Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : JURNAL BIOMEDIK

CLINICAL PRIVILIGE DAN TANGGUNG JAWAB DOKTER INTERNSIP DI RUMAH SAKIT Kristanto, Erwin
Jurnal Biomedik : JBM Vol 4, No 3 (2012): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.4.3.2012.1200

Abstract

Abstract: The internship program is a preregistration professional training program that has to be undertaken by each new graduate medical doctor, educated with a competence-based curriculum. After passing the competence test, the candidates for the internship program, whether civil servants or not, have to pesonally complete their application papers in order to start their professional training programs at the appointed medical health services, eg. a hospital.  Since every hospital has different conditions, the medical comittee and the head of the hospital have to prepare the appropriate clinical privileges for the internship doctors. A good clinical appointment will protect the internship doctors while finishing their professional training, and also protect the hospital from any unnecessary risks. Keywords: internship program, clinical privilige.  Abstrak: Program internsip adalah tahap pelatihan keprofesian pra-registrasi yang harus dijalani setiap dokter baru yang dididik dengan kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Pasca kelulusan ujian kompetensi dokter Indonesia (UKDI), calon peserta internsip ikatan dinas maupun mandiri wajib mengurus kelengkapan administratif guna melaksanakan tugas keprofesiannya di sarana pelayanan kesehatan, salah satunya rumah sakit. Kondisi rumah sakit yang berbeda satu dengan yang lain, membuat komite medis bersama pimpinan rumah sakit harus membuat kajian clinical privilige yang tepat untuk para dokter internsip. Clinical appointment yang tepat akan melindungi dokter internsip dalam menyelesaikan pelatihan keprofesiannya, dan melindungi rumah sakit dari resiko hukum yang tidak perlu.Kata kunci: Program internsip, clinical privilige.
PATOFISIOLOGI RIGOR MORTIS Kristanto, Erwin; Wangko, Sunny
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 6, No 3 (2014): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.6.3.2014.6331

Abstract

Abstract: As one of the death signs, rigor mortis is usually found in death cases. Most of the rigor mortis phenomenon can be explained thoroughly in forensic science. Understanding of this phenomenon can help the medical practitioners in analyzing forensic cases during their internship as well as during their works as medical doctors in hospitals or other medical facilities. In rigor mortis analysis, we can not avoid any variable which is found in the crime scenes since it will cause bias in the result.Keywords: rigor mortis, myofilaments, ATPAbstract: Kekakuan pada mayat merupakan salah satu tanda kematian yang sering ditemukan pada kasus kematian. Sebagian besar fenomena rigor mortis telah dapat dijelaskan lewat ilmu kedokteran forensik. Pemahaman tentang kaku mayat ini akan membantu dokter dalam membuat analisis forensik kasus yang ditanganinya, baik saat internship maupun dalam praktik kedokteran yang dilakukannya di rumah sakit, maupun fasilitas kesehatan lainnya. Analisis kaku mayat tidak boleh menyingkirkan variabel yang ditemukan pada pemeriksaan, karena akan membawa bias pada hasil analisis.Kata kunci: rigor mortis, miofilamen, ATP
ANALISIS PELAKSANAAN CLINICAL PATHWAY DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Paat, Cicilia; Kristanto, Erwin; Kalalo, Flora P.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 9, No 1 (2017): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.9.1.2017.15322

