Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Contamination Risk in Indonesian Youtube Videos on Personal Protective Equipment for Corona Virus Disease Laksita Barbara; Mareta Dea Rosaline; Akhiyan Hadi Susanto
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 9, No 2 (2021): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/inohim.v9i2.246

Abstract

AbstractThere are numbers of Indonesian Youtube Videos that show steps to wear and remove Personal Protective Equipment (PPE) for Corona Virus Disease (COVID19). However, the conformity with the current guidelines remains unknown. This paper aims to determine the validity of these videos based on the World Health Organization (WHO) guidelines. We searched on the Youtube website for videos in donning and doffing PPE for droplet precaution and selected the videos using inclusion and exclusion criteria. Included videos were then evaluated with a checklist derived from WHO course on donning and doffing PPE for COVID-19 and WHO recommendation on PPE for Covid-19. The search that was undertaken resulted in 66 videos, and 40 videos were included for evaluation. There is no significant difference in the donning and doffing score between account types (personal, organizational/institutional, news). The average number of viewers of all videos is more than 2700 viewers. The average score of donning is less than 70% of the total score, and the average doffing score is under 65%. The vast majority of the videos do not follow the WHO recommendation on the PPE type and use more equipment than recommended. There are several contamination risks shown by the videos. Indonesian Youtube videos on PPE procedures for COVID-19 must be selected carefully to be used as an instructional or educational media since most of it presents a high risk of cross-contamination.Keyword: personal protective equipment, audiovisual, cross-contamination, trainingAbstrakTerdapat video dalam Bahasa Indonesia yang terkait cara memakai dan melepaskan Alat Pelindung Diri (APD) untuk Corona Virus Disease (COVID19). Namun, kesesuaian video terhadap pedoman terkini belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan validitas video berdasarkan pedoman World Health Organization. Kami menelusuri Youtube untuk memperoleh video instruksi mengenakan dan melepas APD pencegahan kontaminasi droplet dan menyeleksi video tersebut berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Video yang telah diseleksi kemudian dievaluasi menggunakan checklist yang diturunkan dari langkah-langkah yang ditunjukan dalam kursus APD COVID-19 yang disediakan oleh WHO, serta rekomendasi APD dari WHO. Penelusuran Youtube menampilkan 66 video, dan dipilih 40 video yang sesuai dengan kriteria kelayakan. Tidak terdapat perbedaan signifikan dalam skor mengenakan dan melepaskan APD antara akun personal, organisasi/institusi, dan berita. Rata-rata jumlah penonton video adalah lebih dari 2700. Skor rata-rata pemakaian APD kurang dari 70% dari skor total, dan skor pelepasan APD kurang dari 65%. Sebagian besar video tidak mengikuti rekomendasi WHO dalam pemilihan tipe PPE dan menggunakan alat yang lebih banyak dari yang direkomendasikan. Terdapat sejumlah risiko kontaminasi yang dapat diobservasi dari langkah-langkah yang ditunjukan dalam video. Video Youtube prosedur APD untuk COVID-19 perlu diseleksi dengan cermat untuk digunakan sebagai media instruksi maupun pendidikan karena sebagian besar menunjukan risiko tinggi kontaminasi silang.Kata Kunci: alat pelindung diri, audiovisual, kontaminasi silang, pelatihan
“KASENSI” KADER SEHAT HIPERTENSI SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN COVID-19 PADA MASYARAKAT BERISIKO TINGGI Fiora Ladesvita; Diah Tika Anggraeni; Mareta Dea Rosaline
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 4, No 3 (2021): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v4i3.13537

