Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

PAGELARAN TARUNG BEBAS PENCAK DOR KEDIRI SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN BELA DIRI PENCAK SILAT TAHUN 1960-2017 FADLILATUL LAILIYAH, SITI; LIANA, CORRY
Avatara Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aliran bela diri yang berkembang di Indonesia sangat beragam. Bela diri asing yang kian banyak diminati oleh masyarakat ini seakan menjadi ancaman bela diri asli Indonesia yaitu pencak silat. Bela diri peninggalan nenek moyang ini harus dijaga dan dilestarikan agar tidak tertimbun oleh bela diri asing. Pagelaran Tarung Bebas Pencak Dor adalah salah satu cara pelestarian pencak silat yang lahir dari perguruan GASMI (Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia). Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri atas tahap heuristik yaitu pengumpulan sumber baik primer maupun sekunder, kritik yaitu tahap penyaringan sumber yang diperoleh, interpretasi yaitu tahap penafsiran terhadap fakta dari sumber yang diperoleh, historiografi yaitu tahap penulisan hasil penelitian sejarah yang telah dilakukan. Hasil penelitian ini adalah mengetahui latar belakang, perkembangan, dan upaya pelestarian Pagelaran Tarung Bebas Pencak Dor dari tahun 1960 sampai 2017.Kata Kunci : Pencak Dor, Pencak Silat, Perkembangan, Pelestarian.
PERANAN POETRI MARDIKA DALAM MENDUKUNG PENDIDIKAN PEREMPUAN PRIBUMI JAWA 1912-1918 INDAH SARI, NUR; LIANA, CORRY
Avatara Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budaya masyarakat Jawa yang sangat memegang kental dengan adat istiadat feodal, perempuan tidak memiliki kebebasan untuk mendapat kebahagiaan dan kemajuan pendidikan. Dengan adanya adat istiadat yang mengikat, kaum perempuan pribumi tidak mendapatkan haknya untuk mengenyam pendidikan yang layak. Karena sebagai perempuan tugas mereka hanya mengurusi dapur (memasak), di sumur (mencuci), dan di kasur (melayani suami). Keadaan ini yang memunculkan semangat kaum perempuan untuk melakukan perubahan nasib kaumnya, terutama kesempatan untuk dapat memperoleh pendidikan yang layak. Pada awal abad ke-20 terjadi banyak perubahan dalam aspek kehidupan masyarakat pribumi yang diupayakan untuk memajukan masyarakat. Dengan terjadinya perubahan,, memunculkan pandangan baru bahwa untuk mencapai kesejahteraan masyarakat, juga meningkatkan derajat kaum perempuan pribumi Jawa salah satunya melalui pendidikan. Hal ini memunculkan gagasan dari perempuan yang duduk di perkunpulan Budi Utomo bagian Betawi untuk mendirikan sebuah organsisa perempuan yaitu Perkumpulan Poetri Mardika. Perkumpulan Poetri Mardika didirikan tahun 1912 di Jakarta, yang dilatar belakangi oleh keadaan pendidikan di sekolah yang begitu mahal dan keadaan kaum perempuan yang masih terikat oleh adat istiadat feodalisme, menyebakan kaum perempuan pribumi kesulitan untuk memasuki dunia pendidikan. Secara umum, penelitian ini , bagaimana usaha kaum perempuan untuk mendapatkan pendidikan. Penelitian ini akan membahas mengenai (1) Mengapa perjuangan Poetri Mardika difokuskan pada bidang pendidikan; (2) Bagaimana peranan Poetri mardika dalam mendukung pendidikan perempuan pribumi 1912-1918. Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri atas empat tahap yaitu tahap Heuristik, Kritik, Interpretasi dan Historiografi. Penelitian ini bertujuan mengetahui sejarah berdirinya perkumpulan Poetri Mardika dan peranan Poetri Mardika dalam bidang pendidikan. Hasil penelitian menjelaskan Poetri Mardika merupakan perkumpulan perempuan pertama di Indonesia awal abad ke-20. Poetri Mardika dalam perkembangannya mengalami perubahan perubahan tujuan yang awalnya untuk memajukan kedudukan perempuan dalam hukum, akibat dari kegagalan mosi yang dilakukannya berubah mernjadi pemberian beasiswa penididikan bagi anak-anak perempuan yang tidak mampu ekonominya baik di Jawa maupun luar Jawa. Kata Kunci : Perempuan, Poetri Mardika, PendidikanAbstr
PENANGANAN KONFLIK ANTAR PENDUDUK DENGAN BROMOCORAH DAN DUKUN SANTET DI JEMBER TAHUN 1980-1981 TIARA DWI NOVIANTI, ADIS; LIANA, CORRY
