p-Index From 2021 - 2026
0.562
P-Index
This Author published in this journals
All Journal e-GIGI JURNAL BIOMEDIK
Michael A. Leman
Universitas Sam Ratulangi

Published : 32 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search
Journal : e-GIGI

UJI DAYA HAMBAT SENYAWA SAPONIN BATANG PISANG (Musa paradisiaca) TERHADAP PERTUMBUHAN Candida albicans Yuliana, Siti R. I.; Leman, Michael A.; Anindita, P. S.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10486

Abstract

Abstract: Candida albicans living as saprophyte can be found on the skin, genital tract, upper respiratory tract, and gastrointestinal tract including the oral cavity. The transmutation of Candida albicans from saprofit becoming pathogenic causes thrush or candidiasis. The treatment of oral candidiasis is antifungal drugs, however, long-term used of the drugs can make Candida albicans being resistant. Therefore, an alternative medicine with lower side effects is needed. One of the natural ingridients that can be used is the banana plant (Musa paradisiaca). inter alia Amboina banana (Musa paradisiaca var. sapientum. This study aimed to determine the inhibition of Amboina banana stem on the growth of Candida albicans. This was an experimental laboratory study with a true experimental design and posttest only control group design with Kirby-bauer difusion method using filter paper. The parameter observed was fungal (Candida albicans) growth inhibition zona on pottatoe dextrose agar medium supplemented with saponin of Amboina banana stem. The growth proportion was analyzed by microsoft excell. The results showed that the average diameter of the inhibition zona of saponin was 12.5 mm; ketokonazol 15.3 mm; meanwhile aquades did not have the inhibition zona. Conclusion: Saponin in Amboina banana stem has an antifungal effect on the growth of Candida albicans.Keywords: candida albicans, saponin, amboina banana stemAbstrak: Candida albicans yang hidup sebagai saprofit dapat ditemukan pada kulit, saluran genital, saluran napas bagian atas, dan saluran pencernaan termasuk rongga mulut. Perubahan Candida albicans dari saprofit menjadi patogen menyebabkan penyakit yang disebut kandidiasis atau kandidosis. Selain itu pada pemakai gigi tiruan, Candida albicans dapat menyebabkan denture stomatitis. Perawatan untuk infeksi ini dapat dilakukan dengan memberikan obat antijamur. Namun, pemberian obat antijamur dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan resistensi. Hal ini memicu adanya kebutuhan untuk mencari pengobatan baru dengan aktivitas antifungi yang lebih baik, toksisitas yang lebih rendah, dan tidak resisten terhadap Candida albicans. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai tanaman obat yaitu tanaman pisang antara lain pisang Ambon (Musa paradisiaca var. sapientum). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat senyawa saponin batang pisang Ambon terhadap pertumbuhan Candida albicans. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik menggunakan rancangan eksperimental murni (true experimental design) dengan rancangan penelitian post test only control design dengan metode difusi lempeng agar Kirby-bauer menggunakan kertas saring. Parameter yang diamati ialah luas diameter zona hambat pertumbuhan jamur Candida albicans pada media agar yang telah diberi senyawa saponin batang pisang Ambon. Data dianalisis dengan menggunakan microsoft excell. Hasil penelitian menunjukkan total rerata luas diameter zona hambat senyawa saponin yang terbentuk sebesar 12,5 mm; ketokonazol 15,3 mm; sednagkan aquades tidak terdapat zona hambat. Simpulan: Senyawa saponin batang pisang Ambon dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans.Kata kunci: candida albicans, senyawa saponin, batang pisang ambon
Uji daya hambat rebusan daun pepaya (carica papaya) terhadap pertumbuhan Candida albicans pada plat resin akrilik polimerisasi panas Suni, Nurul A.; Wowor, Vonny N. S.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.15524

