I Gusti Ayu Putu Wulan Budisetyani
Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Published : 46 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Efikasi diri dan goal setting terhadap kecemasan menghadapi lomba pada atlet renang klub di Denpasar Wiguna, Ni Made Ayu Sacitananda; Budisetyani, I Gusti Ayu Putu Wulan
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.187 KB)

Abstract

Kecemasan menghadapi perlombaan merupakan keadaan tidak nyaman dan merasa terancam yang dirasakan atlet terhadap tuntutan dan tugas yang diberikan dalam menghadapi perlombaan. Faktor yang dapat memengaruhi kecemasan atlet adalah efikasi diri dan goal setting untuk mencapai target yang diharapkan atlet. Tujuan dari penelitian ini adalah unuk mengetahui peran efikasi diri dan goal setting terhadap kecemasan menghadapi lomba pada atlet renang klub di Denpasar. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Subjek penelitian ini berjumlah 51 atlet renang yang berusia 14 hingga 24 tahun. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Alat ukur dalam penelitian ini berupa skala efikasi diri, skala goal setting, dan skala kecemasan menghadapi lomba. Hasil dari uji hipotesis dengan menggunakan metode analisis regresi berganda menunjukkan nilai signifikansi variabel efikasi diri sebesar 0,002 (p<0,05) dengan koefisien beta terstandardisasi sebesar -0,453 dan nilai signifiaknsi goal setting sebesar 0,022 (p<0,05) dengan koefisien beta terstandardisasi -0,321. Hasil tersebut menunjukkan bahwa efikasi diri dan goal setting memiliki peran yang signifikan terhadap kecemasan menghadapi lomba pada atlet renang klub di Denpasar dengan arah peran yang negatif. Atlet renang dengan efikasi diri dan goal setting yang tinggi akan memengaruhi kecemasan menjadi rendah, sebaliknya efikasi diri dan goal setting yang rendah pada atlet menyebabkan kecemasan yang tinggi dialami atlet.
Dukungan Sosial Teman Sebaya dan Citra Tubuh terhadap Motivasi Melakukan Olahraga Street Workout dalam Komunitas Semeton Workout Bali (SWB) Adguna, Nanda Wiprayana; Budisetyani, I Gusti Ayu Putu Wulan
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.787 KB)

Abstract

Street workout merupakan olahraga yang sedang berkembang saat ini, olahraga ini melakukan aktivitasnya diluar ruangan dengan menggabungkan latihan bodyweight exercise dan calisthenics. Street workout telah berkembang dari jenis olahraga menjadi sebuah komunitas yang bernama komunitas Semeton Workout Bali (SWB). Kegiatan olahraga yang dilakukan dalam komunitas tersebut cukup berat sehingga memerlukan motivasi yang tinggi untuk dapat bertahan pada jenis olahraga ini. Motivasi merupakan daya pendorong yang menyebabkan individu melakukan suatu aktivitas. Motivasi seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal, yaitu dukungan sosial teman sebaya. Dukungan sosial teman sebaya dapat diperoleh oleh penggiat olahraga street workout berupa pemberian bantuan instrumental, bantuan emosional, dan pemberian informasi oleh sesama penggiat street workout lainnya. Faktor lain yang dapat memengaruhi motivasi adalah faktor internal, yaitu berupa citra tubuh. Citra tubuh merupakan representasi internal seseorang mengenai bentuk tubuhnya, dimana salah satu tujuan penggiat street workout menekuni olahraga tersebut adalah untuk memiliki tampilan tubuh yang lebih baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dan citra tubuh terhadap motivasi pada penggiat olahraga street workout. Responden penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sebanyak 42 responden. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik parametrik. Teknik pengujian hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi ganda. Penelitian ini menggunakan 3 alat ukur, yaitu Skala Dukungan Sosial yang memiliki reliabilitas 0,887, Skala Citra Tubuh yang memiliki reliabilitas 0,891, dan Skala Motivasi dengan nilai reliabilitas sebesar 0,879. Hasil uji regresi berganda menunjukan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05), hal tersebut menunjukan bahwa terdapat hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dan citra tubuh terhadap motivasi pada penggiat olahraga street workout. Kata kunci: Dukungan sosial teman sebaya, citra tubuh, motivasi, street workout.
Penyesuaian diri orangtua dengan anak yang mengalami gangguan ADHD(Attention Deficit Hyperactivity Disorder) Putri, Ida Ayu Devi; Budisetyani, I Gusti Ayu Putu Wulan
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) merupakan gangguan perkembangan yang diketahui sebelum usia 4 tahun, ditandai dengan ketidakmampuan dalam memusatkan perhatian dan berada pada tingkat maladatif dengan aktivitas yang berlebihan dan impulsif. Penyesuaian diri orangtua yang memiliki anak ADHD diperlukan agar anak dapat betumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensinya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana gambaran penyesuaian diri orangtua terhadap anak yang mengalami gangguan ADHD. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Responden dalam penelitian ini adalah dua pasang orangtua yang belum mempunyai pengalaman dalam mengasuh anak berkebutuhan khusus dengan gangguan ADHD dan dipilih dengan teknik snowball sampling. Proses pengambilan data terhadap kedua pasang responden dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa orangtua dengan anak yang mengalami gangguan ADHD telah mampu melakukan penyesuaian diri. Proses penyesuaian diri yang dilakukan adalah penyesuaian diri pribadi seperti menerima kondisi dengan apa adanya melalui tingkah laku yang ditunjukkan anak dan memutuskan untuk tidak menarik diri dari lingkungan sosial serta penyesuaian diri sosial seperti tidak peduli dengan perkataan orang lain mengenai kondisi anak.
Emosi dan Penggunaan Warna Dominan Pada Kegiatan Mewarnai Anak Usia Dini Pratiwi, Putu Yudari; Budisetyani, I Gusti Ayu Putu Wulan
Jurnal Psikologi Udayana Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (888.158 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2013.v01.i01.p16

