Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Merawat Kerukunan di Desa Cikawungading, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat Miharja, Deni; Hernawan, Wawan
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol 7 No 2 (2017): September
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.394 KB)

Abstract

There is a relationship among religion, social and environmental conditions as a place of settlement of a society. This is a hypothesis of caring for harmony in Cikawungading Village. Through this hypothesis, the social environment has a significant influence on the form of the relationship. The process of social transformation is possible so that needed to maintain harmony, because in this village there were attacks and burning on 36 houses, 2 churches and a wood processing factory, with a total of 181 refugees. The focus of this study is to find out the characteristics of the Cikawungading Village community's diversity and the efforts that must be carried out by government agencies, institutions under the Ministry of Religion, and Universities in providing assistance and understanding about the importance of harmonious living in the conditions of pluralistic and multi-religious communities. To answer this problem, researchers used Quintan Wiktorowicz's social movement theory with a multidisciplinary approaches. The results showed, firstly, the community in Cikawungading village have now lived in harmony with each other. They have accustomed to mutual understanding in worship, giving each other help, and not disturbing each other. Secondly, the concern of government agencies, institutions under the Ministry of Religion, and Higher Education is expected to be present in their midst. The expected form of attendance is the training, especially in the momentum of religious holidays and activities to increase community income.   [Hubungan antara agama dengan kondisi sosial dan lingkungan sebagai tempat bermukimnya suatu masyarakat merupakan hipotesis dari merawat kerukunan di Desa Cikawungading. Melalui hipotesis ini, penelitian lingkungan sosial memiliki pengaruh signifikan terhadap bentuk hubungan tersebut. Proses transformasi sosial dimungkinkan terjadi sehingga perlu merawat kerukunan, karena di desa ini pada tahun 2001 telah terjadi penyerangan dan pembakaran terhadap 36 rumah penduduk, 2 gereja, dan sebuah pabrik pengolahan kayu, dengan jumlah pengungsi secara keseluruhan mencapai 181 jiwa. Fokus dari kajian ini adalah ingin mengetahui karakteristik keberagamaan masyarakat Desa Cikawungading dan upaya yang harus dilakukan instansi pemerintah, lembaga-lembaga di bawah Kementerian Agama, maupun Perguruan Tinggi dalam melakukan pendampingan dan pemberian pemahaman tentang pentingnya hidup rukun dalam kondisi masyarakat yang majemuk dan multi religi. Untuk menjawab masalah tersebut, peneliti menggunakan teori gerakan sosial dari Quintan Wiktorowicz dengan pendekatan multidisipliner. Hasil penelitian menunjukkan, pertama, masyarakat di Desa Cikawungading kini telah hidup rukun satu dengan lainnya. Mereka sudah terbiasa saling pengertian dalam ibadah, saling memberi bantuan, serta tidak saling mengganggu. Kedua, kepedulian instansi pemerintah, lembaga-lembaga di bawah Kementerian Agama, maupun Perguruan Tinggi sangat diharapkan untuk hadir di tengah-tengah mereka. Bentuk kehadiran yang diharapkan, terutama dalam momentum kegiatan Peringatan Hari Besar Keagamaan dan kegiatan peningkatan pendapatan masyarakat adalah melalui pelatihan.    
Peningkatan Kualitas Penelitian berbasis Output dan Outcome pada PTKIN Miharja, Deni; Sumirah, Encum; Putri, Nasywa Syahida
Jurnal Perspektif Vol 8, No 2 (2024): Jurnal Perspektif: Volume 8 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jp.v8i2.308