Avatara Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jember adalah sebuah wilayah Kabupaten di Provinsi Jawa Timur. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Bondowoso di utara serta Kabupaten Banyuwangi di timur, Samudera Hindia di selatan, dan Kabupaten Lumajang di barat. Kabupaten Jember terdiri dari 31 kecamatan. Dalam konteks regional, Kabupaten Jember mempunyai kedudukan dan peran yang strategis sebagai salah satu Pusat Kegiatan Wilayah (PKW). Mayoritas penduduk Kabupaten Jember terdiri atas suku Jawa dan suku Madura. Jember adalah daerah migrasi dari madura. Wilayah ini relatif baru di buka dan dianggap sebagai daerah perbatasan (frontier area).Kepadatan penduduk dan timbulnya beberapa konflik yang terjadi menumbuhkan beberapa kasus kriminalitas dan kerusuhan di berbagai daerah di Jember.Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalah penelitian ini sebagai berikut : 1.Bagaimana Latar Belakang terjadinya konflik antar penduduk dengan bromocorah dan dukun santet di Jember tahun 1980-1981? 2.Bagaimana penanganan konflik antar penduduk dengan bromocorah dan dukun santet di Jember tahun 1980-1981? 3.Bagaimana dampak terjadinya kasus konflik antar penduduk dengan bromocorah dan dukun santet di Jember tahun 1980-1981?. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Sejarah dengan menggunakan sumber utama berupa arsip dan pemberitaan-pemberitaan media cetak dari surat-surat kabar seperti Surabaya Post dan Majalah Tempo serta menggunakan sumber pendukung berupa buku-buku yang berkaitan dengan penelitian.Hasil analisis penelitian menjelaskan bahwa, ?Konflik Jember? merupakan kasus tindakan main hakim sendiri yang dilakukan massa yang bermotifkan balas dendam. Memuncaknya kemarahan masyarakat Jember kepada sindikat Bromocorah dan Dukun Santet yang sering mengganggu ketenangan masyarakat di beberapa desa di Kabupaten Jember. Peristiwa tersebut umumnya terjadi di pedukuhan atau desa yang jauh dari kota kecamatan sehingga bantuan keamanan sering mengalami hambatan. Di samping jalan menuju ke tempat peristiwa agak jauh dan berat karna kondisi geografis Jember yang sebagian besar masih perkebunan serta terbatasnya sarana komunikasi dan kendaraan sangat mempengaruhi kelancaran pelaksanaan tugas pengamanan. Kadar pengetahuan masyarakat yang terbatas merupakan sasaran yang lunak bagi pihak ketiga untuk memasukkan pengaruh yang sifatnya menghasut.Terdapat dampak terhadap kehidupan politik,dan sosial akibat terjadinya konflik di Jember. Dalam bidang politik, secara keseluruhan memiliki dampak terhadap kegaduhan antar anggota partai politik yang beranggapan bahwa kasus ini ada campur tangan pemerintah yang menjalankan sehingga menimbulkan banyak korban. Dalam bidang sosial, memiliki dampak selain membuat masyarakat resah juga menimbulkan berbagai penanganan yang serius dari pemerintah untuk menyelesaikan konflik yang ada di Jember.Kata Kunci:Jember, Bromocorah, Dukun Santet, Konflik, Kriminalitas.
GERAKAN PROTES MAHASISWA SURABAYA TERHADAP KEKUASAAN ORDE BARU PADA MEI TAHUN 1998 DI SURABAYA SEPTY PUSPITA, LAYLA; LIANA, CORRY
Avatara Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gerakan mahasiswa pada 1998 dapat disebut sebagai gerakan yang menjadi pelopor terjadinya sebuah perubahan sosial di Indonesia. Di Surabaya, berbagai perguruan tinggi tidak luput melakukan berbagai aksi menuntut reformasi. Isu-isu yang diangkat sama dengan isu nasional hingga dapat menggulingkan rezim Orde Baru. Pemicu gerakan mahasiswa adalah krisis ekonomi dan krisis politik yang melanda Indonesia mulai dari tahun 1997-1998. Gerakan mahasiswa Indonesia serta gerakan mahasiswa di berbagai daerah memiliki banyak dampak dalam berbagai bidang. Salah satunya adalah kebebasan berpendapat serta berekspresi bagi seluruh rakyat Indonesia yang telah diatur secara konstitusional.Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, penelitian ini mengambil rumusan masalah yaitu : (1) bagaimana proses gerakan protes mahasiswa Surabaya pada bulan Mei 1998 yang dianggap lebih aman dan terkendali dalam memperjuangkan reformasi Indonesia? (2) bagaimana dampak yang terjadi setelah peristiwa gerakan mahasiswa Surabaya terhadap organisasi serta kegiatan kemahasiswaan pasca Orde Baru tahun 1998?. