Ramdiana Ramdiana
Unknown Affiliation

Published : 36 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

MEUREUKON DI KABUPATEN PIDIE JAYA Fitria Fitria; Ramdiana Ramdiana; Ismawan Ismawan
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 4, No 2 (2019): MEI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian yang berjudul “Mereukon di Kabupaten Pidie Jaya” ini mengangkat masalah nilai-nilai pendidikan apa sajakah yang terkandung dalam Meureukon di Kabupaten Pidie Jaya, apakah fungsi Meureukon di dalam kehidupan bermasyarakat Kabupaten Pidie Jaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan dan fungsi terkandung dalam Meureukon di Kabupaten Pidie Jaya. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini ialah pendekaan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara mendalam tentang Mereukon di kabupaten Pidie Jaya. Subjek Penelitian ini adalah komunitas Jamaatul Fata Kabupaten Pidie Jaya, sedangkan objek yang akan diteliti mengenai nilai-nilai pendidikan yang terkadung Meurukon di Kabupaten Pidie Jaya dan fungsi Meureukon di dalam kehidupan bermasyarakat Kabupaten Pidie Jaya. Data pada penelitian ini dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis yang digunakan adalah dengan mereduksi data terlebih dahulu kemudian menyajikannya dalam bentuk uraian singkat dan akhirnya dilakukan penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa Meureukon adalah salah satu tradisi masyarakat Pidie Jaya, Meureukon merupakan sebuah media pembelajaran agama atau media dakwah karena syair-syairnya membahas tentang pengetahuan agama. Meureukon bukan hanya kegiatan berkumpul atau tempat belajar agama, namun di dalam Meureukon terkandung nilai-nilai pendidikan yang bersifat religius, kebersamaan, sosial dan estetis serta memiliki fungsi antara lain sebagai sarana upacara adat istiadat, sebagai sarana komunikasi, sebagai sarana hiburan, sebagai sarana pendidikan, sebagai sarana ekspresi dan pengembangan diri.Kata Kunci: nilai-nilai pendidikan, Meureukon
BENTUK PENYAJIAN TARI TRADISIONAL SILAT GELOMBANG DI DESA LUGU KABUPATEN SIMEULUE Ririn Putri Januaresti; Taat Kurnita; Ramdiana Ramdiana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 2 (2016): MEI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.819 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini mengangkat masalah tentang bagaimana bentuk penyajian dan makna gerak pada tari tradisional silat gelombang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penyajian dan makna gerak tari tradisional silat gelombang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Lokasi penelitian yang dilakukan pada penelitian ini adalah sanggar Safakat di desa Lugu kabupaten Simeulue. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari tradisional silat gelombang merupakan tarian yang dilaksanakan pada acara penyambutan tamu dan pada acara perkawinan. Tari silat gelombang memiliki empat tahapan gerak yaitu gerak salam awal, gerak awal, gerak manapuk dan gerak bersalam akhir. Keempat tahapan tersebut memiliki 26 gerak. Pola lantai pada tarian ini sangat sederhana dari awal hingga penutup menggunakan pola lantai lurus vertikal. Tata busana tarian ini dengan mengenakan busana baju kemeja berwarna hitam yang telah dimodifikasi, celana panjang berwarna hitam yang telah dimodifikasi, kain songket berwarna merah dan pengikat kepala. Tata rias yang digunakan sangat sederhana tampil dengan apa adanya. Properti yang digunakan ialah Carano atau ceranah tempat melekan sirih/ranup. Alat musik atau musik pengiring dalam tarian ini adalah kedang atau gendang yang dimainkan dengan cara dipukul dengan stik. Panggung atau pentas tari tradisional Silat Gelombang yaitu pentas arena atau yang bisa dilihat dari berbagai sisi. Terdapat makna pada tahapan gerak tari tradisional Silat Gelombang secara umum bermakna gerak simbolis dan maknawi, yang mana pada gerak tari tradisional Silat Gelombang pada tahap gerak awal salam hingga gerak manapuk tergolong gerak simbolis yang terdiri dari 23 rangkaian gerak. Sedangkan pada tahap gerak bersalam akhir tergolong gerak maknawi yang terdiri dari 3 rangkaian gerak. Kata Kunci: Bentuk penyajian, tari silat gelombang
