Articles
PENGARUH PERGERAKAN TERHADAP POLA KONSUMSI TENAGA KERJA DI KAWASAN INDUSTRI WIJAYAKUSUMA
Raetami Adira Saraswati;
Anita Ratnasari Rakhmatulloh
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 3 (2014): Agustus 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (283.02 KB)
Kawasan industri menyerap banyak tenaga kerja dari berbagai wilayah baik dari dalam kota maupun dari luar kota. Salah satunya Kawasan Industri Wijayakusuma yang terletak di jalan raya ekonomi Semarang-Jakarta.Banyak tenaga kerja industri yang melakukan pergerakan dari tempat tinggalnya menuju ke tempat bekerjanya yaitu Kawasan Industri Wijayakusuma maupun sebaliknya setiap hari. Perlunya mengetahui karakteristik sosial-demografi dan ekonomi, karakteristik pergerakan, dan karakteristik pola konsumsi tenaga kerja agar dapat mengetahui pengaruhnya satu sama lain.Dalam penelitian ini ternyata di temukan bahwa pergerakan akan mempengaruhi pola konsumsi tenaga kerja. Terlihat dari jenis kelamin akan mempengaruhi jarak tempuh, waktu tempuh, dan kendaraan yang akan di gunakan ke tempat bekerja. Perempuan lebih cenderung memiliki jarak tempuh dan waktu tempuh yang lebih pendek daripada laki-laki.Pendapatan juga akan mempengaruhi kendaraan yang akan di gunakan oleh tenaga kerja, serta jumlah kendaraan yang di miliki akan mempengaruhi juga pada kendaraan yang akan di gunakan dan frekuensi perjalanan si tenaga kerja eitu sendiri Jarak tempuh dan waktu tempuh tenaga kerja ternyata akan mempngaruhi pola konsumsinya khususnya pada proporsi pola untuk transportasi, semakin jauh jarak tempuh atau semakin lama waktu tempuh tenaga kerja akan semakin besar proporsi pola untuk transportasinya. Jika jarak tempuhnya semakin jauh juga maka akan ada perilaku tenaga kerja untuk menekan proporsi pola non pangannya agar semua kebutuhannya akan tercukupi.Namun,bagaimanapun pergerakan tenaga kerja tidak akan mempengaruhi proporsi pola untuk pangannya karena hal ini merupakan kebutuhan primer yang tidak dapat di ganti dengan kebutuhan lainnya.Penyediaan sarana transportasi yang memadai, melihat juga dari aspk biaya karena hal ini akan menjadi faktor pertimbangan untuk tenaga kerja dalam memilih kendaraan yang akan di gunakan ke tempat kerja.Selain itu, perlunya penyediaan perumahan di sekitar kawasan industri, agar jarak tempuh dan waktu tempuh tenaga kerja akan semakin dekat sehingga, akan semakin efektif dan efisien baik dalam waktu, tenaga, dan biaya yang akan di keluarkan untuk transportasi.
ANALISIS LOKASI TRANSIT PERGERAKAN KAWASAN SEMARANG BARAT DALAM KONSEP PENERAPAN TOD (TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT) KOTA SEMARANG
Handari Probo Siwi;
Anita Ratnasari Rakhmatulloh
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1750.252 KB)
Kawasan Semarang Barat memiliki pergerakan yang tinggi setiap harinya sehingga terjadi beberapa permasalahan transportasi. Dari fenomena tersebut, maka terinspirasi untuk menerapkan TOD yang merupakan tata guna lahan yang terintegrasi dengan kemudahan transportasi yang mudah diakses. Lokasi transit merupakan unsur penting dalam TOD untuk memfasilitasi pergerakan dari satu tempat ke tempat lainnya. Untuk menentukan lokasi transit maka dilakukan beberapa sasaran diantaranya adalah identifikasi tata guna lahan, sarana dan prasarana transportasi, dan struktur ruang Kota Semarang. Metode penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dua teknik yaitu dengan teknik primer pengumpulan data melalui kuisioner, observasi dan dokumentasi dan teknik sekunder dilakukan dengan pengumpulan data dari instansi dan literatur terkait. Metode penentuan sampel dengan metode random sampling/probability sampling dengan syarat home based. Analisis yang dilakukan diantaranya adalah identifikasi tata guna lahan, identifikasi sarana dan prasarana transportasi kawasan serta analisis lokasi transit kawasan.Lokasi transit yang terpilih diantaranya adalah Pertigaan Jerakah, Taman Lele (Halte Tambak Aji), RSUD Tugurejo dan Pasar Mangkang. Dengan ditemukannya lokasi transit ini maka diharapkan dapat melayani pergerakan penduduk kawasan Semarang Barat dan pemerintah dapat memfasilitasi perkembangan yang terjadi di sekitar lokasi transit.