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan sumber utama yang dipakai adalah Koran Surabaya Post dan wawancara, serta buku-buku pendukung yang berkaitan dengan penelitian.Selanjutnya, hasil yang didapat dari penelitian ini adalah gerakan mahasiswa di Surabaya merupakan aksi solidaritas sesama mahasiswa sebagai kaum intelektual dalam memperjuangkan nasib serta hak?hak rakyat. Terdapat pra aksi, proses aksi, serta dampak yang ditimbulkan oleh gerakan mahasiswa di Surabaya. Pra aksi meliputi persiapan strategi, pembentukan komite aksi, perizinan, penentuan pusat aksi, aksi, hingga evaluasi akhir aksi. Banyak aksi yang dilakukan mahasiswa Surabaya hingga terjadi bentrok dengan aparat namun tidak terdapat korban jiwa karena mahasiswa Surabaya sudah sepakat untuk selalu melakukan aksi damai dalam berbagai demonstrasi yang dilakukannya. Kesepakatan tersebut dibuat dalam rapat konsolidasi yang dilakukan oleh wakil-wakil dari tiap kampus di Surabaya.Terdapat dampak yang terjadi di Surabaya namun tidak terlalu signifikan. Hal yang paling dirasakan oleh kalangan mahasiswa adalah kebebasan mereka dalam berpendapat dan berekspresi seperti pembentukan organisasi baru serta diskusi. kebebasan berpendapat sudah diatur secara konstitusional.Kata Kunci : Gerakan Mahasiswa, Orde Baru, Surabaya
PERKEMBANGAN MUSEUM KERATON SUMENEP SEBAGAI OBJEK PARIWISATA TAHUN 1994-2014 GHALI ABDULLAH, MOHAMMAD; LIANA, CORRY
Avatara Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai salah satu Kabupaten di Pulau Madura yang kaya akan potensi pariwisata, Kabupaten Sumenep terus menerus berupaya untuk meningkatkan dan melestarikan destinasi-destinasi wisata yang ada di wilayahnya, tak terkecuali Museum Keraton Sumenep. Pengembangan Meseum Keraton Sumenep menjadi salah satu fokus Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep yang setiap tahunnya tercantum dalam Anggaran Pembangunan Daerah. Sebagai bentuk implementasi dari Peraturan Pemerintah Nomor 11/2010 pasal 18, keberadaan Museum Keraton Sumenep wajib untuk dilestarikan dan dijaga dengan baik. Penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang perkembangan Museum Keraton Sumenep sebagai Objek pariwisata disebabkan oleh potensi wisata yang dimiliki oleh Museum Keraton Sumenep.Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana Perkembangan Museum Keraton Sumenep sebagai Objek Wisata Tahun 1994-2014; (2) Bagaimana Pemanfaatan Museum Keraton Sumenep. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah meliputi Heuristik, Kritik, Interpretsi, dan Historiografi.Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Sumenep terus menerus berupaya untuk mengembangkan Museum Keraton Sumenep diantaranya melalui penambahan dan pemeliharaan fasilitas, peningkatan sarana dan prasarana, peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM), serta meningkatkan aktivitas promosi terhadap Museum Keraton Sumenep dengan dana yang diberikan dari APBD sebesar 3% per tahunnya.Pengembangan Museum Keraton Sumenep selain untuk menarik minat wisatawan dan menambah kenyamanan, dapat dimanfaatkan oleh banyak pihak untuk berbagai macam kegiatan positif, seperti sebagai sarana pembelajaran mandiri bagi siswa dan siswi Sekolah Menengah Atas (SMA). Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa koleksi yang ada di Museum Keraton Sumenep mampu mendukung seluruh kompetensi dasar ketiga yang ada pada Kurukulum K13 untuk mata pelajaran Sejarah Sekolah Menengah Atas (SMA).Kata kunci: Museum Keraton Sumenep, Pariwisata, Sumber Belajar.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIVE LISTENING TEAM UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA MA DARUL ULUM BARENG KABUPATEN JOMBANG PADA MATA PELAJARAN SEJARAH NURMA LAILA FARIDA, SITI; LIANA, CORRY
Avatara Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang masalah pada penelitian ini adalah praktik pengajaran sejarah disekolah guru hanya membeberkan fakta-fakta saja dan model serta teknik pengajarannya tidak variatif. Umunya kurang disadari bahwa pembelajaran sejarah memiliki sifat-sifat yang memerlukan ketrampilan untuk mengajarkannya sehingga keaktifan siswa dalam belajar menurun. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui pengaruh dari penerapan metode Listening Team untuk meningkatkan kekativan belajar siswa di MA Darul Ulum Bareng Jombang; (2)mengetahui peningkatan nilai siswa setelah dilakukannya metode Listening TeamJenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan subyek pada penelitian ini adalah siswa kelas X ips Ma Darul Ulum Bareng Jombangyang terdiri dari 32 siswa pada semester genap. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penlitian ini adalah test pre-test dan post-test guna untuk melihat perubahan belajar siswa sebelum dan setelah dilakukannya penelitan, lembar observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data guru dalam pelaksanaan metode Listening Team, analisis data aktivitas siswa terhadap Metode Listening Team, dan hasil dari pre-test dan post-test.Hasil dari penelittian ini adalah: pembelajaran sejarah di MA Darul Ulum Bareng sudah tepat dan sesuai, hal ini ditunjukan dari kenaikan kegiatan guru dalam proses pembelajaran sebelum dan sesudah dilakuakannya penelitain menggunakan model pembelajaran koopertif tipe Listening Team dan terdapat 76% siswa mendapat kategori baik siswa mampu belajar menggunakan metode Listening Team. Dengan demikian metode Listening Team dapat meningkatkan keaktivan belajar siswa.Kata Kunci : Pembelajaran sejarah, Listening Team, keaktivan siswa
