Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Infeksi Protozoa Usua Memberikan Profil Respons Imun yang Berbeda Andri Damayanti, Ndaru; Wibowo, Heri; Djauzi, Samsuridjal
Majalah Kesehatan Pharmamedika Vol 9, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.769 KB) | DOI: 10.33476/mkp.v9i1.671

Abstract

Pajanan mikroorganisme yang bervariasi dan terjadi terus menerus di lingkungan tempattinggal berpengaruh terhadap respon imun individu yang mampu memberikan ketahanan seseorang terhadap suatu penyakit. Tujuan penelitian mengetahui pajanan protozoa usus di lingkungan tempat tinggal mempengaruhi profil respons imun individu. Subyek penelitian berjumlah 80 orang terdiri dari masyarakat yang tinggal di sekitar tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, dianggap sebagai populasi dengan kondisi sanitasi dan higiene yang kurang baik. Kelompok pembanding adalah populasi dari mahasiswa perguruan tinggi swasta, yang dianggap sebagai subyek dengan kondisi sanitasi dan higiene yang lebih baik, Sampel yang digunakan adalah darah dan feses. Seluruh data diolah berdasarkan program SPSS 17 for Window. Variasi pajanan mikroorganisme protozoa usus memodulasi ekspresi rasio sitokin proinflamasi (tnf-α, inf-γ,) dan antiinflamasi (IL-10) pada kultur sel darah subyek yang tinggal di lingkungan kumuh lebih rendah dibandingkan subyek yang tinggal di pemukiman nonkumuh (p 0,01).
Studi in silico Peran Gen IL10RB Homo sapiens (reseptor subunit beta interleukin 10) pada Infeksi Hepatitis B Andri Damayanti, Ndaru; Hilda Putri, Dwi
Majalah Kesehatan Pharmamedika Vol 10, No 2 (2018): DESEMBER 2018
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/mkp.v10i2.727

Abstract

Inter  leukin,  IL-10  dikenal  sebagai  salah  satu  elemen  imun  yang  bersifat  anti  inflamasi memiliki peran penting di dalam sistem homeostasis. Gen IL-10RB yang termasuk kelompok sitokin kelas 2 merupakan lokus utama terhadap kejadian infeksi hepatitis B, yang diperlihatkan dengan adanya data single nucleotide polymorphisme, SNPs pada E47K. Studi in silico dilakukan untuk mengetahui mutasi dan perubahan fungsi dari protein IL-10RB yang mengalami mutasi terhadap kejadian infeksi oleh  virus hepatitis B.  Hasil analisis sikuen protein menunjukkan bahwa mutasi 2834167 tidak  merubah sifat  umum  maupun topologi protein IL-10RB terhadap kejadian infeksi hepatitis B. Hasil analisis struktur protein menunjukkan bahwa mutasi juga tidak merubah struktur sekunder maupun struktur Kristal D protein IL-10RB.
In-vitro studies on antioxidant and antidiabetic potential of Sesoot (Garcinia picrorrhiza Miq.) fruit ethanolic extract from Indonesia Sri Utami; Sonny Pamuji Laksono; Qomariyah Romadhiyani Sachrowardi; Dewi Nurul Mustaqimah; Susi Endrini; Ndaru Andri Damayanti; Said Nafik; Betharie Cendera Arrahmani; Hanna Sari Widya Kusuma; Wahyu Widowati
Pharmaciana Vol 11, No 2 (2021): Pharmaciana
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (36.427 KB) | DOI: 10.12928/pharmaciana.v11i2.20110

Abstract

Diabetes mellitus (DM) is a disease that can be identified by high levels of blood glucose. Garcinia plants have been widely used for many traditional medicines as antioxidant, anticancer, antidiabetics, and antiinflammation. The antioxidant and antidiabetic activities of (Garcinia picrorrhiza Miq.) or sesoot fruit extract were evaluated in this study and compared with xanthone. The antioxidant and antidiabetic of ethanolic ripe sesoot (G. picrorrhiza Miq.) fruit extract (GpKar) was evaluated by (ABTS) reducing activity, α-glucosidase, β-glucosidase, and α-amylase inhibitor activity. GpKar showed higher ABTS-reducing activity (IC50 = 49.30 µg/mL) than xanthone (IC50 = 404.30 µg/mL). GpKar showed IC50 = 109.32 µg/mL for α-glucosidase inhibitory activity, while xanthones had a better activity (IC50 = 33.97 µg/mL). GpKar also showed lower α-amylase inhibitory activity and  β-glucosidase (IC50 = 126.01 and 9432.09 µg/mL) compared to xanthone (IC50 = 44.32 and 405.03 µg/mL, respectively). The compounds of GpKar are proven to have antioxidant and antidiabetic activities. Therefore, it will be industrially relevant to develop a natural medicine for decreasing DM risk, thus evaluating the antioxidant and antidiabetic effect of G. picrorrhiza by a pre-clinic study is needed.
Penyuluhan Tentang Cara Pencegahan Penularan TB dan Pemakaian Masker Kepada Keluarga Penderita TB di Johar Baru, Jakarta Pusat Kholis Ernawati; Rifqatussa’adah Rifqatussa’adah; Rifda Wulansari; Ndaru Andri Damayanti; Titiek Djannatun
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1910.638 KB) | DOI: 10.22146/bkm.32108

