi terhadap senyawa yang didapatkan. Penelitian ini menggunakan metode ekstraksi soxhletasi bertingkat dengan pelarut yang berbeda yaitu n-heksana, etil asetat, dan methanol. Uji fitokimia dilakukan untuk mengetahui kandungan senyawa alkaloid, flavonoid, fenol, steroid, triterpenoid, kuinon, dan saponin. Uji TLC dilakukan dengan eluen n-heksana : etil asetat (7:3). Hasil penelitian menunjukkan rendemen terbanyak dihasilkan oleh ekstrak methanol, sehingga dapat disimpulkan metode soxhletasi menghasilkan rendemen lebih banyak daripada maserasi dan methanol mampu mengekstraksi sampel dengan lebih optimal. Uji fitokimia dan TLC menunjukkan mangrove L. racemosa terdapat senyawa bioaktif seperti alkaloid, flavonoid, fenol, steroid, terpenoid, dan kuinon. Pereaksi DPPH yang digunakan menunjukkan sampel L. racemosa positif berpotensi sebagai antioksidan.  Mangroves are tropical plants that are able to live in tidal areas and are often used as traditional herbal medicines due to containing bioactive compounds. One of the mangroves that has the potential but is rarely studied is Lumnitzera racemosa. The purpose of this study was to determine the bioactive compounds from mangrove leaf extract L. racemosa from the waters of Teluk Awur, Jepara, and the effect of using the heat method, namely soxhletation, on the compounds obtained. This study used a stratified soxhlet extraction method with different solvents, namely n-hexane, ethyl acetate, and methanol. Phytochemical tests were conducted to determine the content of alkaloids, flavonoids, phenols, steroids, triterpenoids, quinones, and saponins. The TLC test was carried out with n-hexane: ethyl acetate as an eluent (7:3). The results showed that the highest yield was produced by methanol extract, so it can be concluded that the soxhletation method produced more yield than maceration and methanol was able to extract samples more optimally. Phytochemical and TLC tests showed that the L. racemosa mangrove contained bioactive compounds such as alkaloids, flavonoids, phenols, steroids, terpenoids, and quinones. Meanwhile, the DPPH reagent used showed positive L. racemosa samples as potential antioxidants.
Dimorfisme Seksual dan Hubungan Panjang-Berat Ikan Sidat (Anguilla sp.) di Perairan Nusawungu, Kabupaten Cilacap Pramudya Rachadiansyach Putra; Munasik Munasik; Nur Taufiq-Spj
Journal of Marine Research Vol 12, No 2 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i2.35725

