Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Biospecies

Analisa Risiko Kesehatan Cemaran Krom dalam Beras di Kecamatan Jetis, Yogyakarta: Health Risk Analysis of Chromium Contamination in Rice in Jetis District, Yogyakarta Sinaga, Wulan Sari; Rahardjo, Djoko; Krismono, Krismono
Biospecies Vol. 16 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/biospecies.v16i2.20205

Abstract

The distribution of chromium originating from industrial waste disposal activities into the Opak River can pollute the flow of rice irrigation water which has an impact on food safety, especially rice. This study aims to determine the concentration of hexavalent chromium, the daily intake rate of age groups, and the effect of chromium on health risks. This research was conducted in Jetis District, Bantul, Yogyakarta with 3 sub-district locations: Canden Village, Trimulyo Village, and Sumber Agung Village. The research samples used were 60 rice samples from their own harvest using irrigation water from the Opak River using a random sampling method. Analysis of hexavalent chromium in rice was carried out with a preparation of 15 grams and analyzed using a HACH DR 2700 Spectrophotometer. The results showed that 100% of rice samples in Jetis District were contaminated with hexavalent chromium. The chromium concentration in the 3 villages ranged from 0.054-0.604 mg/kg with the highest mean value of 0.224 mg/kg found in Canden village. The pattern of chromium intake from rice consumption in 3 sub-districts ranged from 0-1909 µg/day with a mean value of 971 µg/day. The average value of chromium intake patterns in 3 sub-districts is far beyond the safe limit set by WHO of 320 µg/day. From the health risk calculations, the Risk Quotient values obtained for the subdistricts of Canden, Trimulyo, and Sumber Agung villages were respectively 3.00, 2.00, and 2.00. The RQ value in 3 sub-districts is above the safe limit set by WHO at RQ > 1. Based on the calculation of the risk of cancer, seen from the ECR value, the results obtained range from 1.E-01 – 2.E-01, this ECR value is far beyond the set safe limit. by WHO is 10-4. Chromium concentration, daily intake rate, consumption patterns, and characteristics of respondents influence health risks. Keywords: Hexavalent Chromium, Rice, Health Risk Analysis   Abstrak Distribusi kromium yang bersumber dari aktivitas pembuangan limbah industri ke Sungai Opak dapat mencemari aliran air irigasi persawahan yang berdampak pada keamanan pangan terutama beras. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi kromium heksavalen, laju asupan harian dari kelompok umur, dan pengaruh kromium terhadap risiko kesehatan. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Jetis, Bantul, Yogyakarta dengan 3 lokasi kelurahan yaitu Desa Canden, Desa Trimulyo dan Desa Sumberagung. Sampel penelitian yang digunakan adalah beras sebanyak 60 sampel yang berasal dari hasil panen sendiri yang memanfaatkan air irigasi sungai Opak dengan metode random sampling. Analisis kromium heksavalen pada beras dilakukan dengan preparasi sebanyak 15 gram dan dianalisis menggunakan alat Spektrofotometer HACH DR 2700. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 100% sampel beras di Kecamatan Jetis telah terkontaminasi kromium heksavalen. Konsentrasi kromium pada 3 desa berkisar sebesar 0,054-0,604 mg/kg dengan nilai rerata tertinggi sebesar 0,224 mg/kg terdapat di desa Canden. Pola asupan kromium dari konsumsi beras pada 3 kelurahan berkisar 0-1909 µg/hari dengan nilai rerata sebesar 971 µg/hari. Nilai rerata pola asupan kromium di 3 kelurahan jauh melewati batas aman yang ditetapkan oleh WHO sebesar 320 µg/hari. Dari perhitungan risiko kesehatan, diperoleh hasil nilai Risk Quotient untuk kelurahan desa Canden, Trimulyo, Sumberagung secara berurutan sebesar 3,00, 2,00, 2,00. Nilai RQ pada 3 kelurahan diatas batas aman yang ditetapkan oleh WHO sebesar RQ > 1. Berdasarkan perhitungan risiko terjadinya kanker, dilihat dari nilai ECR diperoleh hasil berkisar1,E-01 – 2,E-01, nilai ECR ini jauh melewati batas aman yang ditetapkan oleh WHO sebesar 10-4. Konsentrasi kromium, laju asupan harian, pola konsumsi, karakteristik responden berpengaruh terhadap risiko kesehatan. Kata kunci: Kromium Heksavalen, Beras, Analisa Risiko Kesehatan
Analisa Resiko Kesehatan Cemaran Kromium (Cr) pada Beras di Kecamatan Banguntapan, Yogyakarta: Health Risk Analysis of Chromium (Cr) Contamination in Rice in Banguntapan District, Yogyakarta Sembiring, Tesalonika br; Rahardjo, Djoko; Krismono, Krismono
Biospecies Vol. 16 No. 1 (2023): Januari 2023
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/biospecies.v16i1.20206