Abstract

This study aims to determine the emotion influence towards use of the dominant color on early childhood coloring activities and also see the influence of positive and negative emotions toward the dominant color that used. Emotions are a condition that involves physiological, psychological, and feelings to act, because of the stimulus received by the senses, will be response, and processed. Emotions can be divided into positive emotions consist of happiness, excitement, also surprise and negative emotions consist of anger, sadness, fear, and disgust. Colors can manifest emotions that felt by someone. Bright color associated with positive emotions, and the dark color associated with negative emotions. Dominant color is color that most widely used in one image area. To count the area of the color is using grid technique or square method.   This study use quasi experimental design with treatment by subject. The sampling was 30 students from Tunas Mekar Sari Kindergarten that taken by purposive sampling technique. The data analysis methods are using Crosstabs function, Chi-Square Test, and Coefficient Contingency C.   Data analysis and study result find there are three hypotheses received, those are the strong emotion influence towards use of the dominant color on early childhood coloring activities, the strong positive emotion influence towards use of the bright dominant color, also the very strong negative emotion influence towards use of the dark dominant color.   Keywords: turnover intention, psychological contract violation, type A personality, bank employees
HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA PEREMPUAN USIA PRAMENOPAUSE DI DENPASAR SELATAN Darsitawati, I Gusti Ayu Putri; Budisetyani, I Gusti Ayu Putu Wulan
Jurnal Psikologi Udayana Vol 2 No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.426 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2015.v02.i01.p01

Abstract

Premenopausal-aged women are susceptible to self-adjustment problems against changes experienced such as physical and psychological changes. Emotional intelligence plays an important role in addressing various issues, especially self-adjustment problems in premenopausal-aged women. This quantitative research with the correlational approach aims to determine the relationship between emotional intelligence and self-adjustment in premenopausal-aged women in South Denpasar District.   The research samples are premenopausal-aged women in Sanur Village, South Denpasar District as many as 336 women using the one-stage cluster sampling technique. This study uses two scales of measurement namely the emotional intelligence scale and the self-adjustment scale. The emotional intelligence scale consists of 30 items with the reliability value = 0.974; and the self-adjustment scale consists of 29 items with the reliability value = 0.954. The data in this study show normal distribution with p = 0.111 for emotional intelligence and p = 0.224 for self-adjustment, and have a linear relationship (p = 0.000).   The technique for the analysis used by the researcher in this study is Pearson’s product moment correlation. The analysis shows that there is a relationship between emotional intelligence and self-adjustment (p = 0.000, p <0.05). Emotional intelligence also has a direct and positive relationship with self-adjustment, in which the value of r = 0.913; there is no negative sign, and it can be said that emotional intelligence and self-adjustment have a very strong relationship (r = 0.913).   Keywords: emotional intelligence, self-adjustment  
Dinamika psikologis remaja dengan oppositional defiant disorder yang tinggal panti asuhan Sanjiwani, Anak Agung Sri; Ambarini, Tri Kurniati; Budisetyani, I Gusti Ayu Putu Wulan
Jurnal Psikologi Udayana Vol 7 No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.914 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2020.v07.i01.p01

