Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Menelisik Dinamika Radikalisme Gen Z Perempuan di Facebook Eko Saputra
Islamica: Jurnal Studi Keislaman Vol. 14 No. 1 (2019): September
Publisher : Postgraduate Studies of Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/islamica.2019.14.1.103-125

Abstract

Nowadays, the proliferation of radicalization among the so-called Generation Z in the online space shows an alarming phenomenon. This article is to explore how online media is used by a woman of generation Z, Nurdhania, to access ideological propaganda of the Islamic State in Iraq and Syria (ISIS). The questions are how was the propaganda embedded in Nurdhania’s mind? How big are the Nurdhania’s commitment, involvement, and struggle in supporting ISIS? To answer these questions, this research used the method of ethnography, through the internet, of blogs and social media that belong to Nurdhania, and conducted an interview with one of her relatives in Yogyakarta. This article argues that Nurdhania was exposed to the ideology of ISIS because of (1) her confusion with the uncertainty of the future; (2) a ‘moral panic’ she had experienced; and (3) the Islamic State highlighted as the most ideal state system.
PEMBERITAAN MEDIA ONLINE: STUDI KASUS KONFLIK BUDAYA “SEDEKAH LAUT” DI PANTAI BARU, NGENTAK, BANTUL, YOGYAKARTA Eko Saputra; Iswandi Syahputra; Bono Setyo
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v9i2.17542

Abstract

Penelitian ini menelisik tentang konflik Sedekah Laut melalui media online di Pantai Baru, Dusun Ngentak, Desa Poncosari, Bantul-Yogyakarta. Berangkat dari fenomena sosial. Artikel ini membahas mengenai bagaimana media online melaporkan peristiwa konflik Sedekah Laut di Pantai Baru, bagaimana media online memposisisikan pemberitaanya terhadap kepentingan publik dan institusi medianya dan bagaimana media online membentuk fakta dan opini publik di masyarakat. Studi ini menggunakan metode kualitaif dengan pendekatan analisis isi kualitatif (qualitatif massage analisis). Hasil studi ini menunjukan bahwa konflik Sedekah Laut di Pantai Baru disebabkan oleh perbedaan interpretasi hukum Islam dalam memahami Sedekah Laut. Kelompok konservatif menilai, tidakan tradisi Sekekah laut ialah menyimpang dari Islam, dengan kata lain haram, syirik (yang dapat menyebabkan seorang bisa keluar dari Islam). Sementara kelompok Islam moderat dan respon masyarakat setempat, sedah laut tidak menyimpang dari nilai ajaran Islam. Justru dengan kehadiran tradisi tersebut, membuat masyarakat semakin religious, memperkuat keimananya dan menguatkan hubungan persaudaraan.
KOMODIFIKASI PRODUK KEAGAMAAN: STUDI DI KOMUNITAS TERAS DAKWAH Eko Saputra; Muhammad Irham; Firmanda Taufiq
Jurnal MD Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jmd.2021.71-07

Abstract

Fenomena dakwah dalam wacana keagamaan di Indonesia menjadi topik pembicaraan yang menarik. Pasalnya, gerakan dakwah yang dilakukan juga memiliki aktivitas bisnis di dalamnya. Hal ini diwakili oleh gerakan dakwah yang dilakukan Teras Dakwah. Mereka adalah komunitas muda Muslim yang terdiri dari berbagai aliran keagamaan, seperti NU, Muhammadiyah, Salafi, HTI, dan Tarbiyah. Strategi gerakan dakwah dilakukan dengan memasarkan berbagai produk komersial dan dibarengi dengan kegiatan dakwah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi dan melakukan wawancara untuk menambah data dan referensi dalam penyempurnaan penelitian. Peneliti menemukan bahwa memang etika kapitalisme Islam direduksi menjadi penyebaran global kapitalisme dan logika neoliberal pasar bebas. Jika ditelaah secara mendalam, komoditas religi Teras Dakwah tidak hanya digunakan sebagai bentuk ketakwaan (pitization), tetapi juga sebagai bentuk ikatan komunitas (community), gaya hidup (lifestyle), ekspresi diri (self-expression), identitas (identitas), hobi dan minat. kesenangan (kesenangan).Kata kunci: Komodifikasi, Produk, Dakwah.
MENGELOLA HIBRIDASI IDENTITAS ANAK MUDA ISLAM: STUDI PADA LEMBAGA TERAS DAKWAH DI YOGYAKARTA Dony Arung Triantoro; Eko Saputra; Tri Wahyuni
Jurnal MD Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.534 KB) | DOI: 10.14421/jmd.2019.52-01

