Claim Missing Document
Check
Articles

Branding of Osing Traditional School in Banyuwangi through the Instagram account @pesinauan.osing Khoir, Raihan Syairojil; Fikri, M. Andi
Procedia of Social Sciences and Humanities Vol. 7 (2024): International Conference On Emerging New Media and Social Science
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/pssh.v7i.640

Abstract

This research aims to preserve the culture in Osing traditional schools through the @pesinauan.osing Instagram account so that the community can know and preserve the tradition of local cultural wisdom. The presence of Instagram has a considerable influence as a medium for disseminating information that is not yet known to the audience. In this study, the indicator of the strength of brand association is strong with Osing traditional schools through typical images of Osing, stories about the daily life of the Osing traditional school community. In addition, this account also succeeded in creating a favorability of brand association which is proven by inspiring narratives and the use of attractive visuals. The uniqueness of this account lies in the collaboration between Osing traditional schools and local artists. All of this is in line with Keller's branding image theory, which emphasizes the importance of building strong, positive, and unique brand associations This research uses the basis of qualitative research methods based on the objects of study related to osing traditional schools. Researchers collect data and information by observing documents, observing behavior, and interviewing several informants. The results of this research can provide information to the audience through Instagram media and can increase the number of viewers on the @pesinauan.osing Instagram account through videos or photos that present the form of content selling ideas that carry the concept of preserving the tradition of local cultural wisdom of Osing Banyuwangi. Great benefits are brought up through Instagram media which can be evidenced by the increase in the number of viewers. The use of brand image that has been implemented can build a positive image in osing traditional schools starting from the use of logos, designs and colors. With this research, Instagram @pesinauan.osing can popularize and develop traditions that have been born since ancient times.
Branding of Kedungudi Sky Park Hill Ecotourism in the TikTok account @pesona_trawas Utomo, Zulkifli Arizalu Satrio; Fikri, M. Andi
Procedia of Social Sciences and Humanities Vol. 7 (2024): International Conference On Emerging New Media and Social Science
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/pssh.v7i.641

Abstract

Nature tourism (ecotourism) is a form of exploitation of natural resources that prioritizes the use of nature for human satisfaction. Indonesia has a very large area and has the potential for regional development if managed properly. Ecotourism is an option that can be used to advance the village by involving the full participation of the local community in every stage, from planning to supervision. Social media is any form of media that is present in a network with users who can interact, exchange ideas, and exchange content or what is often referred to as content. Social media can also be described as a guide to exchange quality information in the form of text, images, videos, and audio with users who use social media. The purpose of this study is to understand the role of the social media platform TikTok in increasing the number of visitors in Kedungudi Sky Park Hill. The theory used in this study is marketing communication, which serves as a guide for how the brand process takes place. This study uses a qualitative descriptive method. By taking data sources by purposive sampling using triangulation data collection techniques. The qualitative approach is a data collection method that produces descriptive data in the form of written or spoken words. Data sources were obtained from sources and other documents in the form of images and photos. The findings of this study show that the use of TikTok social media has succeeded in increasing the number of visitors at Kedungudi Sky Park Hill. By using the right visual content, it can attract the attention of the wider community.
Film Dokumenter Wayang Sarip sebagai Arsip Komunikasi Visual dan Ingatan Kolektif Fikri, M. Andi; Susilo, Joko
Mekomda: Media Komunikasi Dakwah Vol 3 No 2 (2025): Volume 3 Number 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/mekomda.v4i2.2206