Abstract

Hypertensive patients were at high risk for exposure to COVID-19. Individuals with hypertension have a 2.5 times higher risk of suffering from severe COVID-19 and death than individuals without hypertension. One of the efforts that can be done was training for Health cadres and forming Hypertension Healthy Cadres during the pandemic. The approach taken is through the provision of training that begins with a pre-test to determine the level of knowledge and readiness to become a KASENSI COVID-19. After filling out the pre-test, training was carried out and also taught hypertension exercise to Cadres. After a series of training events, a post-test was given to determine and measure the final understanding. From the test results, it can be seen that the knowledge of Cadres increased by 6% after being given training related to KASENSI COVID-19 with p value 0.000 which means that the KASENSI COVID-19 training is effective in increasing the knowledge of Health cadres at Posbindu Dahlia Senja. As many as 15 out of 20 cadres said the material provided in the training was very useful and easy to apply to prevent COVID-19 infection in hypertensive patients, and 5 out of 20 cadres said hypertension exercise was very easy to do and taught to all hypertension sufferers during home visits by cadres. It is hoped that all cadres can carry out the main tasks and functions of KASENSI COVID-19 and play an active role in preventing exposure and reducing the risk of severity due to COVID-19 infection in sufferers with hypertension comorbidABSTRAK:Pasien hipertensi sangat berisiko terhadap paparan COVID-19. Individu dengan hipertensi memiliki risiko 2,5 kali lebih tinggi untuk menderita COVID-19 yang parah dan mengalami kematian dibandingkan individu tanpa hipertensi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu pelatihan terhadap kader kesehatan dan membentuk Kader Sehat Hipertensi di masa pandemi. Pendekatan yang dilakukan yaitu melalui pemberian pelatihan yang diawali dengan pre-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan kesiapan untuk menjadi KASENSI COVID-19. Setelah mengisi pre-test, dilakukan pelatihan dan juga diajarkan senam hipertensi kepada kader.Setelah rangkaian acara pelatihan, diberikan post-testuntuk mengetahui dan mengukur pemahaman akhir. Hasil tes menunjukkan peningkatan pengetahuan kader sebesar 6% setelah diberikan pelatihan terkait KASENSI COVID-19 dengan p value 0,000 yang bermakna bahwa pelatihan KASENSI COVID-19 efektif dalam meningkatkan pengetahuan kader kesehatan di Posbindu Dahlia Senja. Sebanyak 15 dari 20 kader mengatakan materi yang diberikan dalam pelatihan sangat bermanfaat dan mudah diaplikasikan untuk mencegah infeksi COVID-19 pada pasien hipertensi, dan 5 dari 20 kader mengatakan senam hipertensi sangat mudah untuk dilakukan dan diajarkan ke seluruh penderita hipertensi pada saat kunjungan rumah oleh kader. Diharapkan seluruh kader dapat menjalankan tugas pokok dan fungsi KASENSI COVID-19 dan berperan aktif dalam mencegah paparan serta menurunkan resiko tingkat keparahan akibat infeksi COVID-19 pada masyarakat dengan komorbid hipertensi
Peningkatan Kesadaran PHBS Cuci Tangan dengan Benar pada Anak Usia Sekolah Nourmayansa Vidya Anggraini; Diah Tika Anggraeni; Mareta Dea Rosaline
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 5, No 4 (2022): Volume 5 No 4 April 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v5i4.5399

Abstract

ABSTRAK Anak merupakan generasi penerus bangsa dimasa akan datang. Akan tetapi, banyak anak-anak yang menderita diare bahkan hingga mengalami kematian. Diare dapat dicegah dengan perilaku hidup bersih dan sehat salah satunya melaksanakan cuci tangan dengan benar menggunakan sabun. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan upaya dalam meningkatkan kesehatan, mencegah dan melindungi dari terjadinya risiko berbagai ancaman penyakit. PHBS perlu diterapkan pada anak sejak dini agar anak paham dan mampu mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Promosi PHBS banyak dilakukan dengan berbagai media. Salah satu tujuan PHBS adalah memberikan penyadaran pada masyarakat sehingga tercapai kualitas kesehatan. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan perilaku siswa sekolah dalam mengenal dan mencegah penularan diare. Hasil penyuluhan kesehatan menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan kesehatan pada anak usia sekolah Setelah kegiatan penyuluhan kesehatan dihasilkan bahwa anak dapat mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Pelaksanaan PHBS perlu pantauan orang tua ketika dirumah dan dari guru ketika di sekolah. Dukungan tersebut penting dilakukan supaya anak bisa mempraktekkan PHBS khususnya mencuci tangan dengan langkah yang benar dalam kehidupan sehari-hari. Kata kunci: PHBS, anak usia sekolah, cuci tangan  ABSTRACT Children are the next generation of the nation in the future. However, many children suffer from diarrhea and even die. Diarrhea can be prevented by a clean and healthy lifestyle, one of which is washing hands properly with soap. Clean and healthy living behavior (PHBS) is an effort to improve health, prevent and protect from the risk of various disease threats. PHBS needs to be applied to children from an early age to understand and apply it in everyday life. PHBS promotions have been widely carried out, both through print and electronic media. The main goal of the PHBS movement is to improve the quality of health through awareness processes in everyday life. This community service program activity aims to increase the knowledge and behavior of school students in recognizing and preventing the transmission of diarrhea. The results of health counseling conducted on school-age children showed an increase in children's knowledge before and after being given health counseling. After health education activities are produced that children can practice in everyday life. The implementation of PHBS needs parental monitoring when at home and from the teacher when at school. This support is important so that children can practice PHBS, especially washing hands in the right way in everyday life. Keywords: PHBS, school-age children, washing hands
Upaya Peningkatan Kesehatan Masyarakat melalui Gerakan Cegah Hipertensi Krisis “Gerchis” di Kecamatan Limo, Depok Diah Tika Anggraeni; Mareta Dea Rosaline; Lima Florensia; Farahdina Bachtiar; Rizki Amalia; Diya Alvionita; Rafli Rizki Anugrah; Silviana Sholihah; Talitha Estiana Rofi'ah; Lia Fitria Ningsih
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 6, No 1 (2023): Volume 6 No 1 Januari 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v6i1.8175

