p-Index From 2021 - 2026
0.562
P-Index
This Author published in this journals
All Journal e-GIGI JURNAL BIOMEDIK
Michael A. Leman
Universitas Sam Ratulangi

Published : 32 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search
Journal : e-GIGI

Gambaran status karies gigi pada mahasiswa asal Kabupaten Mimika yang mempunyai kebiasaan menyirih di Manado Uamang, Sarlota; Leman, Michael A.; Ticoalu, Shane H.R.
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.15153

Abstract

Abstract: Caries is one of the dentine diseases which causes tooth cavity. In people with chewing betel habit, caries occurs due to less of oral hygiene. Chewing betel habit is inherited from generation to generation to prevent tooth decay, albeit, this habit can cause caries as an impact of chewing betel inappropriately including the frequency, duration, and number of betles consumed. This study was aimed to obtain the caries status of students from Mimika who had chewing betel habit in Manado. This was a descriptive study with a cross-sectional design. Subjects were 45 students from Mimika that had chewing betel habit obtained by using total sampling method. The results showed that the average of DMF-T index of subjects was 5,9 (D/Decay 222, M/Missing 30, F/Filling 15). The majority of subjects had that habit for >5 years, 1-5 times of chewing per day, and less than 5 betels consumed per day. Conclusion: Status of caries in students of Mimika who had chewing betel habit in Manado was classified in high category.Keywords: caries status, chewing betel habit Abstrak: Karies gigi merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi yang menyebabkan kavitas pada gigi. Karies gigi pada penyirih terjadi karena kurangnya pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut. Kebiasaan menyirih merupakan kebiasaan masyarakat peramu yang diturunkan dari generasi ke generasi untuk merawat gigi namun dapat menyebabkan karies gigi pada penyirih akibat pola menyirih yang tidak teratur seperti frekuensi menyirih, lamanya menyirih dan jumlah pinang yang dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status karies gigi pada mahasiswa asal Kabupaten Mimika yang mempunyai kebiasaan menyirih di Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Subyek penelitian berjumlah 45 mahasiswa dengan kebiasaan menyirih berasal dari Kabupaten Mimika, diperoleh dengan metode total sampling. Hasil penelitian menunjukkan rerata indeks DMF-T pada subyek penelitian yaitu 5,9 dengan nilai D (Decay) 222, M (Missing)30, F (Filling) 15. Mayoritas subyek peneltian telah menyirih >5 tahun, frekuensi menyirih 1-5 kali sehari, dan jumlah pinang yang dikonsumsi sehari <5 buah. Simpulan: Status karies pada mahasiswa asal Kabupaten Mimika yang mempunyai kebiasaan menyirih di Manado tergolong kategori tinggi. Kata kunci: status karies, kebiasaan menyirih
Uji Konsentrasi Hambat Minimum Ekstrak Daun Gedi (Abelmoschus manihot L.) terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus Mutans Sekeon, Helen N.; Homenta, Heriyannis; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 6, No 1 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.1.2018.19729

