Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

The Development of Dam Infrastructure Condition and Safety Assessment Muchammad Sarwono Purwa Jayadi; Reini D. Wirahadikusumah; Dhemi Harlan
Jurnal Teknik Sipil Vol 27 No 1 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2020.27.1.3

Abstract

AbstractThe management and regulation of large inventories of embankment dams requires the use of tools and analytical techniques that can provide a uniform basis for comparison. Index Condition and Risk Assessment were two of those tools. Those two assessment can be combined to make an comprehensive assessment because it's main data are visual condition of dam. With those similarity, how to develop dam assessment based on dam's condition and safety are the main goals of this research. On these research, Condition Index with index from 1 to 5 are used for the condition assessment. Meanwhile, ICOLD Modified Method are used as safety evaluation aspect. Those two assessment system were combined using Analytic Hierarchy Process (AHP) to find it's weight for the assessment model. AHP were used to analyze AHP's linear scale questionnaire as primary data. These research obtain that the developed model had some limitations, so the assessment aren't comprehensive enough.AbstrakManajemen dan regulasi dari inventaris bendungan besar membutuhkan alat dan teknik analisis yang dapat memberikan dasar yang seragam untuk perbandingan. Penilaian Kondisi berbasis Indeks Kondisi dan Kajian Keamanan berbasis Indeks Risiko merupakan beberapa contoh dari alat tersebut. Kedua penilaian ini sebenarnya bisa digabungkan untuk mendapatkan penilaian yang komprehensif karena menggunakan kondisi visual sebagai salah satu data utama. Dengan adanya kesamaan tersebut, bagaimana cara mengembangkan penilaian kondisi dan keamanan bendungan merupakan tujuan utama dari penelitian ini. Dalam penelitian ini, Indeks Kondisi dengan indeks nilai 1 sampai 5 digunakan sebagai penilaian dalam aspek penilaian kondisi. Sedangkan dalam aspek kajian keamanan, digunakan Metode ICOLD Modifikasi. Dalam menggabungkan kedua sistem penilaian tersebut, Analytic Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk mendapatkan bobot penilaian bendungan. Berdasarkan hasil analisis, model yang dikembangkan memiliki  beberapa limitasi sehingga penilaian belum cukup komprehensif. 
Development of FTCS Artificial Dissipation for Dam Break 2D Modelling Avis Mellivera; Khilmi Zain; Mohammad Bagus Adityawan; Dhemi Harlan; Mohammad Farid; Bagus Pramono Yakti
Jurnal Teknik Sipil Vol 27 No 1 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2020.27.1.1

Abstract

AbstractDam is a useful infrastructure for human life. It helps supporting social and economic development. Damages to dams may cause negative impacts such as casualties and destruction.  Thus, mitigation for dam related disaster has to be performed. This study uses derivatives of 1D and 2D shallow water wave equations.  This equation is based on the principle of mass and momentum conservation. Furthermore, it is discretized using finite difference Forward Time Center Space (FTCS) scheme. Hansen's filter is used to reduce oscillation and maintain the stability of the calculation. The filter serves as an artificial dissipation to filter each point for each time step. Based on the analysis, simulation of 1D dam break using FTCS numerical scheme shows a similar flow pattern to the analytical solution. But, it is not stable and still shows a quite big oscillation. Hansen Filter can significantly reduce oscillation and increase accuracy. However, its application shows a less accurate wavefront and moveable bed situation. Overall it can be concluded that FTCS numerical scheme with numerical filter can be used to solve 2D shallow flow problems such as circular dam break simulation. AbstrakBendungan adalah infrastruktur yang bermanfaat bagi kehidupan manusia untuk mendukung pembangunan sosial dan ekonomi. Selain bermanfaat, bendungan juga bisa berdampak negatif yaitu menyebabkan korban jiwa dan kerusakan. Oleh karena itu, mitigasi bencana terkait kegagalan bendungan perlu dilakukan. Penelitian ini dilakukan menggunakan turunan dari persamaan gelombang air dangkal 1D dan 2D. Persamaan ini merupakan gabungan dari prinsip konservasi massa dan momentum. Persamaan tersebut kemudian didiskritisasi menggunakan skema beda hingga Forward Time Center Space (FTCS). Filter Hansen digunakan untuk mengurangi osilasi dan menjaga stabilitas perhitungan. Filter berfungsi sebagai disipasi buatan untuk menyaring setiap titik pada setiap langkah waktu. Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa simulasi dam break 1D menggunakan skema numerik FTCS menunjukkan pola aliran yang mirip dengan solusi analitik tetapi tidak stabil dan masih menunjukkan osilasi yang cukup besar. Hansen Filter secara signifikan dapat mengurangi osilasi dan meningkatkan akurasi. Akan tetapi, aplikasinya menunjukkan muka gelombang dan situasi lapisan dasar yang kurang akurat. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa skema numerik FTCS dengan filter numerik dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah aliran dangkal 2D seperti simulasi dam break. 
Study Of Flood Control And Reliability Index Of Tanggul River Giyanto - -; Dhemi Harlan; Suardi Natasaputra
Jurnal Teknik Sipil Vol 26 No 3 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2019.26.3.2

