Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PENCIPTAAN FILM FIKSI “DIBALIK SUNGAI ULAR” MENGGUNAKAN ALUR NON-LINEAR Sri Wahyuni; Surya Darma; Saaduddin Saaduddin
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 10, No 1 (2021): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v10i1.22018

Abstract

The fictional film "Behind the Snake River" is presented with a small child and his family's theme. As the main character who is innocent can reach the deepest emotions, the relationship between the characters as the driving force of the plot becomes the focus of this film with the application of a non-linear plot in directing. This pattern manipulates the time sequence of events by changing the sequence of the plots so that the causality relationship is unclear. The purpose of using a non-linear plot approach is to attract the eye of the audience to continue watching this film until it's finished. The method used in the creation of the film "Behind the Snake River" starts with Pre Production starting from (developing ideas/ideas, collecting data from literature studies, interviews, observation, documentation, film production and post-production (editing/finishing). The results of the application of the non-linear plot in the film "Behind the Snake River" are in all aspects of the film-forming from the narrative (script), cinematic (use of handheld cameras), mise-en-scene (background, costumes, and makeup, lighting and actors and movements) to the editing process uses the jump cut method The use of a non-linear plot approach makes the spectacle interesting and forces the audience to follow the film until the end.Keywords: fiction film, method, audience.AbstrakFilm fiksi “Dibalik Sungai Ular” disajikan dengan mengusung tema tentang  seorang anak kecil dan keluarganya. Sebagai karakter utama yang polos dapat menjangkau emosi terdalam, maka hubungan antar tokoh  sebagai penggerak alur menjadi fokus film ini dengan penerapan alur nonlinear dalam penyutradaraan. Pola ini memanipulasi urutan waktu kejadian dengan mengubah urutan plotnya sehingga membuat hubungan kausalitas menjadi tidak jelas. Tujuan digunakannya pendekatan alur nonlinear agar menarik mata penonton untuk tetap menyaksikan film ini hingga selesai. Metode  yang  digunakan  dalam  penciptaan  film  “Dibalik  Sungai  Ular”  yaitu dimulai dari  Pra  Produksi yang  dimulai  dari  (pengembangan  ide/gagasan, pengumpulan  data  dari  hasil  studi  pustaka, wawancara, observasi, dokumentasi, produksi film dan pasca-produksi (editing/finishing). Hasil penerapan alur nonlinear pada film “Dibalik Sungai Ular” berada pada seluruh aspek pembentuk film mulai dari naratif (naskah),  sinematik (penggunaan kamera handheald), mise-en-scene (latar, kostum dan makeup, pencahayaan dan pemain dan pergerakannya) hingga proses penyuntingan yang menggunakan metode jump cut. Penggunaan pendekatan alur nonlinear menjadikan tontonan yang menarik dan memaksa penonton untuk mengikuti film hingga akhir.Kata Kunci: film fiksi, metode, penonton. Authors: Sri Wahyuni : Universitas Potensi UtamaSurya Darma : Universitas Potensi UtamaSaaduddin : Institut Seni Indonesia Padangpanjang References: Alfathoni, M. A. M. (2019). Mise En Scene dalam Film Lamaran Sutradara Monty Tiwa. PROPORSI: Jurnal Desain, Multimedia dan Industri Kreatif, 1(2), 165-178.Sugiharti, A. (2016). PERANCANGAN BUKU MENGENAL DUNIA SENI RUPA UNTUK ANAK USIA DINI (Doctoral dissertation, Universitas Pendidikan Indonesia).Andhika, Y. L. (2018). Film Bagurau; Representasi Citra Perempuan Minangkabau. Ekspresi Seni, 20(1), 56. https://doi.org/10.26887/ekse.v20i1.387.Cheng, T. (2014). Public Relations and Promotion in Film: How It’s Done and Why It’s Important. _______ : ________ .Darmawan, H., & Pramayoza, D. (2020). Abstrak. Gorga : Jurnal Seni Rupa, 09(1), 138–144. https://doi.org/10.24114/gr.v9i1.18359.Ediantes, E. (2016). Ritual Sebagai Sumber Penciptaan Film Basafa Di Ulakan. Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni, 18(1), 20-38.Mawar Kembaren, M., Azharie Nasution, A., & Husnan Lubis, M. (2020). Cerita Rakyat Melayu Sumatra Utara Berupa Mitos dan Legenda Dalam Membentuk kearifan Lokal Masyarakat. Rumpun Jurnal Persuratan Melayu, 8(1), 1–12. http://rumpunjurnal.com/jurnal/index.php/rumpun/article/view/117.Peransi, D. A. (2005). Film/media/seni. Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta.Pertiwi, G., & Yusril, Y. (2019). Penciptaan Film Fiksi “Siriah Jadi Karakok” Dengan Fenomena Lesbian Di Sumatera Barat. Gorga : Jurnal Seni Rupa, 8(1), 192. https://doi.org/10.24114/gr.v8i1.13140.Pratista, H. (2008). Memahami film. _______: Homerian Pustaka.Si, N., Lajang, P., Cinta, C., Eks, P., Lajang, P., &Utami, K. A. Y. U. (2017). UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta. 1–22.Sugiyono, P. (2011). Metodologi penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D. Bandung: Alpabeta. 
PENCIPTAAN FILM DOKUMENTER œSOTUNG MAGO MENGGUNAKAN GAYA EKSPOSITORY Surya Darma; Sri Wahyuni; Haga Putra Arza Polem
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.49069