Abstract

Abstract: Unclean acrylic removable denture will be the gathering place of plaques that further become media for the growth of microorganisms, inter alia Candida albicans. Abnormal growth of fungi could result in denture stomatitis. Prevention can be done by using cleaning materials, however, these materials contain many chemical substances and are relatively expensive. Carica papaya is one of the herbs that contain active compounds which are antifungal. This study was aimed to determine the inhibition effect of papaya leaves on the growth of C. albicans isolated from the hot plate acrylic resin polymerization. This was a pure experimental study with a post test only control group design. Absorbance values were obtained by using a standard spectrophotometer with Mc Farland No. 1. The absorbance values were incorporated into Stainer formula to determine the total number of colonies of C. albicans. The results of the converted absorbance values were as follows: the papaya leaf 0.51 x 108 CFU; the positive control (polident) 2.5 x 108 CFU; and the negative control (sterile distilled water) 3.6 x 108 CFU. Conclusion: Papaya leaves (Carica papaya) had inhibitory effect on the growth of Candida albicans.Keywords: papaya leaf (Carica papaya), removable denture acrylic plate, Candida albicansAbstrak: Kebersihan gigi tiruan lepasan akrilik yang kurang diperhatikan akan menjadi tempat berkumpulnya plak yang dapat menjadi media untuk bertumbuhnya mikroorganisme, antara lain Candida albicans. Pertumbuhan jamur yang abnormal dapat mengakibatkan denture stomatitis. Pencegahan dapat dilakukan dengan menggunakan bahan pembersih, namun pembersih yang beredar saat ini banyak mengandung bahan kimia dan harga yang relatif mahal. Daun pepaya (Carica papaya) merupakan salah satu tanaman herbal yang mengandung senyawa aktif yang bersifat antifungi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat rebusan daun pepaya terhadap pertumbuhan C. albicans yang diisolasi dari plat resin akrilik polimerisasi panas. Jenis penelitian ialah eksperimental murni dengan post test only control group design. Nilai absorbansi diperoleh dengan menggunakan spektrofotometer standar Mc Farland no 1, kemudian nilai absorbansi dimasukan ke dalam rumus Stainer untuk mengetahui jumlah total koloni C. albicans. Hasil penelitian menunjukkan nilai absorbansi setelah dikonversikan ke dalam rumus ialah pada rebusan daun pepaya 0,51 x 108 CFU; kontrol positif (polident) 2,5 x 108 CFU; dn kontrol negatif (akuades steril) 3,6 x 108 CFU. Simpulan: Air rebusan daun pepaya (Carica papaya) memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan Candida albicans.Kata kunci: daun pepaya (carica papaya), plat gigi tiruan
GAMBARAN STATUS KARIES PADA SISWA SMP NEGERI I TOMOHON Mangkey, Elisa; Posangi, Jimmy; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6848

Abstract

Abstract: The most common oral disease in society is dental caries. Dental caries is a disease in hard tissue of tooth such as enamel, dentin, and cementum caused by microbiological activity inside fermented carbohydrate. SMP Negeri 1 Tomohon is one of the large junior high schools with students aged 11-14 years, and their parents’ social economy variated from low to middle class. Moreover, there are lot of snack counters around the school. Children’s habit of consuming cariogenic foods makes them susceptible to dental caries. This study aimed to obtain dental caries status on students at SMP Negeri 1 Tomohon. This was a descriptive research with cross sectional approach method. Population of this study was students in SMP Negeri 1 Tomohon with sampling using purposive sampling technique and there are 92 students became this research sample. Caries status was measured by using DMF-T index (decayed, missing, filling-teeth) which firstly acquainted by Klein H., Palmer CE, and Knutson JW in 1983. The result of this research showing DMF-T on SMP Negeri 1 Tomohon is D (decayed) scored 165, M (missing) scored 39, and F (filling) scored 4. The average result of DMF-T was 2.26. Conclusion: Caries status of SMP Negeri 1 Tomohon students was in the low category.Keywords: caries status, junior high school students, DMF-TAbstrak: Penyakit gigi dan mulut yang paling banyak dijumpai di masyarakat luas yaitu karies gigi. Karies gigi merupakan suatu penyakit pada jaringan keras gigi berupa email, dentin dan sementum yang disebabkan oleh aktivitas jasad renik yang ada dalam suatu karbohidrat yang diragikan. SMP Negeri 1 Tomohon merupakan salah satu sekolah yang cukup besar dengan siswa berusia 11-14 tahun, status sosial ekonomi orang tua yang bervariasi dari golongan rendah sampai menengah, dan terdapat banyak tempat jajanan di lingkungan sekolah. Kebiasaan anak mengonsumsi makanan kariogenik membuat anak rentan terhadap karies gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status karies pada siswa SMP Negeri 1 Tomohon. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi pada penelitian ini ialah siswa SMP Negeri 1 Tomohon dengan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dan terdapat 92 siswa yang menjadi sampel penelitian. Status karies diukur menggunakan indeks DMF-T (decayed, missing, filling-teeth) yang pertama kali diperkenalkan oleh Klein H, Palmer CE, dan Knutson JW pada tahun 1983. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata indeks DMF-T pada siswa SMP Negeri 1 Tomohon yaitu 2,26. Simpulan: Status karies siswa SMP Neheri 1 Tomohon berada pada kategori rendah.Kata kunci: status karies, siswa sekolah menengah pertama, DMF-T
Uji daya hambat ekstrak daun serai (Cymbopogon citratus L) terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans Kawengian, Susanna A. F.; Wuisan, Jane; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.14736

