Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Komorbiditas pada anak gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) pada 20 Sekolah Dasar di Kota Manado Ratnasari, Niluh Dewi; Kaunang, Theresia M. D.; Dundu, Anita E.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.11009

Abstract

Abstract: Attention deficit and hyperactivity disorder (ADHD) is one of the main problems in psychiatry which is often found in children under age of 7 years. ADHD is associated with comorbidities which are: oppositional defiant disorder, conduction disorder, anxiety disorder, depression, and learning disability. This study was aimed to determine the comorbidities in ADHD children. This was a descriptive-quantitative study with a cross sectional design conducted 20 elementary schools in Manado from November 2015 to January 2016. Respondents were students of class 1 to class 6 elementary school aged 6-12 years obtained by using purposive sampling method. Instrument of this study was based on the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-5 (DSM-5). The results showed that of the total 5,725 students, there were 611 students that had been screened for ADHD and 143 students (23%) had comorbid of ADHD. Based on gender, there were 82 males (57.3%) and 61 females (42.7%); the highest percentage were age 11 years old (27.3%). The comorbidities were as follows: oppositional defiant disorder (65.7%), conduct disorder (17.5%), autism spectrum disorder (28.7%), anxiety disorder (22.4%), developmental coordination disorder (23.1%), depression disorder (23.1%), physical abuse (11.2%), and emotional abuse (53.8%). Conclusion: The most common comorbidity in children with ADHD at 20 elementary schools in Manado was oppositional defiant disorder.Keywords: comorbidity, ADHD, children, manado Abstrak: Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) merupakan salah satu masalah psikiatri utama yang sering ditemukan pada anak di bawah usia 7 tahun. GPPH memiliki keterkaitan dengan komorbiditas. Komorbiditas pada GPPH yang paling sering ialah gangguan menentang oposisional, gangguan konduksi, gangguan kecemasan, depresi, dan ketidakmampuan belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komorbiditas pada anak GPPH. Jenis penelitian ialah deskriptif-kuantitatif dengan desain potong lintang yang dilakukan pada 20 sekolah dasar di Kota Manado dari bulan November 2015 sampai Januari 2016. Responden diperoleh dengan metode purposive sampling yaitu siswa-siswi kelas 1 sampai kelas 6 sekolah dasar usia 6-12 tahun. Instrumen penelitian komorbiditas yang digunakan berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-5 (DSM-5). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari keseluruhan 5.725 siswa, yang telah terskrinning GPPH berjumlah 611 siswa, dan 143 siswa (23%) mengalami komorbiditas pada GPPH. Berdasarkan jenis kelamin laki-laki 82 responden (57,3%) dan perempuan 61 responden (42,7%) terbanyak pada usia 11 tahun (27,3%). Hasil komorbiditas ialah sebagai berikut: gangguan perilaku menentang oposisional (65,7%), gangguan konduksi (17,5%), gangguan spektrum autisme (28,7%), gangguan kecemasan (22,4%), gangguan perkembangan koordinasi (23,1%), gangguan depresi (23,1%), gangguan kekerasan fisik (11,2%), dan gangguan kekerasan emosional (53,8%). Simpulan: Komorbiditas terbanyak pada anak dengan GPPH yang ditemukan pada 20 sekolah dasar di Kota Manado ialah gangguan menentang oposisional.Kata kunci: komorbiditas, GPPH, anak, Manado
PREVALENSI DEPRESI PADA PASIEN STROKE YANG DI RAWAT INAP DI IRINA F RSUP PROF. Dr. R. D. KANDOU MANADO PERIODE NOVEMBER – DESEMBER 2012 Dudung, Jeffking; Kaunang, Theresia M. D.; Dundu, Anita E.
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.7610

