Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Modifikasi Perencanaan Rumah Susun Pasar Rebo dengan Base Isolation Tipe Friction Pendulum System pada Daerah Rawan Gempa Muhamad Fauzan Akbari; Hidajat Sugihardjo; Ahmad Basshofi Habieb
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.65249

Abstract

Tingginya aktivitas seismik dan potensi gempa menuntut perencanaan struktur gedung dengan kinerja yang baik saat gempa terjadi. Tipe penahan gempa konvensional seperti sistem rangka pemikul momen dan shearwall pada struktur bangunan dapat menyebabkan kerusakan elemen struktural maupun non-struktural yang signifikan akibat adanya plastifikasi dan tingginya percepatan lantai. Oleh karena itu diperlukan suatu sistem penahan gempa yang lebih efektif dalam mencegah dampak kerusakan tersebut. Inovasi yang dikembangkan untuk mengurangi dampak tersebut adalah base isolation. Konsep dasar base isolation yaitu memisahkan pergerakan struktur dari pergerakan horizontal tanah dengan memasang elemen fleksibel didasar bangunan sehingga gaya gempa yang masuk pada struktur tereduksi. Dalam tugas akhir ini akan dilakukan modifikasi perencanaan gedung Rumah Susun Pasar Rebo dengan menggunakan base isolation tipe friction pendulum system (FPS). Perencanaan tersebut mengacu beberapa peraturan yaitu SNI 2847:2019, SNI 1726:2019, SNI 1727:2020, PPIUG 1983 dan peraturan lainnya. Dari analisis perhitungan didapatkan: tebal pelat lantai terbesar 13cm, dimensi balok anak 25x40cm, dimensi balok induk terbesar 45x70cm, dimensi kolom terbesar 60x80cm, dan pondasi direncanakan dengan spun pile 40x40 dan D60 dengan kedalaman masing-masing 14 dan 11m. Friction pendulum yang digunakan pada gedung ini ada dua tipe yaitu SIP-D-HF-325 (5000) dan SIP-D-HF-326 (5000) yang merupakan produk dari Maurer. Selain itu dari analisis didapatkan struktur base isolation memiliki periode 3,17 kali lebih besar dari periode struktur fixed based. Struktur base isolation memiliki gaya geser dasar yang lebih kecil dari struktur fixed based dengan sistem SRPMM (R=5), SRPMB (R=3), SRPMB (R=2) dengan selisih masing-masing sebesar 6,23% , 43,4%, dan 62,49%. Akan tetapi struktur base isolation memiliki gaya geser yang lebih besar dari struktur SRPMK dengan selisih sebesar 50,03%. Struktur dengan base isolation memiliki perpindahan atap yang lebih besar dari struktur fixed based. Penggunaan base isolation pada struktur mereduksi drift rasio dengan selisih rata-rata 68,2% diarah X dan 47,35% diarah Y.
Seismic performance of a masonry house prototype retrofitted using frp strip: a numerical study Ahmad Basshofi Habieb; Marco Valente; Gabriele Milani
Journal of Civil Engineering Vol 35, No 2 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j20861206.v35i2.8056

Abstract

This study presents a series of finite element analyses on the prototype of masonry house retrofitted using FRP strips. The model of the masonry house refers to the prototype scaled to 1:3 tested in an experimental campaign. The non-linear behavior of masonry is modeled through the Concrete Damage Plasticity (CDP) model, while the FRP and adhesive are modeled as two separated isotropic solid materials with elastic-plastic behavior. A good agreement between experimental and numerical result is obtained, indicating the increase of bearing capacity of the reinforced masonry prototype.
Perbandingan Analisis Numerik Dan Analitikal Kekakuan Elastik Lateral Pada Jembatan Rangka Terbuka Dengan Menggunakan Program Abaqus Moh. Fadhlan Rosyidi; Hidajat Sugihardjo; Budi Suswanto; Ahmad Basshofi Habieb
Jurnal Aplikasi Teknik Sipil Vol 20, No 1 (2022)
Publisher : Departemen Teknik Infrastruktur Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1602.277 KB) | DOI: 10.12962/j2579-891X.v20i1.11974