Abstract

Abstract: One of the plants that can be used in medical field is the lemongrass plant (Cymboogon citratus) that has lush and dense leaves. Lemongrass leaves contain alkaloids, saponins, tannins, polyphenols, and flavonoids. Streptococcus mutans is known as one of the bacteria that can cause dental caries. An alternative way to eliminate Streptococcus mutans is by using lemongrass leaves. This study was aimed to determine the antibacterial effect of lemon grass leaves extract in inhibition of the growth of Streptococcus mutans and its degree of effectivenss referred to the inhibition zone. This was an experimental study using modified Kirby-bauer method with wells. The leaves of lemon grass were taken from Kalawat, North Minahasa then they were extracted with maceration method using 96% ethanol. Streptococcus mutans were obtained from the pure stock of Pharmacy Laboratory MIPA Sam Ratulangi University. The results showed that the total diameter of inhibition zone of lemon grass leaves extract against Streptococcus mutans was 19.8 mm with an average of 3.96 mm. Conclusion: Lemon grass extract was effective in inhibition of Streptococcus mutans with an average diameter of inhobotion zone of 3.96 mm.Keywords: lemon grass leaves, Streptococcus mutans, inhibition zone Abstrak: Salah satu tanaman yang dipercaya dapat dijadikan obat yaitu tanaman serai (Cymbopogon citratus) yang memiliki daun yang rimbun dan lebat. Daun serai mengandung alkaloid, saponin, tanin, polifenol dan flavonoid. Streptococcus mutans merupakan salah satu penyebab karies gigi. Cara alternatif untuk menanggulangi Streptococcus mutans yaitu dengan menggunakan daun serai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak daun serai memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans serta menilai besar daya hambat ekstrak daun serai terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans dilihat dari diameter zona hambat. Jenis penelitian ialah eksperimental dengan metode modifikasi Kirby-bauer menggunakan sumuran. Sampel daun serai diambil dari daerah Kalawat Kabupaten Minahasa Utara kemudian diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Bakteri Streptococcus mutans diambil dari stok bakteri murni Laboratorium Farmakologi MIPA Universitas Sam Ratulangi Manado. Hasil penelitian mendapatkan total diameter zona hambat ekstrak daun serai terhadap Streptococcus mutans sebesar 19,8 mm dengan nilai rerata sebesar 3,96 mm. Simpulan: Ekstrak daun serai memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans dengan rerata zona hambat sebesar 3,96 mm.Kata kunci: daun serai (cymbopogon citratus L), streptococcus mutans, zona hambat
GAMBARAN KEBUTUHAN PERAWATAN KARIES GIGI DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN KRISTEN 3 TOMOHON Montolalu, Wilna R. M.; Leman, Michael A.; Kaligis, Stefana H. M.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10017