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis upaya peningkatan kualitas penelitian berbasis output dan outcome di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dengan studi kasus pada UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua institusi memiliki komitmen kuat dalam meningkatkan kualitas penelitian melalui penyediaan infrastruktur, pelatihan dosen, serta kolaborasi dengan institusi dalam dan luar negeri. Namun, hambatan utama yang dihadapi adalah kompleksitas administratif dan akses yang terbatas terhadap dana penelitian. Penelitian ini berkontribusi dengan menawarkan pendekatan strategis untuk mengatasi hambatan tersebut, termasuk penyederhanaan proses administratif dan penguatan sinergi antar institusi. Temuan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi PTKIN dalam mengembangkan kebijakan yang lebih efektif untuk meningkatkan dampak penelitian bagi masyarakat
Peningkatan Kualitas Penelitian berbasis Output dan Outcome pada PTKIN Miharja, Deni; Sumirah, Encum; Putri, Nasywa Syahida
Jurnal Perspektif Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Perspektif: Volume 8 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jp.v8i2.308

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis upaya peningkatan kualitas penelitian berbasis output dan outcome di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dengan studi kasus pada UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua institusi memiliki komitmen kuat dalam meningkatkan kualitas penelitian melalui penyediaan infrastruktur, pelatihan dosen, serta kolaborasi dengan institusi dalam dan luar negeri. Namun, hambatan utama yang dihadapi adalah kompleksitas administratif dan akses yang terbatas terhadap dana penelitian. Penelitian ini berkontribusi dengan menawarkan pendekatan strategis untuk mengatasi hambatan tersebut, termasuk penyederhanaan proses administratif dan penguatan sinergi antar institusi. Temuan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi PTKIN dalam mengembangkan kebijakan yang lebih efektif untuk meningkatkan dampak penelitian bagi masyarakat
Revisiting Local Regulation of Sukabumi Regency No. 7 of 2015 Concerning the Prohibition of Alcoholic Drinks Miharja, Deni; Ruswanda, Asep Sandi; Ruslan, Idrus
al-'adalah Vol 18 No 2 (2021): Al-'Adalah
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/adalah.v18i2.10133

Abstract

This study discusses the Regional Regulation of Sukabumi Regency Number 11 of 2005 concerning the Control of Alcoholic Beverages and analyzes it through universal human rights principles as stated in the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR). The aim is to examine whether the regulation is in line with basic human rights principles. This research is a case study using a normative approach. Data were obtained from available documents which then are compared one to another. Based on the results of the study, it is found that the Regional Regulation of Sukabumi Regency tends to be discriminatory, in the sense that it only accommodates the interests of certain religious or belief groups and ignores the interests of other religious or belief groups. The results of this study conclude that the Regional Regulation referred to is not following universal human rights principles as stated in the ICCPR and which has also been ratified by the Government of the Republic of Indonesia through Law No. 12 of 2005 concerning freedom of religion or belief. The government should pay more attention to other crucial issues such as education, health, and public welfare, rather than getting lost in unimportant issues.
ADAT, BUDAYA DAN AGAMA LOKAL Studi Gerakan Ajeg Bali Agama Hindu Bali Miharja, Deni
KALAM Vol 7 No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v7i1.444

Abstract

Tulisan ini memfokuskan kajiannya pada gerakan Ajeg pada agama Hindu di Bali. Pada satu sisi Ajeg Bali dipahami sebagai adat masyarakat Hindu Bali sebagai upaya untuk melestarikan nilai dan tradisi leluhurnya agar tidak hilang. Pada sisi lain, Ajeg Bali pun di pahami sebagai sebuah gerakan politik kebudayaan yang muncul ke permukaan sebagai respon orang-orang Bali yang beragama Hindu terhadap berbagai persoalan. Dalam perkembangannya, Ajeg Bali bahkan diyakini sebagai Agama Lokal yang tumbuh dan berkembang dalam tradisi masyarakat Bali.. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemahaman tentang Gerakan Ajeg Bali terpecah menjadi dua bentuk, satu fihak berpaham terhadap artikulasi dan fihak lain berfaham pada disartikulasi. Meski berbeda, keduanya menginginkan nilai-nilai adat tetap terpelihara dan terjaga secara utuh dari pengaruh budaya asing ataupun budaya global. Singkatnya gerakan Ajeg Bali dapat dipandang sebagai latihan intelektual dalam menciptakan simbol-simbol kebudayaan baru secara terus menerus untuk mendefinisikan kembali identitas ke-bali-an orang Bali demi kepentingan kekuasaan.
SISTEM KEPERCAYAAN AWAL MASYARAKAT SUNDA Miharja, Deni
AL-ADYAN Vol 10 No 1 (2015): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ajsla.v10i1.1420