POLA PERGERAKAN PEKERJA KOMUTER SAYUNG - SEMARANG
Heldi Pebrian;
Anita Ratnasari Rakhmatulloh
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 4 (2013): November 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1103.532 KB)
Interaksi antara Kecamatan Sayung dengan Kota Semarang dapat dilihat dari pergerakan masyarakat yang terjadi setiap harinya atau yang lebih dikenal dengan istilah penglajuan (commuting). Dengan aksesibelnya jaringan jalan yang dilalui mengakibatkan pergerakan masyarakat komuter yang terjadi juga semakin tinggi untuk melakukan aktivitas. Kebutuhan akan pergerakan selalu menimbulkan permasalahan transportasi khususnya pada saat orang ingin bergerak untuk tujuan yang sama di dalam daerah tertentu dan pada saat yang bersamaan pula. Salah satu usaha untuk mengatasinya adalah dengan memahami pola pergerakan yang akan terjadi. Arahan untuk penelitian ini untuk menjawab pertanyaan mengenai bagaimanakah pola pergerakan pekerja komuter di Kecamatan Sayung.Hasil penelitian menunjukkan, Pola pergerakan yang terbentuk yaitu pola pergerakan internal - eksternal, yaitu Internal dalam hal ini adalah wilayah pinggiran sebagai pusat permukiman yaitu Kecamatan Sayung dan wilayah tujuan sebagai wilayah eksternalnya adalah Kota Semarang dengan frekuensi tujuan paling tinggi daerah Genuk, yang merupakan kawasan industri. Hal ini mengakibatkan dampak yang negatif terhadap permasalahan transportasi, apabila tidak ditangani akan berdampak lebih besar nantinya. Oleh karena itu hendaknya dari temuan studi ini bisa membantu stakeholder sebagai dasar pertimbangan perencanaan transportasi.
PENGEMBANGAN JALUR PEJALAN KAKI DI KAWASAN TOD DUKUH ATAS JAKARTA
Anita Ratnasari Rakhmatulloh;
Diah Intan Kusumo Dewi
Jurnal Pengembangan Kota Vol 8, No 2: Desember 2020
Publisher : Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1300.509 KB)
|
DOI: 10.14710/jpk.8.2.132-141
Transit Oriented Development (TOD) merupakan salah satu konsep pengembangan transportasi berkelanjutan yang mempertimbangkan integrasi tinggi antar kawasan dan meningkatkan peluang pergerakan masyarakat kota. Dukuh Atas menjadi embrio pembanguan TOD di Indonesia dengan konsep walkable city dengan sistem road diet yang menekanakan kepada aspek lingkungan dan kenyamanan individu. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan variabel pengembangan jalur pejalan kaki yang dapat mempengaruhi frekuensi seseorang untuk berjalan di TOD Dukuh Atas dari aspek lingkungan maupun karakteristik individunya. Pengumpulan data karakteristik individu dilakukan dengan metode pengumpulan data primer menggunakan kusioner yang disebar secara acak ke 300 responden kawasan TOD Dukuh Atas Jakarta. Data karakteristik lingkungan didapatkan dengan pengumpulan data sekunder dan data spasial melalui citra satelit untuk melihat kondisi terkini. Analisis data menggunakan metode analisis deskriptif statistik dan regresi linier uji T parsial didapatkan hasil berupa pendapatan, maksud perjalanan, dan kepadatan permukiman dapat mempengaruhi frekuensi pejalan kaki di kawasan TOD Dukuh Atas Jakarta.