Abstract

Abstract: Streptococcus mutans is the most common bacterium that causes dental caries due to its ability to ferment carbohydrates into acid resulting in the decreased pH on the tooth surface. Prevention of dental caries could be achieved by inhibiting the growth of cariogenic bacteria. Various efforts to control and prevent the cariogenic bacteria include the usage of herbal ingredients; one of them is gedi leaves (Abelmoschus manihot L.). These gedi leaves contain bioactive compounds such as flavonoids, alkaloids, steroids, and saponins. This study was aimed to prove that gedi leaf extract had inhibitory effect on the growth of S.mutans and to obtain the minimum inhibitory concentration (MIC) of this extract on the growth of S. mutans. This was a true experimental design with a randomized pretest-posttest control group design. Gedi leaf extract was obtained by maceration method in 96% ethanol. The results showed that gedi leaf extract had an antibacterial effect on the growth of S. mutans. We used turbidimetry, UV-Vis spectrophotometer, and two times of treatment to obtain the MIC of gedi leaf extract on Streptococcus mutans which was 6.25%. Conclusion: Gedi leaf extract could inhibit the growth of S. mutans with a MIC of 6.25%.Keywords: dental caries, gedi leaf extract (Abelmoschus manihot L.), Streptococcus mutans Abstrak: Streptococcus mutans merupakan bakteri yang paling banyak menyebabkan karies gigi karena bakteri ini berkemampuan memfermentasi karbohidrat menjadi asam yang berakibat turunnya pH pada permukaan gigi. Pencegahan karies gigi dapat dicapai dengan menghambat pertumbuhan bakteri kariogenik. Berbagai upaya dilakukan untuk mengen-dalikan dan mencegah bakteri kariogenik, antara lain dengan menggunakan bahan herbal; salah satunya yaitu tanaman gedi (Abelmoschus manihot L.). Daun gedi mengandung senyawa bioaktif antara lain flavonoid, alkaloid, steroid, dan saponin. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan efek inhibisi ekstrak daun gedi terhadap pertumbuhan S. mutans dan mendapatkan konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak daun gedi terhadap pertumbuhan bakteri S. mutans. Jenis penelitian ini ialah eksperimental murni dengan randomized pretest-posttest control group design. Ekstrak daun gedi dibuat dengan metode maserasi dengan menggunakan etanol 96%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun gedi (Abelmoschus manihot L.) memiliki efek antibakteri dalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. Dengan menggunakan metode turbidimetri dan spektrofotometer UV-Vis dalam 2 (dua) kali perlakuan maka diperoleh KHM ekstrak daun gedi (Abelmoschus manihot L.) terhadap bakteri Streptococcus mutans terdapat pada konsentrasi 6,25%. Simpulan: Ekstrak daun gedi dapat meghambat pertumbuhan Streptococcus mutans dengan KHM pada konsentrasi 6,25%.Kata kunci: karies gigi, ekstrak daun gedi (Abelmoschus manihot L.), Streptococcus mutans
Uji daya hambat ekstrak daun bayam petik (Amaranthus hybridus L.) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus Pormes, Oktovianus; Pangemanan, Damajanty H.C.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.14452

Abstract

Abstract: Synthetic antibiotics have certain side effects, therefore, it is necessary to find alternative natural antibacterial materials which is easily available and to be cultivated, inter alia Amaranthus hybridus L. Its leaves contain active compounds, so they might have antibacterial potential. This study was aimed to determine the inhibitory effect of Amaranthus hybridus leaf extract on the growth of Staphylococcus aureus. This was a true experimental study using post test only control group design. This study was conducted at the Microbiology Laboratory of Faculty of Medicine and the Natural Phytochemical Laboratory of Faculty of Mathematics at Sam Ratulangi University. The modified Kirby-Bauer method was used with three wells, containing Amaranthus hybridus leaf extract, the positive control, and the negative control; and with 5 repetitions. The results showed that the average diameters of the inhibition zone of Amaranthus hybridus leaf extract and of the negative control were 0 mm meanwhile of erythromycin as the positive control was 38.8 mm. Conclusion: Amaranthus hybridus leaf extract had no inhibitory effect on Staphylococcus aureus. Keywords: inhibitory zone, Amaranthus hybridus L, Staphylococcus aureus Abstrak: Bahan antibiotik sintetik memiliki efek samping, sehingga perlu dicari bahan alternatif yaitu bahan alami yang mudah didapat dan dibudidayakan, salah satunya ialah bayam petik (Amaranthus hybridus L.). Daun bayam petik memiliki potensi antibakteri karena memiliki kandungan senyawa aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak daun bayam petik terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Jenis penelitian ialah eksperimental murni dengan post test only control group design. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran dan Labaratorium Fitokimia Fakultas MIPA Unsrat. Metode pengujian yang digunakan ialah modifikasi Kirby-Bauer dengan menggunakan tiga buah sumuran yang diberi ekstrak daun bayam petik, kontrol positif, dan kontrol negatif, sebanyak 5 kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukan diameter rerata dari zona hambat yang terbentuk pada sumur dengan ekstrak daun bayam petik dan pada sumur dengan kontrol negatif ialah 0 mm, sedangkan pada sumur yang diberi kontrol positif amoksisilin terjadi resistensi sehingga diganti dengan eritromisin dan didapatkan rerata zona hambat ialah 38,8 mm. Simpulan: Ekstrak daun bayam petik (Amaranthus hybridus L.) tidak memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.Kata kunci: daya hambat, Amaranthus hybridus L, Staphylococcus aureus
PERBEDAAN PERUBAHAN WARNA RESIN KOMPOSIT PADA PERENDAMAN MINUMAN SARI BUAH PABRIK DAN SARI BUAH SEGAR Kaunang, Claudya F.; Anindita, P. S.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10318

