Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Local Wisdom Tradisi Bodo Contong sebagai Guyub Rukun Masyarakat Desa Rahtawu Linda Nurul Amaliyah; Faikhotur Rohmah; Muhammad Aziza; Yusuf Falaq
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 1 No. 3 (2024): Februari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v1i3.504

Abstract

Abstract There are many types of culture and traditions that develop on the island of Java, such as the one in Rahtawu Village, namely the Bodo Contong tradition. The Bodo Contong tradition is an activity carried out on the 15th of Nishfu Sya'ban in the Javanese calendar. This article aims to find out the local wisdom of the Bodo Contong tradition in Rahtawu Village, how values are actualized in society when implementing the Bodo Contong tradition. This research uses a qualitative descriptive approach with interview and documentation methods carried out on the Rahtawu village community. The results show that in the Bodo Contong tradition there is an actualization of the harmony of Rahtawu Village residents which is actualized through several local wisdom values such as religious values, philosophical values and social values. Key words: actualization; get along in harmony; Bodo Contong tradition. Abstrak Budaya dan tradisi yang berkembang di pulau jawa sangat banyak jenisnya, seperti yang ada di Desa Rahtawu yaitu tradisi Bodo Contong. Tradisi Bodo Contong merupakan kegiatan yang dilaksanakan tanggal 15 nishfu sya’ban dalam hitungan kalender Jawa. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui kearifan lokal tradisi Bodo Contong di Desa Rahtawu, bagaimana aktualisasi nilai dalam masyarakat saat pelaksanaan tradisi Bodo Contong. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode wawancara dan dokumentasi yang dilakukan pada masyarakat desa Rahtawu. Hasil menunjukkan bahwa dalam tradisi Bodo Contong terdapat aktualisasi guyub rukun warga Desa Rahtawu yang diaktualisasikan melalui beberapa nilai kearifan lokal seperti, nilai religius, nilai filosofis, dan nilai sosial.  
Educational Benefits of Cu An Kiong Lasem Temple in Social Science Learning Alifatur Rizqi Nur Awwaliyah; Yusuf Falaq
JURNAL PENDIDIKAN IPS Vol 13 No 2 (2023): JURNAL PENDIDIKAN IPS
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpi.v13i2.1217

Abstract

Cu An Kiong Lasem Temple is one of the oldest temples in Lasem, located around the Babagan river. This sincerity has a continuous history of Chinese civilization which until now can still be found some ancient relics of former glory. This aim of article is to analyze the educational benefits of Cu An Kiong Temple in Lasem as an educational resource within the context of Social Studies at SMA N 1 Lasem. Cu An Kiong Temple is likely a significant historical and cultural site that plays a vital role in the study of this subject. This article will explore how Cu An Kiong Temple contributes to students' understanding of Chinese history, culture, and traditions, with a focus on the local context of Lasem. The article will also discuss approaches and teaching strategies that teachers can employ to integrate Cu An Kiong Temple into the Social Studies curriculum. This may involve field trips, research projects, or experiential learning methods to engage students and enhance their comprehension of the subject matter. Supported by research or case studies, this article will emphasize that Cu An Kiong Temple is not merely a tourist attraction or historical site but also an effective tool to enrich students' learning experiences in Social Studies and promote a better understanding of Chinese culture and history in the local environment.
The Aesthetics of Wayang Klithik as A Study Of Local Cultural Wisdom in Wonosoco Village, Kudus Regency Anisa Ussolihah; Yusuf Falaq
JURNAL PENDIDIKAN IPS Vol 13 No 2 (2023): JURNAL PENDIDIKAN IPS
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpi.v13i2.1346

Abstract

The purpose of this study was to determine the aesthetic values of Wayang Klithik in Wonosoco Village, Kudus Regency. In this study, researchers used a qualitative descriptive method. Data collection techniques were carried out by conducting field studies in the Wonosoco Village, Kudus Regency. The data obtained were then analyzed descriptively. The results of the study show that the figures and characters played in the Wayang Klithik show have important values in life, as well as the elements and principles of wayang Klithik art which are the aesthetic value of Wayang Klithik itself. Wayang Klithik has essential and important values in supporting public knowledge and as an effort to preserve the art of Wayang Klithik. The aesthetic values contained in wayang klithik also have evil and good values, which can be used to be applied in everyday life or in society. As well as efforts to actualize the elements and principles in the art of Wayang Klithik can be used as material for development in increasing harmony. As well as being able to solve environmental problems and be able to develop various natural potentials in the environment.
TRADISI PELESTARIAN TRADISI BARATAN KALINYAMATAN JEPARA PASCA PANDEMI Siti Fatimah; Miftahulia Latifah; Farikhah Bella Sejati; Yusuf Falaq
Jurnal Intervensi Sosial Vol. 2 No. 2 (2023): Budaya Dan Perubahan Sosial
Publisher : Talenta usu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/intervensisosial.v2i2.14595