Abstract

Abstract: Dental caries is one of many diseases indental health. Dental caries is a disease that affects most of the people in the world. The prevalence of dental caries is still high enough therefore still it apriority in dental health especially in school-age children. Treatment of dental caries is a preventive measure which can maintain dental structure and repair dental caries to prevent damage that can caused loss of teeth at a young age.The purpose of this study is to describe the needs of caries treatment in SMK Kristen 3 Tomohon students. This descriptive study has 68 sample taken with total sampling technique. Caries treatment needs in every sample assessed using WHO Dentition Status and Treatment Need. Result of this study showed as followed the highest caries treatment needs is the one surface filling is 182 teeth (40.2%), followed by the need for fissure sealant is168 teeth(37.1%), preventive caries arresting care is 46 teeth(10.2% ), pulp care and restoration is 21 teeth (4.6%), two or more surface fillings is 14 teeth(3.1%), tooth extraction as many as12 teeth(2.6%), and the lowest is the need of crown10 teeth (2.2%). Based on the research’s result it can be concluded that most of the treatment in dental caries is needed by the students of SMK Kristen 3 Tomohon with one surface filling is the highest treatment needed and crown is the lowest one.Keywords: dental caries, treatment need, studentABSTRAK: Karies gigi merupakan salah satu dari berbagai penyakit kesehatan gigi. Karies gigi adalah penyakit yang menyerang hampir seluruh masyarakat di dunia. Prevalensi karies gigi masih cukup tinggi sehingga masih menjadi prioritas dalam masalah kesehatan gigi dan mulut terlebih pada anak-anak usia sekolah. Perawatan karies gigi merupakan tindakan pencegahan yang dapat mempertahankan struktur gigi dan memperbaiki karies gigi untuk mencegah kerusakan yang menyebabkan kehilangan gigi pada usia muda. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kebutuhan perawatan karies pada siswa SMK Kristen 3 Tomohon. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan jumlah sampel 68 orang yang diambil dengan teknik total sampling. Sampel diperiksa dengan menggunakan kriteria penilaian kebutuhan perawatan karies gigi menurut WHO. Hasil menunjukkan bahwa kebutuhan perawatan karies tertinggi adalah menumpat satu permukaan yaitu sebanyak 182 gigi (40,2%), diikuti oleh kebutuhan akan fissure sealant yaitu sebanyak 168 gigi (37,1%), perawatan pencegahan yaitu sebanyak 46 gigi (10,2%), perawatan saluran akar yaitu sebanyak 21 gigi (4,6%), menumpat dua permukaan atau lebih yaitu sebanyak 14 gigi (3,1%), pencabutan gigi yaitu sebanyak 12 gigi (2,6%), dan yang terendah adalah kebutuhan pemasangan crown yaitu 10 gigi (2,2%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hampir semua kebutuhan perawatan dibutuhkan oleh siswa-siswi SMK Kristen 3 Tomohon akan tetapi yang terbanyak adalah tumpatan satu permukaan dan yang paling sedikit adalah kebutuhan pemasangan crown.Kata kunci: karies gigi, kebutuhan perawatan, siswa
UJI EFEK ANALGESIA EKSTRAK DAUN KECUBUNG (Datura metel L.) PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) JANTAN Gente, Meyske; Leman, Michael A.; Anindita, P. S.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9838