Abstract

Abstract: Composite resin has a lot advantages compared with other filling materials, this is because composite resin has mechanical strength and good aesthetic properties. However, the composite resin also has a disadvantage that can be discoloration during usage caused by extrinsic factors. One of the extrinsic factors is absorption of food and beverages’ dye. Beverage such as fruit juice can cause discoloration of the composite. This study aimed to determine the discoloration of the composite resin when it was immersed in fruit juice. This was an experimental study with a pretest and posttest group design. There were10 samples of composite resin circle formed with a thickness of 2 mm and a diameter of 5 mm, divided in 2 groups: group I was immersed in fresh fruit juice and group II was immersed in factory fruit juice factory until days 9. On days 3, 6, and 9, samples were tested for discoloration by using a spectrophotometer. The results showed color changes in the samples immersed in factory fruit juice more intense than samples immersed in fresh fruit juice. The T test results showed a significant difference in color changes between composites immersed in factory fruit juice and composites immersed in fresh fruit juice on days 3, 6, and 9 (p <0.05).Keywords: composite resin, discoloration, fruit juiceAbstrak: Resin komposit memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan bahan tumpatan lainnya karena tumpatan resin komposit memiliki kekuatan mekanik dan sifat estetik yang bagus. Resin komposit juga memiliki kekurangan yaitu dapat mengalami perubahan warna selama pemakaian yang disebabkan oleh faktor ekstrinsik yaitu adanya absorbsi zat warna dari makanan maupun minuman. Minuman yang dapat menyebabkan perubahan warna pada komposit salah satunya ialah minuman sari buah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan warna resin komposit pada perendaman minuman sari buah. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental murni dengan rancangan pretest and posttest group design. Terdapat 10 sampel resin komposit yang berbentuk lingkaran dengan tebal 2 mm dan diameter 5 mm, dibagi dalam 2 kelompok yakni kelompok I, direndam dalam sari buah pabrik dan kelompok II, direndam dalam sari buah segar sampai hari ke-9. Pada hari ke-3, 6, dan 9 sampel diuji perubahan warna dengan menggunakan alat spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukkan perubahan warna sampel yang direndam dalam sari buah pabrik lebih besar dibandingkan sampel yang direndam dalam sari buah segar. Hasil uji t menunjukkan adanya perubahan yang bermakan dari resin komposit pada pengukuran hari ke-3, 6, 9 antara kelompok perendaman sari buah pabrik dan kelompok perendaman sari buah segar dengan p<0,05.Kata kunci: resin komposit, perubahan warna, minuman sari buah
Pengaruh obat kumur beralkohol terhadap laju aliran saliva dan pH saliva Rawung, Feiby; Wuisan, Jane; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.16538