Abstract

The leather tanning process using chromium has the potential to cause environmental and health risks. Chromium that is not absorbed by the product will become liquid waste and is simply discharged into water bodies, causing a decrease in water quality, accumulation in soil and rice plants. Rice is the staple food of the Indonesian people and is a source of energy that is needed by the community Rice that has accumulated chromium can be a risk to human health. The purpose of this study is to determine the concentration of hexavalent chromium contained in rice, determine the intake rate based on age group, determine the effect of hexavalent chromium on health risk analysis. The location of this research was in the village of jambidan pedukuhan Combongan, Pamotan, Ponegaran, Kretek Banguntapan sub-district. Hexavalent chromium analysis test on 15 grams of rice samples using HACH DR 2700 Spectrophotometer. Hexavalent chromium in rice samples 0 - 0.901 mg/kg with a mean value of 0.266 mg/kg. The daily chromium intake rate of the community ranged from 0 - 4250 μg / day with an average of 919 μg / day exceeding the quality standard set by WHO of 0.023 μg / day. Health risk analysis of the risk level is unsafe because the RQ value> 1 or the average Non Carcinogen Intake of each Pedukuhan (1.56 mg/kg.day). Carcinogenic Intake in each Pedukuhan The risk level is unsafe because the average intake (6.67E-01) times SF (0.5) ERC value> E-4 exceeds the safe limit set by WHO (E-4). Hexavalent chromium concentration factor is significant with age body weight and length of stay of respondents. Keywods: Hexavalent Chromium, Rice, Health Risk Analysis.   Abstrak Proses penyamakan kulit menggunakan kromium berpotensi menyebabkan risiko lingkungan dan kesehatan, Kromium yang tidak diserap oleh produk akan menjadi limbah cair dan dibuang begitu saja ke badan air sehingga menyebabkan penurunan kualitas air, terjadinya akumulasi pada tanah dan tanaman padi. Beras merukan makan pokok masyarakat Indonesia dan merupakan sumber energi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Beras yang sudahterakumulasi kromium dapat menjadi risiko Kesehatan manusia. Tujuan dari penelitian ini dapat mengetahui konsentrasi kromium heksavalen yang terdapat pada beras, mengetahui laju asupan berdasarkan kelompok umur,mengetahui efek kromium heksavalen terhadap Analisis risiko Kesehatan. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di desa jambidan pedukuhan Combongan, Pamotan, Ponegaran, Kretek kecamatan Banguntapan. Uji analisis kromium heksavalen pada 15 gram sampel beras menggunakan Spektrofotometer HACH DR 2700. Kromium heksavalen pada sampel beras 0 – 0.901 mg/kg dengan nilai rerata 0.266 mg/kg. Laju asupan kromium harian masyarakat berkisar antara 0 – 4250 μg/hari dengan rerata 919 μg/hari melebihi standar baku mutu yang telah ditetapkan WHO sebesar 0.023 μg/hari. Analisa risiko Kesehatan tingkat resikonya sudah tidak aman dikarenakan nilai RQ > 1 atau rerata Intake Non Karsinogen setiap Pedukuhan(1.56 mg/kg.hari). Intake karsinogenik pada setiap Pedukuhan Tingkat risikonya tidak aman dikarenakan Rerata intake (6.67E-01) di kali SF (0.5) nilai ERC > E-4 melewati batas aman yang sudah di tetapkan WHO (E-4). Faktor konsentrasi kromium heksavalen signifikan dengan umur berat badan dan lama tinggal responden. Kata Kunci: Kromium Heksavalen, Beras, Analisa Resiko Kesehatan.