Abstract

Abstract: Clinical pathway is a significant administration document to achieve the good clinical governance in the hospital. In Indonesia, this document is one of the very critical requirements that should be provided by the hospital to fulfil the KARS 2012 policy. As the center of referral teaching hospital of East Indonesia, Professor Dr. R. D. Kandou General Hospital has committed to fulfil the international standard of care, inter alia implementation of the clinical pathways based on the main cause of death, high risk, and high cost. There are several obstacles concerning this implementation, such as the irresponsibility of the doctors due to overloaded work, lack of concentration in filling the formation of clinical pathway, and uncertainity in the usage of clinical pathway. This study was aimed to evaluate the implementation of the clinical pathway and its limitation in the hospital above. The results showed that the administrative policy of the clinical pathway had been provided by the top management leader with the specialization in dengue shock syndrome (DSS), chronic kidney disease (CKD), eclampsia, benign prostatic hypertrophy (BPH), and myocardial infarction (MCI) without complication. Conclusion: Clinical pathway was implemented at Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital according to the Minister Health Regulation No. 012 Year 2012 about Standard Accreditation for Hospital.Keywords: clinical pathway, hospitalAbstrak: Clinical pathway merupakan bagian penting dari dokumen dan alat dalam mewujudkan good clinical governance di rumah sakit. Di Indonesia, dokumen ini juga menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam Standar Akreditasi Rumah Sakit versi KARS 2012. Rumah Sakit Prof. Dr. R. D. Kandou merupakan rumah sakit pendidikan dan pusat rujukan untuk wilayah Indonesia Timur, berkomitmen untuk meningkatkan pelayanan berstandar internasional; salah satu upayanya dengan mengimplementasikan clinical pathway. Pemilihan clinical pathway ditujukan pada penyakit-penyakit yang merupakan penyebab utama kematian, berisiko tinggi, dan biaya tinggi. Kendala penggunaan clinical pathway antara lain kurangnya kepatuhan dokter penanggung jawab pasien terhadap clinical pathway, kurangnya konsentrasi dalam pengisian pembentukan clinical pathway, serta kesulitan kepastian penggunaan clinical pathway. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan clinical pathway dan analisis terhadap kendala-kendalanya di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil studi menunjukkan bahwa pada tingkat manajerial telah tersedia kebijakan clinical pathway dan spesialisasinya yaitu dengue shock syndrome (DSS), penyakit ginjal kronik (PGK), preeklamsia berat, benign prostat hypertrophy (BPH), dan miokard cardiac infark (MCI) tanpa komplikasi. Simpulan: Clinical pathway telah diterapkan di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou berdasarkan Permenkes Nomor 012 tahun 2012 tentang Standar Akreditasi Rumah Sakit.Kata kunci: clinical pathway, rumah sakit
PERAN ENTOMOLOGI FORENSIK DALAM PERKIRAAN SAAT KEMATIAN DAN OLAH TEMPAT KEJADIAN PERKARA SISI MEDIS (INTRODUKSI ENTOMOLOGI MEDIK) Kristanto, Erwin; Wangko, Sunny; Kalangi, Sonny; Mallo, Johannis
Jurnal Biomedik : JBM Vol 1, No 1 (2009): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.1.1.2009.809

Abstract

Abstract: Scrutinized and devoted efforts are needed to unveil mysteries of forensic cases. A variety of methods may be needed, methods that are accountable in court. During the flow of time, some evidence, especially human tissues will degrade and eventually vanish. Albeit, to forensic entomologists, the degradation of human remains will bring other new evidence which is scientifically accountable in court. Just as in life, after death the tissues of humans are still attractive to a variety of insects. Different insects are attracted at different stages of decomposition of the body. These insects follow certain set patterns of development in or on the body. Identification of the types of insects present, and their stages of development, in conjunction with the knowledge of the rates of their development, can be used to determine approximately how long a body has been dead. In addition, this identification might indicate whether a body has been moved from one area to another. Key words: forensic cases, methods, insects.     Abstrak: Dibutuhkan dedikasi dan ketelitian dalam mengungkap berbagai misteri di balik kasus-kasus forensik. Berbagai metode akan amat dibutuhkan dalam menjawab berbagai pertanyaan terkait kasus-kasus tersebut, dan sudah menjadi keharusan bahwa bukti atau kesaksian ahli ini dapat dipertanggungjawabkan. Dengan berjalannya waktu, beberapa barang bukti, terutama jaringan tubuh manusia akan mengalami proses degradasi dan akhirnya hilang. Namun demikian, bagi seorang ahli entomologi forensik, kerusakan dan hilangnya jaringan tubuh tadi dapat membawa bukti-bukti baru. Bukti yang tentunya dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah di pengadilan. Seperti saat hidup, jaringan tubuh manusia setelah kematian tetap menarik bagi berbagai jenis serangga. Jenis serangga yang berbeda akan tertarik pada tahap yang berbeda pula dari tahapan-tahapan pembusukan jaringan tubuh manusia. Serangga-serangga ini mengikuti suatu pola perkembangan. Terkait dengan pengetahuan mengenai pertumbuhan dan perkembangan mereka, hal ini dapat digunakan untuk membuat suatu perkiraan berapa lama tubuh tadi telah mati. Sebagai tambahan, identifikasi hal di atas juga akan dapat mengindikasikan apakah mayat telah dipindahkan dari satu area ke area yang lain. Kata kunci: kasus forensik, metode, serangga.
Pemeriksaan Kedokteran Forensik setelah Ekshumasi di Sulawesi Utara: Kontribusi dan Tantangan Kristanto, Erwin
Jurnal Biomedik : JBM Vol 11, No 3 (2019): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.11.3.2019.26719