Abstract

AbstractTanggul River which is located in Jember Regency, East Java Province, experiences floods every year. Increasing in flood discharge, decreasing on river capacity and lowing of slope cause flooding. In this study, we will analyze Tanggul River in full bank capacity condition with flood discharges for the return period of 2, 5, 10, 20 and 25 years, and then analyze flood control scenario, reliability index and economic feasibility. Flood control are carried out structurally by river normalization, side overflow construction, embankment elevation and a combination of the three activities. 1-dimensional and 2-dimensional hydraulic analysis use HEC-RAS software version 5.06, reliability index analysis uses the Safety Factor (SF) and First-Order Second Moment (FOSM) methods, and economic feasibility uses the Benefit Cost (B / C) Ratio method. The benefit component is reducting from flood inundation which is analyzed by QGIS software and Open Street Map (OSM), while the cost component is flood control construction costs. Based on the results of the study, the river embankment full bank capacity conditions correspond to floods return period of 5 years, recommended flood control are river normalization and elevation of the embankment with a B / C Ratio value of 1.7, flood reduction 62.88%, reliability index SF method 1.07 and FOSM method 97.05%AbstrakSungai Tanggul terletak di Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur mengalami luapan banjir setiap tahun. Adanya peningkatan debit banjir, penurunan kapasitas sungai dan kemiringan yang landai diduga menjadi penyebab luapan banjir. Pada kajian ini akan menganalisis Sungai Tanggul kondisi full bank capacity dengan debit banjir rencana periode ulang 2, 5, 10, 20 dan 25 tahun, selanjutnya menganalisis skenario pengendalian banjir, indeks kehandalan dan kelayakan ekonomi. Upaya pengendalian banjir dilakukan secara struktural dengan normalisasi sungai, pembangunan pelimpah samping, peninggian tanggul dan kombinasi dari ketiga kegiatan tersebut. Analisis hidrolika 1 dimensi dan 2 dimensi menggunakan software HEC-RAS versi 5.06, analisis indeks kehandalan dengan metode Safety Factor (SF) dan First-Order Second Moment (FOSM), dan analisis kelayakan ekonomi dengan metode Benefit Cost (B/C) Ratio. Komponen benefit berupa pengurangan genangan banjir yang dianalisis dengan software QGIS dan Open Street Map (OSM), sedangkan komponen cost berupa biaya konstruksi pengendalian banjir. Berdasarkan hasil kajian, diperoleh kapasitas Sungai Tanggul kondisi full bank capacity yang bersesuaian dengan banjir periode ulang 5 tahun, upaya pengendalian banjir yang direkomendasikan berupa normalisasi sungai dan peninggian tanggul dengan nilai B/C Ratio 1,7, reduksi banjir 62,88 %, Indeks kehandalan metode SF 1,07 dan metode FOSM 97,05%.
UJI MODEL FISIK PENGENDALIAN ELEVASI DASAR SUNGAI DI SEKITAR INTAKE POLDER ALABIO, KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA, PROPINSI KALIMANTAN TIMUR DENGAN MENGGUNAKAN VANE Joko Nugroho; Febry Asthia Miranti; Yiniarti Eka Kumala; Dhemi Harlan
Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 2 (2021): Jurnal Teknik Sipil
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2021.28.2.4