Abstract

Abstract: Depression is one of the most common mental disorders associated in chronic diseases such as stroke. Symptoms of post-stroke depression often unnoticed by clinicians, whereas early management, accurate and integrated, will be more effective. Post-stroke depressive patients who receive good treatment will have better quality of life. This was a descriptive quantitative study with a cross sectional design by using the HDRS instrument. The data were processed by using a univariat analysis. The results showed that 45.8% respondents had mild depression, 25% had medium depression, 4,2% had severe depression, and 25% not had depression.Keywords: depression, stroke, HDRSAbstrak: Depresi merupakan gangguan mood yang sering dikaitkan dengan penyakit kronis seperti stroke.Gejala depresi pasca stroke sering luput dari perhatian para klinisi, padahal penanganan yang lebih awal, tepat dan terpadu akan berhasil lebih efektif. Pasien depresi pasca stroke yang mendapatkan penanganan dengan baik mengalami peningkatan kualitas hidup. Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dengan pendekatan potong lintang dan menggunakan instrumen HDRS. Data penelitian diolah dengan analisis univariat. Hasil penelitian memperlihatkan sebanyak 45,8% responden mengalami depresi ringan, 25% responden mengalami depresi sedang, 4,2% responden mengalami depresi berat, dan 25% responden tidak mengalami depresi.Kata kunci: depresi, stroke, HDRS
Profil Clinical Scales Minnesota Multiphasic Personality Inventory-2 (MMPI-2) Adaptasi Indonesia pada Komunitas Public United not Kingdom (punk) di Kawasan Megamas Manado Polakitang, Aprilia; Dundu, Anita; Kaunang, Theresia M.D.
e-CliniC Vol 5, No 1 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.1.2017.15812

Abstract

Abstract: Punk community is a social phenomenon that is prevalent in major cities in Indonesia. Members of the punk community are of a certain opinion that they have discovered their concepts and their thoughts on the highlighted unique and distinctive style. This study was aimed to obtain the status of mental health among the punk community based on Minnesota multiphasic personality inventory-2 (MMPI-2) Indonesia adaptation in order to detect any possible mental disorders. This was a descriptive observational study with a cross sectional design. The study population included members of the punk community at Megamas Manado aged ≥18 years. The results showed that of 30 respondents, the majority were males (86.67%), aged 20-39 years (83.33%), parents worked in private sectors (43.33%), did not have a certain job (73.33%), three siblings (43.33%), stayed in Manado (16.67%), senior high school graduated, and freedom as the reason to join the community (63.33%). Distribution of the MMPI-2 clinical scales Indonesia adaptation obtained a scale with high t-scores, as follows: Pd (40%), D (16.67%), MF (6.67%). Hy G.33%), and Si (3.33%). Conclusion: There were three clinical scales with the highest psychopathology: schizophrenia, paranoia, and psychasthenia. The majority were males, senior high school graduated, and stayed in Manado.Keywords: punk community, profile, clinical scales, MMPI-2 Indonesian adaptation.Abstrak: Komunitas Punk merupakan sebuah fenomena sosial yang tengah mewabah di seluruh kota-kota besar di Indonesia. Generasi muda yang tergabung dalam komunitas punk merasa telah menemukan konsep dan pemikiran terhadap gayanya yang unik dan khas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan status kesehatan mental anggota komunitas punk berdasarkan clinical scales Minnesota multiphasic personality inventory-2 (MMPI-2) adaptasi Indonesia sebagai deteksi adanya kemungkinan gangguan mental. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Populasi penelitian ialah anggota komunitas Punk di kawasan Megamas Kota Manado yang berusia >18 tahun ke atas. Hasil penelitian mendapatkan dari 30 responden komunitas Punk, distribusi anggota berdasarkan sosio-demografik terbanyak ialah: laki-laki (86,67%), usia 20-39 tahun (83,33%), pekerjaan orang tua di bidang swasta (43,33%), mempunyai pekerjaan tidak tetap (73,33%), bersaudara tiga orang (43,33%), beralamat di kota Manado (76,67%), pendidikan terakhir SMA (83,33%), dan alasan bergabung pada komunitas Punk karena menginginkan kebebasan (63,33%). Distribusi clinical scales MMPI-2 adaptasi Indonesia memperlihatkan skala dengan t-skor yang tinggi dengan persentase tertinggi hingga terendah sebagai berikut: Sc (90%), Pt (80%), Pa (80%), Ma 73,33%), Hy (46,67%), Pd (40%), D (16,67%), Mf (6,67%), Hy (3,33%), dan Si (3,33%). Simpulan: Terdapat tiga clinical scales yang memiliki psikopatologi tertinggi yaitu: schizophernia, paranoia, dan psychastenia. Mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki, berpendidikan terakhir hingga SMA, dan beralamat tempat tinggal di Manado.Kata kunci: komunitas Punk, MMPI-2 adaptasi Indonesia
Hubungan Konsumsi Makanan Manis sebagai Faktor Risiko Terjadinya Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas pada Anak di 9 Sekolah Dasar Kota Manado Hidayat, Pearensia E. P.; Kaunang, Theresia M. D.; Dundu, Anita E.
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.8.1.2020.27137

