Rusmali Rusmali
Jurusan Kesehatan Gigi, Poltekkes Kemenkes Pontianak, Indonesia.

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Indek’s DMF-T dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri Berdasarkan Status Gizi Rusmali Rusmali
Dental Therapist Journal Vol. 1 No. 2 (2019): Dental Therapist Journal
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.461 KB) | DOI: 10.31965/dtj.v1i2.451

Abstract

Abstract: DMF-T index with the incidence of anemia in adolescent girls based on nutritional status. The DMF-T index in Indonesia based on the results of 2013 basic health research nationally reached 4.6 which means that everyone has dental and oral health cases such as cavities, missing teeth removed by caries and there are still good fillings, as many as 5 cases. West Kalimantan Province, the DMF-T index reached 6.2 or 7 cases. Tooth decay in adolescents as the next generation is very disturbing in the mastication process, which can reduce the intake of nutrients into one's body. If this event continues from an early age to adolescence and adulthood, it can cause a decrease in the quantity of red blood cells in the circulation or the amount of hemoglobin is below normal limits. The lack of hemoglobin in the blood can interfere with growth and development, to the nutritional status. The area of ​​Pontianak City is 107. 82 km2 with a population of 607,438 people, and the target of teenagers who have been screened in 2018 in November was 97.779 people. The purpose of this study was to describe the DMF-T index, the incidence of anemia by looking at the nutritional status of adolescent girls, as well as looking at the relationship of these variables. This type of research is descriptive research with explanatory research. How to take samples with random side, univariate analysis, bivariate with correlation regression test. The results showed the DMF-T index in young women in the Khatulistiwa Health Center in Pontianak Utara District Pontianak City was very low (0.0-1.0) as much as 36.4%, the incidence of anemia as normal as much as 77.3% and nutritional status (BMI / BW: TB2) the average thin (<18.4 kg / m2) is 59.1%. The conclusions of this study indicate that the index of DMF-T is very low (36.4%) and is not related to nutritional status because the cnification value is 0.13> from 0.05, the incidence of anemia is normal (77.3%) but is highly related to nutritional status because the value of cnification 0.01 <from 0.05, while the nutritional status of the average thin (<18.4 kg / m2) is 59.1%. Absrak: Indek’s DMF-T dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri Berdasarkan Status Gizi. Indek’s DMF-T di Indonesia berdasarkan hasil riset kesehatan dasar tahun 2013 secara Nasional mencapai 4,6 yang artinya setiap orang mempunyai kasus kesehatan gigi dan mulut seperti gigi berlubang, gigi hilang dicabut oleh karena karies dan terdapat tambalan yang masih baik yaitu sebanyak 5 kasus. Provinsi Kalimantan Barat, Indek’s DMF-T mencapai 6,2 atau 7 kasus. Kerusakan gigi pada remaja sebagai generasi penerus sangat mengganggu dalam proses pengunyahan, yang berakibat dapat mengurangi asupan gizi kedalam tubuh seseorang. Kejadian tersebut apabila berlanjut dari usia dini sampai remaja dan dewasa, maka dapat menyebabkan penurunan kuantitas sel-sel darah merah dalam sirkulasi atau jumlah hemoglobin berada dibawah batas normal. Kurangnya jumlah hemoglobin dalam darah dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan, sampai pada status gizi kurang. Luas wilayah Kota Pontianak 107. 82 km2 dengan jumlah penduduk 607.438 jiwa, dan sasaran remaja yang sudah mendapat diskrening di tahun 2018 bulan November tercatat sebanyak 97.779 orang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Indek’s DMF-T, kejadian anemia dengan melihat status gizi remaja putri, serta melihat keterkaitan dari variabel tersebut. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan penelitian explanatory research. Cara pengambilan sampel dengan random samping, analisa univariat, bivariat dengan uji regresi korelasi. Hasil penelitian menunjukkan indek’s DMF-T pada remaja putri diwilayah Puskesmas Khatulistiwa Kecamatan Pontianak Utara Kota Pontianak adalah rendah sekali (0,0-1,0) sebanyak 36,4%, kejadian anemia rata-rata normal sebanyak 77,3% dan status gizi (IMT/BB:TB2) rata-rata kurus (< 18,4 kg/m2) yaitu sebanyak 59,1%. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa indek’s DMF-T rendah sekali (36,4%) dan tidak berhubungan dengan status gizi karena nilai siknifikasi 0,13 > dari 0,05, kejadian anemia normal (77,3%) tetapi sangat berhubungan dengan status gizi karena nilai siknifikasi 0,01 < dari 0,05, sedangkan status gizi rata-rata kurus (< 18,4 kg/m2) yaitu 59,1%.
Perilaku Sopir Taksi Antar Kabupaten Dalam Provinsi Pontianak – Putussibau Dalam Cara Menjaga Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Angka DMF-T: Perilaku Sopir Taksi Antar Kabupaten Dalam Provinsi Pontianak – Putussibau Dalam Cara Menjaga Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Angka DMF-T Nahr Adhiyasha Miftahul’uyun; Erma Mahmiyah; Rusmali Rusmali
Dental Therapist Journal Vol. 3 No. 1 (2021): Dental Therapist Journal
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.932 KB) | DOI: 10.31965/dtj.v3i1.615

