Claim Missing Document
Check
Articles

BENTUK PERTUNJUKAN KESENIAN JAMILIN DI DESA JATIMULYA KECAMATAN SURADADI KABUPATEN TEGAL Gupita, Winduadi; Kusumastuti, Eny
Jurnal Seni Tari Vol 1 No 1 (2012): Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.129 KB) | DOI: 10.15294/jst.v1i1.1806

Abstract

MODEL PEMBELAJARAN INTERAKTIF KELOMPOK PADA MATA PELAJARAN SENI TARI Susanty, Pratiwi Esti; Kusumastuti, Eny
Jurnal Seni Tari Vol 1 No 1 (2012): Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.988 KB) | DOI: 10.15294/jst.v1i1.1807

Abstract

BENTUK PELARUNGAN SESAJI DALAM UPACARA BARITAN DI DESA ASEMDOYONG KECAMATAN TAMAN KABUPATEN PEMALANG -, Rosida; Kusumastuti, Eny
Jurnal Seni Tari Vol 1 No 1 (2012): Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.4 KB) | DOI: 10.15294/jst.v1i1.1808

Abstract

BARONGAN JOGO ROGO DALAM TRADISI SELAPAN DINO Efendi, Junarto; Kusumastuti, Eny
Jurnal Seni Tari Vol 2 No 1 (2013): Vol 2 No 1 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.507 KB) | DOI: 10.15294/jst.v2i1.9617

Abstract

The ceremony selapan dino is traditional ceremonies exercised regularly by villagers Gabus Pati starch every friday night wag e. Friday wage was a day of being believable villagers Gabus as days of difficult to obtain rejeki, so we needed held a ceremony selapan dino which aims to launch rejeki. The ceremony selapan dino to be held every 35 days, by villagers Gabus. The ceremony selapan dino in an hereditary manner alw ays performing barongan  jogo  rogo   as  requirement  of   the  organizing  of   ceremonies  selapan  dino.   The  subjects  in  research  is:  how  do  you  study textual  and contextual the art of barongan jogo rogo in the tradition of selapan dino in the village of Gabus Pati starch. Textual study focused on the form of a show barongan jogo rogo in selapan dino, the study of contextual focused on function barongan jogo rogo in selapan dino. A me thod of research used in this research using methods qualitative.  The technique of collecting data covering  the technique of observation, the technique of interviews and engineering  documentation.  Engineering  analysis  of  data  in   research   is  the  reduction  of  data,  presentation  of  data  and the  wi thdrawal  of   the conclusion. Research revealed that the art of barongan jogo rogo in the village of Gabus Pati starch appear around 1980 which was initiated by the father  who  was.  Textual  study  art  barongan  jogo  rogo  in  selapan  dino  focused  on  form  consisting   of  a  theme, a  performer  (  inv estors  ), accompaniment ( vote ) place stage, motion, a way ( fashion, dressing, the property and the offerings ) and the audience. An art form barongan jogo rogo in selapan dino different with a gig barongan jogo rogo served as a whole. Barongan jogo rogo in the tradition of selapa n dino served in the form of mobile convoy village of Gabus. Study contextual the art of barongan jogo rogo in selapan dino can be known that baro ngan jogo rogo serves as a means of a ritual. The function of a ritual namely as a means of turning balah and ruwatan.A  form of turning balah villagers Gabus namely by  giving  wisit  to  barongan  one  goes  home,  while   the  aim  of  turning  balah  to  villagers  Gabus  escape from  calamity  misfortune;   distress  and obstruction. A form of ruwatan villagers Gabus namely mengarak barongan roving village as figures of protector of villagers Gabus. Suggestions in this research are villagers Gabus must remain hold staging barongan jogo rogo on tradition selapan dino as a form of love tow ards art barongan and efforts to the preservation of culture. Culture and tourism agency should be more can promote tradition selapan dino to other region via the internet, salebaran or newspapers so that tradition selapan dino can known to the territory of another
PROSES PEMBELAJARAN TARI RANTAYA PADA SISWA KELAS VII DI SMP NEGERI 13 MAGELANG Rosalina Susanti, Helmi; Kusumastuti, Eny
Jurnal Seni Tari Vol 2 No 1 (2013): Vol 2 No 1 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.946 KB) | DOI: 10.15294/jst.v2i1.9618