Abstract

Abstract: Attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) is one of the most common psychiatric disorders in childhood and can be associated with sweetened food consumption. This study was aimed to determine the prevalence of ADHD children and the association between sweetened food consumption and children in nine elementary schools in Manado. This was an analytical study with a cross-sectional design. Samples were students of elementary schools that represented nine districts in Manado and were randomly selected using the multi-stage random sampling technique. The results showed that there wre 20.1% of elementary school students in Manado that had ADHD. Statistical analysis obtained a p-value of 0.000 (<0.05) and OR(CI 95%) = 23.61 (OR>1). In conclusion, the prevalence of ADHD children in Manado was still high and there was a positive correlation between sweetened food consumption as a risk factor of children with ADHD in elementary schools in Manado.Keywords: ADHD, sweetened food consumption, elementary school student Abstrak: Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) adalah salah satu gangguan psikiatri anak yang paling sering dan dihubungkan dengan konsumsi makanan manis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi GPPH pada anak dan hubungan konsumsi makanan manis sebagai faktor risiko terjadinya GPPH pada anak di sembilan sekolah dasar di Kota Manado. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang. Sampel yang digunakan ialah siswa Sekolah Dasar yang mewakili sembilan Kecamatan di Kota Manado yang dipilih secara acak dengan teknik multi stage random sampling. Penelitian dilakukan dengan uji asosiasi Fisher Exact. Hasil penelitian mendapatkan 20,1% anak Sekolah Dasar di Kota Manado menyandang GPPH. Hasil analisis data mendapatkan nilai p=0,000 (<0,05) dan OR=23,61 (OR>1). Simpulan penelitian ini ialah angka kejadian GPPH di Manado cukup tinggi dan terdapat hubungan positif antara seringnya mengonsumsi makanan manis sebagai faktor risiko terjadinya GPPH pada anak.Kata kunci: GPPH, makanan manis, anak sekolah dasar
GAMBARAN TINGKAT DEPRESI PADA WANITA PEKERJA SEKS DI KALANGAN REMAJA DI KOTA MANADO Wardoyo, Serly; Kaunang, Theresia M. D.; Munayang, Herdy
e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.2.2014.5041

Abstract

Abstract: Depression is a mental disorder that is predicted by the World Health Organization which will be ranked first in the burden of disease on a global scale in 2030. Emotional maturity of the teens which is still unstable, highly susceptible to depression. Especially for those who work as female sex workers and often receive negative pressure when they work. Method: This research is a descriptive study with cross-sectional design. Depression among 30 adolescent FSWs will be assessed using the Beck Depression Inventory II questionnaire. Results: Results showed that 10.0%  FSWs are normal, 30.0% FSWs have mild depression, 36.7% FSWs have moderate depression and 23.3% FSWs have severely depression. Keywords: Depression, Female Sex Worker, adolescent, Beck Depression Inventory.   Abstrak: Depresi merupakan gangguan mental yang diprediksikan oleh World Health Organization kelak menduduki peringkat pertama beban penyakit dalam skala global pada tahun 2030. Usia remaja yang kematangan emosionalnya masih labil, sangat rentan mengalami depresi. Apalagi bagi remaja yang berprofesi sebagai Wanita Pekerja Seks yang kerap mendapat berbagai tekanan negatifdalam pekerjaannya. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain penelitian cross-sectional. Tingkatan depresi pada 30 remaja WPS akan dinilai dengan menggunakan kuesioner Beck Depression Inventory II. Hasil: Didapatkan sebanyak 10.0%  WPS normal, 30.0% WPS mengalami depresi ringan, 36.7% WPS mengalami depresi sedang dan 23.3% WPS mengalami depresi berat. Kata Kunci: Depresi, Wanita Pekerja Seks, remaja, Beck Depression Inventory.
PROFIL LANJUT USIA DENGAN DEPRESI YANG TINGGAL DI BALAI PENYANTUNAN LANJUT USIA SENJA CERAH MANADO Ballo, Ivone R; Kaunang, Theresia M D; Munayang, Herdy; Elim, Christoffel
Jurnal Biomedik : JBM Vol 4, No 1 (2012): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.4.1.2012.753