Abstract

Sistem kepercayaan suatu masyarakat terbentuk secara alamiah. Dimana sistem kepercayaan merupakan pedoman hidup yang diyakini oleh suatu masyarakat dalam menjalankan kehidupan sosial keagamaannya. Masyarakat Sunda sebagai sebuah suku bangsa di Indonesia, memiliki sistem kepercayaan awal yang unik dan masih bertahan sampai saat ini. Sistem kepercayaan tersebut sering dikenal dengan istilah Sunda Wiwitan yang sekarang bertahan hidup pada komunitas masyarakat adat Baduy di Kanekes. Namun demikian, fakta historis menunjukkan bahwa masyarakat Sunda dipengaruhi oleh beberapa kebudayaan, diantaranya; pertama, kebudayaan Hindu-Budha yang datang dari anak benua India, kedua, Kebudayaan Islam yang datang dari jazirah Arab, ketiga, kebudayaan Jawa, keempat, kebudayaan Barat yang datang dari benua Eropa, dan kelima, kebudayaan nasional karena Tatar Sunda terintegrasi dan menjadi bagian Negara Republik Indonesia dan kebudayaan global. Walaupun dipengaruhi berbagai kebudayaan luar, masyarakat Sunda memiliki identitas tersendiri, yang melekat pada komunitas masyarakat adat Baduy, termasuk dalam sistem kepercayaannya, yaitu Sunda Wiwitan.
MAKNA RITUAL SESAJEN DALAM AJAR PIKUKUH SUNDA (SUNDA WIWITAN) (Sudi Terhadap Penganut Ajar Pikukuh Sunda Di Padepokan Bumi Dega Sunda Academy Bandung) Miharja, Deni; Wahida, Endah; Huriani, Yeni
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 4 No. 2 (2021)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v4i2.2810

Abstract

Indonesia is a country that has many local cultures including one of them is Ajar pikukuh sunda (Sundanese Wiwitan) which is in Padepokan Bumi Dega Sunda Academy Bandung. In the teachings of Sundanese pikukuh there is a ritual that is always carried out, namely the offering. However, many people misinterpret the ritual offerings so that they are referred to as givers of demons and polytheists. The purpose of this study was to determine the meaning of offerings in Sundanese Pikukuh (Sunda Wiwitan) Teachings at Padepokan Bumi Dega Sunda Academy Bandung. This research methodology is descriptive qualitative with case studies. The results of this paper conclude that the ritual offerings carried out in Ajar Pikukuh Sunda (Sundanese Wiwitan) have a very high and noble meaning. The teaching materials / means in the ritual are all the same, namely water, earth, fire, and wind, animal elements, and plant elements. The meaning of offerings carried out by the Sundanese Pikukuh Teachers at Padepokan Bumi Dega Sunda Academy Bandung is a prayer ritual as a form of gratitude to our ancestors, the universe, to our parents, or to everything that has supported us so far, because without them we will never exist so that by using the means of sasajen from the natural elements it will be able to reconnect the energy of the past with the future.Keywords : Mean; Sesajen; Ajar Pikukuh Sunda (Sunda Wiwitan);Indonesia is a country that has many local cultures including one of them is Ajar pikukuh sunda (Sundanese Wiwitan) which is in Padepokan Bumi Dega Sunda Academy Bandung. In the teachings of Sundanese pikukuh there is a ritual that is always carried out, namely the offering. However, many people misinterpret the ritual offerings so that they are referred to as givers of demons and polytheists. The purpose of this study was to determine the meaning of offerings in Sundanese Pikukuh (Sunda Wiwitan) Teachings at Padepokan Bumi Dega Sunda Academy Bandung. This research methodology is descriptive qualitative with case studies. The results of this paper conclude that the ritual offerings carried out in Ajar Pikukuh Sunda (Sundanese Wiwitan) have a very high and noble meaning. The teaching materials / means in the ritual are all the same, namely water, earth, fire, and wind, animal elements, and plant elements. The meaning of offerings carried out by the Sundanese Pikukuh Teachers at Padepokan Bumi Dega Sunda Academy Bandung is a prayer ritual as a form of gratitude to our ancestors, the universe, to our parents, or to everything that has supported us so far, because without them we will never exist so that by using the means of sasajen from the natural elements it will be able to reconnect the energy of the past with the future.
RELIGIOUS LIFE OF THE KUTA TRADITIONAL VILLAGE COMMUNITY IN THE INFLUENCE MODERNIZATION ERA Miharja, Deni
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v6i1.4451