Abstract

Sotung Mago is a Batak language which means don't disappear. The film Sotung Mago explains anxiety to the younger generation of children who do not know and understand the meaning of art, especially in this case the Toba Batak. According to Dennis Huisman art can be conceptualized as an activity imitating nature, an activity playing around with art forms. Art can be equated with work methods or carpentry methods and techniques. Meanwhile, culture contains the whole understanding of values, norms, knowledge and all social, religious and other structures. Art and culture are usually interrelated or related which are inherited by the community, especially in this case the Batak. However, not a few people have ignored the artistic heritage in the Toba Batak so that the current generation doesn't know about it. The purpose of this research is to explore the creation of the documentary film œSotung Mago using expository style and to visualize several Toba Batak arts through documentary films. The method used refers to the stages of creative creation, namely the Preparation Stage, Incubation Stage, Illumination Stage (inspiration stage), and finally the Verification stage (proof or testing stage). The results of the Creation of the Documentary Film "Sotung Mago" use the expository documentary model so that the visuals look natural, descriptive, and informative through explanations from several relevant sources, and added Voice Over (VO) so that the audience can more easily understand the flow of this expository documentary model. Keywords: sotung mago, batak art, expository.  AbstrakSotung Mago merupakan Bahasa Batak yang memiliki arti jangan sampai menghilang. Film Sotung Mago menjelaskan keresahan kepada anak-anak generasi muda yang kurang mengetahui dan memahami mengenai makna kesenian khususnya dalam hal ini Batak Toba. Menurut Dennis Huisman seni dapat dikonsepsi sebagai kegiatan meniru alam, kegiatan bermain-main dengan bentuk seni. Seni dapat dipadankan dengan cara kerja atau metode dan teknik pertukangan. Sedangkan budaya mengandung keseluruhan pengertian nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius dan lain-lain. Kesenian dan kebudayaan biasanya saling berkaitan atau berhubungan yang diwarisi oleh masyarakat khususnya dalam hal ini Batak. Namun, tidak sedikit masyarakat yang telah mengabaikan warisan kesenian dalam Batak Toba sehingga generasi saat ini kurang mengetahui hal tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mngekplorasi penciptaan film dokumenter œSotung Mago dengan menggunakan gaya ekspository serta memvisualisasikan beberapa kesenian Batak Toba melalui film dokumenter. Metode yang digunakan merujuk pada tahapan-tahapan penciptaan kreatif yaitu Tahap Preparation (persiapan), tahap Incubation (Pengeraman), Tahap Ilumination (tahap ilham, inspirasi), Terakhir tahap Verification (tahap pembuktian atau pengujian). Hasil Penciptaan Film Dokumenter œSotung Mago menggunakan model dokumenter ekspository agar visualnya terlihat alami, mendesktiptif, dan informatif melalui penjelasan dari beberapa narasumber terkait, dan ditambah dengan Voice Over (VO) sehingga penonton lebih mudah memahami alur model dokumenter ekspository ini.Kata Kunci: sotung mago, kesenian batak, ekspository.  Authors:Surya Darma : Universitas Potensi UtamaSri Wahyuni : Universitas Potensi UtamaHaga Putra Arza Polem : Universitas Potensi UtamaReferences:Armanto, R. B., Paramita, P., & Suryana, S. (2017). Penulisan Skenario Film Panjang. Jakarta : Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta. Gerzon, R. A. (2017). Dokumenter : Dari Ide Sampai Produksi. Jakarta: FFTV IKJ. Minawati, R. (2014). Musik Pada Film Bukan Sekedar Latar. Jurnal Musikologi Penciptaan dan Pengkajian. Kartono, G., Sugito, S., & Azis, A. C. K. (2021). Pengembangan Bahan Ajar Bermuatan Lokal Batak untuk Sekolah Menengah di Kota Medan. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(1), 215-222.Nurcahyani, I. (2017). Penciptaan Film Dokumenter œArtisan Dengan Gaya Ekspositori (Doctoral Dissertation, Institut Seni Indonesia Yogyakarta).Wibowo, P. N. H. (2019). Penciptaan Film Pendek Terinpirasi dari Kotak Pertanyaan Pelajaran Khas di SD Eksperimental Mangunan. TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema, 16(2).Pratista, H. (2008). Memahami Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka.Sahman, H. (1993). Mengenali Dunia Seni Rupa tentang Seni, Karya Seni, Aktifitas Kreatif, Apresiasi, Kritik dan Estetika. Semarang: IKIP Semarang Press.Sugiharti, A. (2016). Perancangan Buku Mengenal Dunia Seni Rupa untuk Anak Usia Dini. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.Sugiyono, S. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.Wahyuni, S., Darma, S., & Saaduddin. (2021). Penciptaan Film Fiksi œDibalik Sungai Ular Menggunakan Alur Non-Linear. Gorga : Jurnal Seni Rupa, 10 (01), 45-55. https://doi.org/10.24114/gr.v10i1.22018
PELATIHAN STORYTELLING FILM DOKUMENTER BAGI SISWA SMK sriwahyuni; Surya Darma; Grace Anggelina Silitonga
NGABDIMAS Vol. 8 No. 02 Desember (2025): Jurnal Ngabdimas Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : PPPM Institut Teknologi Pagar Alam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36050/8975wj11