ANALISIS PELAYANAN INTEGRASI ANTARMODA BERDASARKAN PERSEPSI PENGGUNA DI KRL STASIUN SUDIRMAN
Faiqul Fawwaz;
Anita Ratnasari Rakhmatulloh
Jurnal Pengembangan Kota Vol 9, No 1: Juli 2021
Publisher : Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1047.199 KB)
|
DOI: 10.14710/jpk.9.1.111-123
Pelayanan integrasi antarmoda menjadi titik kunci pada pelayanan kendaraan umum bagi masyarakat. Integrasi antarmoda memastikan kemudahan pengguna untuk berganti moda kendaraan sehingga menjamin pengguna untuk mendapatkan pelayanan yang tepat waktu dengan biaya yang terjangkau. KRL merupakan salah satu pelayanan kendaraan umum di Jakarta yang mampu melayani penumpang sebanyak 1 juta orang perhari. Tingginya angka jumlah penumpang tersebut harapannya dapat memberi pengaruh positif terhadap pemakaian kendaraan umum jenis lain yang ada di Jakarta. Pengaruh tersebut salah satunya adanya pelayanan integrasi antarmoda di KRL Stasiun Sudirman. Studi ini ingin menjawab pertanyaan apakah integrasi antarmoda pada pelayanan moda KRL Stasiun Sudirman sudah memberikan pelayanan yang baik atau belum menurut persepsi penggunanya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis deskriptif, CSI dan IPA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan integrasi KRL terhadap integrasi antarmoda di Kawasan Dukuh Atas sudah memberikan kepuasan pengguna dengan nilai tingkat kepuasan pengguna sebesar 73,07% yang termasuk kedalam kategori puas. Namun masih terdapat pelayanan yang belum memberikan kepuasan kepada penggunanya seperti ketepatan jadwal perjalanan KRL, ketersediaan fasilitas disabilitas, dll. Pelayanan yang menjadi prioritas penanganan dalam 5 dimensi kualitas pelayanan termasuk kedalam dimensi kualitas pelayanan reliability, responsiveness, assurance, dan tangible.
Multimodalitas Transportasi Non-Motorized Kawasan Halte BRT Kota Yogyakarta
Widianto, Refli;
Rakhmatulloh, Anita Ratnasari
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 13, No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/tpwk.2024.34810
In order to maintain sustainability, the transportation system must consider environmental factors. Lack of public interest is a problem for the implementation of BRT as an effort to transition to sustainable transportation. In an effort to increase the variety of services, it is crucial to have access to transportation options, notably non-motorized, low-pollution vehicles. Descriptive and buffered analysis utilizing GIS is therefore used in this study to identify the characteristics of multimodal non-motorized transportation. The study's findings highlight the dearth of transportation options around bus stops, particularly when considering the effectiveness of non-motorized transportation. The majority of multimodal connection has uniform or homogenous properties.
TYPOLOGY OF PRIVATE CAR USERS DURING COVID-19 PANDEMIC IN KAYURINGIN JAYA
Dewi, Diah Intan Kusumo;
Hafizha, Jihan;
Rakhmatulloh, Anita Ratnasari
ASTONJADRO Vol. 11 No. 1 (2022): ASTONJADRO
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32832/astonjadro.v11i1.6001
The Covid-19 Pandemic was indicated in March 2020, which has changed people's daily activities patterns. Implementing the restricting regulation imposed by the government made some of the people's daily activities diverted to an online system. As a result, community mobility has decreased, especially on private car usage. However, there is a shift in vehicle usage which many people are starting to switch their mode to the private car in daily travel. This condition was predicted would continue even after the Pandemic ends. The increase in private car usage will worsen the congestion than before the Covid-19 Pandemic appropriate steps and handling are needed to prevent the increase in congestion. One of them is by knowing the characteristics and journeys of private car users during the Covid-19 Pandemic. This research is a typology of private car users during the Covid-19 Pandemic to identify the similarities and differences in the characteristics possessed by each private car user through the typological groups formed. Through this research, it can be seen the movement patterns and characteristics of the people who use private cars. This study uses the Hierarchical Cluster Analysis method. The analysis is based on several variables such as private car usage frequency variables, socioeconomic characteristics variables, demographic variables, household variables, and household travel patterns object of this research is 107 households which are owners and use of private cars for further analysis and form clusters of private car users that have the same characteristics of each cluster. The typology of private car users is compiled based on the unique characteristics possessed by each cluster that is formed. The results of this study are 8 typologies of private car users, which are divided from intensive users to irregular users. Typology 1 has the largest number of respondents and dominates the frequency of trips by private car users. The benefit of this research for the government is as input in the formulation of policies to regulate the use of private cars so that the policies taken by the government can be right on target
Perancangan Kampung Tematik Organik Rejosari Wonolopo sebagai Destinasi Eduwisata Kota Semarang
Rakhmatulloh, Anita Ratnasari;