Abstract

Abstract: So far, the influence of modernization has always been identified with urban communities because of the ease of accessing modernization products. However, the impact of modernization can also be felt by traditional and rural communities, and the influence of modernization thought by the people of Kampung Kuta Ciamis, West Java. This paper aims to reveal the understanding of the people of Kampung Kuta towards religion and modernization and how modernization influences the religious life of the people of Kampung Kuta. This study uses a qualitative descriptive method with a phenomenological approach. The research findings show that the people of Kampung Kuta have a firm understanding of Islam combined with traditional ceremonies going on for generations, such as the ceremony to build a new house, the presentation ceremony, the commemoration ceremony for Earth Day, and the babarit ceremony. The various traditions are essentially a form of gratitude, gain the benefit, and keep away harm. In understanding modernization, the people of Kampung Kuta Sudan can become players of modernization through the use of modernization products in the form of modern communication and transportation tools. They also welcomed the use of Kampung Kuta as one of the leading tourist destinations in Ciamis. The positive response of the indigenous people of Kampung Kuta to modernization shows that the theory of rejection of modernization by traditional communities is very relative, meaning that not all people with conventional (ancient) styles reject modernization. Keywords: Kampung Kuta, modernization, traditional tourism, traditional ceremonies Abstrak: Sejauh ini pengaruh modernisasi selalu didentikkan kepada masyarakat kota karena kemudahan dalam mengakses produk-produk modernisasinya. Namun, pengaruh modernisasi juga bisa dirasakan oleh masyarakat tradisional dan pedalaman, seperti halnya pengaruh modernisasi yang dirasakan oleh masyarakat Kampung Kuta Ciamis, Jawa Barat. Tulisan ini bertujuan mengungkap bagaimana pemahaman masyarakat Kampung Kuta terhadap agama dan modernisasi, serta bagaimana pengaruh modernisasi terhadap kehidupan keberagamaan masyarakat Kampung Kuta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan fenomenologis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Kampung Kuta memiliki pemahaman agama Islam sangat kuat yang dipadukan dengan upacara-upacara adat yang sudah berlangsung turun temurun seperti upacara mendirikan rumah baru, upacara penyajian, upacara peringatan hari bumi, dan upacara babarit. Berbagai upacara yang dilaksanakan esensinya adalah bentuk rasa syukur, memperoleh kemaslahatan, dan menjauhkan marabahaya. Dalam pemahaman soal modernisasi, masyarakat Kampung Kuta sudah mampu menjaid pemain dari modernisasi melalui penggunaan produk-produk modernisasi berupa alat komunikasi dan transportasi modern. Mereka juga menyambut baik penggunaan Kampung Kuta sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Ciamis. Respon positif masyarakat adat Kampung Kuta terhadap modernisasi menunjukkan bahwa teori penolakan modernisasi oleh masyarakat tradisional sangat relative adanya, artinya tidak semua masyarakat dengan corak tradisonal (kuno) menolak modernisasi. Kata Kunci: Kampung Kuta, modernisasi, pariwisata adat, upacara adat.
Tridharma Religion in Indonesia: Reading Hikmah Tridharma and Tjahaja Tri-Dharma Magazines during the 1970s-1980s Miharja, Deni; Gumilar, Setia; Ruswanda, Asep Sandi; Alivin, Moh Zaimil
Religious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas Budaya Vol. 6 No. 2 (2022)
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/rjsalb.v6i2.17395