Abstract

ABSTRAK Hipertensi saat ini masih menjadi masalah kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian di Indonesia. Rerata prevalensi hipertensi penduduk di Indonesia sebesar 8,8%. Prevalensi hipertensi di provinsi Jawa Barat ternyata lebih tinggi dari rerata di Indonesia, yaitu sebesar 9,6%. Salah satu komplikasi yang dapat terjadi adalah hipertensi krisis yang dapat meningkatkan angka kematian sebesar 55%. Peningkatan pengetahuan dan sikap masyarakat di RW 6 Kelurahan Grogol, Limo, Depok tentang krisis hipertensi dan pemberdayaan kader melalui Gerakan Cegah Krisis Hipertensi “GERCHIS” serta pembentukan komitmen masyarakat dan kader dalam menjalankan program “GERCHIS” Rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan, meliputi Focus Group Discussion pada kader Kesehatan setempat, deteksi dini risiko hipertensi krisis, penguatan peran dan komitmen kader, rrewarming pentingnya monitoring tekanan darah, sosialisasi “GERCHIS”, praktik senam hipertensi dan manajemen stress. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini menunjukkan terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat tentang Gerakan cegah hipertensi krisis secara signifikan (pvalue = 0,000). Selain itu, sikap masyarakat tentang “GERCHIS” juga mengalami peningkatan secara signifikan (pvalue = 0,000). Gerakan pencegahan krisis hipertensi “GERCHIS” sebagai komplikasi berat dari hipertensi di masyarakat menjadi upaya untuk menekan angka mortalitas dan morbiditas pada penderita hipertensi. Komitmen kader Kesehatan dan masyarakat dalam “GERCHIS” ini menjadi komponen yang krusial, sehingga perlu monitoring dan penguatan secara kontinyu. Rekomendasi pengabdian masyarakat berikutnya sebagai optimalisasi gerakan cegah hipertensi krisis adalah pemanfaatan aplikasi melalui mobile phone terkait monitoring tekanan darah serta early warning system dalam pencegahan hipertensi krisis.      Kata Kunci: Cegah, Hipertensi Krisis, Masyarakat    ABSTRACT Hypertension is still a health problem that needs attention in Indonesia. The average prevalence of hypertension in Indonesia is 8.8%. The prevalence of hypertension in West Java province is higher than the average in Indonesia, which is 9.6%. One of the complications that can occur is crisis hypertension which can increase the mortality rate by 55%.To increase knowledge and attitudes of the community in RW 6 Grogol, Limo, Depok about the hypertension crisis and empower cadres through the Hypertension Crisis Prevention Movement "GERCHIS" as well as the formation of community and cadre commitment in carrying out the "GERCHIS" program. These community service activities were carried out through several stages, including Focus Group Discussions with local health cadres, early detection of the risk of hypertension crisis, strengthening the role and commitment of cadres, rewarming the importance of blood pressure monitoring, socialization of “GERCHIS”, the practice of hypertension exercise and stress management. This community service activity showed a significant increase in public knowledge about the movement to prevent the hypertension crisis (p-value = 0.000). In addition, public attitudes about “GERCHIS” also increased significantly (p-value = 0.000). The hypertension crisis prevention as a severe complication of hypertension in the community is an effort to reduce mortality and morbidity rates in hypertensive patients. The commitment of health cadres and the community to "GERCHIS" is a crucial component. It needs continuous monitoring and strengthening. The following recommendation program as an optimization of the movement to prevent crisis hypertension is the use of applications via mobile phones related to blood pressure monitoring and an early warning system preventing crisis hypertension. Keywords: Crisis Hypertension, Prevent, Society
Edukasi pencegahan mumps (gondongan) pada anak usia sekolah Nourmayansa Vidya Anggraini; Diah Tika Anggraeni; Mareta Dea Rosaline; Vionita Apriliana; Nita Junita
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 2 (2025): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i2.29097