Abstract

Di era digital, dokumenter film berperan tidak hanya sebagai representasi realitas, tetapi juga sebagai arsip komunikasi visual yang membentuk memori kolektif masyarakat. Penelitian ini fokus pada film dokumenter Wayang Sarip, yang merekam pertunjukan wayang Jekdong sebagai ekspresi budaya lokal Jawa Timur di luar arus utama tradisi keraton. Tujuan penelitian adalah memahami bagaimana dokumenter ini berfungsi sebagai arsip visual sekaligus media penyiaran nilai budaya dan spiritual dalam perspektif Komunikasi Penyusunan Islam. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika visual dan observasi digital. Adegan kunci, seperti tokoh wayang Sarip, ornamen, tata cahaya, dan iringan gamelan, dianalisis sebagai unit tanda, sementara distribusi film di YouTube ditelaah untuk melihat bagaimana arsip ini diterima publik. Validitas temuan diperkuat melalui triangulasi dengan wawancara pembuat film dan telaah literatur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Wayang Sarip berfungsi sebagai arsip hidup yang tidak hanya mendokumentasikan tradisi, tetapi juga membuka ruang edukasi budaya bagi generasi muda. Selain itu, penelitian ini mengusulkan konsep baru, yakni dokumenter sebagai arsip dakwah visual, yaitu praktik komunikasi yang mengintegrasikan pelestarian budaya dengan penyiaran nilai moral dan spiritual dan film dokumenter digital berpotensi menjadi medium strategi untuk melestarikan tradisi, literasi budaya, sekaligus dakwah budaya di era digital. Kata kunci: Film Dokumenter; Wayang Sarip; Komunikasi Visual; Dakwah Budaya; Arsip Digital
Pelestarian Identitas Budaya Sidoarjo melalui Workshop Pembuatan Udeng Pacul Gowang Bersama Komunitas Kabut Malam Fikri, M. Andi; Almanfaluti, Istian Kriya; Rizki, Muhammad Alvan
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia Vol 6 No 1 (2026): JAMSI - Januari 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jamsi.2249

Abstract

Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk melestarikan identitas budaya Sidoarjo melalui workshop pembuatan udeng Pacul Gowang bersama Komunitas Kabut Malam. Udeng Pacul Gowang sebagai penutup kepala tradisional memiliki makna filosofis yang kian terpinggirkan di tengah arus globalisasi. Kegiatan ini bertujuan memberikan transfer pengetahuan dan keterampilan sekaligus memperkuat kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya pelestarian budaya lokal. Metode yang digunakan adalah participatory action research dengan tahapan observasi awal, penyusunan modul, pelaksanaan workshop, evaluasi, serta dokumentasi. Instrumen evaluasi berupa lembar observasi, kuesioner, dan wawancara reflektif digunakan untuk mengukur pencapaian keterampilan dan kesadaran budaya peserta. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada aspek keterampilan, di mana 90% peserta mampu membuat udeng Pacul Gowang secara mandiri setelah pelatihan. Selain itu, terjadi peningkatan pemahaman peserta mengenai nilai filosofis udeng sebagai simbol identitas kultural masyarakat Sidoarjo. Workshop juga menghasilkan dokumentasi digital yang dapat dijadikan arsip budaya serta media promosi. Implikasi kegiatan ini meliputi penguatan identitas lokal, peluang ekonomi kreatif, dan dukungan kebijakan berbasis budaya. serta penerapan pendekatan partisipatif yang menjadikan komunitas sebagai aktor utama. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya memperkaya strategi pelestarian budaya, tetapi juga memberikan kontribusi praktis dalam menghubungkan tradisi dengan kreativitas kontemporer.
PELATIHAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI DIGITAL DESA BEJIJONG M.Andi Fikri; Kukuh Sinduwiatmo; Nilahtul Qudus Sukma Nirwana
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 6 (2023): martabe : jurnal pengabdian kepada masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v6i6.2017-2020

Abstract

Desa Bejijong yang terletak di kecamatan Trowulan kabupaten Mojokerto terkenal dengan penduduknya sebagai pengrajin batik dan patung sehingga memiliki potensi yang cukup bagus dalam menciptakan peluang usaha untuk menggerakkan perekonomian desa. Tujuan pengabdian masyarakat diharap dapat membangun kesadaran masyarakat agar kreatif dalam memasarkan produknya melalui media sosial sehingga mampu membantu dalam meningkatkan perekonomian masyarakat desa Bejijong. Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah pelatihan dengan cara sosialisasi, ceramah dan pengajaran. Dengan memanfaatkan teknologi digital UMKM desa Bejijong memungkinkan dapat membuat foto dan video sehingga lebih mudah memperkenalkan dan meningkatkan usaha mereka.
Oligarchic Power Representation in Documentary Film Pesta Oligarki: Representasi Kekuatan Oligarki dalam Film Dokumenter Pesta Oligarki Dwi Cahyo Nugroho; M Andi Fikri
Academia Open Vol. 10 No. 2 (2025): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/acopen.10.2025.12197

