Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

KONSTRUKSI SOSIAL AJARAN NYELENEH PADA MASYARAKAT SAMIN DI DUSUN JEPANG KECAMATAN MARGOMULYO KABUPATEN BOJONEGORO JAWA TIMUR -, Annisa; Kebayantini, Ni Luh Nyoman; Krisna Aditya, I Gst.Ngr. Agung
JURNAL ILMIAH SOSIOLOGI: SOROT Vol 1 No 01 (2021): JISSOROT
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Samin community is a society that adheres to the teachings of Saminism which was initiated by Samin Surosentiko. The Samin community has teachings that are considered odd by outsiders. This study aims to explain social construction and changes in teachings that are considered eccentric in the Samin community in the Jepang Hamlet, Margomulyo District, Bojonegoro Regency. The theoretical basis used in this research is Peter L. Berger's theory of social construction. the eccentric teachings of the Samin community are the result of Samin Surosentiko's externalization to fight against the invaders The construction of eccentric teachings on the Samin community in the Jepang Hamlet of has not been legitimized since knowing the independence of Indonesia in 1965.The teachings of Samin that are still carried out by the Samin community in the Jepang Hamlet are the teachings of kebatinan/morality. Keywords: eccentric teachings, social construction, changes in the Samin community.
PENDIDIKAN MULTIKULTURAL PADA SEKOLAH BERBASIS AGAMA HINDU (STUDI KASUS DI SMA DWIJENDRA DENPASAR) Marenita Putri, Ida Ayu Putu Eka; Punia, I Nengah; Krisna Aditya, I Gusti Ngurah Agung
JURNAL ILMIAH SOSIOLOGI: SOROT Vol 1 No 02 (2021): JISSOROT
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Multicultural Education is a term that refers to the education of diversity. In Indonesia the implementation of multicultural education experienced several challenges, one of which occurred in schools affiliated with certain groups. SMA Dwijendra Denpasar is one example of a school based on Hinduism. this research used a qualitative approach with a type of descriptive-explanatory research taken through observation, interview, and document. The purpose of this research was to describe implementation of multicultural education in school based on Hinduism. Researcher found SMA Dwijendra Denpasar as school based on Hinduism can carry out the multicultural eduaction in their learning. Researcher also found during the implementation, SMA Dwijendra Denpasar faced some obstacle, but to overcome these obstacles, efforts are also made. Keywords: multicultural education, diversity, hinduism
THRIFT SHOPPING SEBAGAI ALTERNATIF KONSUMSI FASHION MAHASISWI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS UDAYANA Suarningsih, Ni Kadek; Nugroho, Wahyu Budi; Krisna Aditya, I Gusti Ngurah Agung
JURNAL ILMIAH SOSIOLOGI: SOROT Vol 1 No 02 (2021): JISSOROT
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Thrift shopping is an activity that is now increasingly popular as a substitute or alternative in fashion consumption the existence of thrift shops that are increasingly spreading and the number of parties especially celebrities, are increasingly introducing this activity, causing thrift shopping to be increasingly popular, especially among teenagers, namely female students. A qualitative approach, descriptive explanatory type with James S. Coleman’s rational choice theory and Pierre Felix Bourdieu’s habitus theory were used to analyze this activity. Alternative consumption of fashion thrift according to the student of the Faculty of Social and Political Sciences Udayana University as an informant is the most rational action taken. This is in accordance with the objectives that have been set. Using a little capital but the maximum success of the action is a form of rationality of action for the informants. Keywords: Student, Thrift Shopping, Alternative Fashion Consumption
PIHAK YANG BERWENANG MENGAJUKAN PERMOHONAN PERNYATAAN PAILIT TERHADAP DEBITUR DALAM KREDIT SINDIKASI I Gusti Ngurah Krisna Aditya Putra; I Nyoman Darmadha
Kertha Semaya : Journal Ilmu Hukum Vol 5 No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.968 KB)

