Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Dari Mitos ke Metaverse: Digitalisasi Aset Ekologis-Spiritual Hutan Adat sebagai Model Ekonomi Konservasi Lintas Iman di Indonesia (Studi Kasus Komparatif: Sumatera Utara, Yogyakarta, Kalimantan, dan Bali) Suheri Harahap; Zulkarnain Zulkarnain
AL-HIKMAH:Jurnal Theosofi dan Peradaban Islam Vol 8, No 1 (2026): AL-HIKMAH : Jurnal Theosofi dan Peradaban Islam
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/alhikmah.v8i1.29651

Abstract

Customary forests in Indonesia serve not only ecological functions but also embody the spiritual values, cultural heritage, and collective identity of indigenous communities. In regions such as North Sumatra, Yogyakarta, Kalimantan, and Bali, these forests are regarded as sacred spaces preserved through myths, rituals, and time-honored customary rules. However, modernization, industrial expansion, and the lack of cultural digitization pose serious threats to their continued existence. This study aims to analyze the transformation of the ecological-spiritual values of customary forests into a digital-based conservation economy model, utilizing the metaverse and digital technologies. A qualitative research method was employed, involving a literature review and a comparative analysis of several indigenous territories in Indonesia. The findings indicate that digitizing cultural and ecological assets can serve as a modern conservation tool, bridging traditional values with the digital creative economy. The metaverse offers the potential to create a virtual space that sustainably represents customary forests, cultural rituals, environmental education, and interfaith spiritual tourism. Beyond strengthening local cultural identity, this approach creates new economic opportunities through digital ecotourism, cultural NFTs, and virtual educational platforms. The study underscores that integrating local traditions with digital technology can establish a future conservation model that is inclusive, sustainable, and adaptable to global developments.
Restorasi Tujuan Al Washliyah: Perspektif Sejarah dan Politik Muhammad Akbar Al Fikri Harahap; Hasyimsyah Nasution; Zulkarnain Zulkarnain
Mesada: Journal of Innovative Research Vol. 3 No. 2 (2026): July-December
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/t9pmqa70

Abstract

Penelitian ini menganalisis restorasi tujuan Al Jam’iyatul Washliyah dalam perspektif sejarah dan politik sebagai upaya meneguhkan kembali nilai-nilai dasar organisasi di tengah perubahan sosial, politik, dan perkembangan zaman. Penelitian bertujuan untuk menjelaskan konstruksi tujuan Al Washliyah sejak berdiri pada 30 November 1930, mengidentifikasi faktor sejarah dan politik yang memengaruhi dinamika tujuan organisasi, serta mendeskripsikan pandangan pimpinan, tokoh, senior, alumni, dan kader terhadap proses restorasi tersebut. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sejarah dan politik. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi kepustakaan, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa restorasi tujuan Al Washliyah tidak dimaknai sebagai perubahan terhadap tujuan dasar organisasi, melainkan sebagai proses peneguhan dan aktualisasi kembali nilai-nilai yang dirumuskan para pendiri. Restorasi diwujudkan melalui penguatan identitas organisasi, kaderisasi, pendidikan, dakwah, amal sosial, persatuan umat, serta internalisasi Shibghah, Wijhah, Khittah, dan prinsip Wasathiyah. Dinamika sejarah, perubahan politik, perkembangan sosial, globalisasi, dan kemajuan teknologi mendorong organisasi menyesuaikan strategi perjuangan tanpa mengubah orientasi dasarnya. Temuan ini menegaskan bahwa keberlanjutan Al Washliyah bergantung pada kemampuannya menjaga kesinambungan antara warisan historis dan kebutuhan kontemporer. Penelitian ini berkontribusi pada kajian sejarah organisasi Islam dan pemikiran politik Islam, serta memberikan rekomendasi bagi Al Washliyah untuk memperkuat identitas, arah perjuangan, independensi, dan perannya sebagai organisasi Islam yang moderat, adaptif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat serta bangsa. Secara praktis, restorasi tersebut menuntut konsistensi antara tujuan normatif, program organisasi, kualitas kader, dan respons terhadap perubahan politik agar Al Washliyah relevan tanpa kehilangan karakter keislaman serta orientasi kebangsaannya secara berkelanjutan.
Filsafat Esoteris Dan Rasionalitas: Titik Temu Spiritualitas Dan Pluralisme Agama Zulkarnain Zulkarnain; Amroeni Drajat; Elly Warnisah Harahap
Jurnal Ilmiah Muqoddimah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hummaniora Vol 10, No 3 (2026): Agustus 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jim.v10i3.2026.2299-2307

Abstract

Spiritualitas merupakan dimensi batin pencarian makna hidup, sementara pluralisme agama adalah pengakuan heterogenitas keyakinan dalam masyarakat multikultural. Keduanya menjadi piranti elementer penyatuan persepsi bersama tatanan harmonisasi kehidupan sosial, meski dihadapkan pada sikap intoleran, terutuma di Indonesia yang sangat majemuk. Penelitian ini mencoba mengungkap titik temu antara spiritualitas dan pluralism agama dalam satu bingkai keberagaman menuju sikap tasamuh, sejauhmana koherensi di antara keduanya dan apa yang menjadi indikator kesamaan dan perbedaannya. Dengan metode kualitatif dan penelitian pustaka, dilakukan studi komparatif terhadap gagasan beberapa sejarawan, teolog, dan pemikir Islam tentang teori-teori spiritualitas dan pluralism agama, bagaimana keduanya dapat mempengaruhi prilaku sosial masyarakat. Hasilnya ditemukan hubungan simbiotik spiritualitas dan pluralisme agama, terutama terletak pada aspek esoteris. Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa perbedaan antara spiritualitas dan pluralism agama terletak pada aspek eksternal (eksoteris) prilaku umum manusia, namun tetap membawa pengaruh positif bagi tatanan kehidupan yang harmonis.