Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Evaluasi Pengangkatan Cutting pada Trayek 17 ½ inch dengan Metode CTR CCA dan CCI pada Sumur KS Lapangan BW Karen Sherly Bella Walangitan; Abdul Hamid; Apriandi Rizkina Rangga Wastu
PETRO: Jurnal Ilmiah Teknik Perminyakan Vol. 9 No. 2 (2020): JUNI
Publisher : Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (775.922 KB) | DOI: 10.25105/petro.v9i2.7097

Abstract

Lumpur pemboran atau drilling fluid merupakan salah satu parameter yang dapat mempengaruhi kesuksesan dari kegiatan pemboran. Pengangkatan cutting oleh lumpur pemboran yang optimal akan menghasilkan pemboran yang efisien dan terhindar dari permasalahan yang merugikan. Pada tugas akhir ini, dilakukan evaluasi kemampuan pengangkatan cutting oleh lumpur pemboran yang digunakan di sumur KS lapangan BW pada pemboran trayek 17 ½ inch dengan menggunakan lumpur pemboran KCl Polimer serta melihat pengaruh perubahan sifat fisik dan rate pemompaan terhadap pengangkatan cutting.            Metode yang digunakan dalam evaluasi ini yaitu Cutting Transport Ratio (CTR) Cutting Capacity Annulus (CCA) dan Cutting Carrying Index (CCI) dengan kriteria keberhasilannya dengan melihat nilai yang didapatkan Cutting Transport Ratio (CTR)> 90%, Cutting Capacity Annulus (CCA) < 5% dan Cutting Carrying Index (CCI) >1. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan dari pengangkatan cutting ini adalah rheology lumpur yang digunakan, kecepatan fluida di annulus, konsentrasi cutting dan rate pemompaan yang diberikan.            Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan pada trayek 17 ½ inch dengan data lapangan yang digunakan maka didapatkan nilai Cutting Transport Ratio secara keseluruhan (CTR) rata – rata di atas 90%, nilai Cutting Capacity Annulus (CCA)  1,8-3,5 %, dan nilai Cutting Carrying Index (CCI) 1,3 – 3,6. Berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan, nilai yang didapatkan memenuhi kriteria pengangkatan cutting yang baik, maka pengangkatan cutting pada sumur KS lapangan BW trayek 17 ½ inch optimal dan tidak mengindikasikan terjadi pengendapan cutting. Selain itu, didapatkan bahwa sifat fisik dari lumpur yang digunakan seperti Yield Point mempengaruhi keberhasilan pengangkatan cutting dimana nilai yield point pada lumpur dapat mengangkat cutting, flowrate yang diberikan juga berpengaruh terhadap kemampuan pengangkatan cutting dimana nilai flowrate yang rendah dapat membuat cutting tidak terangkat dan terjadi pengendapan cutting didasar lubang.
Cutting Evaluation of HPWBM Drilling Mud Using CCI, CTR, and CCA Method at 17 ½ inch Hole in Directional Well G, Field S. Gilbert Sunaryo; Abdul Hamid; Apriandi Rizkina Rangga Wastu
Journal of Earth Energy Science, Engineering, and Technology Vol. 5 No. 2 (2022): JEESET VOL. 5 NO. 2 2022
Publisher : Penerbitan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.197 KB) | DOI: 10.25105/jeeset.v5i2.9760

