Nabilla Kurnia Adzan
Prodi Pendidikan Tari, Jurusan Pendidikan Bahasa Dan Seni Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung, Indonesia

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PERSEPSI SISWA SMA DI BANDAR LAMPUNG TERHADAP PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL SEBAGAI PLATFORM SENI PERTUNJUKAN VIRTUAL Afrizal Yudha Setiawan; Nabilla Kurnia Adzan; Ricky Warman Putra
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v6i2.12902

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan persepsi siswa SMA di Bandar Lampung terhadap pemanfaatan media sosial sebagai platform seni pertunjukan virtual. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik one shoot/pengukuran yang dilakukan satu kali. Instrumen pengumpulan data menggunakan angket/kuisioner dengan skala likert 1-5. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa SMA di Bandar Lampung memiliki persepsi yang cukup baik terhadap pemanfaatan media sosial sebagai platform seni pertunjukan virtual. Dari 372 responden, sebanyak 154 atau 41,40% responden memiliki persepsi yang baik, 192 atau 51,61% responden memiliki persepsi cukup baik, 19 atau 5,11% responden memiliki persepsi kurang baik, dan 7 atau 1,88% responden memiliki persepsi tidak baik. Persepsi siswa dalam penelitian ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah faktor minat, sikap, motivasi, apresiasi, dan harapan. Faktor minat, sikap, dan motivasi berada pada kategori “Cukup Baik”, dengan persentase 58,87%; 59,41%; dan 49,46%; sedangkan faktor apresiasi dan harapan berada pada kategori “Baik” dengan persentase 61,83%; dan 81,99%.Kata Kunci: persepsi siswa, seni pertunjukan virtual, media sosial.  
Pendidikan Seni dalam Seni Bela Diri Dwiyana Habsary; Indra Bulan; Nabilla Kurnia Adzan; Afrizal Yudha Setiawan
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v8i1.18795

Abstract

Abstract: This article discusses martial arts that can be used as learning material in schools. This paper examines what are the values contained in martial arts that can be taught to students. This research is a qualitative research, which describes what are the values contained in each form of martial arts. The data collection technique used is literature study. The literature study carried out in this study used the thesis of Unila Dance Education study program students who wrote about martial arts including Khakot, Sung-sung, and Kuttau. All of these objects are studied using the concepts of cultural values and education. The results of this study indicate that this self-defense material can be used as an option to be taught to students. This material provides several benefits to students, namely (1) providing a good movement experience for physical health, (2) providing aesthetic experience, sound and shape, (3) providing insight into values about responsibility and discipline. Keywords: Art Education, Martial Arts, Dance  Abstrak: Artikel ini membahas tentang seni bela diri yang dapat dijadikan materi pembelajaran di sekolah. Tulisan ini mengkaji apa saja nilai-nilai yang terkandung dalam seni bela diri yang dapat diajarkan pada peserta didik. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, yang memaparkan apa saja nilai-nilai yang terkandung dalam setiap bentuk seni bela diri. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu studi pustaka. Studi pustaka yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan skripsi mahasiswa program studi Pendidikan Tari Unila yang menulis tentang seni bela diri diantaranya adalah Khakot,  Sung-sung, dan Kuttau. Seluruh objek tersebut dikaji dengan menggunakan konsep nilai budaya, dan pendidikan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa materi bela diri ini dapat dijadikan salah satu pilihan untuk diajarkan pada peserta didik. Materi ini memberikan beberapa manfaat pada peserta didik yaitu (1) memberikan pengalaman gerak yang baik untuk kesehatan fisik, (2) memberikan pengalaman estetis, suara dan bentuk, (3) memberikan wawasan nilai-nilai tentang tanggung jawab dan kedisiplinan. Kata kunci: Pendidikan Seni, Seni Bela Diri, Seni Tari
Pelatihan Membaca Notasi Balok untuk Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru Seni Budaya Tingkat SMP di Kabupaten Lampung Timur Afrizal Yudha Setiawan; Prisma Teja Permana; Nabilla Kurnia Adzan
Jurnal Sumbangsih Vol. 2 No. 1 (2021): Jurnal Sumbangsih
Publisher : LPPM Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jsh.v2i1.42