Abstract

Health education on transmission prevention and use of masks in families with tuberculosis patient: the experience from Johar Baru, Central JakartaPurposeThe objective of the activity is to educate TB patients and families of TB patients about how to prevent TB transmission and the correct use of masks and the use of masks.MethodActivity targets were 35 people from 20 families of TB patients in Johar Baru area, Central Jakarta. Activities carried out were socialization, counseling about the use of masks, giving masks to respondents, and evaluation activities. The extension media used were posters on "5 Ways of TB Prevention" and posters about wearing the correct mask. The counseling was conducted in three visits, ie on February 9, February 10, and February 14, 2017. The counseling was conducted to all families of TB patients who were targeted for the activity.ResultsThe result of the activity shows the education can increase the knowledge of the respondents about the prevention of TB transmission by 85.7%. In addition, it can improve the respondents’ knowledge about how to use masks and practice of mask use by 100%.ConclusionContinuous activity needs to be carried out so that good knowledge can be maintained and is expected to form a positive attitude and later expected to form good hygiene personal behavior.
Perbandingan ekspresi sitokin proinflamasi interferon-gamma dan antiinflamasi interleukin-10 pada whole blood culture terhadap pajanan mikroorganisme yang distimulasi dengan phytohemagglutinin pada subjek di pemukiman kumuh dan non kumuh Talitha Vania Salsabella; Ndaru Andri Damayanti; Heri Wibowo
Riset Informasi Kesehatan Vol 11 No 2 (2022): Riset Informasi Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Harapan Ibu Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.62 KB) | DOI: 10.30644/rik.v11i2.634

Abstract

Abstrak Latar Belakang : Kondisi permukiman dapat mempengaruhi tingkat pajanan mikroorganisme penduduknya. Penduduk yang tinggal di daerah kumuh memiliki risiko lebih tinggi untuk terpajan mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan ekspresi IFN-γ dan IL-10 pada whole blood culture (WBC) penduduk daerah kumuh dan nonkumuh yang distimulasi oleh phytohemagglutinin (PHA). Metode : Penelitian potong-lintang dilakukan untuk menentukan perbedaan kadar IFN-γ dan IL-10 pada WBC yang berasal dari subjek daerah kumuh dan nonkumuh yang distimulasi dengan mitogen PHA. Data sitokin merupakan data sekunder. Hasil : Kadar IFN-γ pada kondisi basal ditemukan secara signifikan lebih tinggi pada kelompok nonkumuh daripada kelompok kumuh (p=0,004). Temuan serupa terlihat pada kadar IL-10 basal (p=0,002). Pascastimulasi PHA, tidak ditemukan perbedaan signifikan pada kadar IFN-γ (p=0,488), sedangkan kadar IL-10 pascastimulasi PHA secara signifikan lebih tinggi pada kelompok kumuh dibandingkan nonkumuh (p=0,001). Rasio IFN-γ terstimulasi/IFN-γ basal secara signifikan lebih tinggi pada kelompok kumuh dibandingkan nonkumuh (p=0,010) dan rasio IL-10 terstimulasi/IL-10 basal juga secara signifikan lebih tinggi pada kelompok kumuh dibandingkan nonkumuh (p=0,004). Potensi inflamasi dinilai dengan rasio keseimbangan IFN-γ terhadap IL-10, didapatkan potensi inflamasi yang secara signifikan lebih tinggi pada daerah nonkumuh dibandingkan daerah kumuh (p=0,002). Kedua sitokin menunjukkan korelasi positif yang cukup kuat dan signifikan, terutama terlihat pada kelompok kumuh (R=0,642 dan p=0,002). Kesimpulan : Terdapat perbedaan kadar sitokin IFN-γ dan IL-10 pada kelompok kumuh dan nonkumuh pada kondisi basal. Pascastimulasi PHA perbedaan hanya terlihat pada kadar IL-10. Rasio keseimbangan kedua sitokin di kedua kelompok berbeda, menunjukkan potensi inflamasi kelompok nonkumuh lebih kuat dibandingkan kelompok kumuh. Terdapat korelasi positif antara sitokin IFN-γ dan IL-10 dimana peningkatan IFN-γ akan diikuti dengan peningkatan IL-10, terutama terlihat pada kelompok kumuh.
The Relationship Between Parents' Knowledge and Vermicular Enterobiasis Incident Rate in Children At Rt. 09/07 Susukan Village in East Jakarta Muhammad Satrio Prabowo; Ndaru Andri Damayanti; Rika Ferlianti
Junior Medical Journal Vol 1, No 5 (2023)
Publisher : Junior Medical Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v1i5.3123