Abstract

Berangkat dari fenomena anak-anak muda yang beragam identitasnya berkumpul dalam salah satu forum kajian dakwah di Yogyakarta, tulisan ini mencoba menelisik tentang bagaimana hibridasi identitas keislaman anak-anak muda itu dikelola dalam gerakan dakwah tertentu. Untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif terkait permasalahan tersebut, artikel ini mengambil studi kasus pada lembaga Teras Dakwah di Yogyakarta yang secara masif menggelar kajian-kajian dakwah di kalangan anak muda. Data artikel ini diperoleh melalui kerja etnografi berupa observasi partisipan, komunikasi pribadi dan didukung dengan data-data online atau netnografi. Dari data yang diperoleh, artikel ini menunjukkan bahwa konsekuensi dari  hibridasi identitas anak muda Islam pada gilirannya juga mengarah pada pengelolaan dakwah yang hybrid. Teras dakwah, misalnya, mereka mengelola dakwah dengan mengkolaborasikan antara Islam dan budaya populer.Kata Kunci: Hibridtitas, Anak Muda, Dakwah
URBAN MUSLIM YOUTH, PENGAJIAN COMMUNITIES AND SOCIAL MEDIA: FRAGMENTATION OF RELIGIOUS AUTHORITIES IN INDONESIA Eko Saputra; Dony Arung Triantoro; Ardiansyah Ardiansyah
Al-Qalam Vol 27, No 2 (2021)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v27i2.1004

Abstract

Departing from a thesis that states the development of communication technology encourages religious practices among Muslim communities in general, this paper seeks to discuss the fragmentation of religious authority among Muslim youth in Indonesia. The research was conducted through field research. The data were taken from interviews, observation, and documentation. This research showed that the fragmentation of religious authority among muslim youth is motivated by the proliferation of pengajian in Indonesian cities and the use of social media in disseminating da’wah. This research also revealed the involvement of the Indonesian largest da’wah communities that implement youth popular culture in performing pengajian by young ustadz idolized by the young generation. Besides, they also used online media, Youtube and Instagram, to promote their da’wah and even used it as a disseminating media. Hence, this opens up opportunities and facilitates the young generation to instantly gain religious insight without visiting an ustadz or ulama and without becoming a student in an Islamic boarding school
Teras Dakwah, Agama dan Pasar: Lanskap dan Pergeseran Gerakan Dakwah di Indonesia Eko Saputra
Idarotuna Vol 3, No 1 (2020): Oktober 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/idarotuna.v3i1.11299

Abstract

Studi ini menjelaskan tentang hibriditas identitas anak muda Islam mengubah orientasi gerakan dakwah pada wacana agama pasar (market religion). Studi ini menelisik tentang apa yang menginisiasi pergeseran gerakan dakwah ke wacana agama pasar, dan bagaimana hibriditas identitas anak muda mengubah orientasi gerakan dakwah pada agama pasar. Untuk menjawab studi ini, penulis menggunakan studi etnografi dengan mengambil studi kasus pada lembaga sosial keagamaan Gerakan Teras Dakwah, Nitikan, Umbulharjo, Yogyakarta. Hasil studi ini menunjukan bahwa pergeseran gerakan dakwah anak muda yang hibrid, mencair, menjangkau ke berbagai identitas anak muda yang beragam, seperti ideologi keagamaan, pendidikan, sosial budaya, hobi, kesenangan dan pergaulan merupakan respon terhadap wacana agama pasar, bagaimana gerakan dakwah mengapresiasi keislaman anak muda sesuai dengan keinginan pasar budaya anak muda, yang gaul dan modern.Kata Kunci: Lanskap, Pergeseran gerakan dakwah; Hibriditas Identitas; Agama Pasar; Gerakan Dakwah 
Marketing Da’wah through New Media at the "Teras Dakwah” (Da’wah Terrace) Yogyakarta, Indonesia Eko Saputra
Jurnal Dakwah Risalah Vol 33, No 1 (2022): June 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jdr.v33i1.18159

Abstract

Da'wah today has undergone a significant shift. This article discusses the market religion-based da'wah in the Teras Dakwah in Yogyakarta. This article uses netnographic and ethnographic studies to reveal the da'wah marketing of the Teras Dakwah. The paper finds that the consequences of market religion-based da'wah lead to the fusion of religious authorities, hybrid congregations, and delocalization of religious messages, including place, region, age, culture, language, and ethnicity. Thanks to its media marketing, the Teras Dakwah can freely enter diverse segments of young people across identities. The Teras Dakwah has become a religious entrepreneur. It spreads da’wah that is accepted as pleasure for young people based on considerations of rational choice and economic theory (law of demand and offers). The Teras Dakwah provides a form of da'wah program in a market mechanism that can be enjoyed based on the tastes of young people. The role of the Teras Da’wah media is very significant in the success of the Teras Dakwah religious program. The Teras Dakwah will not successfully reach various segments of young people from cross-religious hybrid identities if it does not use new media channels.
NGAJI ASIK SAMBIL NGOPI: STRATEGI BRANDING KOMUNITAS “TERAS DAKWAH” DI YOGYAKARTA, INDONESIA (LEARNING ISLAM WHILE ENJOYING COFFEE: A BRANDING STRATEGY OF “TERAS DAKWAH" COMMUNITY IN YOGYAKARTA, INDONESIA) Eko Saputra
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 16, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v16i2.2313