Abstract

Abstract: Jimson weed (Datura metel) is rich of various chemical compounds found in the roots, stems, leaves, fruits, flowers, and seeds. Jimson weed are used for asthma, dental pain, and anesthetic as well as analgesic medications. Analgesia is the loss of the sensation of pain without loss of other senses. Anesthesia is the reduction or removal of sensation for a while, so that surgery or other painful procedures can be performed. This study aimed to test the analgesic and anesthesia effects stage 2 and 3 of jimson weed leaf extract on male Wistar rats. This was an experimental study with a praexperiment-postes only (one shot case study) design. Jimson weed leaves were taken from Central Sulawesi. Its extract was made by using maceration method. Six male wistar rats were used as samples. The results showed that in response to the extract, 5 rats entered the first stage (analgesia) and only 3 rats entered the third stage. Conclusion: Jimson weed leaf extract had analgesic effects on male Wistar rats. The initial time and the length of time to be conscious were influenced by body weight, age, and time of adaptation.Keywords: jimson weed leaf (datura metel), analgesia effect, anesthesia effectAbstrak: Tanaman kecubung (Datura metel) kaya dengan berbagai senyawa kimia yang terdapat pada akar, tangkai, daun, buah, bunga, dan biji. Tanaman kecubung banyak dimanfaatkan antara lain sebagai obat asma, obat sakit gigi, obat bius, dan obat analgesia. Analgesia merupakan hilangnya rasa sakit tanpa kehilangan sensasi indera lainya. Anestesi merupakan pengurangan atau penghilangan sensasi untuk sementara, sehingga operasi atau prosedur lain yang menyakitkan dapat dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efek analgesia ekstrak daun kecubung pada tikus wistar jantan dan efek anestesi stadium 2 dan 3. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan rancangan penelitian praexperiment-postes only (one shot case study). Daun kecubung yang digunakan berasal dari Sulawesi Tengah yang dibuat ekstrak dengan metode maserasi. Penelitian ini menggunakan 6 hewan coba tikus wistar jantan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kelima hewan coba menunjukkan respon terhadap esktrak daun kecubung dengan masuk pada stadium 1 yaitu stadium analgesia dan hanya tiga hewan coba yang sampai stadium 3. Simpulan: Ekstrak daun kecubung mempunyai efek analgesia pada tikus wistar jantan; waktu awal teranestesi dan lama waktu sadar dipengaruhi oleh berat badan, usia dan waktu adaptasi.Kata kunci: daun kecubung (datura metel), efek analgesia, efek anestesia
Pengaruh waktu perendaman terhadap bahan tumpatan glass ionomer cement dalam larutan asam asetat Tanga, Alga; Assa, Youla A.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 4, No 1 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.1.2016.10759

Abstract

Abstract: Dental caries is commonly found among modern people with various age, ranged from children, teenager to adult. This indicates the increasing needs of dental caries care. One of dental caries treatments is filling the tooth by using Glass Ionomer Cement (GIC). GIC is a type of filling material with low resistance against acid. This study aimed to find out whether the submersion time affected the GIC filling. This was an experimental study with a posttest only control group design. Samples were 16 round shaped GIC fillings, divided into two groups: treatment group using 1% acetic acid solution and control group using artificial saliva. Each of both groups were divided into four groups according to the submersion time; 5 minutes, 10 minutes, 15 minutes, and 20 minute. Samples were submersed at 37oC in the incubator. Solubility was measured by using spectrophotometer and data were analyzed statistically by using SPSS. Normality was tested by using the Shapiro-Wilk test. Data were analyzed by using Pearson correlation test. The results showed a p value of >0.05 among tratment. Conclusion: Submersion time did not affec the GIC fillings.Keywords: acetic acid, glass ionomer cement, GIC fillings.Abstrak: Karies gigi merupakan masalah kesehatan yang masih sering dialami oleh masyarakat saat ini dan dijumpai pada berbagai golongan usia, mulai dari anak-anak, remaja dan dewasa. Hal ini menyebabkan kebutuhan perawatan karies gigi semakin meningkat. Salah satu cara perawatan karies gigi yaitu dengan melakukan penumpatan. Glass ionomer cement (GIC) merupakan salah satu bahan tumpatan gigi yang sering digunakan. GIC memiliki daya tahan rendah terhadap kondisi yang asam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jika ada pengaruh waktu perendaman terhadap bahan tumpatan GIC. Penelitian ini merupakan penelitian ekperimental dengan rancangan posttest only with control group design. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 16 tumpatan GIC yang telah dibentuk seperti lingkaran dan dibagi dalam dua kelompok besar yaitu kelompok perlakuan menggunakan larutan asam asetat 1% dan kelompok kontrol menggunakan saliva buatan. Kedua kelompok ini kemudian masing-masing dibagi lagi menjadi empat kelompok sesuai dengan waktu perendaman yaitu 5 menit, 10 menit, 15 menit, dan 20 menit. Sampel direndam dengan suhu 37oC menggunakan inkubator. Pengukuran kelarutan menggunakan spektrofotometer dan hasil penelitian dianalisis secara statistik dengan program SPSS. Uji normalitas data menggunakan uji Shapiro-Wilk. Data dianalisis dengan uji korelasi Pearson. Hasil analisis menunjukkan nilai p >0,05 pada perlakuan. Simpulan: Waktu perendaman tidak berpengaruh secara bermakna terhadap bahan tumpatan GIC.Kata kunci: asam asetat, glass ionomer cement, tumpatan GIC
Pengaruh air kelapa terhadap peningkatan pH saliva Kusumawardani, Chendrakasih; Leman, Michael A.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.14781