Abstract

Behavior is an activity or activity concerned, which can be observed directly or indirectly. In their daily behavior in maintaining health, especially the dental and oral health of the drivers who have a habit of stopping at rest areas, they consume snacks, sweet and sticky foods, and soft drinks that can cause tooth decay, while the time has passed. This study aims to determine the effect of the behavior of taxi drivers between districts in the Province of Pontianak-Putussibau majors on the number (DMF-T). This study uses a survey method, with the type of descriptive research. The population in this study amounted to 158 people, the sample was taken using a purposive non-random sampling technique so that it became 60 people. The results of this study indicate the behavior of taxi drivers with very good behavior criteria as many as 3 people, good 17 people, not good 40. The DMF-T number for taxi drivers with free criteria is 2 people, very low 1 person, 18 people, moderate 34 people, and 5 people, and very high criteria were not found, with an average DMF-T 4 in the medium category. The conclusion is that the behavior of taxi drivers is included in the unfavorable criteria, namely 40 people (66.7%), with DMF-T numbers in the medium category as many as 34 people (56.7%). And the average number of DMF-T 4, included in the medium category. Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan, yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung. Dalam perilaku sehari-hari dalam menjaga kesehatan, terutama kesehatan gigi dan mulut para sopir mempunyai kebiasaan setiap singgah di tempat istirahat, mereka mengonsumsi makanan ringan, makanan yang manis dan lengket dan minuman soft drink yang dapat menimbulkan kerusakan gigi, sedangkan waktunya telah melewati jam makan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perilaku sopir taksi antar Kabupaten dalam Provinsi jurusan Pontianak-Putussibau terhadap angka (DMF-T). Penelitian ini menggunakan metode survey, dengan jenis penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 158 orang, sampel diambil menggunakan teknik purposive nonrandom sampling sehingga menjadi 60 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan perilaku sopir taksi dengan kriteria perilaku sangat baik sebanyak 3 orang, baik 17 orang, kurang baik 40. Angka DMF-T sopir taksi dengan kriteria bebas sebanyak 2 orang, sangat rendah 1 orang, rendah 18 orang, sedang 34 orang, dan tinggi 5 orang, serta kriteria sangat tinggi tidak ditemukan, dengan angka rata-rata DMF-T 4 dengan kategori sedang. Kesimpulan bahwa perilaku sopir taksi termasuk dalam kriteria kurang baik yaitu sebanyak 40 orang (66,7%), dengan angka DMF-T dengan kategori sedang sebanyak 34 orang (56,7%). Dan angka rata-rata DMF-T 4, termasuk dalam kategori sedang.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Masyarakat Untuk Membuat Gigi Tiruan Lepasan Ke Tukang Gigi : Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Masyarakat Untuk Membuat Gigi Tiruan Lepasan Ke Tukang Gigi Rahmi Andriani; Damhuji Damhuji; Erma Mahmiyah; Rusmali Rusmali
Dental Therapist Journal Vol. 3 No. 1 (2021): Dental Therapist Journal
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.409 KB) | DOI: 10.31965/dtj.v3i1.616