Abstract

Abstrak Pada makalah ini disampaikan hasil penelitian terhadap pengendalian elevasi dasar sungai di depan intake dengan menggunakan vane, pada kasus intake Irigasi Polder Alabio, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Provinsi Kalimantan Selatan, dengan menggunakan model fisik. Intake dari daerah irigasi ini berada di Sungai Negara.  Lahan pada DAS Sungai Negara semakin kritis sehingga terjadi pendangkalan dasar sungai, sehingga hal ini dapat mengganggu kinerja operasional intake irigasi teknis. Pemodelan fisik di laboratorium dilakukan dengan menggunakan skala geometri 1:40, dengan kala kecepatan dan debit ditentukan berdasarkan keserupaan aliran berdasarkan bilangan Froude. Model vane yang digunakan di laboratorium berukuran panjang 10 cm, tebal 1 cm, tinggi 3 cm. Pengujian dilakukan dengan debit prototip 263,17 m3/s dan 65,53 m3/s. Berdasarkan hasil percobaan didapatkan bahwa pemasangan vane dapat menurunkan elevasi dasar sungai di depan intake. Kemapuan vane dalam menurunkan elevasi dasar sungai dipengaruhi oleh jarak terhadap intake dalam arah lateral maupun longitudinal. Dari simulasi pada model fisik, perbandingan volume sedimen yang masuk akibat vane terhadap volume sedimen eksisting dapat diturunkan hingga 44%. Kata kunci: Vane, intake, gerusan, sedimentasi. Abstract This paper presents the results of research through a physical model on controlling the elevation of the riverbed in front of the intake using a vane, in the case of the Alabio Polder Irrigation intake, North Hulu Sungai Regency, South Kalimantan Province. The intake of this irrigated area is located at Sungai Negara. The land in the Sungai Negara watershed is increasingly critical in terms of land cover, resulting in silting of the riverbed, so that this can interfere with the operational performance of irrigation intake. Physical modeling in the laboratory was carried out using a geometric scale of 1:40, with the velocity and discharge at the model are determined based on the similarity based on the Froude number.  The vane model used in the laboratory was 10 cm long, 1 cm thick, and 3 cm high. The test was carried out with prototype discharges of 263.17 m3/s and 65.53 m3/s. Based on the experimental results, it was found that the installation of vanes can reduce the elevation of the riverbed in front of the intake. The vane's ability to reduce the riverbed elevation is affected by the distance to the intake in both lateral and longitudinal directions. From the simulation on the physical model, the ratio of the incoming sediment volume due to the vane to the existing sediment volume can be reduced to 44%. Kata kunci: Vane, intake, scour, sedimentation. Abstrak Pada makalah ini disampaikan hasil penelitian terhadap pengendalian elevasi dasar sungai di depan intake dengan menggunakan vane, pada kasus intake Irigasi Polder Alabio, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Provinsi Kalimantan Selatan, dengan menggunakan model fisik. Intake dari daerah irigasi ini berada di Sungai Negara.  Lahan pada DAS Sungai Negara semakin kritis sehingga terjadi pendangkalan dasar sungai, sehingga hal ini dapat mengganggu kinerja operasional intake irigasi teknis. Pemodelan fisik di laboratorium dilakukan dengan menggunakan skala geometri 1:40, dengan kala kecepatan dan debit ditentukan berdasarkan keserupaan aliran berdasarkan bilangan Froude. Model vane yang digunakan di laboratorium berukuran panjang 10 cm, tebal 1 cm, tinggi 3 cm. Pengujian dilakukan dengan debit prototip 263,17 m3/s dan 65,53 m3/s. Berdasarkan hasil percobaan didapatkan bahwa pemasangan vane dapat menurunkan elevasi dasar sungai di depan intake. Kemapuan vane dalam menurunkan elevasi dasar sungai dipengaruhi oleh jarak terhadap intake dalam arah lateral maupun longitudinal. Dari simulasi pada model fisik, perbandingan volume sedimen yang masuk akibat vane terhadap volume sedimen eksisting dapat diturunkan hingga 44%. Kata kunci: Vane, intake, gerusan, sedimentasi. Abstract This paper presents the results of research through a physical model on controlling the elevation of the riverbed in front of the intake using a vane, in the case of the Alabio Polder Irrigation intake, North Hulu Sungai Regency, South Kalimantan Province. The intake of this irrigated area is located at Sungai Negara. The land in the Sungai Negara watershed is increasingly critical in terms of land cover, resulting in silting of the riverbed, so that this can interfere with the operational performance of irrigation intake. Physical modeling in the laboratory was carried out using a geometric scale of 1:40, with the velocity and discharge at the model are determined based on the similarity based on the Froude number.  The vane model used in the laboratory was 10 cm long, 1 cm thick, and 3 cm high. The test was carried out with prototype discharges of 263.17 m3/s and 65.53 m3/s. Based on the experimental results, it was found that the installation of vanes can reduce the elevation of the riverbed in front of the intake. The vane's ability to reduce the riverbed elevation is affected by the distance to the intake in both lateral and longitudinal directions. From the simulation on the physical model, the ratio of the incoming sediment volume due to the vane to the existing sediment volume can be reduced to 44%. Kata kunci: Vane, intake, scour, sedimentation.  
Artificial Neural Network dan Pemodelan Numerik untuk Prediksi Parameter Aliran akibat Dam Break Calvin Sandi; Mohammad Bagus Adityawan; Dhemi Harlan; Mohammad Farid; Novintasari Nadeak
Jurnal Teknik Sumber Daya Air Desember 2022
Publisher : Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56860/jtsda.v2i2.50