Abstract

Kemampuan storytelling merupakan aspek penting dalam produksi film dokumenter karena berperan dalam membangun kekuatan narasi dan pesan visual. Permasalahan yang dihadapi mitra, yaitu siswa kelas X SMKS Laksamana Martadinata Medan, adalah keterbatasan pemahaman dalam menyusun narasi dokumenter meskipun telah memiliki kemampuan teknis dasar audiovisual. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa dalam menerapkan storytelling pada film dokumenter. Metode yang digunakan adalah pelatihan dan lokakarya yang meliputi penyampaian materi teoretis, pemutaran studi kasus film dokumenter, serta praktik olah suara dan penyusunan narasi sederhana. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa mengenai konsep storytelling, kemampuan membaca dan menyusun narasi dokumenter, serta meningkatnya minat siswa terhadap bidang perfilman dokumenter. Kegiatan ini memiliki makna penting dalam penguatan kompetensi kreatif siswa SMK serta menjadi sarana kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah menengah kejuruan
RANCANG BANGUN E-VOTING: SISTEM PEMILIHAN KEPALA DUSUN BERBASIS WEBSITE DENGAN MULTIMEDIA INTERAKTIF Ellanda Purwawijaya; Nurmala Sridewi; Surya Darma; M. Rhifky Wayahdi; Fahmi Ruziq
Jurnal Pemberdayaan Sosial dan Teknologi Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jpstm.v5i2.5159