Abstract

Bresing tranversal merupakan elemen yang berpengaruh terhadap stabilitas lateral batang tekan. Seperti pada jembatan rangka terbuka, tidak adanya pengikat transversal mengurangi stabilitas lateral dan batang tekan rentan terhadap tekuk. Tekuk akan menyebabkan kerusakan pada seluruh jembatan. Oleh karena itu, kekangan elastis yang diberikan oleh elemen vertikal dan balok lantai sangat penting untuk stabilitas lateral jembatan rangka terbuka. Penelitian ini membahas tentang analisis numerik model 2D wire dan modifikasi numerik model 3D solid dengan menggunakan program bantu Abaqus. Kemudian hasil analisis dibandingkan dengan Analitikal menggunakan Formula Engesser dan studi terdahulu yang dilakukan oleh Matthies (2012). Kekakuan elastik lateral yang dihasilkan oleh model 2D wire adalah 6.4675 kip/in dengan selisih masing-masing sebesar 2.179% antara numerik dengan analitikal dan sebesar 1.677% dengan studi terdahulu. Kekakuan elastik lateral yang dihasilkan oleh model 3D solid adalah 6.614 kip/in dengan selisih masing-masing sebesar 0.030% antara numerik dengan analitikal dan sebesar 0.575% dengan studi terdahulu. Model modifikasi numerik dengan 3D Solid selanjutnya akan digunakan sebagai acuan pemodelan pada penelitian lanjutan yaitu modifikasi penampang jembatan terbuka yang memudahkan aksesibilitas pengguna.
Analisis Numerik Vertical Shear Link (VSL) secara Sub-Assemblage menggunakan Program Bantu ABAQUS Ifarrel Rachmanda Hariyanto; Budi Suswanto; Ahmad Basshofi Habieb
Jurnal Aplikasi Teknik Sipil Vol 20, No 3 (2022)
Publisher : Departemen Teknik Infrastruktur Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1756.777 KB) | DOI: 10.12962/j2579-891X.v20i3.13298

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan tingkat kegempaan yang cukup tinggi, sehingga gempa seringkali menimbulkan korban jiwa. Untuk mengurangi korban jiwa akibat gempa, perlu didesain gedung yang dapat memenuhi kebutuhan performa struktur seperti kekuatan dan daktilitas. Eccentrically Braced Frames (EBF) adalah salah satu struktur baja daktail yang cocok digunakan pada daerah rawan gempa. Link pada EBF yang umum digunakan adalah link horizontal yang memiliki beberapa kelemahan seperti dapat merusak beban berat atau peralatan yang sangat sensitif terutama pada gedung pembangkit listrik sehingga dilakukan penelitian terkait link vertikal. Penelitian ini membahas tentang analisis numerik penggunaan Vertical Shear Link (VSL) dengan menggunakan program bantu ABAQUS yang kemudian dilakukan perbandingan hasil analisis dengan penelitian eksperimental oleh Zahrai dkk. (2015). Analisis numerik dilakukan untuk memverifikasi hasil eksperimen meliputi von mises stress, moda deformasi, dan kurva histerisis. Hasil numerik menunjukkan bahwa badan link mencapai tegangan runtuh pada akhir pengujian. Kapasitas beban puncak yang dihasilkan oleh analisis numerik adalah 22,723 ton dengan selisih antara eksperimental sebesar 1,05%.
Studi Perilaku Floordeck Komposit Baja Akibat Beban Lentur dengan Metode Elemen Hingga Axel Ricardo Santoso; Budi Suswanto; Ahmad Basshofi Habieb
Jurnal Aplikasi Teknik Sipil Vol 20, No 3 (2022)
Publisher : Departemen Teknik Infrastruktur Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1655.979 KB) | DOI: 10.12962/j2579-891X.v20i3.13330

Abstract

Penelitian ini adalah analisis dengan metode elemen hingga terkait floordeck, untuk mendapatkan momen, kuat geser, dan kegagalan sturktur pada pelat lantai. Hasil pemodelan validasi dibandingkan dengan hasil modifikasi dengan beban maksimum dan defleksi sebesar 115,54 kN dan 26 mm pada model validasi 1, sedangkan model modifikasi 1 sebesar 77,76 kN dan 28 mm. Pengaruh besarnya adalah shear connector, terjadi kenaikan beban maksimum sebesar 33% serta kenaikan defleksi sebesar 7%. Model modifikasi dengan 4 variasi panjang, pada model M1 mendapatkan beban maksimum 77,76 kN pada defleksi sebesar 28,82 mm, sedangkan defleksi ujung beban sebesar 65,66 kN. Pada permodelan M2 dengan bentang 2,5m mendapatkan beban maksimum 53,54 kN pada defleksi sebesar 30 mm.  Maka dengan model seterusnya akan menggalami tren yang menurun karna panjang suatu model. Begitu juga dengan Momen maksimum, gaya geser, dan kegagalan sturktur pelat dimana semakin panjang bentang yang dimodelkan maka akan semakin kecil nilai yang didapat.
Identification of Structural Damage in Frame Bridge Using Mode Shape Curvature: Simulation on Laboratory-Scale Frame Bridge Irawan, Djoko; Suswanto, Budi; Habieb, Ahmad Basshofi; Fitriyah, Dita Kamarul
Jurnal IPTEK Vol 28, No 1 (2024): May
Publisher : LPPM Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.iptek.2024.v28i1.5291

