Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Spirakel

KARAKTERISTIK HABITAT DAN KUALITAS AIR TERHADAP KEBERADAAN JENTIK Aedes spp DI KELURAHAN SUKARAMI PALEMBANG Indah Margarethy; Nungki Hapsari Suryaningtyas; Desy Asyati
SPIRAKEL Vol 9 No 2 (2017)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.896 KB)

Abstract

Sukarami regency is one of the areas with the highest dengue cases in Palembang City. The presence of larvae will affect the mosquito population of dengue vectors. The spot has several characteristic differences that will affect the Aedes spp mosquito. to meet the eggs This study aims to determine the relationship between larvae habitat with habitat characteristics and air quality. The sample of this research is 100 homes inhabited as residence in Sukarami Village. Collection of Aedes spp larvae. with single larvae method. Aedes spp larvae habitat habitat data collection through the form. Measurement of water quality in Aedes spp larvae habitat. carried out to obtain water temperature, pH and salinity. The resulting data is then processed and categorized based on each variable. The analysis using bivariate using chi-square test to know the relationship between habitat characteristics and water quality with larvae area. The results showed significant differences between container type, container wall surface, container location, cover condition and water pH with Aedes spp larvae seeds (p <0.05). DHF surveillance activities through cadre empowerment for widening and Aedes spp eradication larvae should be undertaken as an effort to restore the chain of Aedes spp mosquitoes and propagation.
DAYA BUNUH EKSTRAK KULIT KENTANG (Solanum tuberosum L.) TERHADAP JENTIK Aedes sp Stevie Mariany Pamikiran; Steven J. Soenjono; Suwarja Suwarja; Indah Margarethy; Milana Salim; Nungki Hapsari Suryaningtyas
SPIRAKEL Vol 10 No 2 (2018)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.492 KB)

Abstract

Pengendalian jentik Aedes sp dengan cara menggunakan insektisida alami dapat berfungsi sebagai upaya pencegahan timbulnya resistensi terhadap insektisida kimiawi. Senyawa yang terkandung dalam tumbuhan berpotensi sebagai insektisida yaitu golongan sianida, saponin, tanin, flavonoid, alkaloid, steroid dan minyak atsiri. Salah satunya ekstrak dari kulit kentang (Solanum tuberosum L.) mengandung senyawa flavonoid. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas ekstrak kulit kentang (Solanum tuberosum L.) dalam membunuh jentik Aedes sp. Jenis penelitian ini bersifat eksperimen dengan desain penelitian post test only control group design untuk mengetahui konsentrasi letal ekstrak kulit kentang (Solanum tuberosum L.) terhadap jentik Aedes sp. Perlakuan dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan dengan jumlah jentik Aedes sp masing-masing 10 jentik. Konsentrasi yang digunakan yaitu 0,25%, 0,5%, 0,75%, 1% dan kontrol menggunakan air sumur. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa konsentrasi 1% efektif dalam membunuh jentik Aedes sp sebesar 50%. dan nilai LC50 ekstrak kulit kentang pada konsentrasi 1,1%. Ekstrak kulit kentang (Solanum tuberosum L.) belum efektif digunakan sebagai larvasida Aedes sp.
ANALISIS DATA SPASIAL MALARIA DI KABUPATEN KULON PROGO TAHUN 2017 Nungki Hapsari Suryaningtyas; Milana Salim; Indah Margarethy
SPIRAKEL Vol 11 No 2 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.18 KB) | DOI: 10.22435/spirakel.v11i2.1291

Abstract

Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang tidak terlepas dari keberadaan lingkungan fisik dan biologis yang mendukung terjadinya penyakit. Faktor lingkungan seperti iklim, temperatur dan curah hujan merupakan faktor pemicu pemunculan kembali penyakit malaria di suatu wilayah. Kejadian malaria di Provinsi DIY hanya terjadi di Kabupaten Kulon Progo dengan penyebaran di enam kecamatan. Tujuan analisis ini untuk mengetahui hubungan perubahan iklim (curah hujan dan hari hujan) dan ketinggian tempat terhadap kejadian malaria di Kabupaten Kulon Progo. Kajian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan data sekunder malaria di Kabupaten Kulon Progo pada tahun 2017. Data kejadian malaria diperoleh dari Profil Kesehatan Kab. Kulon Progo, sedangkan data curah hujan, hari hujan dan ketinggian tempat berasal dari Badan Pusat Statistik. Data diolah dan dianalisis dengan melakukan overlay antara variabel stratifikasi malaria dengan variabel ketinggian, curah hujan dan hari hujan. Hasil penelitian menunjukkan pola spasial kejadian malaria tersebar di seluruh ketinggian dengan kejadian tertinggi berada di ketinggian 500-1000 mdpl, dengan curah hujan >200 mm (bulan basah) dan hari hujan yang tinggi. Perlu dilakukan peningkatan kewaspadaan dengan melakukan pengamatan terhadap curah hujan, kelembapan dan suhu dalam skala mingguan bekerjasama dengan BMKG. Disarankan pula untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat di daerah perbatasan mengenai upaya pencegahan penularan malaria.
SITUASI MALARIA DI KOTA LUBUKLINGGAU PROVINSI SUMATERA SELATAN DALAM MENCAPAI ELIMINASI MALARIA TAHUN 2021 Nungki Hapsari Suryaningtyas; Maya Arisanti
SPIRAKEL Vol 13 No 2 (2021)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/spirakel.v13i2.5545

Abstract

Malaria is a vector borne disease and is one of the leading causes of mortality and morbidity worldwide. In general, the prevalence of malaria parasites differed between age and sex with the highest prevalence occurring in children and women. This study uses secondary data from the Lubuklinggau City Health Office in 2015 - 2018. The number of malaria cases in Lubuklinggau City has decreased during 2015 - 2018. Most cases of malaria occur in women. The distribution of malaria cases was highest in the age group 15 - 64 years and there were still cases in children aged 0 - 5 years. The most common type of Plasmodium found is Plasmodium vivax. To maintain malaria elimination, Lubuklinggau City must eliminate indigenous cases and improve treatment management and management of malaria cases.