Abstract

Abstract: Mouthwash is one of the accessible oral healthcare and practical for use by the community. Various commercial products contain more than one active ingredient; the most common one is alcohol with varied concentrations from 6% to 26%. Mouthwash with high concentration of alcohol can cause some effects to some users, like burning and dry sensation of the oral mucosa. Dry oral mucosa caused by reduced saliva production will be more susceptible to irritation. Reduced amount of saliva also causes lower oral pH which leads to increased growth of cariogenic bacteria. This study was aimed to investigate the influence of alcoholic mouthwash to salivary flow and salivary pH. This was a quasi-experiment study with before and after treatment groups. The population study was students of Dental Medical Education Program of Medical Faculty of University of Sam Ratulangi, Manado, batch 2012, with a total of 30 respondents obtained by using purposive sampling method. The T test showed that salivary flow rate before and after treatment had no significant difference (p >0.05) based on T test. Moreover, the Wilcoxon test showed that there was no significant difference of salivary pH between before and after treatment (p >0.05). Conclusion: There was no effect of rinsing with alcoholic mouthwash on salivary flow and salivary pH.Keywords: alcoholic mouthwash, salivary flow rate, salivary pH Abstrak: Obat kumur merupakan salah satu produk perawatan kesehatan gigi dan mulut yang mudah diperoleh dan praktis digunakan sendiri oleh masyarakat. Berbagai produk komersial mengandung lebih dari satu bahan aktif; salah satunya yaitu alkohol dengan konsentrasi bervariasi dari 6% hingga 26,9%. Kandungan alkohol yang tinggi dapat menimbulkan efek bagi sebagian pengguna, seperti sensasi terbakar dan kering di area mukosa mulut disebabkan berkurangnya saliva yang memudahkan terjadinya iritasi. Berkurangnya saliva juga menyebabkan pH mulut rendah sehingga pertumbuhan bakteri kariogenik meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh obat kumur beralkohol terhadap laju aliran saliva dan pH saliva. Jenis penelitian ialah eksperimen semu dengan kelompok sebelum dan sesudah perlakuan. Populasi penelitian yaitu mahasiswa Angkatan Tahun 2012 Program Studi Pendidikan Dokter Gigi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sam Ratulangi Manado yang berjumlah 30 responden, diperoleh dengan purposive sampling. Hasil uji T berpasangan mennunjukkan data laju aliran saliva sebelum dan sesudah perlakuan tidak memiliki perbedaan bermakna (p >0,05). Berdasarkan uji Wilcoxon, data pH saliva sebelum dan sesudah perlakuan tidak memiliki perbedaan bermakna (p >0,05). Simpulan: Tidak terdapat pengaruh berkumur dengan obat kumur beralkohol terhadap laju aliran saliva dan pH saliva.Kata kunci: obat kumur beralkohol, laju aliran saliva, pH saliva
KEBUTUHAN PERAWATAN ORTODONTI BERDASARKAN INDEX OF ORTHODONTIC TREATMENT NEED PADA USIA REMAJA 15 – 17 TAHUN Oley, Axel B.; Anindita, P. S.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.8770

Abstract

Abstract: Dental and oral health is an important factor that must be maintained. Things that affect dental health problems and oral one of them is malocclusion. The application needs orthodontic treatment is aimed at correcting malocclusions that can affect the health of the teeth and oral cavity as well as the appearance of a person's face. Research conducted a descriptive study. The purpose of this study to determine the needs of orthodontic treatment based Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN), which consists of two components, namely the Aesthetic Component (AC) and the Dental Health Component (DHC). The study was conducted in high school 3 Tondano country with the number of students 390 people. Data collection was performed by inspection and measurement using the AC and DHC. The results showed that 85.94% based on the air-conditioning was not / little need of treatment, 9.37% needed treatment and of 4.69% borderline desperate need of care, while 51.56% based DHC no / little need of treatment, 35.94% need treatment of borderline and 12.5% in dire need of treatment.Keywords: malocclusion, Index of Orthodontic Treatment Need, Aesthetic Component, Dental Health Component.Abstrak: Kesehatan gigi dan rongga mulut merupakan faktor penting yang harus dijaga. Hal yang mempengaruhi masalah kesehatan gigi dan rongga mulut salah satunya ialah maloklusi.Penerapan kebutuhan perawatan ortodonti ditujukan untuk memperbaiki maloklusi yang dapat mempengaruhi kesehatan gigi dan rongga mulut serta penampilan wajah seseorang.Penelitian yang dilakukan merupakan suatu penelitian yang bersifat deskriptif.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN), yang terdiri dari dua komponen yaitu Aesthetic Component (AC) dan Dental Health Component (DHC).Penelitian dilakukan di SMA negeri 3 Tondano dengan jumlah siswa 390 orang.Pengambilan data dilakukan dengan pemeriksaan dan pengukuran menggunakan AC dan DHC. Hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan AC 85,94% tidak/sedikit membutuhkan perawatan, 9,37% membutuhkan perawatan borderline dan 4,69% sangat membutuhkan perawatan, sedangkan berdasarkan DHC 51,56% tidak/sedikit membutuhkan perawatan, 35,94% membutuhkan perawatan borderline dan 12,5% sangat membutuhkan perawatan.Kata kunci: Maloklusi, Index Of Orthodontic Treatment Need, Aesthetic component, Dental Health Component.
Perbandingan efektivitas dental health education metode ceramah dan metode permainan simulasi terhadap peningkatan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut anak Puspitaningtiyas, Retno; Leman, Michael A.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.15523