Abstract

General Background: Oligarchy remains a significant issue in Indonesian political and economic discourse, particularly within democratic and electoral processes. Specific Background: The documentary film Pesta Oligarki produced by Watchdoc Documentary presents socio-political phenomena related to elite domination during the 2024 Indonesian elections. Knowledge Gap: Academic examination of how oligarchic practices are symbolically represented through documentary visual narratives remains limited. Aims: This study analyzes the representation of oligarchic practices in the film using Charles Sanders Peirce’s semiotic framework. Results: Six major scenes illustrate land evictions, legislative control by political parties, political image construction, state repression, presidential nomination restrictions, and opposition co-optation, demonstrating oligarchic penetration into political, legal, and social structures. Novelty: This research applies Peirce’s triadic semiotic model to interpret oligarchic symbolism within Indonesian political documentary cinema. Implications: The findings highlight documentary film as a medium of social criticism and political education that encourages public critical awareness of democratic processes and power relations in Indonesia. Highlights: Visual Narratives Reveal Systemic Elite Domination Across Governance, Law, and Public Policy Processes. Symbolic Cinematic Elements Portray Democracy as Structurally Controlled by Concentrated Political and Economic Actors. Documentary Storytelling Functions as a Critical Medium for Public Political Awareness and Reflection. Keywords: Oligarchy, Documentary Film, Semiotics, Political Communication, 2024 Elections
Brand Identity Dominance in Political Candidate Image Construction: Dominasi Identitas Merek dalam Konstruksi Citra Kandidat Politik Fawwaz Hanif Basyaeb; M Andi Fikri
Academia Open Vol. 10 No. 2 (2025): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

General Background: Social media platforms function as strategic channels for political communication and candidate image construction in electoral campaigns. Specific Background: TikTok is increasingly used by political candidates to deliver symbolic messages and engage voters during regional elections. Knowledge Gap: Limited research examines local political candidate branding strategies on TikTok using phenomenological approaches. Aims: This study analyzes the personal branding of Mas Rusdi as a Pasuruan Regent candidate through the TikTok account @masrusdi.official using personal branding theory. Results: Using a qualitative phenomenological method, findings indicate that Mas Rusdi presents an image as a progressive young leader through consistent brand positioning, displays religious political jargon as brand identity, demonstrates concern for public issues including regional football development as brand personality, and applies brand communication through TikTok trends using fast-paced visuals and light narrative storytelling. Informants perceive brand identity as the dominant component shaping public perception during the 2024 regional election campaign. Novelty: This study provides a concise phenomenological description of local political branding practices through TikTok content. Implications: The findings contribute to political communication studies by providing insights into culturally contextualized digital campaign strategies in regional elections. Highlights: Progressive Leadership Representation Consistently Appeared Through Youth-Oriented Positioning. Religious Slogan Usage Strengthened Symbolic Recognition Among Followers. Trend-Based Audiovisual Storytelling Increased Audience Engagement Patterns. Keywords: Political Communication, Digital Campaign Strategy, Regional Election Branding, Phenomenological Analysis, Candidate Image Construction
Makna Toponim Desa Durungbedug Sebeagi Representasi Warisan Budaya Lokal Andi Fikri; Istiqomah Istiqomah; Arifin Mado
BRILIANT: Jurnal Riset dan Konseptual Vol 11 No 2 (2026): Volume 11 Nomor 2, Mei 2026
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/briliant.v11i2.2294