Abstract

Background: One of the helminthic diseases that still occurs in Indonesia is worm infection by Enterobius vermicularis. Enterobiasis needs attention because it can cause a decrease in the immune system in children so that it can cause delays in the growth and development of children. Objective: This research was conducted to see the relationship between the incidence of E. vermicularis in children and the level of knowledge of parents. Methods: The method used is quantitative with a cross sectional approach. The anal swab technique is used for the examination of enterobiasis. Parents' knowledge data was collected through interviews with a questionnaire guide. Results: Significantly (p 0.05) 1.7% of enterobiasis in children was found in parents with a lack of hygiene knowledge. Conclusions: There is a correlation between the percentage of enterobiasis in children and their parents' hygiene knowledge.
Pengetahuan Kader Kesehatan tentang Tuberkulosis Wening Sari; M Restu Syamsul Hadi; Ndaru Andri Damayanti
Info Abdi Cendekia Vol 4 No 1: Juni 2021
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.981 KB) | DOI: 10.33476/iac.v4i1.25

Abstract

Tuberkulosis (TBC) merupakan infeksi dengan angka kesakitan dan kematian yang tinggi. Salah satu program dalam penanggulangan TBC adalah penemuan kasus aktif secara luas untuk mendeteksi TBC agar pengobatan segera diberikan. Penjangkauan kasus yang belum terdeteksi di komunitas dapat dilakukan dengan memberdayakan masyarakat, khususnya kader kesehatan. Telah dilakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa penyuluhan interaktif tentang penyakit TBC terhadap 30 orang kader kesehatan dari wilayah Cempaka Putih, Johar Baru, Kemayoran dan Sawah Besar Jakarta Pusat. Berdasarkan evaluasi pre-test dan post-test terdapat peningkatan pengetahuan kader kesehatan tentang TBC pasca penyuluhan (p=0,02). Setelah mempunyai pengetahuan yang lebih baik kader kesehatan diharapkan dapat mendeteksi gejala dan tanda penyakit TBC pada masyarakat sehingga penemuan suspek TBC meningkat.
Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Tentang Tuberculosis Terhadap Pengetahuan Siswa SMAN 104 Jakarta Wiji Budi Lestari; Ndaru Andri Damayanti; Titiek Djannatun
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 3 (2026): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.3 (2026)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i3.1131

Abstract

Pendahuluan: Tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk pada remaja. Rendahnya pengetahuan siswa dapat meningkatkan risiko penularan di lingkungan sekolah. Metode: Penelitian kuantitatif pra-eksperimen dengan desain one group pretest– posttest pada 50 siswa anggota OSIS dan PMR kelas X dan XI SMAN 104 Jakarta. Sampel dipilih dengan total sampling dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Rata-rata skor pengetahuan dan sikap siswa meningkat dari 19,08 pada pre-test menjadi 20,04 pada post-test. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antara skor pre-test dan post-test dengan nilai p < 0,001. Sebagian besar responden mengalami peningkatan skor setelah intervensi. Pembahasan: Peningkatan skor menunjukkan bahwa penyuluhan kesehatan efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap siswa terhadap TBC. Edukasi yang diberikan secara terstruktur dan interaktif membantu siswa memahami materi dengan lebih baik, sehingga dapat mendukung upaya pencegahan penularan TBC di lingkungan sekolah. Simpulan: Penyuluhan kesehatan tentang TBC berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap siswa SMAN 104 Jakarta.