Abstract

Rantaya tari dasar tari Surakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan dan memahami: (1) Rantaya tari proses pembelajaran di SMPN 13 magelang, (2) Faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar Rantaya tari  di  SMP  N  13  Magelang.  Metode  penelitian  yang  digunakan  dalam  penelitian  ini  adalah  pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan  data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik  analisis data menggunakan tiga langkah, reductinng data, servering data dan mengambil kesimpulan atau verivication data. Menggunakan teknik  data  adalah  triangulasi sumber, triangulasi teknik,  dan waktu triangulasi. Nilai rantaya tari proses pembelajaran di kelas VII SMP N 13 Magelang terdiri dari tiga langkah, mereka membuka, utama, dan penutup. Proses belajar terdiri dari 7 pertemuan. Nilai belajar Rantaya tari dapat dilihat dari kognitif, afektif, dan psikomotorik. Didukung dan supportted faktor. Kesimpulan dari penelitian ini adalah rantaya proses belajar tari meliputi tiga langkah, mereka membuka, utama, dan penutup. Nilai dapat dilihat dari kognitif, afektif dan  psikomotorik. Saran dari penelitian ini memberikan kepada siswa: (1)  Untuk memberikan motivasi bagi siswa untuk meningkatkan apresiasi mereka dan terutama orang-orang siswa dan tari, (2) guru Seni akan lebih baik  jika memberikan apresiasi kepada siswa dan meminta kepada siswa  untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam tari di sekolah
EKSISTENSI KESENIAN BARONGAN KUSUMOJOYO DESA GEBANG KECAMATAN BONANG KABUPATEN DEMAK Khoiroh, Kholifatun; Kusumastuti, Eny
Jurnal Seni Tari Vol 9 No 1 (2020): Vol 9 No 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.534 KB) | DOI: 10.15294/jst.v9i1.36942

Abstract

Barongan, a kind of mask that has face resembling a lion with beautiful feathers decoration, serves as an entertainment in the community. Barongan or most commonly known as Singo Barong, has its own folklore that tells a story of a huge animal (a lion) played by two men, one holds its head and the other hold the tail. The objectives of this research are to describe the performance?s forms and the existence of Barongan Kusumojoyo from Gebang village, Bonang district, Demak regency. The research employed a qualitative method by only focusing on the performance?s forms and existence. The writer employs herself to collect the data, by doing observation, interviews, and some documentation. The researcher used triangulation technique to validify the data; which includes source triangulation, method triangulation, and theory triangulation. The findings of this research show that the performance?s forms of Barongan Kusumojoyo can be seen from its presentation structure and the elements of show. The elements of show appear in motion, makeup, fashion, property, musical accompaniment, and its stage layout. The existence of Barongan Kusumojoy can be seen from the process of training to staging.  Barongan performances are made up of imitating animal movements and are improvised in a lively accompaniment. Keywords: Performance?s forms, Existence, Barongan Kusumojoyo
Pola Berkesenian Jaran Kepang Paguyuban Setyo Langen Budi Utomo Kusumastuti, Eny
Varia Humanika Vol 1 No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Paguyuban Setyo Langen Budi Utomo terletak di Dusun Suruhan, Desa Keji Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang. Paguyuban Setyo Langen Budi Utomo, selalu konsisten dalam melestarikan tari Jaran Kepang. Permasalahan yang muncul adalah masih minimnya kemampuan dasar tari yang dimiliki oleh anggota paguyuban tersebut. Program Kemitraan Masyarakat mempunyai tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan menari Jaran Kepang anggota Paguyuban Setyo Langen Budi Utomo, dengan sasaran 30 anak. Adapun ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditransfer adalah: Penyuluhan materi pengetahuan gerak dasar tari Jaran Kepang dan pelatihan gerak dasar tari Jaran Kepang. Proses transfer iptek dilaksanakan dengan pola penyuluhan, dan pelatihan. Penyuluhan materi pengetahuan gerak dasar tari meliputi bentuk tari, penampilan (wiraga, wirama, wirasa) dan penghayatan. Pelatihan materi gerak dasar tari meliputi demonstrasi bentuk tari, penampilan (wiraga, wirama, wirasa) dan penghayatan. Metode Kegiatan Program Kemitraan Masyarakat meliputi ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi, latihan, dan tugas. Pada proses penyampaian materi teori menggunakan beberapa metode seperti ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi secara bervariasi. Sedangkan pada materi praktek, proses pelatihan dilakukan dengan menggunakan metode diskusi, demonstrasi, latihan, dan tugas. Pelaksanaan kegiatan dilakukan selama 6 bulan, diakhiri dengan evaluasi proses dan akhir. Evaluasi proses dilakukan dengan cara memperhatikan dan menilai perkembangan pengetahuan dan keterampilan gerak dasar tari selama proses pelatihan berlangsung. Sedangkan evaluasi akhir dilakukan dengan cara menampilkan tari Jaran Kepang hasil pelatihan secara keseluruhan. Kriteria keberhasilan Program Kemitraan Masyrakat ini adalah (1) peserta pelatihan memenuhi kuota yang disediakan pengabdi, (2) peserta pelatihan mengikuti setiap tahapan pelatihan sampai selesai, (3) peserta pelatihan mampu mendemostrasikan tari Jaran Kepang.
PEMBELAJARAN SENI TARI MENGGUNAKAN PENDEKATAN APRESIASI DAN KREASI Malarsih, Malarsih; Kusumastuti, Eny
Rekayasa : Jurnal Penerapan Teknologi dan Pembelajaran Vol 11, No 1 (2013): Juli 2013
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/rekayasa.v11i1.10335