RITUAL ADAT ALAS PEMAMANEN DI DESA BAMBEL KUTACANE KABUPATEN ACEH TENGGARA Enggi Raseha; Ramdiana Ramdiana; Tri Supadmi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 3, No 4 (2018): NOVEMBER
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian yang berjudul Ritual Adat Pemamanen di Desa Bambel Kutacane Kabupaten Aceh Tenggara, mengangkat masalah bagaimana prosesi ritual tradisi Pemamanen dan apa saja yang menyebabkan perubahan di ritual Pemamanen suku Alas  di Aceh Tenggara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana ritual adat Pemamanen dan apa saja faktor penyebab perubahan di tradisi Pemamanen di Kute Alas Kabupaten Aceh Tenggara. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, dan jenis penelitian yang digunakan yaitu deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah masyarakat yang mengerti tentang  ritual adat Pemamanen dan objek dalam penelitian ini adalah ritual adat alas Pemamanen di desa Bambel Kutacane Kabupaten Aceh Tenggara. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisi data dengan mereduksi, display dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan ritual adat alas Pemamanen yaitu Ngelumbe, Tebekhas, Titah Pekhintah, Mebhagah, Jagai, persiapan meyambut Pemamanen, Sabhungen Silime-lime, persiapan bagi Pemamanen yang datang, Ngerana, Senat. Ritual adat Pemamanen ini mengalami perubahan disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: karena adanya penemuan baru, adanya pengaruh budaya lain, adanya perkembangan teknologi, sehingga menyebabkan ritual tersebut mengalami perubahan. Ritual adat Pemamanen ini masih dilaksanakan secara adat.Kata Kunci: ritual, adat Alas, Pemamanen
PERKEMBANGAN MUSIK IRINGAN TARI GUEL DI KABUPATEN ACEH TENGAH Reny Fharina; Aida Fitri; Ramdiana Ramdiana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 4, No 1 (2019): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari Guel merupakan, tari yang berasal dari Kabupaten Aceh Tengah. Sedangkan musik iringan adalah musik pengiring sebagai pengendali keselarasan sebuah prosesi tari. Penelitian mengangkat masalah bagaimana perkembangan alat musik iringan Tari Guel di Kabupaten Aceh Tengah. Pendekatan dalam penelitian ini adalah Kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek dalam penelitian adalah S. Kobat, Mukhlis Gayo, Ibrahim Kadir dan Teuku Aga. Sedangkan yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah perkembangan alat musik iringan Tari Guel. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu, dokumentasi, wawancara, dan observasi. Sedangkan untuk teknik analisis data dalam penelitian ini yaitu mereduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan alat musik iringan Tari Guel yang dipentaskan di Kabupaten Aceh Tengah mengalami perkembangan dalam beberapa periode, periode pertama 1972-1980 menggunakan gegedem, canang, gong dan vokal dengan dinamik lembut, dengan tempo bervariasi, irama dinamis dan terdengar harmoni. Kemudian berkembang pada periode kedua yaitu pada tahun 1980-2000 ada penambahan alat musik pendukung seperti teganing, bantal didong, bensi dan syair untuk membuat bunyi musik lebih beragam dan tidak mengubah unsur musik pada periode sebelumnya. Selanjutnya periode tahun 2000-2012 terdapat penambahan syair internal, penambahan alat musik suling untuk menggantikan vokal dan mengurangi alat musik pendukung sebelumnya, alasannya karena sulitnya mencari pelantun tradisi saat itu dan sebagai bentuk kreativitas seniman , dinamik menjadi agak cepat dan tempo tidak banyak variasi dan menjadi cepat juga, alat musik pada periode adalah gegedem, canang, gong, dan suling.  Perkembangan terakhir tahun 2012-2018 yaitu, pergantian alat musik gegedem menjadi rapa’i karena sulitnya mencari gegedem dan rapa’i dianggap lebih sesuai kebutuhan pentas, unsur musik dinamik dalam periode terakhir ini menjadi lebih cepat dan juga tempo yang lebih cepat dari tempo periode sebelumnya, alat musik yang digunakan pada periode ini diantaranya adalah rapa’i, gong, canang, suling, dan bantal didong.Kata Kunci: perkembangan alat musik iringan, tari Guel.
