Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

KAJIAN KARAKTERISTIK PREFERENSI PENGGUNAAN MODA TRANSPORTASI PRIBADI DAN PUBLIK KASUS : PERJALANAN HARIAN KE UNDIP TEMBALANG Mulya Syoufrizha Rangkuti; Agung Sugiri
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.207 KB)

Abstract

Dalam melakukan pergerakan harian manusia dari satu tempat ke tempat lain membutuhkan moda transportasi.Dalam konteks ini, kepemilikan dan penggunaan kendaraan pribadi dan umum dapat dikatakan sebagai salah satu alternatif bagi masyarakat dalam memenuhi tuntutan pergerakan. namun disisi lain fenomena ini telah menjadi salah satu masalah terhadap timbulnya kepadatan lalu lintas dan penurunan kualitas lingkungan di perkotaan. Seiring dengan hal tersebut, penelitian tentang perilaku preferensi penggunaan kendaraan transportasi mahasiswa, dosen,dan pegawai tata usaha, bertujuan mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi penggunaan moda dalam perjalanan harian ke UNDIP Tembalang, dengan menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh. Instrumennya meliputi form  kuesioner serta menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif dalam penelitian ini terdapat 4 sasaran yaitu mengidentifikasi karakteristik pengguna jalan, mengidentifikasi karakteristik civitas dalam pemilihan moda transportasi, Mengidentifikasi karakteristik fasilitas moda, Menganalisa faktor yang paling mempengaruhi dalam penggunaan moda transportasi civitas kampus dengan analisis crosstab dalam penggunaan moda transportasi pribadi dan umum untuk perjalanan harian ke UNDIP Tembalang   . Hasil penelitian menunjukan Dalam studi kasus penelitian tentang landasan civitas kampus UNDIP dalam memilih moda transportasi baik kendaraan pribadi maupun kendaraan umum dengan mengambil studi kasus kasus preferensi penggunaan moda dalam perjalanan harian ke UNDIP Tembalang terdapat beberapa kesimpulan yaitu diketahui bahwa dari 99 responden 74 orang menggunakan kendaraan pribadi, 25 orang menggunakan kendaraan umum,dan faktor yang paling mempengaruhi dalam pemilihan moda adalah faktor karakteristik pelaku pergerakan civitas kampus dengan variabelnya kepemilikan moda Hal inilah yang menyebabkan preferensi pemilihan moda transportasi oleh civitas kampus dalam melakukan perjalanan hariannya ke UNDIP Tembalang.
KAJIAN PERILAKU MASYARAKAT DALAM KAITANNYA DENGAN FUNGSI EKOLOGIS KALI SEMARANG DI KAMPUNG PURWODINATAN DAN SUMENEBAN Zulfika Satria Kusharsanto; Agung Sugiri
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1321.198 KB)

Abstract

Pesatnya pertumbuhan kota seringkali tidak memperhatikan aspek ekologisungai sehinggafungsi ekologisnya mengalami penurunan. Penelitian ini mengambil lokasi pengkajian di Kali Semarang yang kondisinya sudah tidak laik karena airnya berbau, banyak sampah, dan banyak endapan.Terjadinya degradasi lingkungan tersebut tidak terlepas dari bentuk perilaku masyarakat yang tinggal dan beraktivitas sehari-hari di sekitar Kali Semarang.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk perilaku masyarakat terhadap keberadaan Kali Semarang dan menyelaraskan perilaku masyarakat agar tidak merusak fungsi ekologis sungai perkotaan.Metode campuran (mixed-method) antara kualitatif dan kuantitatifdigunakan sebagai bentuk triangulasi dengan metode analisis yang digunakan adalah analisis berurutan (deskriptif kualitatif kemudian deskriptif kuantitatif).Data didapatkan berdasarkan wawancara kepada informan penting seperti perangkat kecamatan, Dinas PSDA dan kuesioner semi-terbuka kepada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di Kampung Purwodinatan dan Sumeneban yang lokasinya tepat di tepi Kali Semarang.Temuan dari penelitian ini menjelaskan bahwa masyarakat di Kampung Purwodinatan dan Sumeneban masih memiliki perilaku yang belum mencerminkan perilaku pro-lingkungan sungai.Walaupun sudah ada pengelolaan sampah, aktivitas domestik nonformal yang terjadi di tepian sungai menyebabkan banyak sampah terhanyut ke sungai.Tidak adanya tangki septik di beberapa MCK juga memperburuk kondisi. Akibatnya endapan di Kali Semarang menjadi sangat tinggi hingga menyebabkan banjir dan rob. Berdasarkan informasi yang didapat, kondisi ini disebabkan oleh kondisi ekonomi masyarakat kampung yang tergolong menengah ke bawah dan kurangnya edukasi tentang pengelolaan sungai.Sedangkan penilaian dari masyarakat menjelaskan bahwa ketersediaan prasarana yang masih kurang mengindikasikan lemahnya peran pemerintah kota dalam pengelolaan lingkungan Kali Semarang dan permukiman di sekitarnya. 
Evaluasi Tingkat Keberhasilan Program Desa Wisata Nongkosawit Kecamatan Gunungpati di Kota Semarang Deanira Chikita Edelweis; Agung Sugiri
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 7, No 2 (2018): Mei 2018
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (899.117 KB)