Abstract

Setiap bendungan mempunyai potensi keruntuhan bendungan, yang dapat disebabkan oleh banyak factor seperti gempa. Kejadian dam break dapat menyebabkan kerusakan besar pada bagian hilir, terutama jika hilirnya merupakan area perkotaan. Oleh karenanya, setiap pembangunan bendungan harus disertai dengan kajian terkait potensi keruntuhan bendungan untuk meminimalisir kerugian. Parameter yang didapatkan dari kajian tersebut adalah prediksi dari waktu kedatangan, kedalaman, dan kecepatan aliran banjir. Metode prediksi yang digunakan dalam studi ini adalah sebuah machine learning, yaitu Artificial Neural Network (ANN). Kasus yang digunakan pada studi ini adalah eksperimen dam break dengan satu bangunan miring pada bagian hilirnya yang kemudian dimodelkan secara numerik. Metode numerik yang digunakan adalah skema Mac-Cormack dengan filter numerik. Data yang dimasukkan pada model adalah ketinggian level air pada bendungan. Hasil yang didapat dari pemodelan numerik menunjukkan perbandingan fluktuasi muka air yang baik terhadap hasil eksperimen. Skenario yang berbeda kemudian digunakan dengan beberapa ketinggian level air pada bendungan untuk melalui proses pembelajaran, pelatihan, dan pengujian untuk menghasilkan model ANN yang paling optimum dengan nilai MSE mendekati nol sebagai parameter akurasi metode ini. Untuk mendapatkan MSE terkecil, maka digunakan algorima backpropagation perceptron karena lebih efektif dalam memprediksi parameter aliran akibat dam break. Melalui berbagai proses pengujian ANN, didapatkan performance MSE validation terbaik berada pada epoch 2 dengan nilai 0.00011882 dan dapat disimpulkan bahwa metode ANN dapat digunakan sebagai prediktor parameter aliran akibat keruntuhan bendungan. Dengan dilakukannya studi ini, diharapkan dapat membantu kajian terkait dam break pada area perkotaan di masa mendatang.
ANALISIS PRIORITAS PENANGANAN BANJIR KALI KONTO, PROVINSI JAWA TIMUR Dian Indrawati; Mohammad Bagus Adityawan; Diki Maulana Ichsan; Dhemi Harlan; Joko Nugroho
Rekayasa Sipil Vol. 16 No. 3 (2022): Rekayasa Sipil Vol.16. No.3
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.rekayasasipil.2022.016.03.4

Abstract

Flood in Kali Konto is a disastrous hazard which strikes a lot of housing, infrastructures and paddy fields along its river banks almost every year. In 2021, along with destroyed revertment at roolagh 70 area, flood inundated more than 10 villages in Kabupaten Jombang and several more in Malang and Kediri. However, flood management at Kali Konto needs special consideration because several conditions, include watershed area pattern, extremely slope condition changing, numerous materials from Kelud mountain eruption in several part of Konto river, and a lot of infrastructures which laid in Konto river. This paper discussed about appropriate infrastructures which derived from hydrology and hydraulics modeling for Q2 and Q50 flood return periods. Since the model resulted 49 locations, Analytical Hierarchy Process (AHP) model used for determining priority for scaling down flood hazard in Kali Konto. The most priority comes to Karang Tengah, Blaru and Bugasur Kedaleman area based on the most losses occurred.
Analisis Agradasi, Degradasi dan Sedimentasi di Sungai Pabelan Pasca Erupsi Gunung Merapi 2010 Zeolita Aprilian; Dhemi Harlan; Edy Anto Soentoro; Aulia Zahroni
Journal on Education Vol 5 No 3 (2023): Journal on Education: Volume 5 Nomor 3 Tahun 2023
Publisher : Departement of Mathematics Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mount Merapi is the most active volcano in Indonesia, the eruption that occurred in 2010 was a major eruption with a recurrence of once every 100 years. Of the 140 million m3 of potential cold lava of Mount Merapi, 24 million m3 of them flow into the Pabelan River. One of the disaster mitigation on the Pabelan River is the Sabo Dam infrastructure, currently on the Pabelan River there are 23 Sabo Dams, in 2022 an additional 1 Sabo Dam has been built, namely PAC-Menayu. In this study, modeling will be carried out using 1D Kanako before the construction of 1 Sabo Dam and after the construction of 1 Sabo Dam with river geometry from 2020 measurements and flood discharge generated from rainfall triggering debris flow on February 03, 2011 at the Jrakah Rain Post, from this rainfall a 6-hour rain distribution was carried out using the PSA coefficient to be inputted in HEC-HMS. From the results of Kanako modeling, it is concluded that the construction of the new Sabo Dam is able to reduce sedimentation by 52.88 m3 and it is obtained that the construction of 24 Sabo Dams is effective in containing sediment by 32.6% of the total potential for cold lava of 24,000,000 m3 flowing in the Pabelan River so that it is appropriate as a disaster mitigation effort, namely reducing the potential for debris flooding in the future