Abstract

Permasalahan yang diangkat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah, para guru Sekolah Menegah Pertama kabupaten Semarang belum memberikan pelajaran seni budaya tari menggunakan pendekatan apresiasi dan kreasi untuk menuju tercapainya pendidikan yang diinginkan di sekolah umum. Tujuan dari pengabdian kepada masyarakat ini adalah ingin mengenalkan bagaimana menerapkan metode pembelajaran seni budaya tari menggunakan pendekatan apresiasi dan kreasi itu. Kegiatan dilaksanakan melalui pendidikan dan pelatihan pembelajaran seni budaya tari menggunakan pendekatan apresiasi dan kreasi. Metode pembelajaran dilaksanakan menggunakan ceramah, tanya jawab, demonstrasi, latihan, dan drill. Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat dapat dikemukakan, dapat dipahaminya pembelajaran pendidikan seni budaya tari oleh para guru menggunakan pendekatan apresiasi dan kreasi. Langkah pembelajaran apresiasi melalui empat tahapan utama, yakni pengenalan awal atau deskripsi, pemahaman, interpretasi atau penghayatan, dan evaluasi atau penilaian. Langkah kreativitas telah dipahami sebagai pengembangan apresiasi dalam bentuk karya tari. Prosesnya berangkat dari adanya ide, memunculkan konsep, penuangan ide dan konsep dalam bentuk gerak, meramu gerak dalam bentuk tarian utuh, dan terwujudnya produk karya tari baru.
Community-Based Art Education as a Cultural Transfer Strategy in the Jaran Kepang Art Performance of Semarang Regency Kusumastuti, Eny; Rohidi, Tjetjep Rohendi; Hartono, Hartono; Cahyono, Agus
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 21, No 1 (2021): June 2021
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v21i1.30181

Abstract

Jaran Kepang Semarangan is a community based art product. It is a product that has existed in between generations. This research reviews community-based art education as a means to transfer the culture of Jaran Kepang performance. This research is qualitative research with an interdisciplinary approach of sociology to discuss community-based art education and anthropology to dig deeper into the system of knowledge, values, and beliefs within the performance of Jaran Kepang. The research includes a field study in Semarang Regency. The researchers collected the data through observation, interviews, and documentation. The researchers validated the data through triangulation of technique, sources, theory, and times. The data were analysed based on the theories of Janet Adshead along with Miles and Huberman. The research finds that 1) there is a change of community-based art education, including the system of knowledge, values, and beliefs; 2) the transfer of Jaran Kepang is similar to the theory of Cavalli-Sforza and Feldman under the scheme of AGIL (Adaptation, Goal-attainment, Integration, Latent-pattern-maintenance). There is a shift of inheritance system which is from vertical transmission (intergeneration of family) to horizontal transmission or planned regeneration via social media, training, and performance; 3) the development of Jaran Kepang Semarangan is categorized into five types, which are ritualistic ceremony; entertainment of people who hold events, such as marriage, circumcision, gratitude events; rayonan; and entertainment in tourist attraction, cultural festival, or dance competition.
Tari Dayak Grasak: Pembelajaran Seni Berbasis Masyarakat Pada Grup Bangun Budaya Di Dusun Sumber Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang Wardani, Deantika Puspita; Jazuli, Muhammad; Kusumastuti, Eny
Jurnal Seni Tari Vol 10 No 2 (2021): Vol 10 No 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v10i2.47747

Abstract

Tari Dayak Grasak adalah salah satu bentuk seni pertunjukan tari tradisi kerakyatan yang ada diGrup Bangun Budaya, Dusun Sumber. Ciri-ciri tari tradisi kerakyatan melekat pada bentuk tariDayak Grasak meliputi elemen dasar tari dan elemen pendukung tari. Tari Dayak Grasak menjadimateri pembelajaran pada Grup Bangun Budaya dengan menggunakan model pembelajaranberbasis masyarakat. Tujuan penelitian ini, mendiskripsikan bentuk tari Dayak Grasak di grupBangun Budaya, dan proses pembelajaran tari Dayak Grasak pada Grup Bangun Budaya. Penelitianini menggunakan pendekatan pendidikan berbasis masyarakat dengan metode kualitatif. Teknikpengumpulan data meliputi observasi, dokumentasi, dan wawancara. Teknik keabsahan datamenggunakan metode triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Teknik analisis data melalui reduksidata, penyajian data dan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk tari Dayak Grasakmemiliki pengulangan gerak atau repetisi, rampak, bentuk gerak yang sederhana, dilakukan secaraberulang-ulang, dan tidak semua ragam geraknya memiliki patokan penamaan (istilah).Pembelajaran tari Dayak Grasak yang dilaksanakan pada grup Bangun Budaya berakar dari inisiatifmasyarakat, dikelola oleh masyarakat, dan untuk kepentingan masyarakat di lingkungannya.Pelaksanaan pembelajaran dilakukan dengan konvensional, dimana peserta didik melihat,mendengar, menirukan atau praktik. Saran, diperlukan kurikulum untuk pedoman pelaksanaanpembelajaran berbasis masyarakat di Grup Bangun Budaya.