Abstract

Tourism activities recently becoming a necessity and a lifestyle of most societies. One of the tourism that is growing quite rapidly is a tourism based on rural areas. The village becomes one of potential resources and has good prospects to develop as it has strong potential to attract tourists, especially for tourists coming from urban areas. Rural-based tourism also plays a role in improving the economy and improving the welfare of the community in the location itself by using the concept of Community Based Tourism (CBT), where local communities also play an active role in the development.Semarang City is one part of the program "Visit Jawa Tengah" which is a leading tourism program for the areas located in the Province of Central Java. Currently the Government of Semarang City is promoting the program "Ayo Wisata ke Semarang!" as a follow-up program of the "Visit Jateng" program. One of the efforts being done is to develop tourist villages in the city of Semarang, one of which is the Nongkosawit Tourism Village located in Gunungpati District. Tourism potential in Nongkosawit Tourism Village is diverse ranging from cattle tours, beautiful rice fields to culinary centers.Seeing the development of Nongkosawit Tourism Village program, then evaluated the program to determine the extent to which the success rate. Research on the evaluation of the Nongkosawit Tourism Village program uses a quantitative descriptive analysis with a questionnaire addressed to local communities and tourists. There are three main aspects of evaluation, namely the aspect of tourism potentia, human, (aspect of local people and tourist aspect. The results of the evaluation program, which indicates that according to respondents indicators are still low is the aspect of tourism potential, especially on the tourist accommodation indicators. Overall, these three aspects have fallen into the "high" category or are already quite satisfactory. After obtaining the conclusions from the results of program evaluation, then compiled a recommendation for both parties namely the Government and the local community
KAJIAN KINERJA FASILITAS MCK DAN IPAL KOMUNAL DI KELURAHAN PANDEAN LAMPER, KECAMATAN GAYAMSARI, KOTA SEMARANG Riska Ariyanti; Agung Sugiri
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 4 (2015): November 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (734.641 KB)

Abstract

Kota Semarang sebagai salah satu kota besar di Indonesia, memiliki tingkat petumbuhan penduduk yang tinggi. Hal ini akan berdampak pada meningkatnya kebutuhan sanitasi untuk masyarakat. Kelurahan Pandean Lamper merupakan salah satu kelurahan yang sebagian masyarakatnya masih belum memiliki fasilitas MCK. Pemerintah Kota Semarang berupaya menyediakan fasilitas MCK dan IPAL komunal unuk masyarakat di RT,01 dan RT.02, RW.X Kelurahan Pandean Lamper. Fasilitas tersebut diharapkan mampu menciptakan sistem sanitasi yang berkualitas, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan.Perlu dilakukan evaluasi terhadap fasilitas MCK dan IPAL komunal yang ada di Kelurahan Pandean Lamper untuk mengetahui kinerja dari fasilitas tersebut.Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja fasilitas MCK dan IPAL Komunal di Kelurahan Pandean Lamper, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif.Untuk teknik analisis yang digunakan terdiri dari analisis statistic deskriptif yang digunakan untuk mengidentifikasi sanitasi yang berkualitas, sanitasi yang berkelanjutan dan sanitasi yang berwawasan lingkungan, praktik hidup bersih dan sehat masyarakat, serta tingkat penggunaan fasilitas sanitasi.Selain itu, penelitian ini juga menggunakan analisis komparatif untuk mengetahui kesesuaian antara jumlah pengguna yang terlayani dengan pengguna eksisting fasilitas MCK dan IPAL komunal.Hasil menunjukkan bahwa fasilitas MCK dan IPAL komunal sudah bisa mewujudkan sistem sanitasi yang berkualitas, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.Secara kelayakan, masing-masing dari komponen MCK seperti jamban leher angsa, kamar mandi, tempat cuci, dan tempat cuci tangan sudah memenuhi kriteria layak berdasarkan standard.Selain itu, komponen MCK tersebut sudah memenuhi kriteria bersih dan sehat untuk digunakan.Kemudian IPAL komunal yang ada juga telah memenuhi kriteria aman karena memiliki pipa air kotor yang sesuai dengan standard dan mempunyai jarak > 10 m dari sumber air bersih sehingga mampu dikatakan berhasil menjadi sanitasi yang berkualitas.Untuk teknologi yang digunakan, tariff penggunaan fasilitas MCK dan IPAL komunal, penerimaan sosial budaya masyarakat sudah memenuhi kriteria sebagai sanitasi yang berkelanjutan. Sedangkan dari sisi berwawasan lingkungan dapat dinilai dari kualitas air yang tidak tercemar. Hal ini menunjukkan bahwa fasilitas MCK dan IPAL komunal tidak berpengaruh buruk terhadap lingkungan terutama pada kualitas air bersih. Dari sisi penerapan praktik hidup bersih dan sehat, ditunjukkan pada rendahnya angka buang air besar sembarangan, kesadaran cuci tangan pakai sabun yang baik, pengolahan makanan dan minuman yang baik, serta pengelolaan sampah rumah tangga baik.Pada tingkat penggunaan, menunjukkan bahwa fasilitas sudah berfungsi secara efektif karena mempunyai tingkat intensitas penggunaan yang tinggi.Sedangkan dari sisi pelayanan, sudah bisa dikatakan berhasil karena adanya kesesuaian antara jumlah pengguna yang terlayani dengan pengguna eksisting fasilitas MCK dan IPAL komunal.
KAJIAN PARTISIPASI KOMUNITAS MARGINAL DALAM PENATAAN KAWASAN KOTA LAMA SEMARANG Agnes Zikya Helena; Agung Sugiri
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.372 KB)