BENTUK PENYAJIAN TARI DAMPENG DI KAMPONG SAKOP TANAH BARA KECAMATAN GUNUNG MERIAH KABUPATEN ACEH SINGKIL Fira Ramayunika; Tri Supadmi; Ramdiana Ramdiana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 2 (2016): MEI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.713 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berjudul “Bentuk Penyajian Tari Dampeng di Kampong Sakop Tanah Bara Kecamatan Gunung Meriah Kabupaten Aceh Singkil”. Mengangkat masalah bagaimana bentuk penyajian tari Dampeng di kampong Tanah Bara Kecamatan Gunung Meriah Kabupaten Aceh Singkil. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk penyajian tari Dampeng di kampong Tanah Bara Kecamatan Gunung Meriah Kabupaten Aceh Singkil Tari Dampeng (menari) berasal dari Kampong  Laemate yang artinya air  mati. Kampung Laemate adalah termasuk salah satu kampung yang mempunyai sejarah panjang di wilayah Kota Subulussalam sampai ke Aceh Singkil. Tari ini pertama kali ditarikan pada tahun 1986. Singkil banyak didatangi berbagai etnis misalnya, pak-pak, karo, jawa, gayo, alas dan minangkabau. Tarian ini diadakan di halaman rumah 12 orang penari laki-laki usia remaja tampil dengan komposisi berkeliling. Seorang penyanyi yang disebut penghulu ronde, yang berada di luar penari-penari bertindak sebagai pengiring tari serta sekaligus sebagai pengarah tari. Kepada pemuda-pemuda Aceh singkil kampong sakop tanah bara agar bisa diteruskan dan memperkenalkan tarian ini ke seluruh nusantara dan mancan Negara karna tarian ini hampir saja punah.Kata Kunci: Bentuk penyajian, Tari, Dampeng     
MAKNA PELAMINAN KAMAR PENGANTIN SUKU ANEUK JAMEE DI KECAMATAN TAPAKTUAN Ardilla Septiana; Ramdiana Ramdiana; Lindawati Lindawati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 5, No 1 (2020): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul Makna Pelaminan Kamar Pengantin Suku Aneuk Jamee di Kecamatan Tapaktuan, mengankat masalah bagaimana fungsi dan makna simbolik pelaminan kamar pengantin suku Anauk Jamee. Tujuan penelitian yaitu untuk   mendeskripsikan fungsi dan makna simbolik pelaminan kamar pengantin suku Aneuk   Jamee di kecamatan Tapaktuan. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan Semiotika, jenis penelitian ini yaitu deskriptif. Subjek penelitian ini ialah suku Aneuk Jamee dan objek penelitian ialah kamar pengantin suku Aneuk Jamee. Teknik pengumpulan data dilakukan menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian, fungsi keseluruhan dari pelaminan kamar pengantin ialah tempat pelaksanaan ritual adat pernikahan suku Aneuk Jamee dan di kamar itulah mempelai wanita akan melepaskan keperwanannya untuk dipersembahkan kepada sang suami. Makna simbolik yang terdapat di pelaminan kamar pengantin suku Aneuk Jamee di kecamatan Tapaktuan ialah (1) Labah Mangirok (lebah hinggap) yang bermaknakan seorang raja dan rakyat yang saling tolong-menolong, (2) Banta Gadang Tagak (bantal besar berdiri) bermaknakan seorang perempuan yang akan melahirkan keturunan, (3) Meracu dan Tapak diibaratkan seorang raja dan ratu, (4) Kipas Berwarna Warni yang memiliki tiga warna yaitu kuning, merah, dan hijau, (5) Banta Basusun (bantal bersusun) bermakna empat pihak delapan kaum, (6) Tilam Pandak adalah tempat duduk pengantin yang diumpamakan sebagai singgasana kehormatan untuk pengantin yang disandingkan di pelaminan, (7) Renda Putih yang bermaknakan suatu kesucian, (8) Langik-langik (langit-langit), (9) Buah Butun Kuning di Bangku yang berjumlah lima ruas mengartikan rukun islam ada lima perkara, (10) Pancuang Soa Kelambu (kelambu tujuh lapis) bagian utama yang terdapat pada pelaminan kamar pengantin, Bii (kening kelambu) maknanya kesucian hati suami istri dalam menjalankan bahtera rumah tangga, (11) Seprai Berlapis Tujuh, (12) Sampang Kain berfungsi tempat penyampangan kain yang dibawa oleh mempelai laki-laki, (13) Tikar Jajakan. Selain itu properti yang juga terdapat di kamar pengantin yaitu Ceurano (tempat sirih), Tuduang saji (tudung saji). Pelaminan Kamar Pengantin Suku Aneuk Jamee di Kecamatan Tapaktuan hanya dapat digunakan oleh perempuan yang bisa menjaga kehormatannya.Kata Kunci: Fungsi, makna simbolik, pelaminan kamar pengantin, Suku Aneuk Jame