Abstract

Abstract: The conventional hamlet head election system in Simpang Tiga Village, Langkat, is often inefficient, time-consuming, and prone to errors, leading to decreased public participation and trust. This Community Partnership Program (PKM) aimed to design and build a website-based e-voting system featuring interactive multimedia to increase participation, transparency, and efficiency, while also empowering the local youth organization (Karang Taruna) as local digital agents. The method used was participatory action research, actively involving the partner through four stages: planning, acting, observing & evaluating, and reflecting. The implementation results showed significant success: voter participation drastically increased from 55% to 88%, public trust in the election process rose from 50% to 87%, and the election process duration was successfully reduced from 2-3 days to just 5 hours. Furthermore, the Karang Taruna partner demonstrated a technical mastery level of 87.5%.  Keyword: e-voting; community empowerment; action research; interactive multimedia; smart village. Abstrak: Sistem pemilihan kepala dusun konvensional di Desa Simpang Tiga, Langkat, cenderung tidak efisien, memakan waktu, dan rentan terhadap kesalahan yang menyebabkan partisipasi serta kepercayaan publik menurun. Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk merancang dan membangun sistem e-voting berbasis website dengan multimedia interaktif guna meningkatkan partisipasi, transparansi, dan efisiensi pemilihan, sekaligus memberdayakan Karang Taruna sebagai agen digital lokal. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan partisipatif yang melibatkan mitra secara aktif dalam empat tahapan: perencanaan, tindakan, observasi & evaluasi, dan refleksi. Hasil implementasi menunjukkan keberhasilan signifikan: partisipasi pemilih meningkat drastis dari 55% menjadi 88%, kepercayaan publik terhadap proses pemilihan naik dari 50% menjadi 87%, dan durasi proses pemilihan berhasil dipersingkat dari 2-3 hari menjadi hanya 5 jam. Selain itu, mitra Karang Taruna menunjukkan tingkat penguasaan teknis sistem sebesar 87,5%. 
ANALISIS REPRESENTASI BENTUK EKSPRESI FILM TILIK SUTRADARA AGUNG WAHYU PRASETYO Surya Darma; Sri Wahyuni; Muhammad Ali Mursid Alfathoni
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 8 No. 4 (2025): November 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i4.5109

Abstract

Abstract: The purpose of this study is to analyze the representation of the form of expression in the film Tilik (2018) by director Wahyu Agung Prasetyo. The reason the researcher analyzed the film Tilik (2018) is because it authentically visualizes the social dynamics of rural communities, especially in Java, through dialogue and visuals of its characters. This research method uses descriptive qualitative research with content analysis techniques in the film Tilik (2018) through scenes, visuals, dialogue, narration, facial expressions, body language, and cinematography techniques used. The results of this study produce three main forms of expression in the film Tilik (2018), namely emotional expressions seen through facial expressions and gestures that depict several forms of expression such as anger, happiness, sadness, disgust, and surprise, then linguistic expressions in the form of depiction through sarcastic dialogue and satire through gossip practices as a model of social forms, and visual expressions depicted through cinematography techniques such as close-ups, narrow framing, and natural lighting as supporters of emotional assertiveness. The conclusion of this study is that the film Tilik (2018) presents a micro-portrait of rural Javanese society, which faces complex and dynamic problems. Keywords: Tilik (2018), forms of expression, analysis of expression, cinematography Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah analisis representasi bentuk ekspresi film Tilik (2018) karya sutradara Wahyu Agung Prasetyo. Alsan peneliti menganalisis film Tilik (2018) ini karena memvisualkan dinamika sosial masyarakat di pedesaan khususnya Jawa secara autentik melalui dialog dan visual tokohnya. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif desktiptif dengan teknik menganalisis isi (content analysis) pada film Tilik (2018) melalui adegan, visual, dialog, narasi, ekpresi wajah, bahasa tubuh, dan teknik sinematografi yang digunakan. Hasil penelitian ini menghasilkan tiga bentuk ekspresi utama pada film Tilik (2018), yaitu ekspresi emosional yang terlihat melalui mimik wajah dan gestur yang menggambarkan beberapa bentuk ekspresi seperti marah, bahagia, kesedihan, rasa muak, dan terkejut, selanjutnya ekspresi linguistik bentuk penggambarannya melalui dialog sarkastik dan bentuk sindiran melalui praktik gosip sebagai model dari bentuk sosial, dan ekspresi visual yang di gambarkan melalui model teknik sinematografi seperti close-up, framing sempit, dan pencahayaan alami sebagai pendukung ketegasan dari emosional. Kesimpulan dari penelitian ini adalah film Tilik (2018) menghadirkan potret mikro masyarakat di pedesaan Jawa yang memiliki permasalahan kompleks, dan dinamis. Kata kunci: Film Tilik (2018), bentuk ekspresi, analisis ekspresi, sinematografi
IMPLEMENTATION OF THE INTERNET OF THINGS IN CREATING SMART CLASSROOMS Subhan Hafiz Nanda Ginting; Dewi Wahyuni; Nurmala Sridewi; M. Rhifky Wayahdi; Surya Darma
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i1.5806