Abstract

Abstract: According to the World Health Organisation, depression is still a serious public health problem. Depression is a mood disorder due to a disturbance in human functions related to sad feelings that can occur in every individual, including the elderly. The purpose of this study was to find out the profile of the elderly living in BPLU Senja Cerah (Senior Citizens Home) Manado who suffered from depression. This was an observational study with a cross-sectional design. Samples were all elderly, living in the BPLU Senja Cerah that were willing and able to become respondents, and fulfiled the inclusive and exclusive criteria, including signing informed consents and not suffering from any chronic diseases, such as strokes or cardiac diseases. The study showed that depression was mostly found at the ages of 61-74 years (25%) and after 1-6 months of staying in BPLU Senja Cerah (21.3%); the occurence of depression was higher in females (29.8% of total respondents); and the most frequent type was mild depression (30.4%). Conclusion: in BPLU Senja Cerah Manado, the respondents who most suffered from depression were in the following categories: the ages of 61-74 years, females, mild types of depression, and having stayed 1-6 months at the center. Keywords: depression, elderly, prevalence of depression  Abstrak: World Health Organization (WHO) mengemukakan bahwa depresi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius. Depresi adalah gangguan mood dimana terganggunya fungsi manusia berkaitan dengan alam dan perasaan yang sedih. Gangguan depresi dapat terjadi pada semua individu, termasuk lanjut usia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi gangguan depresi pada lanjut usia yang tinggal di Balai Penyatunan Lanjut Usia (BPLU) Senja Cerah Manado. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasi dengan deain potong lintang. Sampel penelitian ialah semua lanjut usia yang tinggal di BPLU Senja Cerah Manado yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, antara lain bersedia dan bisa menjadi responden serta menandatangani informed consent, dan tidak menderita penyakit kronik seperti stroke atau gangguan jantung. Depresi paling banyak dialami pada kelompok umur 61-74 tahun (25,5%), telah berdiam di BPLU Senja Cerah selama 1-6 bulan (21,3%), berjenis kelamin perempuan (29,8%), dengan tingkat depresi ringan yang terbanyak (30,4%). Simpulan: pada lanjut usia yang tinggal di Balai Penyatunan Lanjut Usia (BPLU) Senja Cerah Manado depresi ditemukan terbanyak pada usia 61-74 tahun, jenis kelamin perempuan, jenis depresi ringan, dengan masa tinggal 1-6 bulan. Kata kunci : Depresi, lanjut usia, prevalensi depresi
Gambaran Mental Emosional pada Orang Tua yang Anaknya dirawat di Instalasi Gawat Darurat RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Suputra, I Dewa G. Adi; Kaunang, Theresia ` M. D.; Munayang, Herdy
e-CliniC Vol 6, No 1 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.6.1.2018.18635