BENTUK PENYAJIAN DAN MAKNA GERAK TARI TORTOR PADA UPACARA KEMATIAN ADAT BATAK TOBA DI DESA PENANGGALAN KECAMATAN PENANGGALAN KOTA SUBULUSSALAM PROVINSI ACEH Rayhanul Safra; Taat Kurnita; Ramdiana Ramdiana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 4 (2016): NOVEMBER
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.944 KB)

Abstract

ABSTRAK            Penelitian ini tentang “bentuk penyajian dan makna gerak tari tortor pada upacara kematian adat Batak Toba di desa Penanggalan kota Subulussalam”. Adapun yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk penyajian dan makna gerak pada upacara kematian adat Batak Toba di desa Penanggalan Kota Subulussalam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penyajian dan makna gerak tari tortor pada upacara kematian adat Batak Toba di desa Penanggalan Kota Subulussalam. Pendekatan yang digunakan dalam penelitin ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi (pengamatan), interview (wawancara), dan dokumentasi. Agar hasil penelitian dapat dipercaya, peneliti menggunakan alat bantu buku catatan, kamera foto dan kamera video. Teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Berdasarkan hasil penelitian tari tortor ini ditarikan pada saat sebelum jenazah dikebumikan dan tari tortor melambangkan penghormaatan terakhir kepada jenazah sebelum dikebumikan serta tari ini dilakukan agar yang ditinggalkan tidak berlarut-larut dalam kesedihan serta mengiklaskan dengan lapang dada. Tarian ini ditarikan secara gembira dalam arti tidak menangis. Tari tortor kematian memiliki 4 ragam gerakan, 4 jenis pola lantai dan menggunakan sebuah ulos kain khas suku Batak yang diulosi dibahu penari yang mengulosi hula-hula dan unsur kerabat Dalihan Natolu  lainnya.Kata kunci: bentuk penyajian, makna gerak, Tari tortor kematian, Batak Toba   
STUDI KOMPARATIF TARI RATEEB MEUSEUKAT DI SANGGAR EUNCIEN MEULIGOE ACEH UTARA DENGAN TARI RATEEB MEUSEUKAT DI SANGGAR ANEUK CERIA BANDA ACEH Cut Reisya Apriliani; Tri Supadmi; Ramdiana Ramdiana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 3 (2016): AGUSTUS
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.408 KB)

Abstract

ABSTRAK          Penelitian ini berjudul “Studi Komparatif Tari Rateeb Meuseukat di Sanggar Euncien Meuligoe Aceh Utara dengan Tari Rateeb Meuseukat di Sanggar Aneuk Ceria Banda Aceh” mengangkat masalah bagaimana komparasi gerak tari Rateeb Meuseukat yang ada di sanggar Euncien Meuligoe dan di sanggar Aneuk Ceria. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perbedaan dan persamaan gerak tari Rateeb Meuseukat di sanggar Euncien Meuligoe dan di sanggar Aneuk Ceria. Pendekata yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah pelatih dan penari di sanggar Euncien Meuligoe dan Aneuk Ceria. Teknik pengumpulan data digunakan dengan teknik observasi, wawancara serta dokumentasi, dan teknik analisis data dengan mereduksi, display, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerak tari Rateeb Meuseukat yang ada di sanggar Euncien Meuligoe dengan di sanggar Aneuk Ceria, memiliki perbedaan dan persamaan. Secara keseluruhan gerak tari Rateeb Meuseukat menggambarkan keuletan, kecepatan kekompakan dan keselarasan.Kata Kunci: studi komparatif, tari Rateeb Meuseukat sanggar Euncien Meuligoe, tari Rateeb Meuseukat sanggar Aneuk Ceria 
PROSES PEMBUATAN ALAT MUSIK TRADISIONAL GEGEDEM DI DESA PAYA JEGET KECAMATAN PEGASING KABUPATEN ACEH TENGAH Hulwan Hulwan; Ismawan Ismawan; Ramdiana Ramdiana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 4 (2016): NOVEMBER
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.559 KB)

Abstract