Abstract

In cases of tooth loss caused by extraction, further treatment must be carried out immediately, namely the use of dentures. Making dentures can be done by medical personnel such as dentists, dental specialists, but many people make dentures at dental artisans. The purpose of this study was to determine the factors that influence people's interest in making removable dentures to dental technicians in Siantan Hulu Village, North Pontianak in 2015. This research method was through a survey, explanatory research type with a cross sectional approach. Samples taken by people who use the services of dental artisans to make removable dentures are 40 respondents. The results of the Product Moment Correlation Test obtained the perception of the value of rs = 0.047 and the value of /Probability = 0.773. and the distance traveled with a value of rs = 0.243 and a value of /Probability = 0.131 so that it does not have a relationship with public interest in making removable dentures to dental artisans. For motivation with a value of rs = 0.704 and a value of /Probability = 0.000, health service facilities with a value of rs = 0.431 and a value of /Probability = 0.005 and a tariff with a value of rs = 0.520 and a value of /Probability = 0.001, has a relationship with public interest to make dentures to a dentist. The conclusion of the study is that perception and distance do not affect people's interest, while motivation, health service facilities and tariffs affect people's interest in making dentures for dental artisans. People are expected to choose health services wisely. Kasus kehilangan gigi yang disebabkan oleh pencabutan, harus segera dilakukan perawatan lebih lanjut yaitu dengan pemakaian gigi tiruan. Pembuatan gigi tiruan dapat dilakukan oleh tenaga medis seperti dokter gigi, dokter gigi spesialis, namun banyak masyarakat yang membuat gigi tiruan di tukang gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi minat masyarakat untuk membuat gigi tiruan lepasan ke tukang gigi di Kelurahan Siantan Hulu Pontianak Utara tahun 2015. Metode penelitian ini melalui survey, jenis explanatory research dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang diambil masyarakat yang menggunakan jasa tukang gigi untuk membuat gigi tiruan lepasan yaitu berjumlah 40 responden. Hasil dari Uji Korelasi Product Moment didapatkan hasil persepsi dengan nilai rs = 0.047 dan nilai /Probabilitas = 0.773. dan jarak tempuh dengan nilai rs = 0.243 dan nilai /Probabilitas = 0.131 sehingga tidak memiliki hubungan terhadap minat masyarakat untuk membuat gigi tiruan lepasan ke tukang gigi. Untuk motivasi dengan nilai rs = 0.704 dan nilai /Probabilitas= 0.000, sarana pelayanan kesehatan dengan nilai rs = 0.431 dan nilai /Probabilitas = 0.005 dan tarif dengan nilai rs = 0.520 dan nilai /Probabilitas = 0.001, memiliki hubungan terhadap minat masyarakat untuk membuat gigi tiruan ke tukang gigi. Kesimpulan dari penelitian ialah persepsi dan jarak tidak berpengaruh terhadap minat masyarakat, sementara motivasi, sarana pelayanan kesehatan dan tarif berpengaruh terhadap minat masyarakat untuk membuat gigi tiruan ke tukang gigi. Masyarakat diharapkan dapat memilih pelayanan kesehatan dengan bijak.
The Effectiveness of Pontianak’s Chili Orange Juice as an Alternative Dentin Conditioner Jojok Heru Susatyo; Rusmali Rusmali; Pawarti Pawarti
Jurnal Kesehatan Gigi Vol 7, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Jurusan Keperawatan Gigi, Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jkg.v7i1.5711