Abstract

Abstrak Masalah-masalah kesehatan yang sering terjadi pada anak usia sekolah antara lain penyakit yang berhubungan dengan kebersihan diri anak dan lingkungan seperti mumps (gondongan). Gejala umum saat seseorang mengalami gondongan adalah pembengkakan pada pipi dan rahang. Kegiatan pengadian kepada masyarakat dilakukan kepada anak usia sekolah. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan pada kelompok anak usia sekolah mengenai gondongan. Metode pengabdian masyarakat dengan penyuluhan. Pada hasil setelah dilakukan penyuluhan kesehatan kepada 20 anak terkait pencegahan gondongan terjadi peningkatan pengetahuan pada anak usia sekolah. Pengetahuan naik dari 20% baik sebelum penyuluhan menjadi 75% baik setelah penyuluhan. Setelah dilakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa edukasi kesehatan tentang mumps (gondongan) pada masyarakat mampu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, juga mendemonstrasikan ulang tindakan-tindakan pencegahan gondongan untuk meningkatkan derajat kesehatan, khususnya pada kalangan anak usia sekolah. Kata kunci: anak usia sekolah; edukasi; gondongan Abstract Health problems that often occur in school-aged children include diseases related to children's personal hygiene and the environment, such as mumps. A common symptom when someone experiences mumps is swelling of the cheeks and jaw. Community service activities are carried out for school-aged children. The aim of this activity is to increase knowledge, attitudes and skills in groups of school-age children regarding mumps. Community service method with counseling. In the results after health education was carried out to 20 children regarding mumps prevention, there was an increase in knowledge in school-aged children. Knowledge increased from 20% good before counseling to 75% good after counseling. After carrying out community service activities in the form of health education about mumps, the community was able to implement clean and healthy living behavior, as well as demonstrating measures to prevent mumps to improve health status, especially among school-age children. Keywords: school-age children; education; mumps
Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Status Gizi pada Remaja di SMAN 9 Depok Nourmayansa Vidya Anggraini; Diah Tika Anggraeni; Mareta Dea Rosaline; Rahmatika Syifa Nabila
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 3 (2025): Volume 7 Nomor 3 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i3.17213

Abstract

ABSTRACT Adolescents are very vulnerable to various nutritional problems because in this phase growth and development occur very quickly and tend to require relatively large amounts of nutritional intake. Based on the results of a preliminary study of 35 adolescents, 4 students with poor nutritional status, 4 students with undernutrition, 19 students with normal nutritional status, 2 students with overnutrition, and 6 students with obese nutritional status were found. This study aims to determine the relationship between parenting patterns and adolescent nutritional status at SMAN 9 Depok. The method used is this non-experimental quantitative research with a descriptive correlational design and using a cross sectional study approach. The sample used amounted to 246 samples obtained through the Stratified Random Sampling technique. Data were obtained by measuring height and weight and filling out a structured questionnaire. The results of the analysis with the gamma correlation test showed that there was a relationship between parenting patterns and nutritional status in adolescents with a p-value: 0.001 with a contribution value of 16.7%. Mass media plays an important role in adolescent nutritional behavior. Parents should monitor the use of mass media by teenagers so that positive things are taken by teenagers in their use. Keywords: Nutrition, Mass Media, Obesity, Youth  ABSTRAK Remaja sangat rentan terhadap berbagai masalah gizi karena pada fase ini pertumbuhan dan perkembangan terjadi sangat cepat dan cenderung memerlukan asupan nutrisi dalam jumlah yang relatif besar. Berdasarkan hasil studi pendahuluan kepada 35 remaja didapatkan 4 siswa dengan status gizi buruk, 4 siswa dengan status gizi kurang, 19 siswa dengan status gizi normal, 2 siswa dengan status gizi lebih, dan 6 siswa dengan status gizi obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola asuh orang tua dengan status gizi remaja di SMAN 9 Depok. Metode yang digunakan yaitu penelitian kuantitatif non eksperimental ini dengan desain deskriptif korelasional serta menggunakan pendekatan study cross sectional. Sampel yang digunakan berjumlah 246 sampel yang didapatkan melalui teknik Stratified Random Sampling. Data didapatkan dengan melakukan pengukuran tinggi dan berat badan serta pengisian kuesioner terstruktur. Hasil analisis dengan uji korelasi gamma menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pola asuh orang tua dengan status gizi pada remaja dengan nilai p- value : 0.001 dengan nilai kontribusi sebesar 16.7%. Diharapkan para orang tua dapat meningkatkan pengetahuan mereka tentang pola asuh ideal. Kata Kunci: Gizi, Media Massa, Obesitas, Remaja
Aksi “Gulali”(Gerakan Pengendalian Diabetes Melitus) dengan Peer Health Coaching Program : Menuju Desa Siaga Dm Mareta Dea Rosaline; Diah Tika anggraeni; Duma Lumban Tobing; Santi Herlina; Arief Wahyudi Jadmiko; Sang Ayu Made Adyani; Lalu Ahmad Gamal; Marisa Syavitri Dilaga; Lina Berliana Togatorop; Clara Oktalia Cahyani; Syakia Retno Aditya Dwi Putri
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 3 (2026): Volume 9 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i3.25239