Abstract

Abstract: Dental caries is a disease that attacks the hard tooth tissue. One of the causes of dental caries is the acidogenic bacteria. The bacterial growth is influenced by the condition of oral cavity such as the pH of saliva. The acidity of salivary pH causes increased growth of bacteria resulted in higher risk of caries. Various methods are used to reduce the risk of dental caries. One of them is the usage of natural materials that contain calcium such as coconut water (Cocos nucifera L.) that can help the remineralization process, therefore, can pH of saliva will increase. This study was aimed to determine whether the coconut water and improve the pH of saliva. This was a quasi experimental study with a pretest and posttest group design. There were 30 people as samples. Salivary pH measurements were done three times in each sample as follows: normal saliva, saliva after consumption of bread, and saliva after drinking coconut water. Salivary pH was measured with a pH meter. The results showed that coconut water did not increase the pH of saliva because its pH was acid and its sugar content lowered the pH of saliva.Keywords: salivary pH, coconut water, dental caries, coconut water to pH of saliva Abstrak: Penyakit karies gigi merupakan penyakit yang menyerang jaringan keras gigi. Penyebab terjadinya karies gigi di antaranya ialah bakteri asidogenik. Pertumbuhan bakteri ini dipengaruhi keadaan rongga mulut seperti pH saliva. pH saliva yang asam menyebabkan pertumbuhan bakteri semakin meningkat dengan risiko karies semakin tinggi. Berbagai cara dilakukan untuk menurunkan risiko terjadinya karies gigi di antaranya dengan memanfaatkan bahan dari alam yang memiliki kandungan kalsium seperti air kelapa (Cocos nucifera L.) yang dapat membantu proses remineralisasi sehingga diduga dapat meningkatkan pH saliva. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah air kelapa dapat meningkatkan pH saliva. Jenis penelitian ialah kuasi eksperimental dengan pretest and post test group design. Sampel penelitian ini sebanyak 30 orang. Pengukuran pH saliva dilakukan sebanyak tiga kali pada tiap sampel, yaitu saliva normal, saliva setelah mengonsumsi roti, dan saliva setelah meminum air kelapa. Pengukuran pH saliva menggunakan pH meter. Hasil penelitian mendapatkan air kelapa tidak dapat meningkatkan pH saliva karena pH kelapa yang asam serta kandungan gula di dalamnya yang menyebabkan pH saliva menjadi turun. Kata kunci: pH saliva, air kelapa, karies gigi, air kelapa terhadap pH saliva
Efektivitas Dental Health Education Menggunakan Media Audio Visual dalam Meningkatkan Pengetahuan Siswa Sekolah Dasar Pitoy, Anastasia D.; Wowor, Vonny N. S.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.34903

Abstract

Abstract: Basic Health Research of the Ministry of Health of the Republic of Indonesia showed that 93% of Indonesian children experience dental caries. Dental health education (DHE) is the provision of information in the form of a comprehensive understanding of dental and oral health and the determinants that affect individuals and communities. Giving DHE to children must be done in an appropriate and effective way. This study was aimed to to determine the effectiveness of DHE using audio-visual media to elementary school students. This was a literature review study using the PubMed, Google Scholar, Science Direct, and Clinical Key databases. Then the literatures were selected according to the inclusion and exclusion criteria and a critical appraisal was carried out to obtain relevant and worthy literatures. After going through the study selection, nine literatures were accepted. All literatures showed an increase in students' knowledge about dental and oral health after the DHE using audio-visual media. In conclusion, elementary school students' knowledge about dental and oral health increased significantly after DHE using audio-visual media.Keywords: dental health education (DHE); audio visual media; elementary school’s students Abstrak: Hasil Riskesdas Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan 93% anak Indonesia mengalami karies gigi. Dental health education (DHE) adalah pemberian informasi berupa pemahaman yang komprehensif tentang kesehatan gigi dan mulut serta faktor penentu yang memengaruhi individu dan komunitas. Pemberian DHE pada anak harus dilakukan dengan cara yang tepat dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dental health education menggunakan media audio visual pada siswa sekolah dasar. Jenis penelitian ialah suatu literature review mengguanakan database PubMed, Google Scholar, Science Direct, dan Clinical Key. Literatur yang diperoleh kemudian diseleksi sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi serta dilakukan critical appraisal untuk mendapat literatur yang relevan dan layak diteliti. Setelah melalui seleksi studi, didapatkan sembilan literatur untuk diulas. Semua literatur menunjukkan terjadi peningkatan pengetahuan siswa tentang kesehatan gigi dan mulut setelah DHE menggunakan media audio visual. Simpulan penelitian ini ialah pengetahuan siswa sekolah dasar tentang kesehatan gigi dan mulut meningkat secara bermakna setelah pemberian DHE menggunakan media audio visual.Kata kunci: dental health education (DHE); media audio visual; siswa sekolah dasar
Perbandingan Efektivitas T-spring Berdimensi Kawat 0,5 mm dan 0,6 mm terhadap Koreksi Gigi Malposisi Individual (Kajian pada Typodont) Desyani, Ni Lluh S.; Anindita, Pritartha S.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.35356