ABSTRAK             Penelitian ini berjudul “Proses Pembuatan Alat Musik Tradisional Gegedem di Desa Paya Jeget Kabupaten Aceh Tengah”. Penelitian ini mengangkat masalah tentang proses pembuatan alat musik tradisional Gegedem di Kabupaten Aceh Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pembuatan alat musik Gegedem. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan di Desa Paya Jeget Kabupaten Aceh Tengah. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan mereduksi, menyajikan data dan verifikasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bagian dan tahapan proses pembuatan alat musik tradisional Gegedem diantaranya: memotong badan Gegedem (batang kayu nangka), mengolah kulit kambing (membran), membersihkan rotan (we), baji, radang (rotan besar), sidak, serta cara memproduksi bunyi, sistem pelarasan pada alat musik tradisional Gegedem. Alat yang digunakan pada proses pembuatan alat musik tradisional Gegedem diantaranya: mesin singso (pemotong kayu), Bor Mesin, Pahat kayu, Palu kayu, amplas mesin, dan mesin Grinda. Bahannya berupa; pohon kayu nangka, kulit kambing jantan, dan rotan. Proses pembuatan alat musik Gegedem meliputi beberapa tahap, yaitu: 1) Proses pembuatan Baloh, meliputi penebangan, pengukuran, pengeboran, pemahatan dan finishing pengamplasan halus dan kasar, 2) Proses pengolahan kulit, meliputi perendaman kulit menggunakan kapur, penjemuran, pengambilan lendir dan bulu dan pengukuran lebar diameter, 3) Proses pemasangan, meliputi mujermet, mujalin dan pemasangan sidak dan baji.Kata Kunci: alat musik, Gegedem, proses, tradisional
PROSES PEMBELAJARAN TARI BATOK DI TAMAN KANAK-KANAK BUNGONG SELEUPOEK Sekar Ratih; Tri Supadmi; Ramdiana Ramdiana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 2, No 4 (2017): NOVEMBER
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.539 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian yang berjudul “Proses Pembelajaran Tari Batok di Taman Kanak-Kanak Bungong Seleupoek” Mengangkat masalah bagaimanakah proses yang diterapkan pada pembelajaran tari Batok di Taman Kanak-kanak Bungong Seleupoek, dan kendala apa saja yang dihadapi guru dalam pelaksanaan pembelajaran tari di Taman Kanak-kanak di Bungoeng Seleupoek. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran tari di Taman Kanak-kanak Bungoeng Seleupoek, dan mendeskripsikan kendala yang dihadapi guru dalam pelaksanaan pembelajaran tari di Taman Kanak-kanak Bungoeng Seleupoek. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Kegiatan awal proses pembelajaran tari di Taman kanak-kanak Bungoeng Seleupoek, biasanya guru terlebih dulu dituntut untuk lebih aktif dalam memotivasi peserta didik agar mau mengikuti pembelajaran yang dilaksanakan. Hal ini bertujuan agar adanya hubungan keterikatan antara siswa dengan guru nya dalam mempelajari materi yang diajarkan serta dapat melihat sejauh mana peserta didik siap mengikuti proses belajar dengan baik. Langkah awal yang dilakukan guru dalam memotivasi peserta didik, biasanya guru terlebih dahulu memperlihatkan serta mempertontonkan beberapa jenis video/rekaman tari yang nantinya akan dipelajari. Kemudian guru menjelaskan/menceritakan asal usul tari tersebut. Setelah selesai, guru perlahan-lahan mengajak peserta didik untuk mengikuti gerak tari tersebut. Meskipun masih ada beberapa peserta didik yang sama sekali tidak perduli dengan ajakan guru. Penerapan pembelajaran seni tari di Taman Kanak- kanak Bungoeng Seleupoe kini guru lebih mengarahkan peserta didiknya pada kegiatan praktek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pelaksanaan pembelajaran tari di Taman Kanak- kanak masih ada kendala, itu semua dikarenakan guru yang melatih bukan guru lulusan jurusan seni tari, dan juga disebabkan sarana dan prasarana kurang mendukung serta yang diajarkan kepada anak-anak. Akan tetapi pembelajaran yang diterapkan memiliki pengaruh bagi anak-anak untuk dapat mengembangkan potensiyang ada pada dirinya sesuai dengan bakat dan minat ketika anak-anak tersebut beranjak remaja. Kata Kunci: pembelajaran tari Batok, taman kanak-kanak.