Abstract

ABSTRAK Diabetes Melitus (DM) merupakan ancaman kesehatan global dengan prevalensi yang meningkat signifikan, termasuk di Desa Kuta, Lombok Tengah. Literasi kesehatan dan efikasi diri menjadi hambatan utama dalam manajemen penyakit dan pencegahan komplikasi DM. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat melalui Aksi GULALI (Gerakan Pengendalian Diabetes Melitus) dengan pendekatan Peer Health Coaching. Peserta berjumlah 55 orang dari Desa Kuta. Intervensi meliputi pelatihan Peer Health Coaching bagi kader dan keluarga yang mencakup tanda gejala DM, komplikasi, aktivitas fisik, pemantauan glukosa darah, kepatuhan terapi farmakologis, serta deteksi dini kaki diabetik menggunakan monofilament test. Selain itu, dilakukan skrining kadar gula darah yang berkolaborasi dengan Puskesmas Kuta. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test yang dianalisis dengan uji Wilcoxon Signed-Rank. Mayoritas responden adalah perempuan (72,7%) dengan rata-rata usia 45,2 tahun. Hasil analisis menunjukkan peningkatan signifikan pada rata-rata skor pengetahuan dari 2,89 (48,15%) menjadi 4,32 (72%) dengan nilai p = 0,001. Proporsi peserta berpengetahuan tinggi meningkat dari 28,3% menjadi 68,3%. Program GULALI efektif meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pengendalian DM dan perawatan kaki diabetik. Sinergi antara kader, keluarga, dan tenaga kesehatan setempat menjadi kunci keberhasilan program menuju Desa Siaga DM. Kata Kunci: Diabetes Melitus,GULALI, Gerakan Pengendalian Diabetes Melitus,Peer Health Coaching Program.  ABSTRACT Diabetes Mellitus (DM) is a global health threat with significantly increasing prevalence, including in Kuta Village, Central Lombok. Low health literacy and self-efficacy are major barriers to disease management and complication prevention. This community service activity aims to increase public knowledge through the GULALI Program (Diabetes Mellitus Control Movement) using a Peer Health Coaching approach. The participants consisted of 55 individuals from Kuta Village. The intervention included Peer Health Coaching training for cadres and families covering DM symptoms, complications, physical activity, blood glucose monitoring, pharmacological therapy adherence, and early detection of diabetic foot using the monofilament test. Additionally, capillary blood glucose screening was conducted in collaboration with the Kuta Health Center. Evaluation was performed using pre-test and post-test, analyzed with the Wilcoxon Signed-Rank test.The majority of respondents were female (72.7%) with an average age of 45.2 years. The analysis results showed a significant increase in the average knowledge score from 2.89 (48.15%) to 4.32 (72%) with a p-value = 0.001. The proportion of participants with high knowledge increased from 28.3% to 68.3%. The GULALI Program is effective in increasing community knowledge regarding DM control and diabetic foot care. Synergy between cadres, families, and local health workers is the key to the success of the program towards a DM Alert Village. Keywords: Diabetes Mellitus, Family, GULALI (Diabetes Mellitus Control Movement), Health Cadres, Family, Peer Health Coaching.
Program Noska : Pemberdayaan Keluarga dalam Deteksi Dini dan Pencegahan Sindrom Koroner Akut di Kelurahan Limo, Depok Diah Tika Anggraeni; Mareta Dea Rosaline; Iwan Sulistio Wibowo; Adya Alqasha; Fadhillah Regita; Zata Ismah Shabrina; Akmal Hidayatullah Hidayatullah; Saidah Alawiyah
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 3 (2026): Volume 9 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i3.25005