Abstract

Quantitative analysis of cutting removal used in this study uses three methods, namely Cutting Carry Index, Cutting Transport Ratio, and Cutting Concentration in Annulus. This method is used to determine whether the composition of the mud used is maximal or not, starting from the maximum content of solids that can be carried in 1 gal to the viscosity and also the flow pattern of the fluid in order to successfully bring the cutting to the surface. Where these three methods have standardization to determine the cutting can be lifted, including for the cutting carry index method the value must be more than 1, for the cutting transport ratio the value must be greater than 50%, and for cutting concentration in annulus the value must be less than 5%. After analyzing the lifting using the three methods above, it can be seen the parameters in the successful removal of the cutting. These parameters include the physical properties of the fluid which includes the value of density, plastic viscosity, and also the yield point, while other parameters such as drill bit speed, mudflow velocity, cutting diameter are also important parameters in a successful borehole lifting. From the observations of this study, we can conclude that the use of mud in well G field S has been running optimally. The calculation of cutting lift has met the standardization limits. This study also carried out sensitivity analysis as a source of future literature, so that sensitivity analysis parameters can be used if you want to do a well development. This study shows an analysis of cutting lift on a 17.5 inch Route at a depth of 825ft - 2581ft, with an average drilling slope of 4 degrees per 100 ft.
Hydraulic Evaluation on 17 ½ inch Hole in Directional Well Y-1, Field Y Using BHHP Method Apriandi Rizkina Rangga Wastu; Henry David Young; Lilik Zabidi; Suryo Prakoso
Journal of Earth Energy Science, Engineering, and Technology Vol. 5 No. 3 (2022): JEESET VOL. 5 NO. 3 2022
Publisher : Penerbitan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/jeeset.v5i3.9762

Abstract

The evaluation of hydraulics carried out in a trajectory namely 17 ½ inches provides an overview of the hydraulic problems that occur with less-than-optimal pressure in the bit because it is less than the minimum percentage value that should be. which is less than 50%. it is affected by factors such as flow rate. mud weight. the rheology of the mud used and pressure loss both in the surface and sub-surface such as bit. pipe and annulus. So, optimization with the BHHP (Bit Hydraulic Horse Power) method becomes the next step to be taken in order for the drilling operation can perform better. It has been found from the optimization results that the CTR (Cutting Transport Ratio) method is a cutting analysis method that demonstrates the correct performance of the cutting transport process if the minimum percentage of 50% or higher is met. In addition, this method also takes the angle of inclination of a directional well Y-1 into one of the considerations. On the first trajectory. 17 ½ inch hole (1338.58 – 3166.01 ft) the pressure in the bit increased from around 22.83% to 31.14% at the initial condition to 56.20% until 56.59% with cutting transport results after being optimized up to 99%. The use of the BHHP (Bit Hydraulic Horse Power) method to optimize drilling hydraulics in the directional well is said to be successful because it produces an optimization value that is greater than the minimum standard which is 50%. Furthermore, the CTR (Cutting Transport Ratio) method to analyze the transport of cuttings to the surface has been running well showing the results that the cuttings have been successfully transported to the surface. Therefore, this method can be said to be successful with the acquisition of a value percentage above 50%.
PENGARUH PENAMBAHAN BUBUK KULIT PISANG TERHADAP FILTRATION LOSS DAN MUD CAKE PADA LUMPUR BERBAHAN DASAR AIR TAWAR UNTUK TEMPERATUR 80oF DAN 200oF Ghanima Yasmaniar; Apriandi Rizkina Rangga Wastu; Ridha Husla; Widia Yanti; Reinaldi
PETRO: Jurnal Ilmiah Teknik Perminyakan Vol. 12 No. 2 (2023): JUNI
Publisher : Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/petro.v12i2.16729