Abstract

Abstract: Indonesia has a prevalence of oral health problems which is continuously increasing, mostly among children. The two dominating diseases namely dental caries and periodontal disease. Factor that influences both diseases is behavior. Intervention through education with the use of appropriate methods and media can improve children’s knowledge. This study was aimed to compare the effectiveness of dental health education (DHE) using lecture method and simulation game in increasing the knowledge of oral health of children. This was a quasi experimental study with a non-equivalent control group design. Respondents were students of SDN Mantelagheng aged 10-12 years old as many as 56 students obtained by using total sampling method. Respondents were divided into two groups: lecture and simulation game, each of 27 students. The results showed that the DHE in lecture and simulation game groups could significantly increase the children’s knowledge about oral health (p=0.000). The Mann-Whitney test showed a significant difference in effectiveness between the two groups (p=0.000). The average value of the lecture group was 16.52 meanwhile of the simulation group 38.48. Conclusion: Simulation game method was more effective to improve the oral health knowledge of children than the lecture method.Keywords: dental health education, knowledgeAbstrak: Indonesia memiliki prevalensi masalah kesehatan gigi dan mulut yang terus meningkat, dan sebagian besar terjadi pada anak-anak. Dua penyakit yang mendominasi, yaitu karies gigi dan penyakit periodontal. Faktor yang berpengaruh pada kedua penyakit ini yaitu perilaku. Intervensi melalui pendidikan dengan penggunaan metode dan media yang tepat, dapat dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efektivitas dental health education (DHE) metode ceramah dan permainan simulasi terhadap peningkatan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut anak. Jenis penelitian ialah quasi experimental dengan rancangan non equivalent control group. populasi penelitian yaitu siswa SDN Mantelagheng yang berusia 10-12 tahun. Terdapat 56 siswa sebagai responden, diperoleh dengan metode total sampling,dibagi dalam dua kelompok yakni ceramah dan permainan simulasi masing-masing 27 responden. Hasil penelitian menunjukkan DHE pada kelompok ceramah dan permainan simulasi terhadap peningkatan pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut masing-masing mendapatkan p=0,000. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan perbandingan bermakna antara efektivitas kedua kelompok (p=0,000), dengan nilai rerata kelompok ceramah 16,52 dan kelompok permainan simulasi 38,48. Simpulan: Metode permainan simulasi lebih efektif terhadap peningkatan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut anak dibandingkan dengan metode ceramah.Kata kunci: dental health education, pengetahuan
GAMBARAN MALOKLUSI BERDASARKAN INDEKS HANDICAPPING MALOCCLUSION ASSESSMENT RECORD (HMAR) PADA SISWA SMA N 9 MANADO Loblobly, Monalisa; Anindita, P. S.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10487

