Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Efektivitas Penggunaan Speech Trainer Pada Kasus Gangguan Pendengaran Studi Kasus Di YPAC Surakarta Gunawan Gunawan; Anisyah Dewi Syah Fitri
Jurnal Keterapian Fisik Vol 4 No 2 (2019): JURNAL KETERAPIAN FISIK
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.728 KB) | DOI: 10.37341/jkf.v4i2.195

Abstract

Background: Hearing loss is the difficulty of someone to hear sounds from mild to severe degrees, so that they experience obstacles in understanding other people's speech through their own hearing or someone who has lost the ability to hear so that they cannot process language information through hearing with or without hearing aids (Travis, 1978).Based on the Results of Basic Health Research conducted by the Indonesian Ministry of Health in 2013 (Riskesdas 2013) presents significant information in terms of the prevalence of disability in children. The prevalence of blind people is 0.17%, speech impaired 0.14%, down syndrome 0.13%, physical impairment 0.08, hearing impaired 0.07% and disability caused by trauma and accidents 0.53%. In children aged 24 - 59 months found 0.14% of children who are speechless from the overall data of children with disabilities.Speech therapy to handle cases of hearing loss, with Speech Trainer aids, especially articulations.The main purpose of providing effective information and benefits of speech trainer aids for speech therapy cases of dysaudia aged 3-6 years specifically in the pronunciation of consonant / r / Late articulation.Providing information to the Speech Therapist, one of the procedures in the use of speech trainer therapy aids, especially in the case of dysaudia who do not use Google implants.Providing information and understanding to parents about the problem of a child's condition that does not use sophisticated Google implants, can be treated with speech trainer. Because Koglea implants are expensive. Methods: This research uses survey method, aims to find information that will be used to solve problems and not to test hypotheses.The instruments in this study were consonants / r / followed by vocal sounds [/ a /, / i /, / u / e /, / e / and / o /] the final position in the form of words as follows: Snake, Comb, Egg , Suitcase, Bucket, Tail. With the help of pictures. and Therapeutic Tools used in intervening in Children, namely: Speech Trainer and Consonant / r / Articulation Card and Mirror. Results: Based on the results of this study, it can be concluded that from the study land surveyed as many as 4 (four) children with hearing loss in YPAC. Conclusion: Speech Trainer did not show any influence at the time of T1 to T4, there was an influence at the time of T5 that is indicated in the word Comb there were 3 subjects (75.0%), eggs had 3 subjects (75.0%), Buckets had 1 Subject ( 25.0%), and tails there were 2 subjects (50.0%), whereas in the word snake, and luggage did not show any successful pronunciation.The effectiveness of using Speech Trainer lies in the pronunciation of the consonant / r / on the word comb and egg on T5 (p = 0.010).
Hubungan Pengetahuan Orangtua tentang Rapid Naming dan Kemampuan Membaca Anak Sekolah Dasar Kelas Dua pada SDN Bulukantil di Surakarta Salsyabilla Alenta Putri; Anisyah Dewi Syah Fitri -
Jurnal Terapi Wicara dan Bahasa Vol. 1 No. 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59686/jtwb.v1i2.57

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Salah satu penunjang agar tercapainya kemampuan membaca adalah kemampuan Rapid Naming, yang awalnya harus diketahui oleh orangtua anak ketika anak tidak dapat menamai suatu set stimulus deretan huruf dan angka yang sudah dikenali secara cepat, maka menunjukkan adanya permasalahan dalam membaca. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengetahuan orangtua tentang Rapid Naming dengan kemampuan membaca anak sekolah dasar kelas dua. Metode: Jenis penelitian kuantitatif dengan desain Cross Sectional. Teknik pengambilan data menggunakan total sampling dengan sampel 30 responden anak kelas dua dan 30 responden orangtua wali murid. Instrumen penelitian yang digunakan Kuesioner untuk mengukur pengetahuan orangtua tentang Rapid Naming dan Tes Reading Comprehension mengukur kemampuan membaca anak. Dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji statistik Spearman Rank. Hasil Skripi: Hasil uji analisis menunjukkan p = 0.0008 (Ha diterima) dengan koefisien korelasi r = 0.476 menunjukkan bahwa hubungan antara kedua variabel termasuk kategori sedang kearah korelasi positif. Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan orangtua tentang Rapid Naming dengan kemampuan membaca. Korelasi positif ke arah sedang. Hal ini menunjukkan jika pengetahuan tentang Rapid Naming orang tua baik maka semakin tinggi pula kemampuan membaca pada anak. Kata kunci: Rapid Naming, Kemampuan Membaca, Anak Sekolah Dasar
Studi Komparatif Kualitas Suara Guru Sekolah Dasar dan Guru Sekolah Luar Biasa di Surakarta Putri Aprisilia; Anisyah Dewi Syah Fitri; Nadya Susanti
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53302