Abstract

Abstract: Malocclusion can trigger various health problems in the oral cavity. The simplest form of malocclusion is individual dental malposition which can be corrected by removable orthodontic appliances with active components T-springs made of 0.5 mm or 0.6 mm wire dimensions. This study was aimed to compare the effectiveness of the T-spring with wire dimensions of 0.5 mm and of 0.6 mm on the correction of individual dental malpositions. This was a pre-experimental study using a one-shot case study design. Study samples were divided into two groups, T-spring with wire dimensions of 0.5 mm and of 0.6 mm on removable orthodontic appliances attached to typodonts. The samples were activated, and the typodonts were immersed in warm water until the individual tooth malpositions were corrected. The number of activations and the average tooth movement each time the activation were calculated and analyzed. The numbers of T-spring activations with 0.5 mm and 0.6 mm wire dimensions were analyzed with the Mann-Whitney test that showed a p-value of 0.042 (p<0.05). The data of the mean tooth movement each time the T-spring was activated were analyzed with the independent sample t-test that obtained a p value of 0.016 (p<0.05). In conclusion, the T-spring with wire dimension of 0.5 mm is more effective in correcting individual dental malpositions than the T-Spring with wire dimensions of 0.6 mm.Keywords: tooth malposition; removable orthodontics; effectiveness of T-spring Abstrak: Maloklusi dapat memicu berbagai masalah kesehatan pada rongga mulut. Bentuk sederhana dari maloklusi yaitu malposisi gigi individual yang dapat dikoreksi dengan alat ortodonti lepasan dengan komponen aktif pegas T (T-spring) yang terbuat dari kawat berdimensi 0,5 mm atau 0,6 mm. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efektivitas T-spring dengan dimensi kawat 0,5 mm dan 0,6 mm terhadap koreksi malposisi gigi individual. Jenis penelitian yaitu pre-experimental dengan menggunakan one-shot case study design. Sampel penelitian dibagi menjadi dua kelompok yaitu T-spring dengan dimensi kawat 0,5 mm dan 0,6 mm pada alat ortodonti lepasan yang dipasang ke typodont. Sampel diaktivasi dan typodont direndam dalam air hangat hingga malposisi gigi individual terkoreksi. Jumlah aktivasi serta rerata jarak perpindahan gigi setiap kali T-spring diaktivasi dihitung dan dianalisis. Data jumlah aktivasi T-spring dimensi kawat 0,5 mm dan 0,6 mm dianalisis menggunakan uji Mann Whitney yang menunjukkan nilai p=0,042 (p<0,05). Data rerata jarak perpindahan gigi setiap kali T-spring diaktivasi dianalisis menggunakan uji independent sample t-test dan memperoleh nilai p=0,016 (p<0,05). Simpulan penelitian ini ialah T-spring dengan dimensi kawat 0,5 mm lebih efektif dalam mengoreksi malposisi gigi individual dibandingkan T-spring dengan dimensi kawat 0,6 mm.Kata kunci: malposisi gigi; ortodonti lepasan; efektivitas T-spring