Abstract

Abstract: The development of digital technology has driven the transformation of educational services through the implementation of data-based learning systems and smart devices. One of the emerging approaches is the use of the Internet of Things (IoT) in building smart classrooms, which are classrooms capable of integrating physical devices, sensors, and information systems to improve learning efficiency and learning environment management. This study aims to analyze the implementation of IoT in the formation of smart classrooms, covering aspects of system design, device integration, and evaluation of its effectiveness in supporting the teaching and learning process. The research method used is a quantitative and experimental approach, by designing an IoT-based smart classroom prototype that integrates temperature, humidity, light intensity, and presence detection sensors, as well as device control such as lights, air conditioning, and projectors through an automatic system and remote control. Data was collected through device performance measurements, network stability tests, and questionnaires distributed to users (teachers and students) to assess the system's ease of use and usefulness. The results showed that the implementation of IoT in classrooms can improve the efficiency of facility management through device automation, facilitate real-time monitoring of classroom conditions, and provide a more comfortable and responsive learning environment. In addition, the developed system demonstrated stable data communication performance with low latency within acceptable operational limits. These findings indicate that the application of IoT in smart classrooms has the potential to contribute significantly to improving the quality of learning and classroom management, particularly in supporting a technology-based education ecosystem. This study recommends further development in the areas of data security, device interoperability, and integration with Learning Management Systems (LMS) to strengthen the sustainable implementation of smart classrooms. Keywords: Internet of Things, Smart Classroom, Classroom Automation, Sensors, Technology Based Education. Abstrak: Perkembangan teknologi digital mendorong transformasi layanan pendidikan melalui penerapan sistem pembelajaran berbasis data dan perangkat cerdas. Salah satu pendekatan yang berkembang adalah pemanfaatan Internet of Things (IoT) dalam membangun smart classroom, yaitu ruang kelas yang mampu mengintegrasikan perangkat fisik, sensor, serta sistem informasi untuk meningkatkan efisiensi pembelajaran dan pengelolaan lingkungan belajar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi IoT dalam pembentukan smart classroom, mencakup aspek desain sistem, integrasi perangkat, serta evaluasi efektivitasnya dalam mendukung proses belajar mengajar. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dan eksperimental, dengan merancang prototipe smart classroom berbasis IoT yang mengintegrasikan sensor suhu, kelembapan, intensitas cahaya, deteksi kehadiran, serta pengendalian perangkat seperti lampu, pendingin ruangan, dan proyektor melalui sistem otomatis maupun kendali jarak jauh. Data dikumpulkan melalui pengukuran kinerja perangkat, uji stabilitas jaringan, serta penyebaran kuesioner kepada pengguna (guru dan siswa) untuk menilai tingkat kemudahan penggunaan dan kebermanfaatan sistem. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi IoT pada ruang kelas mampu meningkatkan efisiensi pengelolaan fasilitas melalui otomasi perangkat, mempermudah monitoring kondisi kelas secara real-time, serta memberikan dukungan lingkungan belajar yang lebih nyaman dan responsif. Selain itu, sistem yang dikembangkan menunjukkan performa komunikasi data yang stabil dengan tingkat keterlambatan (latency) yang rendah dalam batas operasional yang dapat diterima. Temuan ini mengindikasikan bahwa penerapan IoT dalam smart classroom berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran dan manajemen kelas, khususnya dalam mendukung ekosistem pendidikan berbasis teknologi. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan lanjutan pada aspek keamanan data, interoperabilitas perangkat, serta integrasi dengan Learning Management System (LMS) untuk memperkuat implementasi smart classroom secara berkelanjutan. Kata Kunci: Internet Of Things, Smart Classroom, Otomasi Ruang Kelas, Sensor, Pendidikan Berbasis Teknologi.
SEMIOTIKA ROLAND BARTHES: REPRESENTASI DINAMIKA SOSIAL FILM TILIK SUTRADARA WAHYU AGUNG PRASETYO Surya Darma; Dani Manesah; Giovani; Triadi Sya’Dian; Sri Wahyuni
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i2.6229