Abstract

Banyak penelitian yang telah dilakukan pada ikan sidat. Namun, infomarsi mengenai dimorfisme seksual dan hubungan panjang berat pada ikan sidat belum banyak diketahui, khususnya di Indonesia. Keterbatasan literatur mengakibatkan informasi mengenai dimorfisme seksual dan hubungan panjang berat ikan sidat kurang menyeluruh. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan informasi mengenai dimorfisme seksual serta hubungan panjang-berat pada ikan sidat di Perairan Nusawungu, Kabupaten Cilacap. Pengamatan dan pengukuran sampel menggunakan metoda morfometrik. Data morfometrik ikan sidat dianalisa menggunakan regresi linier berganda untuk mengetahui hubungan signifikan antara data morfometrik ikan sidat dengan jenis kelaminnya. Hasil analisis regresi menunjukkan karakter morfologi seperti panjang kepala (HL), batang tubuh (TR), mata menonjol (PE) dan rahang bawah (LJ) memiliki pengaruh signifikan terhadap jenis kelamin ikan sidat. Oleh karenanya, karakter morfologi tersebut diduga menjadi parameter dalam mencirikan antara ikan sidat jantan dan ikan sidat betina. Hubungan panjang-berat ikan sidat adalah W = 0,0008L3,194 dengan nilai r yang diperoleh sebesar 0,933 dan nilai R2 sebesar 0,964 atau 96,4%. Hasil ini menunjukkan bahwa pola pertumbuhan ikan sidat bersifat alometrik positif. Tingginya nilai korelasi yang diperoleh dari analisis hubungan panjang-berat ikan sidat menyatakan bahwa terdapat hubungan yang sangat erat antara panjang ikan dan berat ikan serta 96,4% pertambahan berat pada sampel sidat terjadi dikarenakan pertambahan panjang tubuh sidat tersebut, sedangkan sisanya terjadi karena faktor lain seperti tingkat pertumbuhan, habitat atau preferensi makanan. Many studies have been conducted on eels. However, information about sexual dimorphism and length-weight relationship in eel is not widely known, especially in Indonesia. The limited literature results in less comprehensive information on sexual dimorphism and the relationship between length and weight of eel. This study was conducted to provide information about sexual dimorphism and length-weight relationship in eels in Nusawungu waters, Cilacap Regency. Observation and measurement of samples using the morphometric method. Eel morphometric data were analyzed using multiple linear regression to determine the significant relationship between eel morphometric data and gender. The results of the regression analysis showed that morphological characters such as head length (HL), trunk (TR), prominent eyes (PE) and lower jaw (LJ) had a significant influence on the sex of eels. Therefore, this morphological character is thought to be a parameter in characterizing male and female eels. The relationship between length and weight of eel is W = 0.0008L3.194 with an r value of 0.933 and an R2 value of 0.964 or 96.4%. These results indicate that the growth pattern of eel is positive allometric. The high correlation value obtained from the analysis of the length-weight relationship of eels stated that there was a very close relationship between fish length and fish weight and 96.4% weight gain in eel samples occurred due to the increase in body length of the eel, while the rest occurred due to other factors. such as growth rate, habitat or food preferences.
Hubungan Tekstur Sedimen Terhadap Vegetasi Mangrove Di Desa Pasar Banggi, Kabupaten Rembang Devtiana Marchelia Ardang; Nirwani Soenardjo; Nur Taufiq-SPJ
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.35185

Abstract

Mangrove merupakan vegetasi yang tumbuh diantara garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang surut. Pertumbuhan ekosistem mangrove dapat dilihat melalui ukuran butir sedimen yaitu lumpur, liat dan pasir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tekstur sedimen terhadap mangrove di pantai utara Rembang. Metode kuantitatif diterapkan pada penelitian ini, pengambilan sampel didapat dari hutan mangrove Pasar banggi Kabupaten Rembang. Sampel sedimen dan data analisa vegetasi mangrove diambil dari 3 stasiun yang terbagi dalam 3 wilayah yaitu aliran sungai, daerah ekowisata dan daerah tambak garam. Hasil yang diperoleh dari tekstur sedimen di Desa Pasar Banggi didominasi oleh lumpur (28,48-49,3%), pasir (30,7-63,76) dan liat (0-18). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kawasan mangrove di desa Pasar banggi termasuk padat karena memiliki nilai kategori kerapatan berkisar 1496,29-4266,67 ind/ha (KepMen LH NO. 21, 2004). Hasil uji regresi linier berganda menunjukkan bahwa hubungan antara tekstur sedimen dengan kerapatan mangrove pada PB1 (kerapatan rapat) mempunyai hubungan rendah dengan koefisien korelasi (R) 0,225; PB2 (kerapatan rapat) mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan koefisien korelasi (R) 0,942; PB3 (kerapatan sedang) mempunyai hubungan sangat kuat dengan koefisien korelasi 0,999. Mangroves are vegetation that grows between shorelines and is influenced by tides. The growth of the mangrove ecosystem can be seen through the grain size of the sediment, namely mud, clay and sand. This study aims to determine the relationship between sediment texture and mangroves on the north coast of Rembang. Quantitative methods were applied in this study, sampling was obtained from the mangrove forest of Pasar Banggi, Rembang Regency. Sediment samples and mangrove vegetation analysis data were taken from 3 stations which were divided into 3 areas, namely river flows, ecotourism areas and salt pond areas. The results obtained from the sediment texture in Pasar Banggi Village are dominated by mud (28.48-49.3%), sand (30.7-63.76) and clay (0-18). The results showed that the condition of the mangrove area in Pasar Banggi village was dense because it had a density category value ranging from 1496.29 to 4266.67 ind/ha (KepMen LH NO. 21, 2004). The results of multiple linear regression test showed that the relationship between sediment texture and mangrove density in PB1 (density) had a low relationship with a correlation coefficient (R) of 0.225; PB2 (density) has a very strong relationship with a correlation coefficient (R) of 0.942; PB3 (medium density) has a very strong relationship with a correlation coefficient of 0.999.
Identifikasi DNA Hasil Tangkapan Udang di Muara Seklenting dan Babalan, Demak Almay Atsiil Harits Syam; Nur Taufiq-Spj
Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i4.42378