Abstract

The hybridity of Muslim youth with popular culture has had an influence on the da'wah packaging strategy carried out by many da'wah communities in Indonesia, including the Teras Da'wah Community in Yogyakarta, Indonesia. The packaging of da'wah with a more popular, fun, and modern cover has made Teras Da'wah as one of da'wah communities with the most wanted by many younger Muslims in Indonesia. This article aims to describe how the branding strategy is run by the Teras Da'wah Community using a qualitative research approach, namely through ethnographic and netnographic studies for six (6) months in the Teras Da'wah Community. The results of the study reveal that the appreciation of popular culture among young people today has a significant role in 'attracting' these millennials to recite the Koran in a relaxed but serious manner at Teras Da'wah. The form of this appreciation is packaged from the selection of an attractive logo, the interior of the room that resembles a cafe, the study content packaged in slang and the clustering of the study program according to the level of understanding of the members. The consequence of this strategy is the increasingly hybrid identity of Muslim youth in Indonesia due to the intersection between Islamic values and popular culture that has long been attached to them.Hibriditas anak-anak muda muslim dengan budaya populer telah membawa pengaruh pada strategi pengemasan dakwah yang dilakukan oleh banyak komunitas dakwah di Indonesia. Salah satu diantaranya yang telah menerapkan strategi tersebut adalah Komunitas Teras Dakwah di Yogyakarta, Indonesia. Pengemasan dakwah dengan cover yang lebih ngepop, fun, dan modern telah menjadikan Teras Dakwah sebagai komunitas dakwah yang diminati oleh banyak anak-anak muda muslim di Indonesia. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana strategi branding yang dilakukan oleh Komunitas Teras Dakwah dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, yakni melalui studi etnografi dan netnografi selama enam (6) bulan di Komunitas Teras Dakwah. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa apresiasi Teras Dakwah terhadap budaya populer di kalangan anak muda saat ini memiliki peran signifikan dalam ‘menarik’ milenial ini untuk mengaji dengan santai tapi serius di Teras Dakwah. Wujud apresiasi ini dikemas dari pemilihan logo yang menarik, interior ruangan yang menyerupai kafe, konten kajian yang dikemas dengan bahasa gaul dan klusterisasi program kajian sesuai dengan tingkat pemahaman anggota. Konsekuensi dari strategi ini adalah semakin hibridnya identitas anak-anak muslim di Indonesia akibat persinggungan antara nilai-nilai Islam dengan budaya populer yang sudah lama melekat pada diri mereka.
THE MARKETING OF RELIGIOUS PRODUCT TERAS DAKWAH: YOUTH PEOPLE AND THE POPULAR DAKWAH MOVEMENT Pipir Romadi; Muhammad Irham; Eko Saputra
SANGKéP: Jurnal Kajian Sosial Keagamaan Vol. 5 No. 1 (2022): Religious Changing Pathway Post Pandemic and Welcoming Society Era 5.0
Publisher : Asosiasi Sosiologi Agama Indonesia (ASAGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/sangkep.v5i1.5222

Abstract

The da'wah movement in the contemporary era undergoes dynamic and development according to its social context. In this matter, the da'wah movement carried out by the certain community, has several strategies in developing efforts to attract followers and the mass to come in their community. This study endovour to highlight the popular da'wah movement framed by the marketing activities of religious product as its da'wah strategy. Specifically, this study explores the Yogyakarta  Teras Da’wah, which initiates the expansion of da'wah through several product marketing strategies, from various merchandise and marketed products. This research is important to see how youth people develop the da'wah movement through the marketing of religious product. This research used ethnographic study and field observations, to see and follow the da'wah activities of Da'wah Teras directly, and is strengthened by several interview with the administrators and congregations of Teras Da'wah. The result of this study indicated that Teras Da'wah uses the da'wah model as well as doing business as the da'wah movement. They market and sell religious products through recitation and non-recitation, such as traveling, camping, adventure, workshop, training, and futsal in collaborated with youth culture. Da'wah activities through the marketing of religious product include piety, community, lifestyle, identity and enjoyment.
Da’wah and Strengthening the Understanding of Religious Moderation at Islamic Universities Aslati Aslati; Eko Saputra; Masduki Masduki; Dony Arung Triantoro; Silawati Silawati
Jurnal Dakwah Risalah Vol 33, No 2 (2022): December 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jdr.v33i2.20521

Abstract

Departing from previous studies, which found that colleges were one of the locus for sowing intolerant, extreme, and radical religious views, this article examines the strengthening of moderate religious beliefs at Islamic universities in Riau Province, Indonesia. By taking case studies at three universities, namely the State Islamic University of Sultan Syarif Kasim of Riau, State Islamic College of Bengkalis, and Hubbul Wathan Islamic College of Duri. This article finds that the strengthening of the notion of religious moderation at the Islamic tertiary level has been manifested in many policies such as outreach, involving lecturers in some training, including religious moderation material as one of the college entrance test criteria for new students, and making religious moderation the theme of Real Work Lectures for students. This finding shows that Islamic tertiary institutions are not passive towards exposure to intolerance and radicalism but instead take up resistance to many policies. At the same time, this becomes a new da'wah activity for tertiary institutions in Riau.