Abstract

Abstract: Forensic examination of exhumed corpse is a procedure with field conditions that may have the widest range in a forensic medical procedure. The examination can be carried out in a hospital with complete equipment up to the condition where the examination must be performed at the excavation site with limited equipment. The various conditions of the corpse when excavated from the grave also make forensic examination of the exhumed corpse has its own challenges and obstacles compared to the other forensic medicine cases. This study was conducted at two hospitals that carried out forensic autopsies in North Sulawesi, namely Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital and RS Bhayangkara tingkat III in Manado. Data were obtained from medical records of exhumation cases carried out by forensic and medicolegal specialists. The results showed that from 22 cases of forensic medical examinations on exhumated corpses, 17 corpses were male (77%) and 5 corpses (23%) were female. In 95.45% of cases, the causes of deaths could be determined, while in 4.54% the causes of deaths could not be determined anymore. In conclusion, the contribution of forensic examinations on exhumation cases has the same quality as forensic examinations in any other cases. Meanwhile, the main challenge of this examination is the carefulness of the investigator in schedulling the examination.Keywords: forensic medicine, exhumation Abstrak: Pemeriksaan forensik setelah proses ekshumasi merupakan prosedur dengan kondisi lapangan yang mungkin memiliki rentang terlebar dalam suatu prosedur kedokteran forensik. Pemeriksaan dapat dilakukan di rumah sakit dengan alat yang lengkap hingga kondisi dimana pemeriksaan harus dilakukan di tempat penggalian, dengan alat terbatas. Kondisi jenazah yang beragam saat digali dari kubur juga membuat pemeriksaan forensik pada jenazah setelah proses ekshumasi memiliki tantangan dan hambatan tersendiri bila dibandingkan dengan kasus kedokteran forensik lainnya. Penelitian ini dilaksanakan di dua rumah sakit yang melaksanakan autopsi forensik di Sulawesi Utara, yaitu RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou dan RS Bhayangkara tingkat III Manado. Data dikumpulkan dari rekam medis kasus ekshumasi yang dilaksanakan dokter spesialis forensik dan medikolegal. Hasil penelitian mendapatkan 22 kasus pemeriksaan kedokteran forensik pada jenazah hasil ekshumasi selama thaun 2015-2019, terdiri dari 17 jenazah laki-laki (77%) dan 5 jenazah perempuan (23%). Pada 95,45% kasus sebab kematian dapat ditentukan, sedang pada 4,54% tidak dapat ditentukan lagi sebab kematiannya. Simpulan penelitian ini ialah kontribusi yang diberikan pemeriksaan forensik pada kasus ekshumasi sama kualitasnya dengan pemeriksaan forensik pada kasus korban yang baru meninggal sedangkan tantangan utama pemeriksaan jenazah ekshumasi yaitu kejelian penyidik dalam meminta dan menjadwalkan pemeriksaan.Kata kunci: Kedokteran Forensik, ekshumasi
KLONING MANFAAT VERSUS MASALAH Wangko, Sunny; Kristanto, Erwin
Jurnal Biomedik : JBM Vol 2, No 2 (2010): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.2.2.2010.847

