Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

The Concept of Memayu Hayuning Bawana Perspective of Marcus Aurelius: A Descriptive Analysis Study Nur Muhammad Khoirul Umam; Muhlas
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol. 6 No. 3 (2023)
Publisher : Perkumpulan Dosen Fakultas Agama Islam Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afkarjournal.v6i3.591

Abstract

It has become an unavoidable thing that modernization also brings negative effects. As a result, westernized behavior, moral decadence and spiritual dryness appear to be increasingly widespread. This needs a way as an antidote to this. One way is to return to the principles of life that are used as a form of local wisdom. The principle of life is Memayu Hayuning Bawana. This Javanese philosophy has a deep meaning that directs humans to their main goal, namely obtaining true happiness. In this study, the philosophical concept of Memayu Hayuning Bawana will be studied through the perspective of a Stoicist figure, Marcus Aurelius. This research is a type of qualitative research with descriptive analysis. There are two types of research data sources, namely primary and secondary. The data collection method is literature research which can be interpreted as an activity to search for relevant themes using several materials such as books, theses, dissertations, articles and so on. After that, the data was analyzed using the model from Miles and Huberman namely reduction, data display, and conclusion. The results of this study indicate that the concept of meayu hayuning bawana is an attempt by the Javanese to protect, care for and beautify life. These efforts can be centered on three values, namely the relationship between humans and nature, God and humans. When the three values ​​are aligned, the peak that will be achieved is a life that is safe and happy in essence.
Nilai-Nilai Toleransi dalam Pendidikan Sepanjang Hayat di Masyarakat Lokal Bandung Barat Muhlas Muhlas; Parida Napilah
Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 11 No. 01 (2022): Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/ei.v11i01.2176

Abstract

Semua agama yang ada dimuka bumi ini mengajarkan tentang kebaikan, tidak ada yang mengajarkan untuk melakukan kerusakan atau kejahatan. Demikian juga mengenai hidup yang rukun damai, hidup yang berdampingan dengan agama lain atau lebih dikenal dengan sikap toleransi. Toleransi merupakan sikap mengakui, membiarkan dan menghormati keyakinan orang lain tanpa perlu persetujuan. Hal ini juga terjadi kepada masyarakat Kampung Sukamantri Desa Lembang Kecamatan Lembang, yang mana masyarakat tersebut memiliki sikap toleransi yang tinggi terhadap menyikapi perbedaan keyakinan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman masyarakat terkait dengan konsep toleran dan intoleran, yang mana masyarakat Kampung Sukamantri ini menganut berbagai ragam keyakinan yang dianut oleh masyarakat. Sehingga penulis berharap penelitian ini dapat menambah wawasan serta pengetahuan tentang toleransi dan intoleransi dalam beragama.Dalam hal ini langka-langkah yang ditempuh oleh penulis yaitu observasi dan wawancara (interview). Selanjutnya melalui studi pustaka yaitu buku-buku atau jurnal-jurnal yang berhubungan dengan masalah yang penulis teliti.Dari hasil analisa yang dilakukan maka diperoleh kesimpulan bahwa masyarakat Kampung Sukamantri memiliki pemahaman yang cukup tinggi terkait dengan konsep toleransi dalam beragama. Pemahaman itu mereka tuangkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga toleransi antara umat beragama terjalin dengan baik. Dalam hal ini masyarakat Kampung Sukamantri tidak mempermasalahkan adanya perbedaan keyakinan, mereka berdampingan hidup rukun dan menghormati satu sama lain. Adapun bentuk-bentuk intoleransi pernah terjadi seperti keberatan berdirinya tempat ibadah penganut agama lain dan juga merasa terganggu dengan suara keras saat berlangsungnya kegiatan penganut agama lain. Tetapi hal itu bisa diatasi sehingga tidak menimbulkan konflik yang berkepanjangan.Â