Abstract

 Abstrak: Perencanaan saat ini sebagian besar bersifat top down yang hanya dikendalikan oleh elit pemangku kepentingan. Hal ini memiliki beberapa keuntungan dan kerugian dalam proses pelaksanaannya. Terkadang proses perencanaan secara top down kurang menyentuh permasalahan yang sebenarnya terjadi di masyarakat karena seluruh proses di lakukan oleh elit pemangku kepentingan. Untuk itu perlu adanya pelibatan peran masyarakat dalam berbagai proses perencanaan agar aspirasi mereka dapat tersalurkan sehingga perencanaan yang dibuat tetap relevan dalam menyelesaikan permasalahan yang sedang terjadi di masyarakat. Kawasan Kota Lama Semarang merupakan kawasan bersejarah yang dikonservasi dimana terdapat komunitas-komunitas marginal didalamnya. Tidak dapat dipungkiri, bahwa komunitas marginal yang ada telah menjadi bagian dari kawasan Kota Lama Semarang. Beberapa komunitas marginal yang dapat ditemukan seperti tukang becak, PKL, penjual ayam bangkok, pemulung, tuna wisma, pengumpul barang rongsok serta bangunan-bangunan liar. Keberadaan komunitas marginal di kawasan Kota Lama sedikit banyak mempengaruhi kondisi lingkungan sekitarnya yang semakin kotor dan kumuh. Dari komunitas-komunitas marginal tersebut, hanya becak dan PKL yang diatur keberadaannya dalam RTBL Kota Lama, dan dapat dikatakan keberadaannya legal. Bentuk partisipasi dan pelibatan komunitas marginal yang dilakukan pemerintah apabila dikaitkan dengan tangga Arnstein, termasuk pada tangga Therapy dan Informing. Dimana pemerintah hanya memberikan informasi satu arah kepada komunitas marginal berupa penggusuran dan berpindah tempat saat kegiatan-kegiatan tertentu. Pada tangga informing, pemerintah hanya meminta pendapat dari komunitas marginal tanpa adanya jaminan bahwa pendapat tersebut akan diikutsertakan dalam proses pembangunan. Belum adanya upaya pemerintah untuk membahas penataan Kota Lama bersama komunitas marginal yang menjadi bagian dari kawasan Kota Lama, membuat komunitas-komunitas marginal yang ada enggan untuk berpartisipasi dan merasa acuh tak acuh. Menurut pemerintah terkait, banyak kendala dalam menertibkan komunitas marginal untuk menata kawasan Kota Lama. Banyaknya komunitas marginal yang merupakan pendatang serta tidak adanya pendataan yang jelas membuat komunitas marginal ini semakin sulit untuk ditertibkan. Walaupun banyak kendala, seharusnya pemerintah bisa lebih tegas dalam menertibkan komunitas marginal, terlebih dalam menerapkan kebijakan-kebijakan terkait penataan Kota Lama seperti RTBL, dan Grand Design kawasan Kota Lama.
KAJIAN EKSTERNALITAS INDUSTRI PENGASAPAN IKAN DI KELURAHAN BANDARHARJO KECAMATAN SEMARANG UTARA Aulia Dzaki; agung sugiri
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.218 KB)

