Endri Bagus Prastiyo
Sekolah Tinggi Dan Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Raja Haji

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Peran Ganda Perempuan (Studi Pada Pedagang Kaki Lima di Laman Boenda Kota Tanjungpinang) Desmayeti Arfa; Endri Bagus Prastiyo; Desrian Effendi; Novtianti Ramadhani
Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol 11, No 2 (2023): EQUILIBRIUM : JURNAL PENDIDIKAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/equilibrium.v11i2.11149

Abstract

Abstract: The women's double burden has become a very familiar phenomenon in today's era. Many women carry a double burden and we can find it in everyday life. We know that as social construction thrives in our society, married women will stay at home for a long time. However, in contrast to current developments, the economic needs that women must meet, require them to participate in the world of work. The women's double burden is found in married women, not only they have to take care of the household but also they have to work too. The women's double burden to carry are domestic roles and public roles. The purpose of this research is to know the women's double burden who are working and also being a housewife. This research has five informants who became the object of this research using qualitative descriptive with the focus of the research are the domestic and public role. The data sources used are primary data and secondary data sources using data collection  techniques carried out by passive participation observations, interviews, and documentation. After the data is collected, an analysis is carried out to obtain conclutions in testing the validity of the data. The result of this research is that women's double burden is not optimal. This can be seen from the domestic roles that are played in public, bringing the children while doing the public role. Mothers who work cannot be optimal in educating their children because it is out from the domestic role. The advice that can be given are women who have double burden must pay attention to their heallth for themself and for their children, especially from the strong nigh- wind of the sea. Working mothers must also be able to divide their time so that the double burden they carry can run optimally.Abstrak: Peran ganda perempuan menjadi fenomena yang sangat tidak asing di zaman sekarang, banyaknya perempuan yang mengemban peran ganda di dalam kesehariannya yang bisa kita jumpai dimana saja. Kita tahu sendiri bahwa di dalam konstruksi sosial yang berkembang di masyarakat, seorang perempuan saat sudah menikah akan menghabiskan waktunya di rumah. Namun berbeda dengan perkembangan sekarang, kebutuhan ekonomi yang harus dipenuhi membuat banyak perempuan mengemban peran ganda dengan berpartisipasi dalam dunia kerja. Peran ganda perempuan terdapat pada seorang perempuan yang telah menikah menjadi istri atau ibu rumah tangga yang tidak hanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga saja, tetapi juga bekerja di luar rumah. Peran ganda yang dimainkan meliputi peran domestik dan peran publik. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui peran ganda perempuan yang bekerja sebagai pedagang kaki lima dan sebagai seorang istri juga ibu rumah tangga. Penelitian ini memiliki 5 informan yang menjadi objek penelitian yang menggunakan penelitian deskriptif kualitatif dengan fokus penelitian yaitu peran domestik dan peran publik. Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sekunder dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan observasi partisipasi pasif, wawancara dan dokumentasi. Setelah data terkumpul kemudian dilakukan analisis untuk mendapatkan kesimpulan dalam menguji keabsahan data. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa peran ganda yang dimainkan oleh pedagang kaki lima perempuan belum berjalan dengan optimal. Hal ini bisa dilihat dengan adanya peran domestik yang dimainkan diranah publik dengan membawa anak saat berdagang. Ibu yang bekerja tentu saja tidak bisa optimal dalam mendidik anak sehingga keluar dari ranahnya yang seharusnya mendidik anak di ranah domestik. Adapun saran yang dapat diberikan sehubungan dengan penelitian ini yaitu seorang perempuan yang memiliki peran ganda sekaligus ini harus bisa memperhatikan dan menjaga kesehatan baik untuk dirinya maupun anaknya terlebih lagi kuatnya angin malam dan angin dari laut yang berhembus. Ibu yang bekerja juga harus bisa membagi waktu dengan baik agar kedua peran yang diemban bisa berjalan dengan maksimal. 
Motivasi Pemuda Dalam Melanjutkan Perguruan Tinggi (Studi Pada Pemuda Yang Melanjutkan Studi Ke Perguruan tinggi Di Kampung Suka Jadi Desa Pangke Kabupaten Karimun) Ferizone .; Endri Bagus Prastiyo; Alfi Husni; Rianto .; Desmayeti Arfa; Veny Melisa Arindini
Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol 12, No 2 (2024): EQUILIBRIUM : JURNAL PENDIDIKAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/equilibrium.v12i2.14985