KEDAULATAN RAKYAT TAHUN 1974 – 1994 MADELEINE RUBBA, RUTH; LIANA, CORRY
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembredelan pers dilakukan secara masif pasca tragedi MALARI 1974. Begitu banyak surat kabar yang berhasil di bredel pada Orde Baru, namun lain halnya dengan surat kabar milik Yogyakarta yaitu Kedaulatan Rakyat yang berhasil melewati Orde Baru yang begitu represif serta pembredelan di tahun 1974 hingga 1994. Kedaulatan Rakyat tentu memiliki sebuah upaya agar terhindar dari pembredelan Orde baru serta berhasil melewati Orde Baru yang begitu mengekang pers khususnya surat kabar. Kedaulatan Rakyat mengambil langkah yang hati - hati serta selalu waspada agar tidak terbawa arus kritik terhadap pemerintah yang begitu tajam yang terjadi pada saat itu. Pada prosesnya Kedaulatan Rakyat ikut terlibat aktif dalam melakukan kritik terhadap kebijakan - kebijakan pemerintah maupun kondisi politik pada masa tersebut namun tetap dilakukan dengan prinsip meniti buih, ngono yo ngono, ning ojo ngono dan mili ning ora melu keli.Kata Kunci: Kedaulatan Rakyat, Pembredelan
EFIKASI DIRI MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH DALAM MATA KULIAH PROGRAM PERENCANAAN PENGAJARAN (P3) Liana, Corry
Metafora: Education, Social Sciences and Humanities Journal Vol 1, No 4 (2015): Implementasi Model Model Pembelajaran
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/metafora.v1n4.p112-125

Abstract

Self-efficacy is the confidence that owned by someone, it able to organize and take action to solve problems and addressing the changes properly. Individuals who have high self efficacy would be able to judge their self, and this will affect the degree of resistance to a task that must be carried out. In the world of education, teachers who have self-efficacy will have strong beliefs, feel comfortable with their self, and be able to control their emotions. That things will make the teachers were able to set up conditions in the classroom properly, able to choose and use appropriate learning strategies, and able to motivate students. Self-efficacy can be developed through Performance experience, vicarious experience, verbal persuasion, and psychological state. Self-efficacy can be forged in early learning, so for the teachers the first years is the most decisive. The Teaching Planning Program or Program Perencanaan Pengajaran (P3) courses, is the beginning of students to teaching and learning at the front of the class, so applying the self efficacy on history education students is the right thing.
Managing Land Assets For Sustainable Goals To Generate Income Of University Wardhana, Mahendra; Kautsar, Achmad; Fithroni, Hijrin; Liana, Corry; Bhilawa, Loggar
International Journal of Educational Research & Social Sciences Vol. 4 No. 6 (2023): December 2023 (Indonesia - Morocco - Angola)
Publisher : CV. Inara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51601/ijersc.v4i6.745

Abstract

This research aims to find out that increasing university income from land development is a complicated process that requires knowledge and skills in various aspects such as law, urban planning, and the civil structure of buildings that will stand on the land. This research will adopt a descriptive qualitative research approach to understand a particular phenomenon. This approach allows researchers to collect descriptive data to answer research questions regarding optimizing university land management. The research subjects in this study were 30 people consisting of leaders of Surabaya State University and stakeholders who were partners and involved in land development in the University area. Research findings show that sustainable land development is a goal that the University wishes to achieve in the short and long term and needs to be supported by strong financial resources. These results have significant implications for other universities that are managing land assets to contribute income to sustainable land development.