Abstract

Abstract: Emotional mental disorder is a condition that indicates psychological changes in an individual. This disorder can manifest as symptoms of depression, psychosomatic disorders, and anxiety. Having a child hospitalized for a life-threatening illness or injury can cause deep psychological reactions to the parents. This study was aimed to determine the mental emotional profile among the parents whose children were treated at the Emergency Installation of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital from October to November 2017. This was a quantitative descriptive study with a cross sectional design. This study involved all parents whose children were treated in the emergency installation who met the inclusion criteria as many as 72 respondents. The instruments of the study were Self Reporting Questionnaire (SRQ) and Depression Anxiety Stress Scale (DASS). Univariate and bivariate analyzes were performed using SPSS. Based on SRQ and DASS questionnaire data filled by 72 respondents, 54 parents (75%) had emotional mental disorders, consisting of 49 parents (68.1%) suffering from anxiety from mild to very severe and 18 parents (25 %) suffering from mild to very severe depression. The most dominant diseases of the children that caused anxiety to the parents were diarrhea, bronchopneumonia, and febrile seizures. Conclusion: The conditions of children treated in the Emergency Installation of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital could cause psychological stress in the form of anxiety and depression for the parents.Keywords: emotional mental disorders, anxiety, depression, parentsAbstrak: Gangguan mental emosional adalah kondisi yang mengindikasikan perubahan psikologik pada seseorang. Gangguan mental emosional dapat berupa gejala depresi, gangguan psikosomatik, dan kecemasan. Pengalaman memiliki anak yang dirawat di rumah sakit karena penyakit atau cedera yang mengancam jiwa dapat menyebabkan reaksi psikologik yang mendalam pada orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mental emosional pada orang tua yang anaknya dirawat di IGD RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou periode Oktober-November 2017. Jenis penelitian ialah deskriptif kuantitatif dengan studi potong lintang. Penelitian ini melibatkan semua orang tua yang anaknya dirawat di IGD dan memenuhi kriteria inklusi yaitu 72 responden orang tua. Instrumen yang digunakan ialah kuesioner Self Reporting Qustionnaire (SRQ) dan Depression Anxiety Stress Scale (DASS). Analisis univariat dan bivariat dilakukan dengan menggunakan SPSS. Berdasarkan perolehan data kuesioner SRQ dan DASS dari 72 responden, 54 orang tua (75%) mengalami gangguan mental emosional, yang terdiri dari 49 orang tua (68,1%) dengan kecemasan dari ringan hingga sangat berat dan 18 orang tua (25%) dengan depresi ringan hingga sangat berat. Dari penelitian ini didapatkan diagnosis penyakit anak yang paling dominan menye-babkan kecemasan dan depresi pada orang tua, yaitu diare, bronkopneumonia, dan kejang demam. Simpulan: Kondisi anak yang dirawat di Instalasi Gawat Darurat RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou dapat menimbulkan stres psikologik berupa kecemasan dan depresi pada orang tua.Kata kunci: gangguan mental emosional, kecemasan, depresi, orang tua
Prestasi akademik pada anak dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas di sembilan sekolah dasar swasta di Kota Manado Rumambi, Putri Ch.; Munayang, Herdy; Kaunang, Theresia M. D.
JURNAL KEDOKTERAN KOMUNITAS DAN TROPIK JKKT Volume 7 Nomor 2 (2019)
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Objective: The aim of this study is to find out the academic achievement in children with ADHD in nine private primary schools in Manado.Method: This research is an analytic study using cross sectional design  to collecting data and using questionnaires from teachers and parents.Result: Total respondents who allowed their children sampled were 185 people in 9 different private schools in Manado, and total children with ADHD is 37 people. In this research there was 1 child with Inattension type, 25 with Hyperactivity type and 11 children with Combination type. Sex ratio of  ADHD is 26 boys and 11 girls. Academic achievement of children with ADHD compared to non ADHD was found in mathematics subjects 14 children with ADHD and 8 non ADHD  had grades below the standart, and in Indonesian subjects there were 24 children with ADHD and 9 children non ADHD had grades below the standart. Conclusion: In this study the academic achievement of children with ADHD is lower than children non ADHD.Keywords: Academic achievement, ADHD, report grades
HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN MORBUS HANSEN DAN FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA DI BAGIAN KULIT DAN KELAMIN BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE NOVEMBER – DESEMBER 2012 Hardy, Shinta Purnama; Dundu, Anita E.; Kaunang, Theresia M.D.
e-CliniC Vol 1, No 2 (2013): Jurnal e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.1.2.2013.3309