Abstract

Spesies udang dari famili penaidae dikenal yang ditemukan di perairan Laut Jawa adalah Penaeus merguiensis (udang putih), Penaeus monodon (udang windu), juga ditemukan spesies lain seperti Penaeus indicus (udang dogol), Penaeus semisulcatus, Metapenaeus affinis, Metapenaeus dobsonidan, Metapenaeus ensis (udang barat). Spesies udang komersial utama di Demak adalah udang putih. Meskipun Udang memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap nilai-nilai sosio-ekonomi dan ekologi, namun dirasa kurang dalam bidang ilmiah. Teknik DNA merupakan sistem yang dirancang untuk melakukan identifikasi spesies secara cepat dan akurat berdasarkan urutan basa nukleotida dari gen  penanda pendek yang telah terstandarisasi yaitu gen Cytochrome Oxidase Subunit I (COI). Efektifitas COI telah divalidasi untuk bermacam kelompok fauna dan sebagian besar jenis fauna yang diteliti bisa dibedakan menggunakan identifikasi DNA. Hasil BLAST menghasilkan terdapatnya 3 spesies yaitu Penaeus merguensis sebanyak 38 sampel dengan pesent identikal (88,39% - 100%), Metapenaeus brevicornis sebanyak 1 sampel dengan identikal persentase 88,29%, dan Metapenaeus monoceros sebanyak 1 sampel dengan identikal persentase 98,39%. Penaeus merguiensis dan dua spesies lainya memiliki jarak genetik yang hampir sama dengan rata-rata jarak 21%, sementara Metapenaeus brevicornis dan Metapenaeus monoceros memiliki jarak genetik 0,1831 atau 18,31%. Berdasarkan hasil penelitian sampel Udang Putih menggunakan gen COI mtDNA didapatkan 3 spesies udang di perairan Sekelenting, yaitu Penaeus merguiensis, Metapenaeus brevicornis, Metapenaeus monoceros dan 1 spesies udang di perairan Babalan, yaitu Penaeus merguiensis. Jarak genetik terdekat yaitu 18% (Metapenaeus brevicornis dan Metapenaeus monoceros) dan jarak genetik terjauh 21% yakni Metapenaeus brevicornis dan Penaeus merguiensis.
Variasi Ukuran Kerang Hijau (Perna viridis) Di Pesisir Tambak Lorok,Semarang Ghani Hakim Hakim; Nur Taufiq-Spj; Sri Redjeki
Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i4.43127

