Claim Missing Document
Check
Articles

BENTUK PERTUNJUKAN TARI BUTO BIROWO DI PAGUYUBAN WAHYU TURONGGO MUDHO KABUPATEN BOYOLALI Rochman, Muhammad Afifur; Kusumastuti, Eny
Gesture: Jurnal Seni Tari Vol. 14 No. 1 (2025): Gesture: Jurnal Seni Tari (April)
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gjst.v14i1.65275

Abstract

Tari Buto Birowo merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional yang berkembang di Kabupaten Boyolali, khususnya di Desa Lencoh. Tarian ini memiliki makna simbolik yang kuat, menggambarkan kekuatan, keberanian, serta ekspresi spiritual masyarakat Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis bentuk pertunjukan Tari Buto Birowo yang dipentaskan oleh Paguyuban Wahyu Turonggo Mudho. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan etnokoreologi, yang mengkaji bentuk pertunjukan secara tekstual dan kontekstual. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dari berbagai sumber, termasuk Ketua Paguyuban Wahyu Turonggo Mudho dan para penari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Buto Birowo memiliki struktur pertunjukan yang terdiri dari gerak, iringan, busana, properti, dan tempat pertunjukan. Gerakan tarian ini didominasi oleh gerakan dinamis seperti sabetan dan gedruk yang mencerminkan karakter raksasa dalam mitologi Jawa. Musik pengiring yang terdiri dari perpaduan gamelan Jawa dan alat musik modern menambah kekuatan ekspresif dalam pementasan. Paguyuban Wahyu Turonggo Mudho menunjukkan bahwa tarian ini tetap relevan dalam kehidupan modern, bahkan memiliki potensi untuk diperkenalkan secara lebih luas di tingkat nasional maupun internasional sebagai bagian dari warisan budaya Jawa yang berharga.
Peran Tirang Community dalam Pengembangan Eksistensi Wayang Orang Ngesti Pandowo di Kota Semarang Nimah, Wieke Putri Ainun; Kusumastuti, Eny
Gesture: Jurnal Seni Tari Vol. 14 No. 2 (2025): Gesture: Jurnal Seni Tari (October)
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gjst.v14i2.67628

Abstract

This research aims to examine the role of Tirang Community in revitalizing the existence of Wayang Orang Ngesti Pandowo, a traditional performing arts group based in Semarang City. Employing a qualitative method with a phenomenological approach, the study focuses on the lived experiences, meanings, and dynamics within the collaboration between the two artistic entities. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation of the collaborative processes. The findings reveal that the collaboration stemmed from concerns over the declining popularity and internal disintegration of Ngesti Pandowo, including the decreasing audience, lack of innovation, and weak managerial structure. Since the formal partnership began in 2022, Tirang Community has played a strategic role in training, restructuring performance management, and introducing creative concepts such as Wayang Orang On the Street. This collaboration has significantly increased audience engagement, rekindled the artistic spirit of Ngesti Pandowo members, and strengthened their cultural presence within the urban community. The study affirms that cross-community collaboration can serve as an effective strategy in revitalizing traditional performing arts through adaptive and participatory values.
Management of Performing Arts in the Wayang Orang Ngesti Pandowo Performances in Semarang Cahyaningrum, Anita Putri; Kusumastuti, Eny
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 27, No 2 (2025): Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPM Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ekspresi.v27i2.5797

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan manajemen seni pertunjukan pada pergelaran Wayang Orang Ngesti Pandowo di Semarang. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi, melalui observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem manajemen yang diterapkan bersifat hibrid, menggabungkan nilai tradisional dan prinsip manajemen modern. Lima fungsi manajemen (perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pelaksanaan, dan pengawasan) dijalankan secara kolektif dan berbasis komunitas. Faktor pendukung utama antara lain dedikasi seniman, dukungan pemerintah, dan pemanfaatan media digital. Namun, tantangan yang dihadapi mencakup regenerasi seniman, dokumentasi administrasi, dan promosi digital yang belum optimal. Penelitian ini merekomendasikan penguatan kapasitas manajerial dan strategi pelestarian berbasis teknologi agar kelompok seni ini mampu beradaptasi dan berkelanjutan di era modern.Kata Kunci; manajemen seni pertunjukan, wayang orang, Ngesti Pandowo, budaya tradisional, Semarang
BENTUK PERTUNJUKAN TARI SERABI KALIBELUK DI SANGGAR JAGADHITA KABUPATEN BATANG Oktoviany, Fillaily; Kusumastuti, Eny
SIBATIK JOURNAL: Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya, Teknologi, Dan Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : Penerbit Lafadz Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54443/sibatik.v5i2.4420

Abstract

This study discusses the performance form of the Serabi Kalibeluk Dance as a creative dance work based on local culture, developed at the Jagadhita Studio in Batang Regency. The problem addressed in this study is how the Serabi Kalibeluk Dance is performed at the Jagadhita Studio in Batang Regency. The purpose of this study is to explore and describe in detail the performance form of the Serabi Kalibeluk Dance, including the supporting elements of the performance such as the dance movements, presentation structure, and visual components involving music, costumes, and props. This research employs a qualitative approach with an ethnocoreological method and Jazuli's theory, using data collection techniques such as observation, interviews, and documentation. The data collected was analyzed through data reduction, data presentation, and verification techniques. The findings reveal that the Serabi Kalibeluk Dance not only reflects the cultural character of Batang but also serves as an educational medium that represents the historical, social, and traditional values of the local community. The performance form of this dance holds high aesthetic value and plays an important role in the preservation of regional arts. The conclusion emphasizes that the Serabi Kalibeluk Dance is an expression of local culture, containing educational and aesthetic values, and is essential in the efforts to preserve traditional art forms.