Abstract

Abstract: In general, cloning is an asexual creation of a cell or organism which is genetically identical to its ancestor. Actually, cloning of unicellular and multicellular organisms has been going on in the natural world for thousands of years. Nowadays, in biotechnology, artificial cloning processed by using non-embryonic somatic cells is unbelievably well developed. In medical application, cloning is pointed to therapeutic, reproductive, and replacement usages. However, there are still many controversies, especially if this cloning is related to human beings, law, and ethics norms. Keywords: cloning, cell, organism.     Abstrak: Kloning adalah kreasi secara aseksual dari suatu sel atau organisme yang merupakan salinan genetik dari organisme pendahulu. Secara alamiah kloning telah ditemukan sejak beribu-ribu tahun yang lalu pada organisme unisel sampai ke yang multisel. Dewasa ini kemajuan bioteknologi dalam melakukan kloning artifisial dengan menggunakan sel non embriogenik telah berkembang pesat. Pemanfaatan kloning dalam aplikasi medik ditujukan untuk pengobatan, reproduksi, dan replacement. Walaupun demikian, dalam hal pemanfaatannya masih banyak ketidak sesuaian pendapat, terlebih lagi bila masalah kloning terkait langsung dengan nilai-nilai kemanusiaan, hukum, dan etik. Kata kunci: kloning, sel, organisme.
CEDERA AKIBAT KECELAKAAN LALU LINTAS DI KOTA MANADO Kristanto, Erwin; Mallo, Johannis; Yudhistira, Aria
Jurnal Biomedik : JBM Vol 1, No 3 (2009): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.1.3.2009.833

Abstract

Abstract: Nowadays, the incidence of traffic accidents increases annually. Injuries caused by traffic accidents show specific patterns, which differ from that of injuries due to other causes. Information of injury patterns due to accidents can be very useful in the management of treatment. The aim of this retrospective study is to describe the kinds of injuries in autopsied victims due to traffic accidents, which were autopsied, and in some cases handled in Prof.dr.R.D.Kandou Manado General Hospital from 2004 until 2008.  The results showed that 77.7% of deaths were due to traffic accident head injuries, and 22.2% to chest injuries. We observed that they had obvious internal organ damage, especially in the abdomen, which observation could not have been predicted just from external examination.  Therefore, it can be concluded that not only deaths by traffic accidents, but all fatalities should undergo autopsy to verify the exact cause of death. Keywords: injury pattern, retrospective study, forensic autopsy     Abstrak: Angka kecelakaan lalu lintas tiap tahun meningkat. Cedera yang ditimbulkan memiliki pola tertentu yang berbeda dengan cedera akibat kekerasan lain. Informasi mengenai pola cedera pada kecelakaan lalu lintas dapat digunakan dalam pengobatan. Studi retrospektif ini mendeskripsi-kan cedera yang ditemukan pada autopsi korban kecelakaan lalu lintas di rumah sakit umum Prof.dr.R.D Kandou di Manado, periode tahun  2004 – 2008. Hasil survei menemukan bahwa 77,7% kasus kematian akibat kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh cedera kepala, dan 22,2 % akibat cedera pada dada. Dari pengamatan penulis tampak dengan jelas kerusakan organ dalam, terutama pada perut tidak dapat diperkirakan hanya dengan pemeriksaan luar mayat. Perlu dipikirkan bersama agar dapat diciptakan kondisi di mana korban meninggal pada kasus kecelakaan lalu lintas maupun untuk kasus yang lain dapat menerima pelayanan autopsi forensik. Kata kunci: Pola cedera, studi retrospektif, autopsi forensik