Abstract

Abstract The use of dentin conditioner is needed on the Glass Ionomer lift so that the surface of the dentin is clean and the glass ionomer cement lift material can well adhere to the clean dentin surface. In its use in the field, the dentin conditioner used is 10% polyacrylic acid or using liquid from diluted Glass Ionomer Cement, this causes the available liquid to run out compared to the powder provided, therefore it is thought to look for alternative materials as a dentin conditioner. The purpose of this study was to determine the effectiveness of Pontianak chili orange juice on the cleanliness of the smear layer on the tooth surface and the tensile strength of the glass ionomer cement lift after preparation and polishing of the tooth surface.This type of research is an experimental laboratory, the sample used a number of 5 samples per treatment for dentin surface cleanliness and 7 samples per treatment for the tensile strength test. The results obtained were analyzed using a t-test.The results showed that the average surface hygiene of dentin using Pontianak chili orange was 2 while the control mean was 2.2, while the Tensile strength with Pontianak chili orange treatment, it was obtained 1.8 meanwhile the mean control was 3.18.The conclusion of this study is that the use of Pontianak chili oranges is effective for cleaning dentin surfaces but not effective for increased tensile strength.
Penggunaan Bahasa Dayak Dalam Edukasi Meningkatkan Kemampuan Kognitif dan Penurunan Debris Index Pada Siswa Neny Setiawaty Ningsih; Rita Herlina; Dian Femala; Omry Pakpahan; Rusmali Rusmali
Jurnal Vokasi Kesehatan Vol 8, No 1 (2022): Januari 2022
Publisher : Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.328 KB) | DOI: 10.30602/jvk.v8i1.1046

Abstract

Penyuluhan kesehatan merupakan salah satu upaya pemerintah dalam menanggulangi masalah kesehatan di Indonesia. Penyuluhan kesehatan dilakukan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat khususnya anak sekolah dasar melalui pembelajaaran dari oleh dan untuk masyrakat.Komunikasi merupakan kompetensi yang harus dimiliki dalam melakukan penyuluhan kesehatan. Bahasa yang dibutuhkan dalam berkomunikasi utuk menyampaikan pesan. Contoh bahasa yang digunakan dalam komunikasi yakni bahasa sosial budaya.Komunikasi dengan bahasa sosial budaya sering terjadi, karena banyaknya interaksi antara orang – orang yang memiliki budaya . Bahasa Dayak merupakan bahasa daerah yang lahir dari adat dayak.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas penggunaan bahasa Dayak dalam edukasi kesehatan untuk meningkatkan kemampuan kognitif  dan menurunkan debris indeks pada siswa di SDN 12 Toho Kabupaten Mempawah.Jenis penelitian ini adalah Penelitian quasi experiment dengan desain pretestandposttestcontrolgroupdesign, subyek dibagi dalam dua kelompok, yakni kelompok bahasa Dayak  sebagai kelompok perlakuan dan kelompok bahasa Indonesia sebagai kelompok kontrol. Debris indexs diukur drngan menggunakan skor debris.Sampel dalam penelitian ini adalah siswa SDN 12 Toho kelas 5.Pengolahan data dilakukan menggunakan komputer dengan program SPSS versi13.0 for windows dengan uji for windows dengan uji wilcoxconBerdasarkan uji Mann Whitney didapatkan nilai p value sebesar0,000 <(0,05), ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan efektivitassecara signifikan antara metode penyuluhan menggunakan bahasa Dayak dan metode penyuluhan menggunakan bahasa Indonesiaterhadappeningkatan pengetahuan siswa SDN 12 Toho Kabupaten Mempawah. .Berdasarkan uji Mann Whitney didapatkan nilai p value sebesar0,010 < (0,05), ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan efektivitassecara signifikan antara metode bahasa Dayakdan metode Bahasa Indonesiaterhadappenurunan nilai DI siswa SDN 12 Toho Kabupaten Mempawah.