Abstract

Keberadaan kegiatan industri ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Namun pada kenyataanya sering ditemukan kegiatan industri ini menjadi sumber masalah yang merugikan masyarakat. Keberadaan industri selain menjadi penggerak ekonomi juga menjadi sumber masalah terkait pencemaran lingkungan di sekitar lokasi industri. Kota Semarang memiliki masakan atau makanan khas yaitu masakan Ikan Mangut. Masakan ini berbahan dasar ikan asap yang berasal dari industri pengasapan ikan di Kelurahan Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara. Seperti yang sudah diketahui, industri ini menggunakan asap untuk memasak ikan yang  mengganggu kehidupan masyarakat di sekitar lokasi industri pengasapan ikan. Masyarakat akan mengeluarkan biaya eksternal untuk memenuhi kebutuhan sebagai dampak negatif (negative externality) industri pengasapan ikan. Pendekatan penelitian ini menggunakan mix method yaitu menggunakan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah besar kerugian yang ditanggung masyarakat sebagai dampak negatif (negative externality) dari industri pengasapan ikan. Penelitian ini akan menunjukkan bagaimana biaya eksternal sangat penting untuk diperhatikan sebagai salah satu pertimbangan dalam melakukan kegiatan industri disamping masalah pencemaran lingkungan.
PERSEPSI DAN PREFERENSI MAHASISWA UNDIP TEMBALANG UNTUK BERSEPEDA KE KAMPUS Donny Cipta Utama; Agung Sugiri
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.32 KB)

Abstract

Kawasan pendidikan Kampus Undip Tembalang merupakan salah satu kawasan dengan aktivitas terpadat di Kota Semarang. Kawasan ini dihuni oleh puluhan ribu mahasiswa. Kemacetan dan polusi udara juga terjadi di kawasan ini karena tingginya aktivitas dan penggunaan kendaraan bermotor oleh mahasiswa. Untuk mengurai kemacetan dan menurunkan tingkat polusi udara, pihak kampus telah menerapkan beberapa program, salah satunya adalah program penerapan jalur sepeda di kawasan kampus. Sejumlah sepeda juga disediakan oleh pihak kampus dengan bekerja sama dengan pihak swasta. Namun pada penerapannya, mahasiswa tetap menggunakan kendaraan bermotor untuk pergi ke kampus maupun melakukan aktivitas sehari-hari. Padahal sebagian besar mahasiswa bertempat tinggal pada jarak atau radius nyaman bersepeda yaitu ± 2 km. Maka dilakukanlah penelitian ini guna mencari tahu bagaimana upaya yang seharusnya dilakukan untuk meningkatkan minat mahasiswa bersepeda ke kampus. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu diidentifikasi terlebih dahulu mengapa minat dan preferensi mahasiswa untuk bersepeda ke kampus sangat rendah. Selain itu juga perlu digali lebih dalam mengenai penilaian atau persepsi mahasiswa terhadap kinerja program sepeda kampus saat ini. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif dengan alat analisis deskriptif, pembobotan, serta skoring. Berdasarkan analisis ditemukan bahwa rendahnya minat mahasiswa untuk bersepeda ke kampus sangat dipengaruhi oleh faktor fisik lingkungan kawasan Tembalang. Bentuk lahan yang berbukit serta keberadaan PKL dan parkir kendaraan di bahu jalan akibat fungsi perdagangan pada sejumlah ruas jalan sangat mempengaruhi minat mahasiswa untuk bersepeda. Faktor lain yang mempengaruhi rendahnya minat bersepeda mahasiswa adalah akses terhadap sepeda kampus yang sangat kurang serta karakteristik kendaraan bermotor yang lebih fleksibel dan praktis dibanding alat transportasi lainnya. Kinerja program sepeda kampus menurut mahasiswa saat ini masih kurang, terdapat beberapa aspek pendukung yang perlu mendapat perbaikan, antara lain kinerja vegetasi, jangkauan jalur sepeda, dan keamanan jalur sepeda. Pembangunan pos peminjaman sepeda menjadi prioritas fasilitas yang perlu dibangun untuk meningkatkan minat bersepeda, hal ini masih terkait dengan akses mahasiswa terhadap sepeda kampus. Pada dasarnya mahasiswa memiliki minat untuk bersepeda ke kampus, namun sejauh ini infrastruktur pendukung sepeda kampus dirasa belum memadai sehingga penggunaan sepeda hanya dinilai sebagai ajang rekreasi dan sarana olahraga, belum menjadi sebuah alternatif transportasi untuk menuju ke kampus.
KAJIAN PERENCANAAN TATA RUANG PARTISIPATIF UNTUK MENUNJANG KEGIATAN NON-PERTANIAN DI KECAMATAN WONOSALAM DEMAK Rizka Fadhilah Adnin; agung sugiri
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 2 (2015): Mei 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1061.721 KB)