Abstract

Sifat fisik lumpur pemboran sangat berpengaruh terhadap sirkulasi pemboran. Penggunaan komposisi pada lumpur pemboran selama ini banyak menggunakan polimer yang mengandung bahan kimia, maka dari itu diperlukan komposisi pada lumpur pemboran yang berasal dari bahan alami. Tujuan: Pada penelitian ini dilakukan pembuatan lumpur pemboran yang berasal dari kulit pisang ambon. Selanjutnya dilihat dampak dari setiap penambahan pada bubuk kulit pisang tersebut terhadap sifat fisik filtration loss dan mud cake pada dua titik temperatur. Metodologi dan Hasil: Penggunaan bubuk kulit pisang pada penelitian ini dikonsentrasikan pada sampel 2 gram, 4 gram, 6 gram, 8 gram dan akan ditentukan pada konsentrasi mana yang paling optimal. Kemudian diuji untuk melihat nilai perubahan pada filtration loss dan mud cake pada sampel tersebut. Pada penelitian ini menggunakan dua faktor temperatur 80oF dan 200oF, untuk melihat perubahan pada lumpur tersebut pada setiap sampel yang digunakan. Nilai dari filtration loss pada temperatur 80oF yaitu 16 ml/30 menit, 15 ml/30 menit, 14 ml/30 menit, 13,5 ml/30 menit, dan pada temperatur 200oF didapatkan nilai sebesar 6,5 ml/30 menit, 5,5 ml/30 menit, 5,3 ml/30 menit, 5,2 ml/30 menit. Pada temperatur 80oF nilai mudcake yang didapatkan sebesar 1,3 mm, 1 mm, 0,8 mm, 0,6 mm, dan untuk temperatur 200oF nilai mudcake yaitu 0,8 mm, 0,6 mm, 0,3 mm dan 0,2 mm. Kesimpulan: Kenaikan temperatur menyebabkan nilai filtration loss menurun dikarenakan kandungan air di dalam filtrat ikut menguap. Selain itu, semakin tinggi nilai filtration loss maka semakin tebal nilai dari mudcake dikarenakan banyaknya partikel yang mengendap.
ANALISIS PENGGUNAAN 6 GRAM KULIT JERUK BALI SEBAGAI ADITIF PADA LUMPUR PEMBORAN TERHADAP FILTRATION LOSS DAN RHEOLOGY Abiyyu Adinegoro; Apriandi Rizkina Rangga Wastu; Arinda Ristawati
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 4 No. 2 (2025): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/

Abstract

Penelitian ini untuk melihat potensi besar kulit jeruk bali (Citrus maxima) sebagai additive alami yang ramah lingkungan dengan cara dicampurkan pada lumpur pemboran. Hasil pengujian filtration loss menunjukkan data bahwa penambahan kulit jeruk bali secara efektif menurunkan volume kehilangan filtrat pada lumpur pemboran, dengan peningkatan efektivitas seiring dengan peningkatan konsentrasi additive.Dapat dilihat data dengan sampel yang mengandung kulit jeruk bali berubah secara signifikan, sampel dengan 6 gram kulit jeruk bali mencatat penurunan filtration loss paling baik, mencapai 8 ml pada 80°F dan 7 ml pada 200°F, nilai yang konsisten dengan standar API 13 A1. Menariknya, filtration loss juga diamati berkurang seiring dengan peningkatan suhu. Mekanisme di balik pengurangan filtration loss ini melibatkan peran kandungan pektin dalam kulit jeruk bali yang meningkatkan viskositas lumpur sehingga dapat terjadi pembentukan lapisan pelindung (mud cake) yang lebih efisien. Selain itu, sifat penyerapan air kulit jeruk bali membantu mengurangi filtration loss dalam lumpur. Lebih jauh, kulit jeruk bali terbukti meningkatkan nilai reologi lumpur, memperbaiki kemampuan suspensi, dan stabilitasnya secara keseluruhan. Pemanfaatan kulit jeruk bali menawarkan solusi berkelanjutan dan ramah lingkungan untuk mengelola filtration loss dan meningkatkan sifat reologi lumpur, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan kimia berbahaya. Ini membuka pengetahuan dalam optimasi formulasi lumpur pemboran di masa depan.     This research explores the significant potential of pomelo orange peel (Citrus maxima) as an environmentally friendly natural additive for drilling mud. Filtration loss tests demonstrate that adding pomelo orange peel effectively reduces filtrate loss volume in drilling mud, with its effectiveness increasing proportionally to the additive's concentration. The data clearly shows a significant change in samples containing pomelo orange peel. The sample with 6 grams of pomelo orange peel recorded the best reduction in filtration loss, reaching 8 ml at 80°F and 7 ml at 200°F, values consistent with API 13 A1 standards. Interestingly, filtration loss was also observed to decrease with increasing temperature. The mechanism behind this reduction in filtration loss involves the pectin content in pomelo orange peel, which increases mud viscosity. This enhanced viscosity facilitates the formation of a more efficient protective layer, or mud cake. Furthermore, the water absorption properties of pomelo orange peel help reduce filtration loss in the mud. Beyond this, pomelo orange peel also proved to improve the mud's rheological values, enhancing its suspension capabilities and overall stability. Ultimately, utilizing pomelo orange peel offers a sustainable and environmentally friendly solution for managing filtration loss and improving the rheological properties of drilling mud. It simultaneously reduces reliance on hazardous chemicals, opening new avenues for optimizing drilling mud formulations in the future.
PENGARUH PENAMBAHAN ADDITIVE KULIT ARI KACANG KEDELAI TERHADAP FILTRATION LOSS PADA WATERBASED MUD DI TEMPERATUR 200℉: Effect of Soybean Hull Additive on the Filtration Loss of Waterbased Drilling Mud at 200℉ Rifky Saputra; Apriandi Rizkina Rangga Wastu; Marmora Titi Malinda
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 5 No. 1 (2026): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/