Abstract

Abstract : Relationship between Anxiety Level and Morbus Hansen and the Influencing Factors in Dermatologic Division Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital Manado period of November – December 2012. Introduction : anxiety is defined as a emotional tension that often accompained by physical, sweating, increase of pulse rate. Morbus Hansen (hanseniasis), or well known as leprosy, is a chronic infectious disease caused by Mycobacterium Leprae. In Indonesia leprosy are endemic disease, the number of leprosy patients estimated to be greater than that recorded in the health department, because of the high leprofobi and stigma againstleprosy. Method : this study is analytical, with a cross sectional approach. Result : based of the chi square test the results are no significant association (p>0,05) between anxiety and age, sex, education, and employment. Conclusion : There is no significant association between anxiety and Morbus Hansen.Keyword: Anxiety, HRS-A, Leprosy.  Abstrak : Hubungan tingkat kecemasan dengan morbus hansen dan faktor – faktor yang mempengaruhinya di Bagian Kulit dan Kelamin BLU RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado periode November – Desember 2012. Pendahulan : kecemasan didefinisikansebagai suatu keadaan ketegangan emosional yang sering disertai dengan gejala fisik, seperti ketegangan, tremor, palpitasi, berkeringat dan peningkatan denyut nadi. Penyakit Morbus Hansen (hanseniasis), atau yang lebih dikenal dengan penyakit lepra atau kusta, merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium Leprae. Di Indonesia penyakit kusta bersifat endemis, jumlah penyakit kusta diperkirakan lebih besar daripada yang tercatat di Departemen Kesehatan, karena adanya leprofobi dan stigma yang tinggi terhadap kusta. Metode : penelitian ini  bersifat analitik, dengan pendekatan cross sectional. Hasil : berdasarkan hasil uji chi square di dapatkan tidak ada hubungan yang bermakna (p>0,05) antara kecemasan dengan umur, jenis kelamin, pendidikan  dan pekerjaan. Kesimpulan : Tidak ada hubungan yang bermakna antara kecemasan dengan Morbus Hansen. Kata kunci: HRS-A, Kecemasan, Kusta.
Hubungan Faktor-faktor yang Berperan untuk Terjadinya Dismenore pada Remaja Putri di Era Normal Baru Kojo, Nancy H.; Kaunang, Theresia M. D.; Rattu, Angelheart J. M.
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.34433

Abstract

Abstract: Since Covid-19 is still a pandemic worldwide, people are required to familiarize themselves with new normal lifes or new normal conditions that have been implemented in Indonesia. Observation at Tincep Village of Minahasa during April to October 2020 revealed that the village government was very strict in implementing social restrictions; therefore, teenagers or young people were rarely doing physical activity outdoors. Moreover, teenagers with low physical activity tended to prefer indoor activities. This study was aimed to analyze the relationship between influencing factors of dysmenorrhea in female teenagers in the new normal era. This was a quantitative analytical and descriptive study with a cross sectional design. This study was conducted from November to December 2020 at Tincep Village. Subjects were 40 female teenagers aged 12-18 years. Independent variables were physical activity, nutritional status, age of menarche, length of menstruation, and depression meanwhile dependent variables was dysmenorrhea. Data were statistical analyzed univariately and bivariately. The results showed that significant relationships were only obtained between physical activity and depression and dysmenorrhea among female teenagers at Tincep Village, Minahasa in the new normal era. In conclusion, factors associated with dysmenorrhea were physical activity (most dominant) and depression meanwhile factors that were not associated with dysmenorrhea included nutritional status, age of menarche, and duration of menstruation. Keywords: new normal; dysmenorrhea; Covid-19  Abstrak: Covid-19 masih menjadi wabah yang belum dapat diatasi di seluruh dunia. Oleh karena itu masyarakat dituntut untuk membiasakan diri dengan hidup new normal atau keadaan normal baru yang sudah diterapkan di Indonesia. Dari hasil pengamatan di desa Tincep Kabupaten Minahasa selama bulan April sampai Oktober 2020, ternyata pemerintah desa sangat ketat menjalankan kebijakan yaitu pembatasan sosial sehingga jarang remaja atau pemuda melakukan aktivitas fisik di luar rumah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor-faktor yang berperan untuk terjadinya dismenore pada remaja desa di era normal baru. Jenis penelitian ialah kuantitatif deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Tincep Kabupaten Minahasa pada November - Desember 2020. Subyek penelitian ini yaitu 40 remaja putri yang berusia 12-18 tahun. Variabel bebas penelitian ini yaitu aktivitas fisik, status gizi, usia menarche, lama menstruasi, dan depresi dan variabel terikat ialah dismenore. Data hasil penelitian dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat. Penyajian data dibuat dalam bentuk tabel dan narasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan bermakna hanya didapatkan antara aktivitas fisik dan depresi dengan dismenore pada remaja putri di Desa Tincep Kabupaten Minahasa di era normal baru. Simpulan penelitian ini ialah faktor-faktor yang berhubungan dengan dismenore ialah aktivitas fisik (yang terutama) dan depresi. Faktor-faktor yang tidak berhubungan dengan dismenore meliputi status gizi, usia menarche, serta lama menstruasi.Kata kunci: new normal; dismenore; Covid-19