Noviana, Dinda Aditya;
Astuti, Yuli
Jurnal Riptek Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Daerah Kota Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35475/riptek.v17i1.160
Peningkatan tingkat kemiskinan penduduk di Kota Semarang yang telah mencapai 79,58 ribu jiwa pada tahun 2021 dengan garis kemiskinan sebesar 522.691 rupiah membuat pemerintah terus berusaha dalam menurunkan angka kemiskinan melalui program perancangan kampung tematik. Dengan adanya pengembangan kampung tematik ini diharapkan dapat mendorong ekonomi lokal dengan menggali potensi-potensi ekonomi kemasyarakatan sebagai daya angkat pembangunan wilaya. Salah satu kampung tematik yang berpotensial untuk dikembangkan adalah Kampung Organik Rejosari Wonolopo dengan mengusung konsep perancangan edu-torism yang diharapkan dapat mengedukasikan generasi milenial akan pentingnya mempelajari pertanian guna menghindari krisis pangan untuk beberapa tahun ke depan. Metode yang digunakan dalam penyusunan artikel ini adalah pendekatan analisis deskriptif kualititatif dan kuantitatif sehingga data yang didapatkan termasuk kedalam kategori primer dan sekunder dengan teknik pengumpulan berupa wawancara, observasi lapangan, studi literatur, serta telaah dokumen. Hasil yang didapatkan dari kegiatan pengabdian berupa rekomendasi perancangan Kampung Organik Rejosari Wonolopo yang terbagi menjadi 3 bagian yaitu rekomendasi perencanaan sosial, rekomendasi perencanaan ekonomi, dan rekomendasi perancangan infrastruktur . Rekomendasi ini diharapkan dapat membantu pihak Bappeda Kota Semarang dalam mengevaluasi perancangan Kampung Tematik Organik Rejosari Wonolopo dan menjadi bahan pertimbangan yang akurat di masa mendatang.
ROUTE INTEGRATION OF SEMARANG TRANS FEEDER FOR THE CITY OF SEMARANG AND SURROUNDINGS
Rakhmatulloh, Anita Ratnasari;
Dewi, Diah Intan Kusumo;
Andini, Titin
ASTONJADRO Vol. 10 No. 2 (2021): ASTONJADRO
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32832/astonjadro.v10i2.4850
Inadequate service of Bus Rapid Transit in all zones in an urban area encourages integrated transport management system which can allow transport lines that connect more neighbourhoods which are far from BRT corridor route. Feeder services in Semarang aims at improving accessibility to BRT, reducing traffic congestion caused by the use of private cars and enhancing public transport services in Semarang urban areas and its surrounding. Moreover, Trans Semarang feeder is expected to become a public transport which is representative, safe, convenient, and affordable as well as its lines can be integrated with other transport modes. The purpose of the study is to analyse the integration of feeder route serving more trips in Semarang urban areas and its surrounding by using superimpose analysis and quantitative descriptive analysis. This study reveals that service routes of feeder are not likely to be an optimal, the presence of bus stops amenities has not constituted the minimum requirements of convenience standard, its infrastructure has not integrated yet and the shelter cannot provide easy access to public transport users.
Analysis of Barriers that Affect the Success of the “Zero Waste North Lombok” Program
Suci, Dewinda Prameta;
Rakhmatulloh, Anita Ratnasari
ASTONJADRO Vol. 13 No. 1 (2024): ASTONJADRO
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32832/astonjadro.v13i1.14390
Waste management is a cross-cutting issue that is closely related to various global challenges. At the local government level, waste management services carried out demonstrate the sustainability of a city so that local governments are responsible for finding affordable waste management solutions with the least impact on the environment. North Lombok Regency has a waste management problem that results in the realization of its handling not reaching the target. To overcome the waste management problem, the local government initiated a priority development program "Zero Waste North Lombok" which is expected to address the existing problems. In the process, the implementation of the program has not run significantly. To support the achievement of the program, a study of the barriers to zero waste was conducted using the fuzzy DEMATEL method. This method is able to facilitate the identification of causal relationships between criteria assessed in complex systems so as to provide information on various perceptions for stakeholders. The 12 barriers identified were divided into two groups: influential barriers and receptive barriers. The influential barriers consist of lack of policies and regulations on waste, lack of cooperation among stakeholders, uncertainty about circular economy targets and strategies, and inadequate sanctions and fines. While the influential group of barriers consists of the barriers of lack of environmental awareness, inadequate recycling techniques, inadequate methods for sorting, transporting and recycling waste, lack of financial and economic assistance, lack of advertising and media coverage for waste management, lack of adequate areas for waste collection and sorting, lack of awareness about environmental protection and lack of temporary shelters. This group of influential barriers needs to be considered and addressed by the local government so that the goals of the "Zero Waste North Lombok" program can be achieved.