Abstract

Pengaturan pihak yang dapat mengajukan permohonan pailit telah diatur dalam Pasal 2 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 ( UU Kepailitan dan PKPU). Pengaturan terhadap pihak yang dapat menjadi pemohon pailit masih menimbulkan problematika dalam pelaksanaannya. Hal ini terjadi pada proses kepailitan terhadap debitur dalam kredit sindikasi yang masih menimbulkan ketidakpastian dalam pelaksanaannya oleh karena dalam UU Kepailitan dan PKPU belum mengatur secara khusus melainkan hanya berupa penjelasannya saja, sehingga penting untuk diangkat permasalahan perihal pihak yang berwenang mengajukan permohonan pailit terhadap debitur dalam kredit sindikasi. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian yuridis normatif dengan meneliti bahan-bahan kepustakaan yakni Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer) dan Undang-Undang No. 37 Tahun 2004. UU Kepailitan dan PKPU secara definitif telah menentukan pihak-pihak yang dapat menjadi pemohon pailit, namun untuk pemohon pernyataan pailit dalam kredit sindikasi masih memunculkan dualisme yang timbul akibat karakteristik khas yang dimiliki kredit sindikasi yaitu terdapat agen yang bertindak sebagai kuasa dari peserta sindikasi untuk mewakili kepentingannya. Pada prinsipinya perjanjian kredit sindikasi hanya terdapat satu kreditur yaitu sindikasi kredit yang diwakili oleh agen, dan dikarenakan agen mewakili kepentingan-kepentingan dari peserta sindikasi, maka agen mempunyai kewenangan yang kuat untuk melakukan tindakan hukum termasuk mengajukan permohonan pernyataan pailit, dengan persetujuan dari kreditur mayoritas. Kata Kunci : Kredit Sindikasi, Pailit, Agen Fasilitas, Peserta Sindikasi
PERGUB BALI NOMOR 97 TAHUN 2018 DALAM PARADIGMA ETIKA EKOSENTRISME I G N AGUNG KRISNA ADITYA
Jurnal Ilmiah Widya Sosiopolitika Vol 1 No 2 (2019): ISU SOSIAL DAN POLITIK KONTEMPORER
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JIWSP.2019.v01.i02.p05

Abstract

ABSTRAK Pembatasan penggunaan plastik sekali pakai melalui Peraturan Gubernur Bali nomor 97 tahun 2018 dijelaskan melalui etika ekosentrisme bertujuan untuk menganalisis aspek normatif, kebijakan dan gaya hidup yang bersahabat dengan ekologi. Metode analisis wacana kritis digunakan untuk memperoleh kognisi sosial sebagai penghubung struktur meso antara teks dengan konteks. Cerminan paradigma ekosentrisme diwujudkan dalam Pasal 2 mengenai pedoman Pemerintah dalam merumuskan kebijakan teknis. Platform aksi filosofi ekosofi Arne Naess dijelaskan dalam 8 platform yang relevan dengan pasal di dalam Pergub nomor 98 Tahun 2018. Konteks normatif Peraturan Gubernur mengkonstruksikan kesadaran dan praktek kolektif publik yang bertujuan untuk menghormati nilai ekologis. Kata Kunci: Peraturan Gubernur, plastik sekali pakai, ekosentrisme
Difusi Inovasi Metode Pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard oleh Bank BPD Bali I Gst. Ngr. Agung Krisna Aditya
Jurnal Multidisiplin Madani Vol. 2 No. 7 (2022): July 2022
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/mudima.v2i7.809