Abstract

Guru merupakan salah satu pengguna suara di tempat kerja yang memiliki risiko tinggi mengalami permasalahan suara. Studi terdahulu menunjukkan bahwa prevalensi gangguan suara pada guru mencapai 57,7%  jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok non-guru yang hanya 28,8%. Gangguan suara yang bersifat multifaktoral dapat menghambat komunikasi guru dalam kegiatan belajar mengajar yang efektif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan kualitas suara pada guru SD dan guru SLB di Surakarta berdasarkan faktor usia, jenis kelamin, dan durasi mengajar. Metode penelitian dengan pendekatan deskriptif komparatif, dan desain cross sectional. Menggunakan teknik purposive sampling, sehingga melibatkan 129 responden (n = 129), terdiri dari 77 guru SD dan 52 guru SLB. Hasil uji mann whitney dan uji Spearmann rank correlation menunjukkan nilai (p = 0,100) sehingga tidak terdapat perbandingan diantara kedua kelompok, dengan rata-rata skor VHI guru SLB (1,13) lebih tinggi dibandingkan guru SD (1,05). Serta tidak terdapat hubungan yang signifikan antara faktor usia, jenis kelamin, dan durasi mengajar dengan kualitas suara guru dengan nilai (p = 0,05).
Profil Kecepatan Bicara pada Siswa Kelas 1 SD di Kota Surakarta Elza Dinda Angelina; Arif Siswanto; Anisyah Dewi Syah Fitri
Jurnal Terapi Wicara dan Bahasa Vol. 4 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59686/jtwb.v4i2.291

Abstract

Background: Speech rate has a significant impact in an individual’s communication ability and speech fluency in daily interactions. This aspect requires early attention, especially during the initial years of elementary education, which are known as a period of rapid development in children’s abilities.Objectives: to discover speech rate profile of first-grade elementary school students in Surakarta City and to escertain normative standards for speech rate. Methods: This study adopted a descriptive quantitative approach with a cross-sectional research design and univariate analysis. A total of 103 first-grade elementary school students participated from five districts in Surakarta City. Participants were selected according to established inclusion and exclusion criteria. Results: The results showed that the speech rate of first-grade students ranged between 35 and 118 words per minute and 73 to 267 syllables per minute. The average speech rate was 63 words per minute and 135 syllables per minute. Conclusion: Speech rate of first-grade elementary school students in Surakarta City falls into the moderate or normal category. Therefore, this study can provide preliminary information on first-grade students’ speech rates, which can support speech therapists in identifying and evaluating children’s speech issues, particularly those related to speech fluency, as well as in developing appropriate therapy program plans. Keywords : Speech Rate, First-Grade Students, Elementary School, Standard Norms.
Efektivitas Augmentative and Alternative Communication Berbasis Picture Exchange Communication System terhadap Penurunan Perilaku Tantrum Pada Anak Nonverbal: Studi Kuasi-Eksperimen Anisyah Dewi Syah Fitri; Dodiet Aditya Setyawan
Jurnal Terapi Wicara dan Bahasa Vol. 4 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59686/jtwb.v4i2.338

Abstract

Background: Communication barriers in nonverbal children often lead to difficulties in expressing their needs and wants effectively. This condition may result in tantrum behavior as a form of maladaptive communication arising from communication-related frustration. Augmentative and Alternative Communication (AAC), particularly the Picture Exchange Communication System (PECS), is an intervention developed to improve functional communication while reducing problem behaviors. Although the effectiveness of AAC in enhancing communication skills has been widely studied, empirical evidence regarding its influence on reducing tantrum behavior among nonverbal children in Indonesia remains limited. Objectives: To analyze the effectiveness of PECS-based AAC in reducing the frequency and duration of tantrum behavior in nonverbal children aged 7–8 years. Methods: This study employed a quasi-experimental design using a one-group pretest–posttest approach. The sample consisted of 15 nonverbal children aged 7–8 years, selected through purposive sampling. The intervention, which involved PECS, was administered for eight weeks at a frequency of three sessions per week. The frequency and duration of tantrum behavior were measured using observation sheets before and after the intervention. Data were analyzed descriptively, while hypothesis testing was conducted using the Wilcoxon Signed Rank test at a significance level of 5%. Results: The average frequency of tantrums decreased from 24.33 to 1.87 episodes per week, and the average duration of tantrums decreased from 13.33 to 2.87 minutes per episode. The Wilcoxon test results revealed a significant difference between conditions before and after the intervention (p < 0.05), with a large effect size. Conclusion: PECS-based AAC is effective in reducing the frequency and duration of tantrum behavior in nonverbal children. These findings indicate that providing functional communication tools can reduce maladaptive behaviors triggered by communication barriers. AAC may be considered as one of the interventions in speech therapy practice to improve communication skills and support behavioral management in nonverbal children. Keywords: Augmentative And Alternative Communication, PECS, Nonverbal Children, Tantrum, Speech Therapy.
Early Literacy Skills Anak TK B di Kota Surakarta: Studi Pemetaan Lintas Sekolah Nailah Kamilia; Arif Siswanto; Anisyah Dewi Syah Fitri
Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/obsesi.v10i1.7959

