Di era digital, dokumenter film berperan tidak hanya sebagai representasi realitas, tetapi juga sebagai arsip komunikasi visual yang membentuk memori kolektif masyarakat. Penelitian ini fokus pada film dokumenter Wayang Sarip, yang merekam pertunjukan wayang Jekdong sebagai ekspresi budaya lokal Jawa Timur di luar arus utama tradisi keraton. Tujuan penelitian adalah memahami bagaimana dokumenter ini berfungsi sebagai arsip visual sekaligus media penyiaran nilai budaya dan spiritual dalam perspektif Komunikasi Penyusunan Islam. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika visual dan observasi digital. Adegan kunci, seperti tokoh wayang Sarip, ornamen, tata cahaya, dan iringan gamelan, dianalisis sebagai unit tanda, sementara distribusi film di YouTube ditelaah untuk melihat bagaimana arsip ini diterima publik. Validitas temuan diperkuat melalui triangulasi dengan wawancara pembuat film dan telaah literatur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Wayang Sarip berfungsi sebagai arsip hidup yang tidak hanya mendokumentasikan tradisi, tetapi juga membuka ruang edukasi budaya bagi generasi muda. Selain itu, penelitian ini mengusulkan konsep baru, yakni dokumenter sebagai arsip dakwah visual, yaitu praktik komunikasi yang mengintegrasikan pelestarian budaya dengan penyiaran nilai moral dan spiritual dan film dokumenter digital berpotensi menjadi medium strategi untuk melestarikan tradisi, literasi budaya, sekaligus dakwah budaya di era digital. Kata kunci: Film Dokumenter; Wayang Sarip; Komunikasi Visual; Dakwah Budaya; Arsip Digital