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui motivasi pemuda dalam melanjutkan perguruan tinggi di Kampung Suka Jadi Desa Pangke Kecamatan Meral Barat Kabupaten Karimun. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, dan teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Populasi dalam penelitian ini adalah pemuda Kampung Suka Jadi yang baru lulus sekolah menengah di tahun 2022 yaitu sebanyak 28 jiwa, dengan menggunakan teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling, dan diperoleh kriteria sampel tersebut yaitu pemuda yang lulus SLTA/Sederajat di tahun 2022 dan melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi sebanyak 8 orang. Hasil dari penelitian ini yaitu dalam teori Abraham Maslow, teori hierarki kebutuhan membentuk sebuah piramida yang dimana pemenuhan kebutuhan dasar atau kebutuhan fisiologis terdapat di level paling bawah. Adapun harapan informan mengenai motivasi mereka untuk melanjutkan pendidikan sebagaimana yang telah diuraikan seperti berharap adanya rasa aman karena mendapat gelar, merasa diterima di lingkungan, merasa di hargai, menambah relasi dan wawasan, hal tersebut merujuk kepada satu pemenuhan kebutuhan yaitu agar dapat dengan mudah mencari pekerjaan dengan penghasilan yang besar. Adanya motif pemenuhan kebutuhan ekonomi. Artinya, secara tidak sadar para informan berusaha untuk memenuhi kebutuhan fisiologis agar kehidupan mereka menjadi sejahtera dan berkecukupan.
Pendidikan Inklusif Gender sebagai Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual di Pondok Pesantren Indah Oktaviani; Yelly Elanda; Azizah Alie; Endri Bagus Prastiyo
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 18 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v18i1.39499

Abstract

This study aims to address two primary questions: Why does sexual violence occur in Islamic boarding schools (pondok pesantren)? How can sexual violence in these institutions be prevented? The methodology employed is a literature review based on the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). The data collection process involves four stages, starting with inclusion and exclusion criteria using Google Scholar with keywords such as “Sexual Violence in Islamic Boarding Schools” and “Inclusive and Gender-Responsive Education in Islamic Boarding Schools.” The findings reveal that the root causes of sexual violence in Islamic boarding schools are the hierarchical relationship between the kiai (religious leader) and the santri (students), the perpetuation of patriarchal culture, and the total obedience of the santri to the kiai. These factors also contribute to the underreporting of sexual violence cases, as victims and their families often feel intimidated. To address this issue, gender-inclusive education is necessary, manifested through a Gender Equality Curriculum (KKG). This curriculum ensures that all components involved in the educational system adopt gender-responsive thinking and behavior based on justice and gender equality. Gender-inclusive education will also create a non-segregated learning environment. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menjawab dua pertanyaan utama: Mengapa kekerasan seksual di pondok pesantren bisa terjadi? Bagaimana upaya pencegahan kekerasan seksual di pondok pesantren? Metode yang digunakan adalah studi literatur berdasarkan Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Proses pengumpulan data melibatkan empat tahapan, mulai dari tahap inklusi dan eksklusi menggunakan mesin pencarian Google Scholar dengan kata kunci “Kekerasan Seksual di pondok pesantren” dan “Pendidikan Inklusif dan Responsif Gender di pondok pesantren”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akar masalah kekerasan seksual di pondok pesantren disebabkan oleh adanya hierarki antara kiai dan santri, pelanggengan budaya patriarki, dan kepatuhan total santri kepada kiai. Ketiga faktor ini juga menyebabkan kasus kekerasan seksual di pondok pesantren jarang dilaporkan karena korban dan keluarganya merasa takut. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan pendidikan inklusif gender yang termanifestasi melalui kurikulum kesetaraan gender (KKG). Dengan adanya kurikulum ini, semua komponen dalam sistem pendidikan akan memiliki pola pikir dan perilaku yang responsif gender, berbasis keadilan dan kesetaraan gender. Pendidikan inklusif gender juga akan menciptakan sistem pembelajaran yang non-segregasi gender.