Abstract

Abstract: This study explores the representation of social dynamics in the film Tilik (2018) by Wahyu Agung Prasetyo using the semiotic approach of Roland Barthes. In this research, a qualitative descriptive-analytical method is employed to identify and interpret visual and verbal signs. Three layers of meaning—denotation, connotation, and myth—are used in the analysis. The results show that the film Tilik portrays the social dynamics of rural communities, particularly interactions among women. These interactions are characterized by prevailing cultural norms, constructions of social status, and the practice of gossip. At the denotative level, the film depicts the everyday activities of village communities, while at the connotative level, it reveals social jealousy, social control, and gender stereotypes. At the level of myth, the film constructs collective values such as the importance of maintaining women's dignity, strong social solidarity, and the legitimization of gossip as a means of regulating social norms. Therefore, the film Tilik not only reflects social reality but also conveys deeper cultural meanings. Keywords: Semiotics, Roland Barthes, Social Dynamics, Film, Cultural Representation   Abstrak: Studi ini mengeksplorasi representasi dinamika sosial dalam film Tilik (2018) oleh Wahyu Agung Prasetyo menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Dalam penelitian ini, metode deskriptif-analitis kualitatif digunakan untuk mengidentifikasi dan menafsirkan tanda visual dan verbal. Tiga lapisan makna—denotasi, konotasi, dan mitos—digunakan untuk melakukan analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Tilik menunjukkan dinamika sosial masyarakat pedesaan, terutama interaksi antarperempuan. Norma budaya yang berkembang, konstruksi status sosial, dan praktik gosip menandai interaksi ini. Dalam film, aktivitas sehari-hari masyarakat desa diungkapkan pada tingkat denotatif, sedangkan kecemburuan sosial, kontrol sosial, dan stereotip gender diungkapkan pada tingkat konotatif. Mitos menciptakan nilai kolektif seperti pentingnya mempertahankan martabat perempuan, solidaritas sosial yang kuat, dan legitimasi gosip sebagai cara untuk mengontrol norma. Akibatnya, film Tilik menunjukkan realitas sosial dan memiliki makna kultural. Kata Kunci: Semiotika, Roland Barthes, Dinamika Sosial, Film, Representasi Budaya
KLASIFIKASI SENTIMEN BERBASIS MACHINE LEARNING TERHADAP PENONTON “WONDERLAND INDONESIA” PADA PLATFORM YOUTUBE Surya Darma; Linda Wahyuni; Nauval Alfarizi
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i2.6270

Abstract

Abstract: The purpose of this study is to analyze and classify audience sentiment toward the Wonderland Indonesia video on the YouTube platform using the Naive Bayes and Support Vector Machine (SVM) algorithms. The dataset consists of 10,000 comments collected through a scraping process. The data were then further processed using the Sastrawi library, including data cleaning, case folding, tokenization, stopword removal, and stemming. The TF-IDF method with a dimensional size of (9048, 5000) was used for feature representation. The data distribution indicates a class imbalance, where neutral (4,550) and positive (4,297) sentiments dominate compared to negative (201). The experimental results show that SVM outperforms Naive Bayes, achieving an accuracy of 93% compared to 86%. However, both models encounter difficulties in identifying the negative class. The use of imbalanced data handling techniques shows that SVM with class weighting improves the detection of minority classes without reducing overall accuracy. In contrast, Naive Bayes with SMOTE improves recall but reduces overall performance. The findings indicate that SVM with class weighting is the best-performing model for sentiment classification. Additionally, the results show that the majority of comments are positive, suggesting that audiences respond favorably to the Wonderland Indonesia content. Keywords: Sentiment Analysis, Naive Bayes, Support Vector Machine, YouTube, TF-IDF Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mengklasifikasikan sentimen penonton terhadap video Wonderland Indonesia yang ditampilkan di platform YouTube menggunakan algoritma Naive Bayes dan Support Vector Machine (SVM). Data yang digunakan terdiri dari 10.000 komentar yang dikumpulkan melalui proses scraping. Kemudian, data diproses lebih lanjut dengan menggunakan pustaka Sastrawi untuk membersihkan, menggabungkan case, tokenize, menghilangkan stopword, dan stemming. Metode TF-IDF dengan dimensi (9048, 5000) digunakan untuk mempresentasikan fitur. Distribusi data menunjukkan ketidakseimbangan kelas; sentimen netral (4.550) dan positif (4.297) mendominasi dibandingkan dengan negatif (201). Hasil pengujian menunjukkan bahwa SVM unggul dengan akurasi 93% dibandingkan Naive Bayes sebesar 86%. Namun, kedua model kesulitan menemukan kelas negatif. SVM dengan berat kelas dapat meningkatkan deteksi kelas minoritas tanpa mengurangi akurasi, seperti yang ditunjukkan oleh penggunaan teknik penanganan data tidak seimbang. Di sisi lain, Naive Bayes dengan SMOTE meningkatkan recall tetapi mengurangi performa keseluruhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model terbaik untuk klasifikasi sentimen adalah SVM dengan berat kelas. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar komentar bersentimen positif, yang menunjukkan bahwa audiens menyukai konten Wonderland Indonesia. Kata Kunci: Analisis Sentimen, Naive Bayes, SVM, YouTube, TF-IDF