Abstract

ABSTRAK Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan pelestarian tradisi baratan Kalinyamatan Jepara pasca pandemi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang disajikan secara deskriptif dengan menggambarkan peristiwa yang terjadi. Tradisi ini bersifat religius serta memegang teguh ajaran Islam dan menghormati tradisi kebudayaan lokal. Bentuk tradisi Baratan meliputi arak-arakan sesaji, pembacaan tahlil, dan do’a bersama. Makna tradisi Baratan adalah sebagai bentuk penyucian diri menyambut bulan suci Ramadhan, penghormatan terhadap Sultan Hadlirin, dan permohonan keselamatan kepada Allah SWT. Adanya Pandemi menyebabkan tradisi baratan sempat berhenti , karena dikhawatirkan dapat menyebar luas, dan tradisi baratan mulai dilestarikan pasca pandemi di desa sendang dan kriyan Kalinyamtan Jepara. Fungsi tradisi Baratan adalah sebagai sarana silaturahmi, pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata. Kata kunci: Tradisi; Baratan; Pandemi;
MENGGALI KEARIFAN LOKAL DAN TOLERANSI UMAT BERAGAMA DUKUH PATIHAN TANJUNGREJO JEKULO KUDUS Miftahulia Latifah; Yusuf Falaq
SOCIETY Vol. 15 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/society.v15i2.11741

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap upaya masyarakat Dukuh Patihan, Tanjungrejo, Jekulo, Kudus dalam menjaga kerukunan umat beragama serta menggali peran kearifan lokal dalam membentuk toleransi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Dukuh Patihan telah berhasil menciptakan lingkungan yang harmonis dan toleran. Berbagai upaya telah dilakukan, seperti penerapan sikap disiplin, komunikasi yang baik, dan saling mendengarkan. Kearifan lokal yang terwujud dalam tradisi-tradisi seperti Maulid, Bari’an, perayaan Lebaran, dan upacara pemakaman telah menjadi perekat sosial dan memperkuat nilai-nilai toleransi. Simpulan dari penelitian ini adalah kearifan lokal memiliki peran yang sangat signifikan dalam membentuk toleransi umat beragama di Dukuh Patihan. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi dalam pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya kearifan lokal dalam membangun kerukunan umat beragama.Kata kunci: kearifan lokal, toleransi, umat beragama, Dukuh Patihan.
AKULTURASI BUDAYA HINDU DAN ISLAM DALAM HIASAN ORNAMEN MASJID ASTANA SULTAN HADLIRIN (MANTINGAN, JEPARA) Muhammad Ilham Ainun Nijam; Yusuf Falaq
SOCIETY Vol. 15 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/society.v15i2.12058

Abstract

Masjid Mantingan atau juga sering di kenal sebagai Masjid Astana Sultan Hadlirin yang terletak di Desa Mantingan, Kabupaten Jepara. Didirikan pada tahun 1559, masjid ini dikenal sebagai pusat penyebaran Islam di pesisir utara Jawa. Berbeda dengan masjid yang lainnya, Masjid Astana Sultan Hadlirin sendiri menyimpan banyak Sejarah dan memiliki arsitektur yang mencerminkan akulturasi budaya Hindu Budha, Jawa (Islam) dan Tionghoa yang dapat dilihat dari arsitekturnya yang berbentuk atap tumpang dan banyak ukiran-ukiran yang berada pada dinding masjid. Selain sebagai tempat ibadah, kompleks masjid ini juga berfungsi sebagai makam Sultan Hadlirin, suami Ratu Kalinyamat sendiri, yang menjadikannya sangat penting dalam Sejarah dan budaya local.Kata kunci: Masjid Mantingan, Akulturasi Budaya, Sejarah.
PERSEPEKTIF MASYARAKAT, TERHADAP NILAI KARAKTER RELIGIUS TRADISI NGEMBLOK (STUDI KASUS DESA MENORO KABUPATEN REMBANG) Dina Afifah; Yusuf Falaq
Jurnal PIPSI (Jurnal Pendidikan IPS Indonesia) Vol 8, No 3 (2023): VOLUME 8 NUMBER 3 SEPTEMBER 2023
Publisher : STKIP Singkawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26737/jpipsi.v8i3.4817

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai karakter Religius tradisi Ngemblok, studi kasus desa menoro Kabupaten Rembang. Penelitian yang dilakukan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif Pendalaman empiris, teknik yang di gunakan untuk pengumpulan data instrument di dapatkan dalam proses wawancara, data lapangan, dokumentasi pribadi gambar, foto, Teknik Analisis data penelitian kualitatif yang di gunakan reduksi data dan verifikasi atau penyajian dan simpulan data.  pengumpulan data dan di olah keabsahaanya di bagi menjadi tiga triagulasi teknik, triagulasi waktu dan triagulasi sumber. Hasil penelitian adalah Nilai karakter Religius tradisi ngemblok pertama Bersyukur hanya kepada Allah yang di dalamnya masyarakat ber Do’a hanya kepada Allah. Kedua, cinta damai apabila ada yang dapat ngemblok seserahan di bagikan tetangga dan kerabat terdekat sehingga menjalin silaturahmi dan kerukunan. Ketiga, bentuk harapan dan keinginan terhindar dari perbuatan zina. Keempat bentuk upaya melestarikan leluhur penuh arti yang di dalamnya banyak nilai kearifan lokal. Kelima bentuk ucapan suka cita keluarga mempelai perempuan bisa menikahkan anaknya dengan proses dalam islam.