Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Determination and stability testing method of chlorpheniramine maleate in the presence of tartrazine using HPLC Asri Darmawati; Febri Annuryanti; Riesta Primaharinastiti; Isnaeni Isnaeni
Pharmaciana Vol 10, No 3 (2020): Pharmaciana
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.763 KB) | DOI: 10.12928/pharmaciana.v10i3.17409

Abstract

The single-component CPM tablet mostly used sodium tartrazine as the yellow coloring agent. Sodium tartrazine is soluble in solvents used to extract CPM from tablet and suspected interference CPM determination especially after forced degradation for stability indication testing of CPM tablets. This study aimed to develop a selective, accurate and precise method for determination and stability testing of chlorpheniramine maleate (CPM) in the presence of tartrazine in the tablet. A µBondapak® C18 column (3.9 x 300 mm, 10 µm) with diode array detector was used for separation. The mobile phase was a mixture of methanol and 0.2% triethylamine (90:10) with a flow rate of 2 mL/minutes. The validated HPLC method was used for CPM determination in tablet samples that had been forced degraded using dry heat at 105oC, UV radiation of 254 nm, hydrolysis with 1N NaOH, 1N HCl and oxidation using 5% H2O2. The HPLC chromatogram showed that CPM split into chlorpheniramine (CP) and maleic acid (MA). Resolution (Rs) among CP and the other analytes especially with the products resulting from the forced degradation by heat, UV radiation, HCl, and H2O2 were good. The CPM hydrolysis using NaOH caused the CP not completely separated from the degradation product due to tailing or overlapping peaks. The proposed HPLC method was valid for the determination of CPM in tablets containing tartrazine. Even though the stability-indicating method was inadequate especially for the result of the CPM hydrolysis process using NaOH. 
Pengaruh Suhu dan Jumlah Penyeduhan terhadap Kadar Kafein Terlarut dalam Produk Teh Hijau Kering dengan Metode KCKT Febri Annuryanti; Masruratos Zahroh; Djoko Agus Purwanto
JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Farmasi dan Ilmu Kefarmasian Indonesia
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.328 KB) | DOI: 10.20473/jfiki.v5i12018.30-35

Abstract

Pendahuluan: Teh adalah salah satu minuman yang paling banyak dikonsumsi di dunia dan memiliki khasiat bagi kesehatan. Selain memiliki manfaat, teh juga mengandung kafein yang dapat memberikan efek samping apabila dikonsumsi secara berlebihan. Efek samping yang ditimbulkan diantaranya insomnia, ansietas, takikardia dan napas yang cepat. Oleh karena itu, saat ini diinginkan teh dengan kandungan kafein yang rendah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efek suhu dan jumlah penyeduhan terhadap konsentrasi kafein yang terlarut dari sampel kering teh hijau. Metode: Pada studi ini digunakan tiga macam suhu (50°C, 70°C, 100°C) dan tiga kali pengulangan penyeduhan. Kafein terlarut dianalisa dengan menggunakan kondisi KCKT sebagai berikut: kolom C-18-μbondapak, fase gerak metanol : air : asam asetat 2% v/v (30:65:5) dengan laju alir 0,45 mL/menit. Deteksi dilakukan pada panjang gelombang 272 nm. Parameter validasi yang dilakukan meliputi selektifitas, linieritas, akurasi, presisi, LOD dan LOQ. Seluruh parameter validasi memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Hasil: Kadar kafein tertinggi diperoleh pada penyeduhan pertama pada suhu 100oC dan kadar kafein terendah ditemukan pada penyeduhan ketiga pada suhu yang sama. Kesimpulan: Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa suhu dan jumlah penyeduhan dapat mempengaruhi kadar kafein terlarut pada teh hijau.
Validated TLC-Contact Bioautography Method for Identification of Kanamycin Sulfate in Injection Preparation Susanti Susanti; Aprelita Nurelli Dwiana; Febri Annuryanti; Asri Darmawati; Isnaeni Isnaeni
JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 7 No. 1 (2020): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfiki.v7i12020.35-41