Abstract

In religious conversations, syncretism is often perceived negatively even though it is actually a healthy process. One form of syncretism that emerged in Indonesia is the religion of Tridharma which consists of Buddhism, Confucianism, and Daoism. This paper discusses syncretism in the religion of Tridharma in Indonesia. Using a historical approach during the 1970s, this paper is a literature study of two magazines affiliated with the religion of Tridharma, namely the Hikmah Tridharma magazine and the Tjahaja Tri-Dharma magazine. This paper rethinks the concept of syncretism as a dirty word, or at least negative form, to one of neutrality. Considering religion as dynamic, syncretism in the religion of Tridharma or Sam Kauw has been a historical process since the Ming dynasty in Mainland China. The Hikmah Tridharma magazine and the Tjahaja Tri-Dharma magazine during the 1970s illustrate how syncretism in the body of Tridharma religion occurs not only between Buddism, Confucianism, and Daoism but also with Hinduism and group of theosophy. As one element of the dynamics of religious belief, the politics of recognition is important. In Indonesia, the state gave a different attitude to Chinese religions or all things Chinese-affiliated in general during the New Order era, and the era of transition to reform, Gus Dur. This then triggered contestation between Chinese religions themselves in Indonesia, especially between the religion of Tridharma and Confucianism.
Tradisi Wuku Taun sebagai Bentuk Integrasi Agama Islam dengan Budaya Sundah pada Masyarakat Adat Cikondang Miharja, Deni
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v15i1.2673

Abstract

This article write starts from some phenomena of the relation between religions and local cultures. Such relation is interesting to do research that interpretations of the relation between religion and local cultures to certain societies are various. The interaction between Islam and local cultures also undergoes variuos form of relation. Variety of the form of relation between Islam and local cultures in a society depends upon their understanding and interpretation of Islamic teachings itself. One of the forms of relation between Islam and local cultures can be found in traditional society of Cikondang. The form of relation between Islam and local cultures was occurred in traditional society in Cikondang tends to be the form of integration wich certain pattern. Therefore, the focus of this writer article is to describe relation between Islam and Sundanese cultures in form of integration with wuku taun. Based on data of research the tradisional society of Cikondang represents the part of Sundanese society in wich all of them are muslims. This goes hand in hand with the statement that Islam is Sunda and Sunda is Islam. Sundanese people are Muslims before Islam comes to Sundanese society. Artikel ini berangkat dari fenomena hubungan agama dengan budaya lokal. Dimana hubungan agama dengan budaya lokal pada suatu masyarakat, mengalami bentuk hubungan yang beragam. Begitu pun hubungan agama Islam dengan budaya lokal mengalami bentuk hubungan yang beragam pula. Beragamnya bentuk hubungan agama Islam dengan budaya lokal pada suatu masyarakat tergantung dari penghayatan terhadap ajaran Islam itu sendiri. Bentuk hubungan agama Islam dengan budaya lokal bisa ditemukan salah satunya pada masyarakat adat Cikondang. Bentuk hubungan yang terjadi antara Islam dengan budaya Sunda pada masyarakat adat Cikondang cenderung dalam bentuk integrasi dengan pola tertentu, sehingga fokus penulisan artikel ini adalah untuk mengungkap hubungan agama Islam dengan budaya Sunda dalam bentuk integrasi melalui tradisi wuku taun. Berdasarkan data yang diperoleh, masyarakat Cikondang merepresentasikan sebagian masyarakat Sunda yang seluruhnya beragama Islam. Hal ini tentu sejalan dengan beberapa pernyataan yang menyebutkan Islam itu Sunda dan Sunda itu Islam, orang Sunda sudah Islam sebelum Islam.