Abstract

Abstract: Malocclusion is a condition of abnormal occlusion. If it is not treated it will result in several diseases for the patients. Studies about malocclusion have been done in several cities in Indonesia which showed that many people with malocclusion did not seek for treatment. One of the ways to identify and assess the severity of malocclusion is using the Handicapping Malocclusion Index Assessment Record (Hmar). This study aimed to describe malocclusions in students of SMA N 9 Manado.This was a descriptive cross sectional design. The study was conducted in August 2015 with a total sample of 30 students in grade eleven, obtained by using consecutive sampling. Malocclusion assessment obtained using HMAR consisted of comprising the teeth in one jaw, abnormal tooth relationships of both jaws in occlusion, and dentofacial abnormality examinations. The results showed that based on HMAR most of the malocclusions were in the severe category which were in need of care. Irregular teeth in one jaw in the anterior and posterior regions was the highest form of tooth rotation and tooth crowding. Abnormality in the relationship of both jaws in the occluded jaw position in the anterior region was the highest in the case of excessive nip distance and the lowest cross bites meanwhile in the posterior region was the mesial position of caninus. Concerning dentofacial abnormalities, there was only one palatal bite abnormality. Conclusion: Based on HMAR the highest percentage of malocclusion in this study was severe malocclusion.Keywords: malocclusion, malocclusion handicapping index assessment recordAbstrak: Maloklusi merupakan bentuk oklusi menyimpang dari normal yang jika tidak dirawat akan mengakibatkan hambatan bagi penderita. Penelitian mengenai maloklusi sudah dilakukan pada beberapa kota di Indonesia yang menunjukan bahwa banyak orang yang mengalami maloklusi tetapi tidak melakukan perawatan. Salah satu cara mengidentifikasi dan menilai keparahan maloklusi yaitu menggunakan Indeks Handicapping Malocclusion Assessment Record (HMAR). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran maloklusi berdasarkan Indeks HMAR pada siswa SMA N 9 Manado. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan rancangan potong lintang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus tahun 2015 dengan jumlah sampel 30 siswa kelas sebelas, menggunakan consecutive sampling. Penilaian maloklusi diperoleh dengan pemeriksaan berdasarkan indeks HMAR pada model studi. Penilaian meliputi penyimpangan gigi dalam satu rahang, kelainan hubungan gigi kedua rahang dalam keadaan oklusi, dan kelainan dentofasial. Hasil penelitian penyimpangan gigi dalam satu rahang menunjukan persentase tertinggi yaitu gigi rotasi pada rahang atas. Kelainan hubungan gigi kedua rahang dalam keadaan oklusi menunjukkan di regio anterior presentase tertinggi yaitu berupa jarak gigit berlebih dan di regio posterior persentase tertinggi berupa kelainan anteroposterior yang menunjukkan gigi kaninus lebih ke mesial. Kelainan dentofasial hanya ditemukan satu kelainan berupa palatal bite. Simpulan: Gambaran maloklusi berdasarkan indeks HMAR dengan persentase tertinggi yaitu pada kategori maloklusi berat, sangat memerlukan perawatan.Kata kunci: maloklusi, indeks HMAR
PENGARUH KONSUMSI PEPAYA (Carica papaya) DALAM MENURUNKAN INDEKS DEBRIS PADA ANAK USIA 10-12 TAHUN DI SDN 103 MANADO Mandalika, Wandha Cindhy; Wicaksono, Dinar A.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 2, No 2 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.2.2014.5778