Abstract

Background: TLC-contact bioautography is one of an effective method for identification antibiotics, by which many antibiotics could be identification and determination simultaneously. Objective: To evaluate kanamycin sulfate in injection preparations based on its inhibitory activity against Escherichia coli ATCC 8739 as test organism. Methods: Sample and standard solutions were spotted onto TLC silica gel 60 F254 plate and developed in 10% potassium dihydrogen phosphate solutionas as mobile phase. The TLC-contact bioautography method was  validated according to USP guidelines by considering specificity, LOD, LOQ, linearity, accuracy and precision parameters. Results: The TLC-contact bioautography method was found to be high sensitivity with LOD of 0.75 µg and LOQ 2.31 µg. Linearity range of 100-350 µg/mL with r = 0.9993 and linear regression equation was y = 0.0019x + 0.0338. The recovery obtained from addition of blank samples by three different concentrations of kanamycin sulfate standard was 101.40% ¬+ 2.02%. The precision of the method was good with coefficient of variation 0.080%. The TLC-contact bioautography method was supported by determination of kanamycin sulfate potency ratio in the injection preparation and kanamycin sulfate standard using 3-3 design. Random block design obtained the potential for kanamycin sulfate in injection preparations compared to kanamycin sulfate standard was 100.6%.  Conclusion: The TLC-contact bioautography for kanamycin sulfate in injection preparations could be applied to the quality control analysis of the investigated drugs.
PENGEMBANGAN INDUSTRI KREATIF SIRUP JAMU SEHAT UNTUK PEMBERDAYAAN POSDAYA DI KABUPATEN SIDOARJO Djoko Agus Purwanto; Achmad Toto Poernomo; Febri Annuryanti
Jurnal Layanan Masyarakat (Journal of Public Services) Vol. 1 No. 1 (2017): Jurnal Layanan Masyarakat
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.574 KB) | DOI: 10.20473/jlm.v1i1.2017.1-5

Abstract

Indonesian people should be proud of its great natural biodiversity with precious ancestral heritages, such as Indonesian traditional medicine or Jamu. It has been intended to diversify the product of jamu that are affordable and healthy. Recently, it has been known that some luxury hotels in Indonesia creates jamu as a welcome drink, which is not only fresh but also healthful, to attract foreign customers. Empowering the community to be able making jamu syrups is importantly required for attracting many tourists to visit Indonesia. In this program, about 10 and 11 residents in the neighbourhood (RT) of 25 and 59, respectively, in Kebon Agung village, Sukodono district, Sidoarjo Regency were involved. They were trained for making jamu syrup made from lemongrass and mangosteen’s peel using health manufacturing process of traditional medicine i.e., without any chemical preserving, coloring, and taste masking agents, as well as hygienic packaging methods that can be long lasting, aesthetic appearing, and worth selling. The program consisted of training, mentoring, and lecturing to explain the making process of lemongrass and mangosteen peel syrups. The program was conducted until all participants were able to produce their own products well. The first production target was about each 200 bottles of lemongrass and mangosteen peel syrup could be sold. Bottle packaging, packaging equipment, and other supporting equipment will be delivered entirely as initial capital of POSDAYA. Hopefully, after the program is completed, the sustainability of this effort can be continued under the guidance of Universitas Airlangga. AbstrakBangsa Indonesia patut berbangga memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa ditambah dengan warisan nenek moyang yang berharga, salah satunya adalah jamu Saat ini, dirasakan perlu dilakukan diversifikasi pengembangan jamu sebagai minuman sehat sehingga tercipta jamu yang murah, terjangkau masyarakat, dan sehat. Ada kecenderungan beberapa hotel berbintang di Indonesia menciptakan jamu sebagai welcome drink untuk menarik pelanggan, yang tidak hanya segar tetapi juga menyehatkan. Pemberdayaan masyarakat untuk bisa membuat sirup minuman jamu yang sehat perlu lebih dikembangkan sehingga diharapkan dapat menarik wisatawan yang ingin berkunjung ke Indonesia. Dalam kegiatan ini telah dapat dilatih 10 orang warga RT 25 dan 11 orang warga RT 59 Desa Kebon Agung, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo dalam pembuatan sirup sereh dan sirup kulit buah manggis dengan cara yang sehat, yaitu tanpa pengawet, tanpa pewarna, dan tanpa penambah rasa, sekaligus cara pengemasannya yang higienis sehingga dapat bertahan lama, memenuhi persyaratan estetis, dan layak jual. Metode yang digunakan adalah pelatihan, pendampingan, serta ceramah untuk menjelaskan pembuatan sirup sereh dan sirup kulit buah manggis hingga peserta mampu memproduksi sendiri dengan baik dan benar. Produksi pertama ditargetkan dapat dibuat 200 botol sirup sereh dan 200 botol sirup kulit buah manggis yang layak untuk dijual. Pembelian botol, peralatan pengemasan botol, dan alat-alat pendukung lainnya akan diserahkan seluruhnya sebagai modal awal dari POSDAYA. Harapannya setelah program selesai, keberlanjutan usaha ini dapat terus dilakukan di bawah binaan Universitas Airlangga.
Determination of Quercetin in Soursop (Annona muricata Linn.) Leaves 10 ml Liquid Preparation Using UV-Spectroscopic Method Sudjarwo, Sudjarwo; Khatimah, Siti Husnul; Annuryanti, Febri
Berkala Ilmiah Kimia Farmasi Vol. 9 No. 2 (2022): December
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/bikfar.v9i2.42688

