Soesanti, Frida
Divisi Endokrinologi Anak, Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RS Ciptomangunkusumo, Jakarta

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Sindrom McCune Albright Dengan Manifestasi Fraktur Berulang Ruth Nadya; Frida Soesanti
Majalah Kedokteran UKI Vol. 36 No. 1 (2020): JANUARI-APRIL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v36i1.2989

Abstract

Abstrak Sindrom McCune-Albright (SMA) merupakan kelainan genetik kompleks yang ditandai dengan trias displasia fibrosa poliostotik, café-au-lait, dan hiperfungsi endokrin. Sindrom ini termasuk penyakit langka dengan prevalens sebesar 1 per 100.000 hingga 1.000.000 populasi. Mutasi somatik sporadik gen GNAS (Guanine Nucleotide binding protein Alpha Stimulating) pada kromosom 20q13, yang terjadi pada sindrom ini, mengakibatkan aktivasi G protein α-subunit (Gsα) berkepanjangan yang meningkatkan aktivitas dan fungsi sel terkait. Manifestasi tersering yang ditemukan pada pasien adalah displasia fibrosa (pada 98% kasus). Kasus adalah seorang anak lelaki, 10 tahun, dengan manifestasi fraktur berulang sejak usia 1 tahun dan deformitas tulang. Pemeriksaan bone survey menunjukkan gambaran ground glass dengan lesi litik-sklerotik pada hampir semua tulang yang sesuai dengan displasia fibrosa poliostotik. Pasien ditata laksana dengan pemberian sediaan fosfat, kalsium, serta vitamin D dalam bentuk aktif dan analog. Pemberian bisfosfonat bertujuan untuk mengurangi nyeri tulang dan risiko fraktur pada pasien. Pemantauan berkelanjutan diperlukan untuk mengevaluasi keterlibatan organ endokrin pada pasien dengan SMA. Kata kunci: displasia fibrosa, fraktur, sindrom McCune Albright Abstract McCune-Albright syndrome (MAS) is a rare complex genetic disorder marked by the triad of polyostotic fibrous dysplasia, café-au-lait and endocrine hyperfunction, affecting 1 in 100.000 to 1.000.000 population. The sporadic somatic mutation of Guanine Nucleotide Binding Protein Alpha Stimulating (GNAS) gene at chromosome 20q13 is the proposed cause of this syndrome, triggering the prolonged activation of G protein α-subunit (Gsα), which increases the activity and function of cells. The most common clinical manifestation is fibrous dysplasia, occurring in 98% cases. This case occurred in a 10-year-old boy with recurrent fractures since the age of 1-year-old and skeletal deformities. The bone survey examination shows ground glass appearance with multiple sclerotic-lytic lesions on almost every bone, accordingly to the polyostotic fibrous dysplasia. The pasien has been treated with oral phosphate, calcium and vitamin D. Intravenous bisphosphonates was administered to relieve the associated bone pain and reduce the risk of recurring fractures. Longitudinal observation is necessary for a long term monitoring to evaluate the endocrinopathy associated with MAS. Keywords: fibrous dysplasia, fractures, McCune-Albright syndrome,
Osteoporosis dan Osteodistrofi pada Anak Frida Soesanti
Sari Pediatri Vol 21, No 2 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.02 KB) | DOI: 10.14238/sp21.2.2019.138-44