Abstract

ABSTRAK Komposisi serta sifat fisik lumpur pemboran merupakan parameter penting yang sangat memengaruhi keberhasilan dan efisiensi dalam operasi pemboran. Pada penelitian ini, dilakukan pengujian terhadap filtration loss, mud cake dan pH di laboratorium dengan menggunakan data lumpur pemboran yang telah digunakan pada sumur BL lapangan BCK. Tujuan dilakukannya penelitian untuk mengetahui apakah kulit ari kacang kedelai dapat digunakan sebagai additive lumpur pemboran untuk mencegah terjadinya kehilangan fasa cair pada lumpur pemboran di temperatur 200℉ . Penelitian diawali dengan menghaluskan kulit ari kacang kedelai dengan menggunakan food processor hingga menjadi bubuk. Setelah menjadi bubuk, kulit ari kacang kedelai akan dijadikan objek penelitian yang akan digunakan untuk membuat sampel dengan komposisi 0, 2, 4, 6, dan 8 gram. Kemudian dilakukan pengujian terhadap, filtration loss, mud cake dan pH. Setelah dilakukan penelitian didapatkan hasil sebagai berikut, nilai filtration loss yang didapatkan sebesar 19 – 10 ml, kemudian untuk nilai mud cake yang didapatkan sebesar 8 – 4 mm, dan pH yang didapatkan bernilai 9 pada seluruh sampel yang telah diuji. Perubahan nilai filtration loss, mud cake dan pH tersebut dipengaruhi oleh kandungan selulosa sebesar 54% pada kulit ari kacang kedelai, dimana selulosa tersebut akan membentuk ikatan antar molekul yang dapat mencegah terjadinya kehilangan fasa cair pada lumpur pemboran serta mempengaruhi tebalnya mud cake yang terbentuk. Berdasarkan data rekomendasi lumpur sumur BL lapangan BCK sampel 8 gram merupakan sampel yang paling sesuai dan dapat dipertimbangkan untuk digunakan sebagai lumpur pemboran. ABSTRACT The composition and physical properties of drilling mud are critical parameters that significantly impact the success and efficiency of drilling operations. This study focuses on evaluating the filtration loss, mud cake thickness, and pH of drilling mud using data from the BL well in the BCK field. The research aimed to determine whether soybean seed coat can be utilized as an additive to reduce fluid phase loss in drilling mud at a temperature of 200℉. The study began by grinding the soybean seed coat into a fine powder using a food processor. The powdered material was then used to prepare drilling mud samples with additive concentrations of 0, 2, 4, 6, and 8 grams. Laboratory tests were conducted to analyze filtration loss, mud cake thickness, and pH. The results showed that filtration loss ranged from 19 - 10 mL, mud cake thickness from 8 - 4 mm, and pH remained stable at 9 across all samples. These changes were influenced by the 54% cellulose content in the soybean seed coat, which contributes to molecular bonding that helps minimize fluid loss and affects the thickness of the mud cake. Based on the recommended mud properties for the BL well, the 8-gram sample demonstrated the most optimal performance and is considered suitable for use in drilling mud formulations.
ANALISA DENSITAS FLUIDA PENGEBORAN TERHADAP PENGGUNAAN METODE AERATED DRILLING PADA TRAYEK 12 ¼ SUMUR RN-1 LAPANGAN HM: Analysis of Drilling Fluid Density on The Use Of Aerated Drilling Method on 12 ¼ Section RN-1 Well in HM Field Riva Naruritta Putri; Onnie Ridaliani Prapansya; Apriandi Rizkina Rangga Wastu
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 5 No. 1 (2026): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/