Abstract

Efforts to diffuse the innovation of the quick response Indonesian standard (QRIS) payment method by Bank BPD Bali as one of the BUMD Banks in Bali Province. The Diffusion Theory of Innovation from Everett M. Rogers provides a novelty of theoretical analysis, especially the Sociology of Communication. The research was conducted using structured interviews, non-participatory documentation and documentation. Research conducted from November 2021 to July 2022 resulted in the findings of the QRIS innovation diffusion process adjusting to customer acceptance, characteristics of merchants and the heterogeneous community in Bali Province. The process of diffusion of innovation starts from the needs, experience and knowledge considering the advantages and disadvantages in determining decisions. The decision to choose or not to use QRIS is determined by the confirmation of the decision considerations. The differences in QRIS adopters are divided into innovators, early adopters, early majority, late majority and laggards.
FENOMENA NGELAGA PADA MASYARAKAT DESA ADAT PESABAN, KECAMATAN RENDANG, KABUPATEN KARANGASEM Juliarsana, I Gede Ari; Kamajaya, Gede; Krisna Aditya, I Gusti Ngurah Agung; Pramestisari, Nyoman Ayu Sukma
JURNAL ILMIAH SOSIOLOGI: SOROT Vol 3 No 2 (2023): JISSOROT
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bali merupakan salah satu daerah yang terkenal dengan kekayaan tradisi yang dimiliki. Salah satu tradisi yang ada di masyarakat Bali yaitu tradisi ngayah. Namun seiring berjalannya waktu tradisi ngayah mulai mengalami pergeseran akibat perubahan mata pencaharian dari sektor agraris ke industri terutama industri pariwisata. Melalui perubahan ini, banyak masyarakat desa di Bali yang merantau ke pusat industri dan pariwisata yakni Denpasar dan Badung yang tentu mengakibatkan mereka terikat dengan jam kerja. Masyarakat yang merantau ini kemudian menghadapi persoalan yaitu membagi waktu antar pekerjaan dengan kewajiban mereka untuk ngayah piodalan di desa. Salah satu desa yang menghadapi persoalan ini yaktu Desa Adat Pesaban yang kemudian menerapakan kebijakan meli ayahan ini yang dikenal dengan istilah ngelaga. Namun pada perjalannya munculnya fenomena ngelaga ini pada akhirnya menilbulkan pro kontra di Tengah krama Desa Adat Pesaban. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif eksplanatif. Teori cultural lag William F. Ogburn digunakan sebagai pisau bedah untuk menganlisis terkait adanya pro dan kontra terhadap penerapan ngelaga di Desa Adat Pesaban. Bentuk pro krama yakni taat membayar iuran serta melungkan waktu ngayah fisik di waktu senggang sedangkan bentuk kontranya yaitu adanya pakrimik dan medaya. Munculnya pro kontra ini akibat kesenjangan penerimaan difusi kebudayaan antara generasi muda dan generasi tua. Disimpulkan bahwa ngelaga ini menjadi solusi bagi krama yang merantau yang menghadapi persoalan waktu. Disarankan agar pemerintah untuk mencari formulasi yang tepat untuk menghadapi persoalan ini di masa yang akan datang. Kata Kunci : Ngelaga, Desa Adat Pesaban, Piodalan, Krama, Cultural Lag
PERILAKU ADAPTIF MASYARAKAT PASCA KEDATANGAN SYSTEMIQ: ORGANISASI PENGELOLA SAMPAH DI DESA TEMBOKREJO KOTA BANYUWANGI Wulandari, Retno Asti; Zuryani, Nazrina; Krisna Aditya, I Gusti Ngurah Agung
JURNAL ILMIAH SOSIOLOGI: SOROT Vol 3 No 2 (2023): JISSOROT
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berfokus pada kajian Perilaku Adaptif Masyarakat Pasca Kedatangan Systemiq: Organisasi Pengelola Sampah Di Desa Tembokrejo Kota Banyuwangi. Memaparkan dan menganalisis perilaku masyarakat sebelum kedatangan Systemiq, bentuk perilaku adaptif masyarakat, dan faktor perilaku adaptif masyarakat pasca kedatangan Systemiq. Metode yang digunakan adalah kualitatif jenis deskripsi eksplanatif. Teori yang digunakan adalah teori perilaku dari Burrhus Frederic Skinner dan ekologi manusia Robert E Park. Sebelum kedatangan Systemiq akhir tahun 2018, masyarakat Tembokrejo memiliki kebiasaan menyampah yang disebabkan oleh kurangnya kesadaran, rendahnya pengetahuan, tidak adanya aturan, serta tidak adanya fasilitas yang memadai. Program yang dilakukan Systemiq yaitu sosialisasi ke desa dan masyarakat, pendampingan TPST, serta pendanaan. Pasca kedatangan Systemiq bentuk perilaku adaptif masyarakat yakni tidak membuang sampah sembarangan, mau memilah sampah, dan terjadinya perubahan pola pikir. Perilaku adaptif masyarakat pasca kedatangan Systemiq disebabkan adanya ketetapan yang berlaku, reward ekonomi dan psikologi, ancaman, tidak mendapatkan pelayanan. Ekologi manusia melihat bentuk perilaku adaptif masyarakat berupa perubahan pola pikir karena terjadinya transfer ilmu melalui pertukaran energi. Faktor perilaku adaptif terjadi akibat adanya modal sosial dan fisik sebagai kontrol sosial yang terbentuk akibat kerusakan ekologi. Bagi pihak pemerintahan desa maupun pihak TPST, agar tidak tebang, pilih dalam menerapkan hukuman untuk mempertahankan perilaku adaptif masyarakat. Masyarakat desa Tembokrejo hendaknya lebih meningkatkan rasa peduli lingkungan. Kata kunci: perilaku adaptif, Punishment, reinforcement, sampah
PERILAKU KONSUMTIF DAN GAYA HIDUP PENGGEMAR SEPEDA FIXED GEAR DI KOTA DENPASAR Syukur, M.; Sastri Mahadewi, Ni Made Anggita; Agung Krisna Aditya, I Gusti Ngurah
JURNAL ILMIAH SOSIOLOGI: SOROT Vol 4 No 1 (2024): JISSOROT
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A consumption society is a group that is constantly engaged in consumption activities. However, consumption in this context has evolved from simply fulfilling basic human needs to a lifestyle. According to Baudrillard, the consumption pattern of postmodern society is characterized by a shift in orientation from life needs to lifestyle expressions. This study aims to analyze the consumptive behavior and lifestyle of fixed gear bicycle enthusiasts in Denpasar City using an explanatory descriptive qualitative approach and Jean P. Baudrillard's theory of consumption society. The results showed that fixed gear bikes are not only a means of transportation, but also a symbol of identity expression and lifestyle. The consumption of symbols gives birth to a society of spectacle where symbolic exchange creates social distance and differentiates individuals within the community. Preferences for bicycles, brands, styles, and associated values shape identities and groups within the community.