Abstract

Oppositional defiant disorder (ODD) atau gangguan perilaku menentang merupakan salah satu permasalahan yang sering terjadi pada remaja. Remaja yang tinggal di panti asuhan dapat menjadi rentan terhadap permasalahan perilaku yang terkait dengan penyesuaian lingkungan, aturan dan teman-teman baru. Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih lanjut mengenai permasalahan perilaku, diagnosis serta dinamika psikologis dari perilaku menentang yang ditampilkan oleh KPS. Subjek dalam penelitian ini berjumlah satu orang yang merupakan remaja putri berusia 14 tahun. Teknik pengambilan data yang dilakukan terdiri dari wawancara semi terstruktur, observasi serta rangkaian tes psikologi mencakup tes grafis (DAP, BAUM & HTP), Children Behavior Checklist (CBCL), Forer’s Sentence Completion Test (FSCT) dan Weschler Intelligence Scale for Children (WISC). Hasil menunjukkan bahwa KPS memenuhi kriteria gangguan perilaku menentang (ODD) berdasarkan DSM-IV TR. Faktor-faktor terkait perilaku kasar dari ibu kandung dan perpindahan pengasuhan pada beberapa pihak mendasari kesulitan KPS untuk mengembangkan rasa aman dalam hubungannya sehingga ditunjukkan dalam perilaku tidak adaptif. Hal ini kemudian mempengaruhi terbentuknya insecure attachment pada KPS yang kemudian membuat KPS menentang figur otoritasnya, sering marah dan menyalahkan orang lain.
Gambaran Konsep Diri Istri Pecandu Narkotika Sari, Ni Made Kristi Dwinitha; Budisetyani, I Gusti Ayu Putu Wulan
Jurnal Psikologi Udayana Vol 7 No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2020.v07.i02.p03

Abstract

Pada tahun 2015 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mendata bahwa terjadi 200 ribu kasus perceraian per tahun. Suami yang dalam pengaruh alkohol atau narkotika menjadi salah satu pemicu terjadinya perceraian. Keberhasilan maupun kegagalan seseorang istri menghadapi suami pecandu narkotika berkaitan dengan konsep diri istri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran konsep diri serta faktor-faktor yang memengaruhi konsep diri istri pecandu sehingga mampu bertahan dalam pernikahannya. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Responden pada penelitian ini sebanyak satu orang istri seorang pecandu narkotika yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep diri responden cenderung positif karena telah memenuhi lima dari enam ciri-ciri konsep diri positif, yakni mengenal dirinya dengan baik, dapat memahami dan menerima sejumlah fakta yang beragam tentang dirinya sendiri, merancang tujuan-tujuan yang sesuai dengan realitas, mampu menghadapi masa depan serta menganggap hidup adalah proses penemuan. Konsep diri responden terdiri dari beberapa aspek, antara lain aspek fisiologis, aspek psikologis, aspek psiko-sosial, aspek psiko-spiritual, serta aspek psiko-etika dan moral. Hasil selanjutnya menunjukkan bahwa konsep diri responden dipengaruhi oleh faktor kemampuan dan penampilan fisik, faktor keluarga, faktor kelompok sebaya, dan faktor peranan harga diri.
Gambaran motivasi mantan pecandu narkotika yang bekerja sebagai konselor rehabilitasi narkotika Wulandari, I Gusti Ayu Ratih; Budisetyani, I Gusti Ayu Putu Wulan
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.511 KB)