Abstract

Most bridge construction is dominated by steel bridges with various designs and structural types. The choice of steel as a material is due to its known strength, durability, and resistance to damage. However, if maintenance activities on steel bridges are lacking, there is a potential for damage or even failure of the structure. Structural failure can result in economic losses for the country, and more importantly, it can pose a threat to human safety. Therefore, there is a need for monitoring activities to assess the structural health. The development of monitoring activities in the last decade includes the Structural Health Monitoring System (SHMS). To address the challenges of SHMS, various methods are being researched. Non-Destructive Testing (NDT) methods are considered the best choice as an inspection tool, being perceived as easy, and effective in detecting and diagnosing various structural issues. Hence, in research, the detection of damage locations in steel bridge structures is carried out using the Mode Shape Curvature (MSC) method with the assistance of an accelerometer sensor. The MSC method contributes to SHM at level II, specifically in detecting the location of damage in the structure. It is observed that in the designed damage scenarios, the MSC index indicates a loss of stiffness with an increase in the MSC value at the damage location.
NUMERICAL STUDY OF USING MULTI-DIRECTION ANGLE WIRE MESH AS A CONFINEMENT SYSTEM FOR CONFINED MASONRY UNDER HORIZONTAL CYCLIC LOADS Hidayat, Muhammad Rifat; Habieb, Ahmad Basshofi; Sutrisno, Wahyuniarih
Journal of Civil Engineering Vol 38, No 2 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j20861206.v38i2.17405

Abstract

Indonesia was located in a seismically active region and was situated between three tectonic plates. The construction resilience that met the requirements was necessary in earthquake-prone areas. The purpose was to protect and reduce the risk of severe damage caused by significant seismic loads. However, more than 70% of buildings in developing countries like Indonesia utilized the Confined Masonry (CM) structural system. The implementation of CM systems in Indonesia often led to fatal damages during earthquakes. Due to the severity of these damages, the addition of reinforcement systems to CM became one of the options to address the shortcomings of the CM system. There were various types of materials that could be used as reinforcement, such as steel cages, polymers, polypropylene bands, bamboo meshes, and plastic materials. This study investigated the utilization of ferrocement layers as reinforcement material for CM structural system panels. The specimen panels used had a width of 2300 mm and a height of 1370 mm. The specimens in the research were numerically modeled using the ABAQUS/explicit program. The research variation focused on the influence of the wiremesh sheet orientation angle. The number of variations for the ferrocement layer was one layer with angle configurations of 0, 45, and 60 degrees. This reinforcement layer was applied to one side of the CM panel. As a comparison, results from the control specimen were included. The hysteresis curve, energy dissipation, stiffness degradation, and damage patterns were evaluated in this research.
PERFORMANCE OF MASONRY WALL JOINT CORNER WITH PERFORATED PLATE IN NON-ENGINEERING BUILDING Hapsari, Roro Prasti; Sugihardjo, Hidajat; Habieb, Ahmad Basshofi
Journal of Civil Engineering Vol 38, No 2 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j20861206.v38i2.17451

Abstract

Indonesian houses are characterized as non-engineered and vernacular, constructed using local material, techniques, and architectural style. As a results these houses are typically built without the involvement of experts. In Indonesia, most lower class houses are unreinforced masonry (URM), masonry without structural elements. The absence of structural elements makes URM highly vulnerable to earthquakes and makes the masonry walls the main load bearers. This study analyses the performance of corner joint masonry wall with perforated plate to enhance the integrity between the perpendicular walls. This research was carried out experimentally. The results indicate that URM joint corner walls without perforated plates has the highest load capacity and ductility. Perforated plates in layers of masonry walls can decrease the lateral load capacity by 55%. The failure pattern occurred are slip failure, with cracks appearing at mortar-brick joint and mortar-perforated plate interfaces. From the test that have been carried out, it was found that perforated plate could reduce the cohesiveness of the walls rather than enhance the integrity of the perpendicular walls.
Modifikasi Perencanaan Struktur Gedung Palang Merah Indonesia Kabupaten Sukabumi Menggunakan Sistem Base Isolation Tipe High Damping Rubber Bearing (HDRB) Sitorus, Sinar Nathalia; Soegihardjo, Hidajat; Habieb, Ahmad Basshofi; Habieb, Ahmad Basshofi
Jurnal Teknik ITS Vol 12, No 2 (2023)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v12i2.112341