Abstract

Kemiskinan dapat dipandang sebagai bagian dari masalah pembangunan. Keberadaannya ditandai dengan pengangguran dan ketidakmampuan yang akan meningkatkan kesenjangan sosial. Sektor non-pertanian di pedesaan dapat membantu orang miskin pedesaan untuk mengurangi kemiskinan mereka dengan industri skala mikronya. Kegiatan ini sering beroperasi di sektor informal, namun pengembangannya sering kurang didukung oleh kebijakan tata ruang terkait. Sementara itu, pendekatan partisipatif merupakan komponen penting dalam perencanaan tata ruang di Indonesia, sesuai dengan amanat UU Penataan Ruang. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki perencanaan tata ruang partisipatif untuk mendukung pengembangan kegiatan non-pertanian di Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak. Pendekatannya adalah kualitatif dengan analisis isi sebagai metode analisis utamanya. Hasil studi menunjukkan bahwa kebijakan tata ruang yang diterapkan di daerah penelitian agak menghambat, bukannya mendorong kegiatan non-pertanian. Meskipun rencana tersebut telah mempertimbangkan hubungan spasial dalam beberapa hal, itu belum cukup tepat dalam perencanaan struktur tata ruang untuk mendukung kegiatan non-pertanian. Alasan utama di balik ini yang paling mungkin adalah karena pendekatan top-down yang diterapkan dalam perencanaan tata ruang. Seandainya penduduk lokal dengan keterlibatan di sektor non-pertanian telah diberikan porsi partisipatif yang tepat dalam proses perencanaannya, situasi akan telah jauh lebih baik. Oleh karena itu, di antara rekomendasi penting studi ini adalah untuk menerapkan pendekatan partisipatif dalam setiap tahap proses perencanaan tata ruang.
Tingkat Keberhasilan Relokasi Ruang Bagi Pedagang Pada Penataan Pasar Marelan Kota Medan Ahmad Nur Hafidzhi; Agung Sugiri
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 9, No 2 (2020): Mei 2020
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (682.733 KB)

Abstract

Street Vendors or commonly referred to as street vendors are a group oftraders who sell by utilizing the area of the roadside to look for sustenance by holdingtheir wares. The importance of regulation and the need for structuring street vendors is arather troublesome job for almost all local governments in Indonesia. Almost all thearrangement and empowerment of street vendors often experience endless polemicproblems between the government and street vendors. The existence of street vendors iscaused by the inability of the formal sector to absorb labor which is increasinglyincreasing or as a result of the current urbanization of villagers who earn a fortune in thecity. The research method used in this study is a descriptive research method with aquantitative approach. The results of this study state that the traders' view of therelocation of the marelan market has been well implemented. because traders are quitesatisfied with the location and infrastructure facilities available at the Medan citymarelan market relocation, and traders assume after the arrangement, the merchant'sincome increases and the community's enthusiasm for shopping is greater. Based on theanalysis it is known that the relocation program that has been carried out by thegovernment has been successful in the physical, environmental and economic aspects ofthe traders.
Studi Kemauan Membayar (Willingness To Pay) Masyarakat Permukiman Kumuh di Kelurahan Kemijen untuk Mendapatkan Air Bersih Vita Wahyu Utami; Agung Sugiri
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 11, No 1 (2022): Februari 2022
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

People in the slum areas struggle to survive by using their limited income to get clean water. Those who face problems with the provision of clean water have their own assessment of environmental goods, in this case clean water. The research tries to identify how much people are willing to pay for clean water if they are faced with the opportunity to get better clean water. This study aims to estimate the amount of community WTP in the provision of clean water and to analyze the factors that influence the WTP in Kemijen Sub-district, Semarang City. The method used is the congtingent valuation method (CVM) to estimate the cost desired by the community and logistic regression analysis to identify the factors that influence the community in paying. The data needed in the study were obtained through a questionnaire. From the analysis, the factors that significantly influence the WTP of the community in paying water are the level of education, number of family members, and community knowledge. The WTP value obtained is Rp313/m3. The results of this study can be used by stakeholders in considering the planned clean water supply service system along with the estimated tariff that will be applied.