Abstract

Abstract: Oral hygiene and consumption patterns of poor foods can affect oral health, including dental caries. Debris or food waste is one of the causes of dental caries. Consuming fresh fruit that consist with rich fiber and water can naturally cleanse the tooth, thus the width of the debris surface can be reduced, and the risk of the karies to be form could be prevent. On this research, a papaya from “Kota Manado” was used with a purpose to get the information if there is an influence by consuming papaya (Carica papaya) in reducing debris index to child age 10 to 12 years old at “SDN 103 Manado”. The type of this research is a experiment research with apparent experiment designs with pre-test approach and post-test approach treatment. Population is the child age 10-12 years old in grade V and VI at”SDN 103 Manado”. Sample was taken with total sampling method with a total of 40 samples. Differences of the debris index before consuming papaya and after was used Wilcoxon test. The results showed there is a significant difference from the evaluation result of the debris index before consuming papaya and after (p < 0,05). Consuming papaya can reducing debris index to students at “SDN 103 Manado” Keywords: debris, papaya fruit, primary school.   Abstrak: Kebersihan gigi dan mulut, serta pola konsumsi makanan yang kurang baik dapat mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut, di antaranya karies gigi. Debris atau sisa makanan merupakan salah satu faktor penyebab karies gigi. Konsumsi buah yang segar yang kaya akan serat dan air dapat memicu pembersihan alami pada gigi, sehingga luas permukaan debris dapat dikurangi dan resiko terjadinya karies dapat dicegah. Pada penelitian ini digunakan buah pepaya yang berasal dari Kota Manado yang bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh konsumsi pepaya (Carica papaya) dalam menurunkan indeks debris pada anak usia 10-12 tahun di SDN 103 Manado. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan rancangan eksperimen semu dengan pendekatan sebelum (pre-test) dan sesudah (post-test) perlakuan. Populasi ialah anak usia 10-12 tahun yang duduk di kelas V dan VI di SDN 103 Manado. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling berjumlah 40 sampel. Perbedaan sebelum dan sesudah mengonsumsi pepaya di uji dengan uji Wilcoxon dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna dari hasil pemeriksaan indeks debris sebelum mengonsumsi pepaya dan sesudah mengonsumsi pepaya (p < 0,05). Kesimpulan: Konsumsi buah pepaya dapat menurunkan indeks debris pada siswa di SDN 103 Manado. Kata kunci: debris, buah pepaya, sekolah dasar.
Uji konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans Makolit, Jecklin; Waworuntu, Olivia A.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.16537

Abstract

Abstract: Noni fruit (Morinda cittrifolia L.) is an herbal plant that contains antibacterial substances, inter alia acubin, lasperuloside, alizarin, and some antraquinons, that have been proved to inhibit the growth of Streptococcus mutans. This study was aimed to obtain the minimum inhibitory concentration (MIC) of noni fruit extract (Morinda citrifolia L.) against the growth of Streptococcus mutans. This was a true experimental study with a randomized pretest-posttest control group design. This study used a serial dilution method with turbidimetry and spectrophotometry tests. Noni fruit was extracted by using maceration method with 96% ethanol. Streptococcus mutans bacteria were obtained from pure stock of Microbiology Laboratory of Pharmacy Program Study, University of Sam Ratulangi Manado. The results showed that the MIC of noni fruit extract against the growth of Streptococcus mutans was at 50% of concentration. Conclusion: The minimum inhibitory concentration of Morinda citrifolia L. extract against the growth of Streptococcus mutans was 50%.Keywords: noni fruit (Morinda citrifolia L.), Streptococcus mutans, MIC Abstrak: Buah mengkudu (Morinda citrifolia, L) merupakan tanaman herbal dengan kandungan bahan berkhasiat antibakterial seperti acubin, lasperuloside, alizarin, dan beberapa zat antraquinon yang terbukti dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi hambat minimum (KHM) dari ekstrak buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans. Jenis penelitian ialah eksperimental murni dengan randomized pretest-posttest control group design. Metode yang digunakan yaitu metode serial dilusi dengan metode pengujian turbidimetri dan spektrofotometri. Buah mengkudu diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Bakteri Streptococcus mutans diambil dari stok bakteri murni Laboratorium Mikrobiologi Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Sam Ratulangi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KHM ekstrak buah mengkudu terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans pada konsentrasi 50%. Simpulan: Konsentrasi hambat minimum ekstrak buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans pada konsentrasi 50%.Kata kunci: buah mengkudu (Morinda citrifolia L.), Streptococcus mutans, KHM