Abstract

Osteoporosis anak saat ini merupakan salah satu kelainan penting yang melibatkan hampir semua subspesialisasi. Berbeda dengan definisi osteoporosis pada orang dewasa, diagnosis osteoporosis pada anak tidak hanya ditentukan oleh densitas mineral tulang yang diukur dengan DXA (dual energy X-ray absorptiometry). Osteoporosis primer terjadi akibat kelainan genetik, misalnya osteogenesis imperfecta dan osteoporosis juvenil idiopatik. Osteoporosis disebut sekunder jika timbul akibat penyakit kronik yang mendasari atau terapi penyakit tersebut. Kemajuan teknologi kedokteran meningkatkan survival anak-anak dengan penyakit kronik atau penyakit yang mengancam nyawa. Banyak terapi medikamentosa ini memiliki efek jangka panjang pada tubuh, termasuk osteoporosis. Disfungsi endokrin, imobilitas, faktor nutrisi, penyakit kronik dan kondisi inflamasi kronik memengaruhi terjadinya osteoporosis sekunder pada anak. Pada anak dengan penyakit ginjak kronik, terjadi gangguan metabolism tulang, remodeling and modelling tulang yang menyebabkan suatu kondisi yang disebut dengan chronic kidney disease-mineral bone disorders (CKD-MBD), termasuk di dalamnya adalah osteodistrofi renal. Terapi osteoporosis pada anak masih merupakan suatu tantangan tersendiri. Tata laksana terbaik pada osteoporosis sekunder dan CKD-MBD adalah pencegahan. Deteksi dini kemungkinan terjadinya gangguan metabolisme tulang dan osteoporosis penting untuk mengoptimalkan kesehatan tulang anak, mencegah osteoporosis dan kemungkinan fraktur, yang pada akhirnya mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak. 
Virtual learning due to covid-19 pandemic and body weight changes in children aged 6-12 years Aulia, Nadhira Haliza; Santoso, Andintia Aisyah; Ramadhanty, Mutiara; Wirawan, Bintang; Soesanti, Frida
Paediatrica Indonesiana Vol. 64 No. 6 (2024): November 2024
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi64.6.2024.509-16

Abstract

Background The COVID-19 pandemic has led to school closures and virtual learning implementation. The situation has affected children's lifestyles and created an obesogenic environment. Objective To evaluate the impact of virtual learning during the pandemic on body weight changes in children. Methods This cross-sectional study was conducted on 6-12 years age children who experienced virtual school learning in Jakarta, Indonesia. Parents or guardians were asked to complete an online questionnaire about lifestyle changes and children's anthropometric data both before and during the virtual learning period. Changes in the weight-for-age Z-score (WAZ) and BMI Z-score (BMIZ) were analyzed using the Wilcoxon signed-rank test. Results A total of 206 children were assessed. There was a significant relation between virtual learning due to the COVID-19 pandemic and WAZ and BMIZ changes among children aged 6-12 years. Approximately 64% of the children experienced WAZ decrement (P value = 0.000), and 77.1% experienced BMIZ decrement (P value = 0.000). Conclusion This study do not align with existing studies' indicating that the pandemic lead to weight gain in children. Instead, the results shows that virtual learning period causes both WAZ and BMIZ to decrease.
Kepatuhan Pengobatan Sebagai Faktor Proteksi terhadap Kualitas Hidup pada Anak dan Remaja dengan Penyakit Graves Ismail, Ismi Citra; Soesanti, Frida; Syarif, Badriul Hegar; Medise, Bernie Endyarni; Pulungan, Aman Bhakti; Bermanshah, Evita Karianni; Faizi, Muhammad
Sari Pediatri Vol 27, No 2 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.2.2025.73-81

Abstract

Latar belakang. Penyakit Graves (PG) merupakan kelainan autoimun yang merupakan penyebab hipertiroid terbanyak pada anak dan remaja. Manifestasi PG dan proses pengobatan yang dilakukan pasien akan memberikan dampak pada kualitas hidup pasien. Kepatuhan pasien terhadap pengobatan akan memengaruhi keberhasilan pengobatan dan kualitas hidup.Tujuan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara kepatuhan pengobatan dengan kualitas hidup pada pasien anak dan remaja dengan PG.Metode. Studi potong lintang terhadap 74 anak usia 5-18 tahun dengan PG. Pemilihan subjek secara consecutive sampling mulai Desember 2020 – Mei 2021. Kepatuhan pengobatan diukur dengan The Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8), kualitas hidup diukur dengan The Pediatric Quality of Life Inventory (PedsQLTM) Analisis hubungan antara kepatuhan pengobatan dengan kualitas hidup setelah menyesuaikan dengan variabel perancu dilakukan dengan metode regresi logistik.Hasil. Tingkat kepatuhan pengobatan tinggi pada pasien anak dan remaja dengan PG adalah 21,6 %. Prevalens kualitas hidup terganggu pada anak dan remaja dengan PG adalah 45,9% dan tidak ada beda antara laporan anak dan orangtua. Nilai adjusted OR kepatuhan pengobatan tinggi untuk terjadinya kualitas hidup terganggu setelah menyesuaikan dengan tingkat pendidikan ibu, tingkat pendapatan, usia, dan durasi sakit adalah 0,098 (IK95% = 0,016-0,580).Kesimpulan. Tingkat kepatuhan pengobatan tinggi merupakan faktor protektif dari terjadinya kualitas hidup terganggu pada anak dengan PG.