Abstract

Quercetin was a flavonoid compound that was found in Annona muricata L. leaves. The UV Spectrophotometric method was used to determine quercetin from Annona muricata in liquid. The degradation was determined by selectivity, linearity, accuracy, precision, LOD, and LOQ. Selectivity showed that spectra had maximum absorbance at λ 374 nm. Good linearity was shown by y = 0,07368x - 0,01937 (r = 0,9984; p<0,05). The precision of standard quercetin in a concentration of 6,4 ppm showed a relative standard deviation (RSD) of 0,19%. LOD and LOQ of standard quercetin were 0,0240 µg/ml and 0,0801 µg/ml, and the accuracy was 91,867±7,59%. Determination of quercetin in Annona muricata leaf extract showed a concentration of 12,62±3,29% and (263,96 ± 6,69) mg in 10 ml liquid.Keywords: Quercetin, Annona Muricata L, UV Spectrophotometry, Method of Validation
Pengaruh pH Basa terhadap Stabilitas Salisilamid Prasetyo, Wisnu; Isadiartuti, Dewi; Annuryanti, Febri; ambarwati, nadya
FARMASIS: Jurnal Sains Farmasi Vol 4 No 2 (2023): Vol. 4 No 2 (2023): Farmasis: Jurnal Sains Farmasi
Publisher : Universitas PGRI Adi Buana, Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36456/farmasis.v4i2.7139

Abstract

Salisilamida adalah analgesik turunan salisilat dengan pembentukan ikatan amida antara gugus karboksil asam salisilat dan gugus amina. Salisilamida mempunyai masa kerja yang cepat, memiliki kalarutan yang tinggi dan toksisitas lebih rendah. Salisilamida bersifat asam lemah dengan pK 8,2. Hal ini dikarenakan salisilamida memiliki jumlah molekul terion lebih banyak, dengan banyaknya molekul yang terion membuat salisilamida mudah terhidrolisis dan menjadi tidak stabil, sehingga dilakukan uji stabilitas salisilamida untuk mengetahui pengaruh pH terhadap stabilitas salisilamida. Dengan adanya penelitian ini dapat membantu proses pengembangan obat dan formulasi sediaan salisilamida. Sebelum dilakukan pengujian, diperlukan validasi metode dari analisis yang digunakan yaitu KLT – Densitometri. Validasi yang dilakukan uji spesifisitas, uji linieritas, uji akurasi, dan uji presisi. Hasil validasi uji spesifisitas Rs sebesar 12, uji linieritas r  sebesar 0,9990, uji akurasi  persen perolehan kembali sebesar 98,7 kurang lebih 2,5 dan uji presisi dengan KV rata – rata sebesar 0,32 persen, sehingga dikatakan metode ini dapat digunakan untuk uji stabilitas salisilamida. Uji stabilitas dilakukan dengan melarutkan salisilamida dalam dapar pH basa (7,0; 8,0; 9,0; 10,0; dan 11,0) dengan konsentrasi 0,02 M dan kekuatan ion 0,2 dan diletakkan pada waterbath shaker suhu 40 derajat Celcius. Masing-masing sampel diteliti kadarnya pada 0, 1, 2, 4, dan 6 jam. Sampel diamati dengan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)-Densitometri. Pengamatan KLT – Densitometri dilakukan pada panjang gelombang 304 nm. Uji stabilitas yang diamati yaitu penetapan kadar salisilamida pada berbagai pH basa, penentuan orde reaksi, dan tetapan laju reaksi (k). Dari hasil penelitian didapatkan degradasi salisilamida dalam dapar pH basa mengikuti orde satu. Kemudian salisilamida dalam berbagai pH basa didapatkan nilai tetapan laju reaksi berturut – turut sebesar 2,30.10-2 kurang lebih 1,22.10-2; 3,73.10-2 kurang lebih 1,89.10-2; 2,06.10-2 kurang lebih 0,54.10-2; 3,64.10-2 kurang lebih 0,39.10-2; dan 1,40.10-2 kurang lebih 0,28.10-2 jam-1. Dari hasil analisis statistik ANOVA one way dan Tukey HSD dengan taraf signifikansi sebesar 0,05, diketahui bahwa pada masing – masing pH ditemukan adanya perbedaan bermakna nilai laju reaksi pada pH 8 dan pH 10 dan pada pH 11 nilai laju reaksi paling rendah dibandingkan lainnya. Rendahnya laju reaksi disebabkan efek resonansi dan resistensi serangan nukleofilik oleh ion hidroksida pada pH basa sehingga salisilamida menjadi stabil.