Abstract

This study aims to examine the meaning of toponyms in Durungbedug Village as a representation of local cultural heritage. Using a comparative historical linguistics approach, Barthes' etymology and semiotics, as well as ethnographic methods, this study explores the meaning of place names in the village. Scientific findings indicate that the toponyms of Durungbedug Village, consisting of Bedug Pesantren, Bedug Dowo, and Bedug Baru, reflect the existence of developing religious, agrarian, and economic values. "Bedug Pesantren" reflects religious traditions, "Bedug Dowo" indicates still-perpetuated agrarian practices, while "Bedug Baru" depicts economic dynamics that keep pace with the times. The contribution of this study is to provide a new understanding that toponyms are not only geographical markers, but also reflect social, cultural, and economic changes, as well as enriching the study of local cultural heritage.
Optimalisasi pemanfaatan Ekstrak Daun Ketapang sebagai Obat Alami untuk Ikan Hias dalam Mendukung Budidaya Ikan Hias Berkelanjutan Wahyu Eko Pujianto; Supriyadi Supriyadi; Andi Fikri
Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat
Publisher : Progran Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpm.v7i1.851

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan mitra usaha mikro dalam mengolah daun ketapang menjadi produk ekstrak bernilai tambah guna mendukung kesehatan ikan hias sekaligus meningkatkan keberlanjutan ekonomi. Kegiatan ini berkontribusi pada pengembangan komunitas dengan meningkatkan keterampilan produksi, memperkuat kemampuan pemasaran, dan menciptakan peluang ekonomi baru dengan memanfaatkan sumber daya alam lokal. Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui bantuan teknis dalam proses ekstraksi standar dan filtrasi berlapis, peningkatan kemasan dan branding, pelatihan pemasaran digital, analisis kelayakan, serta perencanaan bisnis strategis menggunakan pendekatan segmentasi, target dan positioning (STP) dan strengths, weaknesses, opportunities, threats (SWOT). Kegiatan ini berhasil meningkatkan kualitas produk, meningkatkan efisiensi produksi, dan memungkinkan mitra untuk mengelola pemasaran online secara mandiri. Selain itu, strategi pengembangan bisnis yang dirumuskan memastikan mitra dapat mempertahankan daya saing produk dan merespons tantangan pasar. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan daun ketapang lokal dapat menjadi model bisnis berkelanjutan bagi usaha mikro, berkontribusi pada kemandirian ekonomi dan kesejahteraan komunitas, sekaligus mendukung pengembangan usaha budidaya ikan hias yang ramah lingkungan.
Film Dokumenter Wayang Sarip sebagai Arsip Komunikasi Visual dan Ingatan Kolektif M. Andi Fikri; Joko Susilo
Mekomda: Media Komunikasi Dakwah Vol. 3 No. 2 (2025): Volume 3 Number 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/mekomda.v4i2.2206

Abstract

Di era digital, dokumenter film berperan tidak hanya sebagai representasi realitas, tetapi juga sebagai arsip komunikasi visual yang membentuk memori kolektif masyarakat. Penelitian ini fokus pada film dokumenter Wayang Sarip, yang merekam pertunjukan wayang Jekdong sebagai ekspresi budaya lokal Jawa Timur di luar arus utama tradisi keraton. Tujuan penelitian adalah memahami bagaimana dokumenter ini berfungsi sebagai arsip visual sekaligus media penyiaran nilai budaya dan spiritual dalam perspektif Komunikasi Penyusunan Islam. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika visual dan observasi digital. Adegan kunci, seperti tokoh wayang Sarip, ornamen, tata cahaya, dan iringan gamelan, dianalisis sebagai unit tanda, sementara distribusi film di YouTube ditelaah untuk melihat bagaimana arsip ini diterima publik. Validitas temuan diperkuat melalui triangulasi dengan wawancara pembuat film dan telaah literatur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Wayang Sarip berfungsi sebagai arsip hidup yang tidak hanya mendokumentasikan tradisi, tetapi juga membuka ruang edukasi budaya bagi generasi muda. Selain itu, penelitian ini mengusulkan konsep baru, yakni dokumenter sebagai arsip dakwah visual, yaitu praktik komunikasi yang mengintegrasikan pelestarian budaya dengan penyiaran nilai moral dan spiritual dan film dokumenter digital berpotensi menjadi medium strategi untuk melestarikan tradisi, literasi budaya, sekaligus dakwah budaya di era digital. Kata kunci: Film Dokumenter; Wayang Sarip; Komunikasi Visual; Dakwah Budaya; Arsip Digital