Abstract

Kerang hijau (Perna viridis) merupakan salah satu kerang yang hidup di daerah estuari, teluk, dan daerah mangrove yang memiliki substrat pasir berlumpur dengan salinitas yang sedikit lebih rendah. Kerang hijau merupakan salah satu kerang yang mampu bertahan hidup dan berkembang biak pada tekanan ekologis yang tinggi tanpa gangguan dan tanpa persediaan pakan. Kerang hijau tersebar luas di wilayah perairan Indonesia dan spesiesnya melimpah di wilayah pesisir, mangrove, dan muara sungai. Kawasan Tambak Lorok Kecamatan Semarang Utara merupakan wilayah pesisir di wilayah Pantai Utara. Daerah tersebut memiliki sumberdaya hayati berupa kerang hijau (Perna viridis). Adanya perbedaan ukuran panjang, tebal cangkang, dan berat daging dipengaruhi oleh kondisi perairan dan waktu pemijahan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui variasi morfometri ukuran kerang hijau (Perna viridis). Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif eksploratif. Hasil perhitungan hubungan panjang dan berat kerang hijau (P.viridis) dari Sampel pertama dan kedua memiliki nilai konstanta b<3 yang berarti allometrik negatif yaitu pertumbuhan panjang lebih dominan daripada pertumbuhan berat. Hasil pengukuran menunjukkan ukuran panjang, tebal cangkang, dan berat daging P.viridis beragam pada setiap stasiun pengambilan sampel. Frekuensi kehadiran P.viridis dalam berbagai ukuran selama dua Sampel pada dua stasiun tersebut juga bervariasi,selalu ada perbedaan ukuran P.viridis yang di ambil dari perairan Tambak Lorok. Green mussel (Perna viridis) is one of the shellfish that live in estuaries, bays and mangrove areas which have muddy sand substrates with slightly lower salinity. Green mussel is one of the shellfish that are able to survive and reproduce under high ecological pressure without disturbance and without food supplies. Green mussel is widespread in Indonesian waters and the species is abundant in coastal areas, mangroves and river estuaries. The Tambak Lorok area, North Semarang District, is a coastal area in the North Coast region. This area has biological resources in the form of green mussel (Perna viridis). The differences in length, shell thickness and meat weight are influenced by water conditions and spawning time. The aim of this research is to determine the morphometric variations in size of green mussel (Perna viridis). The method used in this research uses an exploratory descriptive method. The results of calculating the relationship between length and weight of green mussel (P.viridis) from the first and second Sample have a constant value of b<3 which means negative allometric meaning that length growth is more dominant than weight growth. The measurement results showed that the length, shell thickness and meat weight of P.viridis varied at each sampling station. The frequency of presence of P. viridis in various sizes during the two Sample at the two stations also varied, there was always a difference in the size of P. viridis taken from Tambak Lorok waters.    
Analisis Kesesuaian Wisata dan Daya Dukung Kawasan di Pantai Kuta Mandalika, Lombok Nusa Tenggara Barat Nisrina Audini; Agus Indarjo; Nur Taufiq-Spj
Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i4.35646

Abstract

Kuta Mandalika merupakan salah satu destinasi wisata di Lombok yang menjadi prioritas utama kunjungan wisatawan. Mandalika memiliki konsep pengembangan pariwisata yang berbasis wawasan lingkungan. Daya dukung kawasan mempunyai keterkaitan dengan pengelolaan secara berkelanjutan, artinya dalam pengembangan wisata untuk peningkatan ekonomi hendaknya memperhatikan aspek ekologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas perairan yang menjadi daya dukung untuk kesesuaian kawasan wisata dan menyusun alternatif strategi pengelolaan untuk pengembangan wisata Pantai Kuta Mandalika, Lombok. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan purposive sampling untuk pengambilan data, analisis parameter fisika dan kimia, analisis kesesuaian wisata, dan analisis daya dukung kawasan. Kesesuaian kawasan Pantai Kuta Mandalika, Lombok dinilai sangat cocok untuk kegiatan rekreasi pantai, berenang, snorkeling, diving serta aktifitas wisata air lainnya. Hasil perhitungan Indeks kesesuaian wisata menunjukkan nilai di atas 80% yang termasuk kategori S1 atau Sangat Sesuai. Daya Dukung Kawasan di wilayah Pantai Kuta Mandalika mengindikasikan bahwa kawasan ini dapat menampung 105 orang per hari untuk kegiatan rekreasi pantai. Strategi pengelolaan dan pengembangan kawasan wisata dapat dilakukan dengan cara pemaksimalan promosi wisata, menyediakan aktraksi-aktraksi wisata, pengoptimalan penyerapan tenaga kerja dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada. Pembatasan jumlah pengunjung wisatawan bertujuan untuk menjaga kualitas kenyaman sekaligus agar tidak melebihi daya dukung kawasan wisata.
Karakteristik Bio-Fisik Pantai Sebagai Tempat Peneluran Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) Di Pantai Kali Ratu Jogosimo Kebumen Dandi Setiawan; Nur Taufiq-SPJ; Suryono Suryono
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.40131