Abstract

Salah satu kompetensi profesional yang harus dimiliki oleh guru seni adalah menguasai materi atau bahan ajar, dalam berbagai bidang seni yaitu seni musik, seni tari, dan seni rupa. Namun demikian, guru seni budaya tingkat SMP di Kabupaten Lampung Timur memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda-beda, dan tidak terkhusus pada satu bidang ilmu seni saja, sedangkan di lapangan guru dituntut untuk mengajar ketiga bidang seni tersebut. Materi membaca notasi balok merupakan salah satu materi yang terdapat pada kurikulum pendidikan seni di sekolah jenjang SMP. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan terhadap guru seni budaya SMP di Kabupaten Lampung Timur, diperoleh informasi bahwa 64,5% dari jumlah responden memiliki pemahaman yang rendah dalam materi notasi balok, sehingga guru memiliki kesulitan dalam menyampaikan materi tersebut kepada peserta didik. Dengan demikian, diperlukan adanya pelatihan membaca notasi balok untuk meningkatkan kompetensi profesional guru seni budaya tingkat SMP di Kabupaten Lampung Timur. Kegiatan pengabdian dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan rencana. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pelatihan membaca notasi balok untuk guru seni budaya tingkat SMP di Kabupaten Lampung Timur dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru dalam membaca notasi balok. Hal tersebut akan memberikan dampak pada peningkatan salah satu kompetensi professional guru seni budaya, yakni menguasai materi pembelajaran tentang notasi balok. Adapun peningkatan tersebut dapat dilihat dari nilai pretest dan posttest yang telah dilakukan. Rata-rata nilai pretest adalah sebesar 49.09, sedangkan rata-rata nilai posttest sebesar 77.43. Dengan demikian terdapat peningkatan rata-rata sebesar 28,34 atau 57,73%.
Pelatihan Musik dan Tari Sigeh Penguten Untuk Forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya Tingkat SMP Se-Kabupaten Lampung Utara Nabilla Kurnia Adzan; Erizal Barnawi; Dwi Tiya Juwita
Jurnal Sumbangsih Vol. 2 No. 1 (2021): Jurnal Sumbangsih
Publisher : LPPM Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jsh.v2i1.43

Abstract

Berdasarkan hasil pengamatan tim pengabdian kepada guru-guru seni budaya SMP di Lampung Utara, didapatkan hasil bahwa sebagian besar guru seni budaya belum menguasai materi seni budaya itu sendiri. Hal ini dikarenakan oleh latar belakang pendidikan yang sebenarnya bukan dari latar belakang pendidikan seni. Mensiasati hal tersebut, maka tim berinisiatif untuk memberikan pelatihan tari dan musik iringan tari Sigeh Penguten. Sigeh Penguten merupakan sebuah tari tradisi Lampung yang sudah semestinya dikuasai oleh masyarakat Lampung terlebih anak-anak usia sekolah. Sebagai sebuah dasar untuk menjaga dan mengembangkan tradisi Lampung, oleh karena itu tari ini dipilih sebagai bahan pelatihan. Melalui pelatihan ini, guru-guru seni budaya tingkat SMP di Kabupaten Lampung Utara yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran Seni Budaya diharapkan mampu menguasai tari dan musik iringan tari Sigeh Penguten. Hal ini juga diharapkan dapat membantu guru-guru tersebut untuk melaksanakan mata pelajaran seni budaya di sekolah. Hasil pengabdian menunjukan bahwa setelah mengikuti pelatihan, guru seni budaya di Kabupaten Lampung Utara yang tergabung dalam forum MGMP dapat menarikan tari Sigeh Penguten dan mengiringinya dengan memainkan alat musik secara langsung. Namun tempo dari tari dan musik yang masih belum sesuai dengan yang sebenarnya, hal ini disebabkan karena masih pada tahapan pembelajaran.
Sosialisasi musik tradisional lampung di Desa Rejosari Mataram Kecamatan Seputih Mataram Kabupaten Lampung Tengah Afrizal Yudha Setiawan; Prisma Teja Permana; Nabilla Kurnia Adzan
Jurnal Sumbangsih Vol. 3 No. 1 (2022): Jurnal Sumbangsih
Publisher : LPPM Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jsh.v3i1.82

Abstract

Provinsi Lampung merupakan Provinsi dimana penduduknya terdiri dari berbagai macam suku. Hal tersebut disebabkan karena Provinsi Lampung merupakan daerah tujuan transmigrasi penduduk Indonesia di masa lampau. Hal ini menyebabkan banyak masyakarat yang tinggal di Lampung, namun tidak mengenal adat budaya di daerahnya sendiri, salah satunya tentang musik tradisional Lampung. Salah satu contoh fenomena yang terkait dengan pernyataan tersebut, terjadi pada masyarakat di Desa Rejosari Mataram, Kecamatan Seputih Mataram, Kabupaten Lampung Tengah. Berdasarkan observasi pendahuluan dan analisis situasi, sebagian besar masyarakat tidak mengenal dengan baik musik tradisional Lampung. Berdasarkan kondisi tersebut, maka dibutuhkan suatu upaya untuk menyosialisasikan musik tradisional lampung pada masyarakat di desa Rejosari Mataram, Kecamatan Seputih Mataram, Kabupaten Lampung Tengah. Kegiatan sosialisasi dilakukan dalam bentuk pemaparan materi dan pemberian pelatihan kepada peserta aktif. Pada kegiatan pelatihan tim pengabdian menggunakan Gamolan instrument music tradisional Lampung. Hasil kegiatan sosialisasi menunjukkan bahwa masyarakat setempat telah mengenal musik tradisional Lampung. Selain itu, para remaja setempat dapat memainkan instrument music Gamolan dengan materi Tabuh Layang Kasiwan, dan Tabuh Alau-alau melalui kegiatan pelatihan yang diberikan. Hasil pelatihan menunjukkan nilai rata-rata keterampilan peserta dalam memainkan Gamolan sebesar 75.83.