Abstract

Penyalahgunaan narkotika merupakan permasalahan kompleks yang memengaruhi kesehatan fisik, psikis, dan psikososial dari penggunanya. Jumlah penyalahguna narkotika di Indonesia tahun 2017 mencapai 3,5 juta orang dan hampir 1 juta orang telah menjadi pecandu narkotika. Terbebas dari jerat narkotika bukan hal yang mudah. Individu dapat pulih dari narkotika, meskipun pemulihan berlangsung seumur hidup. Stigma negatif pada mantan pecandu narkotika membuat individu yang telah pulih kesulitan mendapatkan pekerjaan. Badan Narkotika Nasional (BNN) mengajak individu yang telah pulih dari ketergantungan narkotika untuk bekerja sebagai konselor rehabilitasi narkotika. Individu bekerja dipengaruhi oleh motivasi dengan tujuan memenuhi kebutuhannya. Mantan pecandu narkotika perlu mendapatkan dukungan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis hingga kebutuhan psikologis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran motivasi mantan pecandu narkotika yang bekerja sebagai konselor rehabilitasi narkotika dengan menggunakan metode kualitatif pendekatan studi kasus. Responden pada penelitian ini adalah satu orang mantan pecandu narkotika yang saat ini bekerja sebagai konselor rehabilitasi narkotika dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi. Hasil penelitian diketahui bahwa kebutuhan yang telah dipenuhi responden saat ini yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan cinta dan harga diri. Motivasi utama responden bekerja sebagai konselor rehabilitasi narkotika saat ini adalah untuk pemenuhan kebutuhan harga diri yang terdiri atas kepercayaan diri. Kepercayaan dan harga diri diperoleh karena dapat menjalankan pekerjaan yang bermakna, dapat pulih dari ketergantungan narkotika, dan dapat melakukan penerimaan terhadap diri.
Terapi Remedial Untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Dan Menyimak Pada Anak Dengan Disabilitas Intelektua Diyantari, Putu Ayu; Budisetyani, I Gusti Ayu Putu Wulan
Jurnal Psikologi Udayana Vol 3 No 1 (2016)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.862 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2016.v03.i01.p07

Abstract

The children with intellectual disability have characteristics, such as significant disability in functioning whether it is intellectually or adaptively which is realised through the ability of conceptual, social, and practice. This situation appears before the age of 18 yeears old.In educational level as Elementary School, children are often emphasized in order to have reading ability. If children in early educational level do not have reading ability, they will have difficulties in learning such kinds of subject on next level. Other than obtaining the reading practice at school, children also obtain such lesson as gathering a story. In this case, children should be able to comprehend the story, memorize the character of the story, and comprehend the background and plot of the story. The activities of reading and gathering a story for children who are classified into intellectual disability will have more difficulties rather than those children who do not have disabilities and have education in regular school. The researcher design the modification program for those children like this which is known by remedial therapy. Remedial therapy is a healing or improvement effort, an enhancement of someone’s intellectual to be normal or near normal (Mangunsong, 2009).This research was quantitative research which used Wilcoxon analysis. The data were collected through experiment method with pre-experiment design. The technique used to obtain the sample was purposive sampling. The subject of this research were the children who have intellectual disability, in amount of three children. The result of this research showed that the probability of reading ability was 0.028 (p)<0.05, while the probability of gathering a story was 0.027 (p)<0.05. It means that there were effects of remedial therapy toward reading ability and gathering a story on children’s intellectual disability.Key words: Remedial Therapy, The Abilities of Reading and Gathering a Story, Intellectual Disability.
Penerimaan ibu terhadap kondisi anak down syndrome Paramita, Kadek Pradnya; Budisetyani, I Gusti Ayu Putu Wulan
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Down syndrome merupakan merupakan suatu kumpulan gejala dari abnormalitas kromosom, biasanya kromosom 21 yang tidak dapat memisahkan diri selama periode pembelahan sel (meiosis) sehingga anak akan mempunyai kromosom 21 yang berlebih atau sering disebut dengan trisomi 21. Penerimaan ibu penting karena berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak agar lebih maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana proses ibu menerima bahwa telah melahirkan anak down syndrome. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Responden dalam penelitian ini adalah seorang ibu yang memiliki anak down syndrome yang berjenis kelamin laki-laki dan merupakan anak laki-laki satu-satunya dikeluraga. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa proses menuju penerimaan yang dialami oleh ibu dengan anak down syndrome yaitu shock (terkejut), menyangkal (denial), anger (perasaan marah), bargaining (tawar-menawar), depresi, dan penerimaan diri (acceptance). Gambaran penerimaan ibu terhadap kondisi anak diantaranya mampu menerima anaknya secara utuh, membimbing anak menjadi lebih mandiri, dan mengarahkan anak pada potensi yang dimiliki. Faktor yang mendukung penerimaan ibu yaitu dukungan pasangan, kesadaran akan karma, religiusitas, merasa tidak berjuang sendirian, dan menyadari usia ibu merupakan salah satu faktor penyebab down syndrome.