Abstract

Populasi penyu lekang di alam mengalami penurunan diakibatkan oleh aktivitas manusia dan kerusakan alam. Keruskan alam mempengaruhi penyu dalam bereproduksi ataupun bertelur. Pantai yang dipilih sebagai lokasi peneluran harus memenuhi kriteria bio-fisik yang optimal, termasuk akses yang lancar dari laut, posisi sarang yang terletak di tempat yang relative lebih tinggi, adanya pasir pantai berukuran sedang, dan kemiringan pantai yang landai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan pemahaman tentang biofisik pantai tempat peneluran penyu di Kawasan Pantai Kali Ratu, Jogosimo, Kabupaten Kebumen. Karakteristik bio-fisik meliputi suhu pasir, struktur pasir, lebar pantai, kemiringan pantai, vegetasi pantai dan hewan predator. Karakteristik pantai dapat diperoleh melalui penerapan metode survei dan pengumpulan data yang dilakukan melalui observasi langsung. Hasil penelitian karateristik bio-fisik Pantai Kali Ratu, meliputi: suhu pasir rata-rata 33,79oC dengan rata-rata pada pukul 07.00 sebesar 30,93oC; pukul 13.00 sebesar 35,14oC; dan pukul 19.00 sebesar 35,29oC. Presentase jenis pasir 97,59% dengan kategori pasir sedang (0.25-0.84 mm). Lebar slope pantai rata-rata 33,26 m dengan rata-rata pada pukul 07.00 sebesar 30,19 m; pukul 13.00 sebesar 42,46 m; dan pada pukul 19.00 sebesar 27,13 m; kemiringan pantai rata-rata 1,99o pada pukul 07.00 sebesar 1,73o; pukul 13.00 sebesar 2,91o; dan pukul 19.00 sebesar 1,33o. Vegetasi pantai yang ditemukan adalah: Eleusine indica, Ipomoea pas-caprae, Spinifex littoreus, Canavalia maritima, dan Cyperus maritima. Sementara hewan predator yang ditemukan burung camar, biawak, anjing, kepiting dan semut api. Sehingga dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pantai Kali Ratu memiliki karakteristik bio-fisik yang menguntungkan atau mendukung sebagai lokasi peneluran yang sesuai bagi penyu lekang.The olive ridley turtle population in nature has decreased due to human activities and natural damage. Natural damage affects turtles in reproduction or laying eggs. The beach chosen as a nesting site must meet optimal bio-physical criteria, including smooth access from the sea, relatively high nest positions, medium-sized beach sand, and a gentle beach slope. Therefore, this study aims to understand the biological and physical characteristics of sea turtle nesting beaches in the Kali Ratu Beach Area, Jogosimo, Kebumen Regency. Bio-physical characteristics, i.e., sand temperature, sand structure, beach width, beach slope, vegetation, and predatory animals. Coastal characteristics can be obtained by applying survey methods and the data were collected by direct observation. The results show that the bio-physical characteristics of Kali Ratu Beach i.e: an average sand temperature of 33.79oC with an average temperature at 07.00 is 30.93oC; at 13.00 is 35.14oC; and at 19.00 is 35.29oC. Percentage of sand structure is dominated by sand in the medium category (0.25-0.84 mm) with an average percentage of sand types of 97.59%. The average beach width is 33.26 m i.e. of 30.19 m at 07.00; 42.46 m at 13.00 at; and at 19.00 it was 27.13 m; meanwhile, the average beach slope is 1.99o i.e. of 1.73o at 07.00; 2.91o at 13.00; and at 19.00 was 1.33o. Coastal vegetation found are: Eleusine indica, Ipomoea pas-caprae, Spinifex littoreus, Canavalia maritimea, and Cyperus maritima. While, predatory animals found are: seagulls, monitor lizards, dogs, crabs and fire ants. Hence, the results showed that Kali Ratu Beach has favorable or supportive in bio-physical characteristics as a suitable nesting location for olive ridley turtles.