Abstract

Kemampuan literasi pada anak usia dini yang dikenal sebagai early literacy skills mencakup kesadaran fonologis, pemahaman naratif, penguasaan kosakata, dan interaksi dengan media cetak, sehingga pemahaman mengenai kemampuan tersebut dapat menjadi acuan bagi pengembangan sistem pendidikan dan stimulasi literasi anak usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran early literacy skills anak TK B di Kota Surakarta dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan desain cross-sectional. Pengambilan data dilakukan melalui teknik stratified proportional random sampling dengan jumlah responden sebanyak 158 anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum anak TK B di Kota Surakarta memiliki kemampuan literasi awal yang tergolong baik, dengan capaian tinggi pada aspek penguasaan kosakata dan kesadaran fonologis, serta capaian yang memadai pada pemahaman naratif dan interaksi dengan media cetak. Temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar anak telah memiliki fondasi literasi awal yang cukup sebagai bekal memasuki pendidikan dasar. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan kebijakan literasi anak usia dini, perencanaan pembelajaran literasi di taman kanak-kanak, serta penyusunan instrumen asesmen literasi awal yang lebih kontekstual dan berbasis kebutuhan anak.
Metode Symbolic Play untuk Meningkatkan Kosakata Reseptif Anak Down Syndrome Nabilah Tara Sophia Harianja; Nadya Susanti; Anisyah Dewi Syah Fitri
Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/obsesi.v10i1.7993

Abstract

Anak dengan Down Syndrome cenderung mengalami keterbatasan kosakata reseptif yang berdampak pada keterlibatan mereka dalam pembelajaran di pendidikan anak usia dini inklusif. Kondisi ini menuntut pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan kognitif anak Down Syndrome. Metode Symbolic Play merupakan pendekatan bermain pura-pura yang mendorong anak mengaitkan objek, tindakan, dan makna yang berlangsung secara lebih alami dan bermakna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Symbolic Play terhadap kemampuan kosakata reseptif anak Down Syndrome usia 4–8 tahun di Kota Surakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif pre-eksperimental dengan desain one-group pretest–posttest. Teknik total sampling diterapkan pada 10 anak dalam 10 sesi intervensi. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kemampuan kosakata reseptif setelah penerapan metode Symbolic Play, yang didukung oleh hasil uji statistik dengan nilai p = 0,028 (p < 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa Symbolic Play layak diterapkan sebagai pendekatan intervensi yang mendukung peningkatan bahasa reseptif, menstimulasi pemahaman makna dan penguatan kosakata, serta berkontribusi pada pratik terapi wicara dan praktik pembelajaran inklusif anak usia dini.
Pengaruh Peer-Mediated Intervention Terhadap Kemampuan Fonologi Anak dengan ASD Umur 6-9 Tahun di PLDPI Surakarta Tyrend Dea Nanda; Anisyah Dewi Syah Fitri; Kiyat Sudrajad
Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/obsesi.v10i2.8073

Abstract

Disabilitas dalam interaksi sosial, komunikasi, dan pola perilaku yang terbatas dan berulang merupakan ciri khas dari gangguan spektrum autisme (ASD), suatu penyakit neurodevelopmental. Meningkatkan pertumbuhan emosional, sosial, dan bahasa anak adalah tujuan utama dari intervensi yang dimediasi oleh teman sebaya (PMI). Anak-anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD) menjadi fokus penelitian ini, yang bertujuan untuk menilai efektivitas intervensi yang dimediasi oleh teman sebaya (PMI) untuk meningkatkan kemampuan fonologis. Desain Pretest-Posttest Satu Kelompok digunakan dalam penelitian ini. Sepuluh anak dengan ASD, berusia enam hingga sembilan tahun, berpartisipasi dalam intervensi ini. Pengambilan sampel bertujuan digunakan dalam prosedur pengambilan sampel. Lembar kerja proses fonologis digunakan untuk mengukur keterampilan fonologis. Analisis data menunjukkan peningkatan substansial dalam hasil tes (p = 0,010). Ini menunjukkan bahwa keterampilan fonologis sebelum dan sesudah intervensi berubah secara signifikan. Secara teoritis, hasil memperkuat kajian intervensi bahasa anak dengan ASD secara praktis dan mendukung penerapan PMI oleh terapis wicara, guru paud, dan layanan inklusif.