Abstract

ABSTRAK Pengeboran sumur geothermal di daerah pegunungan atau dataran tinggi sering mengalami kendala berupa lost circulation akibat banyaknya rekahan pada batuan beku. Kondisi ini menyebakan fluida pengeboran hilang ke formasi, sehingga mengganggu kelancaran operasi pengeboran dan menurunkan efisiensi kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan metode aerated drilling dalam menurunkan atau mengurangi densitas fluida pengeboran guna mengatasi permasalahan berupa lost circulation yang ada pada sumur RN-1. Metode aerated drilling merupakan teknik pengeboran yang menggunakan lumpur pengeboran yang dicampur dengan gas bertekanan sehingga menghasilkan penurunan densitas fluida pengeboran aerasi dan proses ini bertujuan untuk mengurangi tekanan hidrostatik. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini mencakup analisis kuantitatif. Analisis kuantitatif dilakukan dengan melakukan perhitungan profil densitas fluida menggunakan metode Guo-Ghalambor. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan fluida aerasi menghasilkan nilai Equivalent Circulating Density (ECD) berkisar antara 6,65 hingga 4,99 ppg, yang relatif lebih tinggi dibandingkan Equivalent Mud Weight (EMW) dari fluida konvensional yang berkisar antara 6,22 hingga 4,32 ppg. Meskipun ECD aerasi lebih tinggi, hasil ini tetap menunjukkan bahwa metode aerated drilling mampu mengurangi tekanan hidrostatis fluida secara keseluruhan dan dapat meminimalkan risiko loss circulation. ABSTRACT Geothermal well drilling in mountainous or highland areas often faces obstacles in the form of circulation loss due to numerous fractures in igneous rocks. This condition causes drilling fluid to be lost to the formation, thereby disrupting the smooth running of drilling operations and reducing work efficiency. This study aims to evaluate the application of gas-pressurized drilling methods to reduce drilling fluid density and address circulation loss issues in the RN-1 well. Foam drilling is a drilling technique that uses drilling mud mixed with pressurized gas to reduce the density of foam drilling fluid, thereby reducing hydrostatic pressure. The approach used in this study includes quantitative analysis. Quantitative analysis was performed by calculating the fluid density profile using the Guo-Ghalambor method. The analysis results show that the use of foamed fluid produces an Equivalent Circulating Density (ECD) value ranging from 6.65 to 4.99 ppg, which is relatively higher than the Equivalent Mud Weight (EMW) of conventional fluid ranging from 6.22 to 4.32 ppg. Although the oxygenated ECD is higher, these results still indicate that the oxygenated drilling method is capable of reducing the total hydrostatic pressure of the fluid and minimizing the risk of circulation loss.