Abstract

Berdasarkan data rekaman kegempaan di Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa bumi di Indonesia rata-rata terjadi 5.000 kali dalam setahun. Menurut Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, salah satu daerah di Indonesia yang rawan terjadi gempa bumi adalah Sukabumi, sehingga dalam merancang bangunan di wilayah tersebut perlu perhatian khusus. Seiring berkembangnya teknologi, berbagai inovasi dilakukan untuk dapat mengatasi masalah kerusakan bangunan akibat gempa bumi dengan lebih efektif. Salah satu solusi untuk mengurangi dampak kerugian akibat terjadinya gempa adalah dengan sistem base isolation. Digunakannya base isolation adalah untuk memperpanjang periode getar struktur sehingga percepatan gempa mengecil. Pada studi ini, jenis base isolator yang digunakan adalah High Damping Rubber Bearing (HDRB) yang merupakan salah satu jenis laminated rubber bearing yang terbuat dari penggabungan senyawa karet dengan nilai rasio redaman yang tinggi. Gedung PMI Kabupaten Sukabumi yang sebelumnya dirancang dengan metode konvensional dirancang kembali menggunakan metode base isolation. Pada pemodelan gedung dengan denah tidak beratura bentuk L, sumbu kritis (sumbu utama) dari bangunan, yaitu sumbu dimana jari-jari girasi paling kecil, perlu diperhatikan. Pada sumbu ini arah gempa dibebankan pada arah sumbu utama, sehingga diperoleh respon struktur maksimum. Dari hasil studi didapatkan sudut antara sumbu kritis terhadap sumbu x sebesar 70,9°. Analisis ini sudah memperhitungkan eksentrisitas beban gempa terhadap pusat geser ditambah 5% dari dimensi denah bangunan. Selanjutnya berdasarkan hasil analisis, penggunaan sistem isolasi pada gedung mampu mereduksi gaya geser dasar pada bangunan secara signifikan, dimana rata-rata reduksi gaya gesernya sebesar 4 kali lipat. Selain itu, gedung dengan sistem isolasi memiliki nilai partisipasi massa sudah mencapai >90% pada mode 1 dan mode 2. Shifting Period pada sistem isolasi mencapai 2,7 kali untuk arah X dan 2,8 kali untuk arah Y dan simpangan antar lantai pada struktur sistem isolasi berkurang hingga >60% dari pada struktur dengan sistem fixed base.
Modifikasi Perencanaan Struktur Gedung Palang Merah Indonesia Kabupaten Sukabumi Menggunakan Sistem Base Isolation Tipe High Damping Rubber Bearing (HDRB) Sitorus, Sinar Nathalia; Soegihardjo, Hidajat; Habieb, Ahmad Basshofi; Habieb, Ahmad Basshofi
Jurnal Teknik ITS Vol 12, No 2 (2023)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v12i2.112341

Abstract

Berdasarkan data rekaman kegempaan di Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa bumi di Indonesia rata-rata terjadi 5.000 kali dalam setahun. Menurut Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, salah satu daerah di Indonesia yang rawan terjadi gempa bumi adalah Sukabumi, sehingga dalam merancang bangunan di wilayah tersebut perlu perhatian khusus. Seiring berkembangnya teknologi, berbagai inovasi dilakukan untuk dapat mengatasi masalah kerusakan bangunan akibat gempa bumi dengan lebih efektif. Salah satu solusi untuk mengurangi dampak kerugian akibat terjadinya gempa adalah dengan sistem base isolation. Digunakannya base isolation adalah untuk memperpanjang periode getar struktur sehingga percepatan gempa mengecil. Pada studi ini, jenis base isolator yang digunakan adalah High Damping Rubber Bearing (HDRB) yang merupakan salah satu jenis laminated rubber bearing yang terbuat dari penggabungan senyawa karet dengan nilai rasio redaman yang tinggi. Gedung PMI Kabupaten Sukabumi yang sebelumnya dirancang dengan metode konvensional dirancang kembali menggunakan metode base isolation. Pada pemodelan gedung dengan denah tidak beratura bentuk L, sumbu kritis (sumbu utama) dari bangunan, yaitu sumbu dimana jari-jari girasi paling kecil, perlu diperhatikan. Pada sumbu ini arah gempa dibebankan pada arah sumbu utama, sehingga diperoleh respon struktur maksimum. Dari hasil studi didapatkan sudut antara sumbu kritis terhadap sumbu x sebesar 70,9°. Analisis ini sudah memperhitungkan eksentrisitas beban gempa terhadap pusat geser ditambah 5% dari dimensi denah bangunan. Selanjutnya berdasarkan hasil analisis, penggunaan sistem isolasi pada gedung mampu mereduksi gaya geser dasar pada bangunan secara signifikan, dimana rata-rata reduksi gaya gesernya sebesar 4 kali lipat. Selain itu, gedung dengan sistem isolasi memiliki nilai partisipasi massa sudah mencapai >90% pada mode 1 dan mode 2. Shifting Period pada sistem isolasi mencapai 2,7 kali untuk arah X dan 2,8 kali untuk arah Y dan simpangan antar lantai pada struktur sistem isolasi berkurang hingga >60% dari pada struktur dengan sistem fixed base.