Abstract

ABSTRAK Sindrom Koroner Akut (SKA) merupakan salah satu penyebab utama kematian di Indonesia, dengan prevalensi 1,5% dan kontribusi signifikan terhadap tingginya angka mortalitas. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai gejala awal dan tindakan pra-rumah sakit sering menyebabkan keterlambatan penanganan. Program “NOSKA” (Nol Kasus Nol Mortalitas SKA) dikembangkan sebagai upaya pemberdayaan keluarga dalam deteksi dini, pencegahan, dan penatalaksanaan awal SKA di Kelurahan Limo, Depok. Metode yang digunakan adalah penyuluhan kesehatan dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR) berbasis edukatif-partisipatif, yang dilaksanakan melalui tahapan analisis situasi, pemberdayaan keluarga, dan evaluasi program menggunakan desain pre–post evaluation. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan pengetahuan keluarga mengenai faktor risiko, gejala, dan kesiapsiagaan menghadapi serangan jantung, dengan skor rata-rata meningkat dari 73,21 menjadi 95,92 (p = 0,000). Selain itu, 85% peserta mampu mengidentifikasi gejala awal SKA dengan benar berdasarkan observasi keterampilan. Temuan ini menunjukkan bahwa program NOSKA efektif dalam meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kemampuan respons dini keluarga terhadap SKA. Program ini memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai model intervensi pencegahan berbasis masyarakat yang berkelanjutan. Kata Kunci: Deteksi Dini, Pemberdayaan Keluarga,  Pencegahan, Sindrom Koroner Akut.  ABSTRACT Acute Coronary Syndrome (ACS) is one of the leading causes of mortality in Indonesia, with a prevalence of 1.5% and a substantial contribution to national death rates. Limited public knowledge regarding early symptoms and pre-hospital actions often results in delayed treatment. The “NOSKA” Program (Zero Cases Zero Mortality of ACS) was developed to empower families in the early detection, prevention, and initial management of ACS in Limo District, Depok. The method used is health education with an educational-participatory Participatory Action Research (PAR) approach, which is implemented through the stages of situation analysis, family empowerment, and program evaluation using a pre-post evaluation design.  Evaluation results showed a significant improvement in family knowledge regarding risk factors, symptoms, and preparedness for heart attack emergencies, with average scores increasing from 73.21 to 95.92 (p = 0.000). Additionally, 85% of participants were able to correctly identify early ACS symptoms based on observations from skill assessments.These findings indicate that the NOSKA program effectively enhances family knowledge, awareness, and early response capabilities related to ACS. The program demonstrates strong potential to be developed as a sustainable community-based prevention model. Keywords : Acute Coronary Syndrome, Early Detection, Family Empowerment, Prevention
EFFECT OF DIABETES CARE (DM CARE) ON ANXIETY AND BLOOD GLUCOSE LEVELS DIABETES MELITUS PATIENTS Mareta Dea Rosaline; Duma Lumban Tobing; Diah Tika Anggraeni
Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 9 No 1 (2026): Jurnal Mutiara Ners
Publisher : Program Studi Ners UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is a chronic metabolic disorder commonly associated with physical and psychological complications, including anxiety. Optimal diabetes management requires effective self-care management, which can be enhanced through structured Diabetes Self-Management Education (DSME). The integration of digital health technology, such as mobile-based educational applications, offers a promising strategy to support diabetes management in primary healthcare settings. This study aimed to determine the effect of the Diabetes Care (DM Care) application on anxiety levels and blood glucose levels among patients with T2DM. A quantitative pre experimental study with a one-group pretest–posttest design was conducted at Limo Primary Health Center, Grogol Subdistrict, Depok City. A total of 40 patients with T2DM were recruited using consecutive sampling. The intervention consisting of DSME is delivered through an Android-based DM Care application . Anxiety levels were measured using the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS), and blood glucose levels were assessed as random blood glucose using a glucometer. The data were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test with a significance level of p < 0.05. The results showed a significant reduction in anxiety levels and blood glucose levels following the intervention. The mean anxiety score decreased from 30.40 to 7.50, while the mean random blood glucose level decreased from 213.88 mg/dL to 127.88 mg/dL (p = 0.000). In conclusion, the DM Care application significantly reduced anxiety levels and blood glucose levels among patients with T2DM and may serve as an effective digital nursing intervention to improve self-care management and clinical outcomes in primary healthcare settings